Tampilkan postingan dengan label Pengalaman ke Jerman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman ke Jerman. Tampilkan semua postingan

Kathedral Dom di Koln Jerman

Foto ini hasil browsing (koleksi foto kami di Jerman bermasalah)

By : Vikra Alizanovic (tulisan 2007)

Kathedral Dom Koln , 6 April 07
Sampai di Koln Central Station HBF, dijemput tante Edith, temen ibu. Kami diajak ke Gereja Dom Koln persis didepan Station. Kita masuk ke gereja kathedral Dom itu. Banyak turis di sana, karena gereja di Eropa ini selain untuk misa, juga sudah banyak yang dipakai untuk museum dan turis. Suasananya megah, tinggi banget. Pembangunannya datengin arsitek2 terbaik Roma dan Spanyol. Stain Glassnya cakep bgt.
Terus diluarnya ada banyak artis2 jalan yang bikin lukisan di tanah lapangan depan gereja. Ada yang ngelukis bunda maria, bulan unicorn, dll. Ada juga parodi2 kayak di Amsterdam. Ada mumi pharaoh, setan, dll.
Dari situ tadinya mau naik kereta tour ke museum coklat, tapi salah kereta. Jadi tante Edith kasih pilihan, mau naik kereta atau ditraktir Es krim. Eskrim!Kami jalan lupa nama tokonya apa…. Vinda pilih Chocolate Chips Cream, Vikra pilih Choco Caramel Cream, Ibu pilih Strawberry Chees, Tante Edith pilih Mango Sensation.
Sambil minum es krim jalan di square. Ada circus. Pemain circusnya banyak ngomong. Dia bilang: “anak-anak jangan main api nanti bisa ngebakar rumah. Kalau mau main api di tempat tetangga”.Dia sibuk masukin minyak ke obor, lompat sana lompat sini. Tapi circusnya belum kelar, kita sudah jalan duluan menyusuri sungai Rhine yang lebarnya 200 mtr lebih.Di sepanjang sungai ada banyak kafe dan orang berjemur.
Vikra_gelap@yahoo.com

Menjelajah Rumah Ludwig Beethoven di Bonn

Disini, dikamar ini komposer dan pianist dunia ini dilahirkan. Sayang penjelasan dari museum ini kebanyakan bahasa jerman, termasuk keterangan text juga bahasa Jerman..sayang!!! Jadi viva melihat tapi tidak banyak faham. Untung banyak benda visual dan membaca sebelum berangkat.
Ini piano tua masa kecil dia awal-awal dia dipaksa main sama ayahnya. Vikra banyak menjelaskan ttg sejarah hidup Beethoven ke kami, dari bacaan dia ttg tokoh-tokoh dunia.
Ini rumah dari sisi belakang. Sisi depan dipakai untuk ticket dan souvenir shop. Kami beli kaos merah Beethoven untuk Vinda, souvenir untuk om Didit guru piano Viva dan untuk kawan-kawan. (foto-foto kami di Jerman dan Turki masih dalam proses evakuasi dari dalam laptop yang rusak jatuh di Venezia..doakan bisa diselamatkan dan akan kami upload menyusul).

Menikmati Bonn dan Ngobrol Soal "Samen Wonen"

Dari Koln kami dianter ke Bonn yang jaraknya 30 menit, dengan mobil baru mercy hitam tante Edith kerumah om Ging.

Om Ging temen ibu di Common Ground, produser sandiwara radio Menteng Pangkalan. Dia sekarang beristri tante Lawrence (cara nyebutnya Lorrong..), dia orang perancis dan punya anak bayi temben Luan yang baru 6 bulan. Viva banyak main sama Luan.

Vikra menikmati mendorong kereta bayi sambil jalan ke centrum. Kami melewati beberapa wilayah penting, ada balai kota dengan logo jermannya yang bercat emas. Lalu juga lewat kantor pos kuning yang sudah tua sekali tapi menjadi background unik dari square ini. Square diapit oleh gereja dan kantor pos kuning di sebrangnya, dan ditengahnya ada patung Ludwig Beethoven pianis klasik terkenal yang lahir di kota ini.

Di square itu juga ada pemain piano klasik lengkap dengan pemainnya yang nggak capek-capek main piano untuk pengunjung yang bersliweran. Karena sudah lapar, kami makan di restoran Shanghai, Om Ging tertarik bebek dan ayam goreng, tante Lawrence mau sayuran, tante Edith mau soup, Vinda agak lemes kecapekan jalan, dan Vikra sibuk memilih menu dengan aneka tawarannya.

Diskusi tentang “Hidup Bersama”

Di Shanghai RestaurantBonn, Vikra sempat nanya tentang kapan om Ging menikah?

Om Ging jawab, kami tidak menikah ke KUA, tapi kami menikah dengan cara alami atau natural. "Kalau diIndonesia, Luan sudah dibilang anak haram nih Vik," kata Om Ging.

Vikra nanya, "Orang tua om gimana dong kalau om nggak menikah?"

Om Ging jelasin, "Kita harus sayang dan berbuat baik sama orang tua, tapi kadang ada hal-hal yang bisa jadi kita nggak se-ide dengan orang tua kita”.

Biar Vikra nggak bingung ibunya ikut jelasin:

"Kakak, masing-masing orang punya pilihan hidup sendiri. Kalau di negara yang terbuka macam Eropa begini, megara juga bisa mengakui hubungan tanpa menikah, yang penting cinta dan serius menjalin hidup bareng. Jadi negara juga bisa kasih akte lahir untuk anak-anaknya, termasuk hak yang sama dengan pasangan yang menikah. Kalau di Indonesia mesti lewatKUA, catatan sipil atau menikah dengan cara agama."

"Mungkin kita juga punya prinsip sendiri, tapi juga bisa tahu alasan pilihan om Ging”.

(yunich1@yahoo.com)

Museum Coklat Lindt Koln

Masuk museum coklat Lindt (schokoladen museum Imhoff, Lindt schweizer chocolade-kultur seit 1845). Banyak hal menarik: ada sejarah coklat penghasil terbanyak, Indonesia yang ke 3 di dunia. Coklat menjadi populer di Eropa setelah spanyol masuk ke Afrika. Pada awalnya sekitar th 1660, coklat sangat mahal, bisa jadi mata uang. Sepuluh biji coklat bisa untuk tukar kelinci dan 100 biji bisa untuk beli budak laki-laki.

Coklat dimuseum ini digambarkan dengan pelayan kulit hitam, salah satunya coklat merek Saroti yang digambar dengan boneka pelayan kulit hitam sedang mbawa coklat. Belakangan saroti diprotes, karena dianggap merendahkan kulit hitam.

Coklat juga bisa jadi suguhan bangun tidur para borjuis perempuan. Setiap pagi, pelayan membawanya ke atas tempat tidur dengan nampan pakai 2 cincin untuk menjepit 2 gelas tersebut yaitu satu untuk coklat satunya air putih.


Jerman, Koln, 6 April 2007 Pada th 1670an, coklat mulai masuk di Amsterdam, makanya sejarah Barpada awalnya justeru menjual minuman coklat hangat, tapi hanya untuk orang-orang kaya saja. Di museum ini juga diperagakan cara membuat coklat Lindt. Dari mulai masuk mixer untuk diaduk dan dicampur dengan butter dan gula, dicetak, digetar dan didiamkan mengeras dalam 10 menit, lalu dibungkus dan dijual fresh di situ.

Ada juga yang dicetak dengan aneka bentuk binatang. Yang lagi banyak dijual adalah bentuk kelinci yang bisa sebesar kelinci beneran seharga 39 euro. Viva beli yang tanggung untuk oleh-oleh famili dan temen-temen.

Pengunjung dibagi satu-satu coklat pas beli tiket, dan juga ada pohon coklat raksasa. Semua pengunjung dibagi wafer yang dicelup ke lelehan coklat Lindt.

Coklat Lindt ini juga ada di Indonesia, salah satunya dipintu masukPondok Indah Mall yang harganya selangit…

(yunich1@yahoo.com)

Jalan2 ke Jerman dengan kereta jet Ice


Cerita Perjalanan ke Koln-Bonn

oleh : Vikra Alizanovic

6-7 April 2007

Libur Easter panjang ini kami isi dengan jalan-jalanke Koln dan Bonn Jerman, pas weekend. Berangkat naik Ice, yang kecepatannya bisa sampek 260-450 km/jam, dari Utrecht.

Keretanya penuh banget. Udah gitu sebelnya banyak orang yang udah bikin reservation di tempat duduknya. Jadi, begitu kita duduk, diusir [‘disuruh pindah’] sama orang yang sudah memesan. Akhirnya kita dapet tempat duduk yang enak ada mejanya tapi di smoking area. Vinda ga suka.