Danau Bojongsari Sawangan: "Catur konglomerat"

Rumpian tetangga tentang jendral konglomerat gang jambu:
"Itu tanah pak jendral, luas benner..ampe ujung setu (danau)! dalemnya ada peternakan kuda, kebonnya gede bener. Kalau malam pan saya kagak berani lewat situ. Gelap...ihhh serremmm".
"Belakang sono pan dulunya mau buat sutet, tapi ada tanah pak jendral tuh..., jadi kagak jadi".
"Kuda pak jendral udah pada kosong sekarang, dulu ratusan, harga se-ekornya jutaan. Kalau sakit atau pincang, ditembak dan dikubur gitu aja".
Begitulah kira-kira mpok tukang sayur, bang mandor atau cerita penjaga kebun para tetangga kami saat mampir kerumah tentang misteri dibalik benteng tinggi hektaran tanah di gang jambu. Dulu semua serba misteri, tetapi melalui satelit kami bisa mengintip. Di sekitar gang jambu ada tanah maha luas (mungkin panjang 2 KM lebar 1 KM untuk satu spot) milik malaikat para "jendral", tidak tahu siapa jendral itu, konon sudah uzur tidak punya anak. entah jenderal beneran, atau sekedar birokrat yang nakut-nakutin warga dengan kata jendral yang bikin bergidik kalau mau ngapa-ngapain. Yang jelas tanah pak jendral menjadi pagar bibir danau sisi barat daya. Untungnya gang jambu bertahan punya jalan kampung untuk tetap bisa akses ke danau dari beberapa sisi.

Diseberang jalan gang jambu (baru tahu dari satelit), penuh dengan tanah-tanah luas, dan baru nngggehh bahwa tetangga sering bilang ada tanah menteri untuk jualan tanaman (bisnis nursery), atau tanah konglomerat buat bisnis plesiran. Yah...persis sebrang gang jambu adalah pemancingan permata buana, lengkap dengan kolam renang, cottage dan restoran. Tapi rumah kami masuk gang, bertetangga dengan komunitas nano-nano!.

Konglomerat memagar danau rakyat


Masih ingat awal kami beli tanah se-uplik di gang jambu th 93-an, kami sering dengar cerita konflik serius warga sekitar danau Bojongsari dekat rumah kami dengan pemilik Telaga Golf beberapa tahun lalu. Tahun 1995 saat kami pindah kesitu kelihatannya agak "mereda". Pemilik telaga Golf rajin undang artis dari Titi DJ, Koesploes, Saski-geofani, dll untuk meluluhkan hati warga dengan hiburan gratis. Telaga golf sekarang menjadi megah, indah dan pasti menyimpan marah korban yang susah punah. Pernah kunjungi Aquatic fantasy? disitulah tempatnya. Klik: http://www.telagagolf.com/. Lokasi ini diseberang danau sisi gang jambu dan 1,5 km dari rumah kami. Kebayang kalau kami sudah ada disitu pasti ikut seru.

Monster mengangkang : Danau Bojongsari dari satelit . Klik ini!! <http://maps.google.com/maps?f=q&hl=en&geocode=&q=parung++jakarta+Indonesia&ie=UTF8&ll=-6.389683,106.75415&spn=0.010833,0.019226&t=h&z=16>


Ibaratnya danau adalah gambar orang/monster berdiri membelakang (biar lebih jelas, klik peta dari satelit diatas foto) maka telaga golf mengelilingi punggung hingga sisi luar kaki kanan danau ini. Lalu sisi selangkang, mengitari sisi luar kaki kiri hingga ketiak lebar dan sisi luar tangan kanan adalah milik Bakri group dengan Sawangan golf, yang juga menghamparkan bisnisnya, lengkap dengan cottage, area golf maha luas, 2 kolam renang untuk standard atlet nasional. Terbuka untuk umum...Berputar ke arah punggung tangan adalah milik diklat P&K. Selebihnya adalah milik para jendral-jendral yang tak bernama, atau milik orang Jepang, atau milik orang Jakarta. Oh ya, Oppie Andaresta artis penyanyi juga tinggal ditepi danau ujung jalan gang jambu.

Kenapa telaga Bojongsari menjadi rebutan?? rupanya telaga ini paling luas se Depok (kalau diukur via satelit kira-kira sekitar 850X1100 m2). Suasananya masih hijau, rakyat/komunitas sekitar situ rata-rata masyarakat betawi, pendidikan rendah yang dipikir asik jadi sasaran empuk karena minim resistensi. Tetapi mungkin pemerintah malu setelah konflik dengan Telaga golf. Makanya dinas pariwisata memberikan secuil sisi ketiak kanan danau untuk arena hiburan rakyat dan sisi-sisi beberapa tepi pundak dan leher danau dibuat jogging track. Tiap minggu ada dangdutan, warung apung dan buat mojok pasangan-pasangan juga. Kami rajin jalan pagi sekitar danau, menikmati ikan asap uda, cari ranting atau kembang kering juga menikmati dangdut sambil pesan ikan bakar di saung. "maju! maju gih, yuk nyanyi kepanggung" begitu kata ayah ngajak atau ndorong ibu nyanyi ditengah hiburan kampung pinggir danau. Vikra Vinda langsung marah "norak, norak, pulang nih kita". he..he.. ya..beginilah kami para rakyat menikmati danau kami sebelum dipagar para konglomerat. Kita hidup bersama orang susah tapi dikelilingi fasilitas megah. Kata ayah, kita tinggal di kampung, tapi fasilitas real estate!. Beginilah secuil cerita socio-demografis kami dan sekitar rumah kami.

Tidak ada komentar: