Akung yang mengkhawatirkan

Berita mengagetkan
"mbak, bapak koma, masuk UGD Yarsis, Usahakan pulang secepatnya". Sms dari Om Ahsan sekitar jam 8 pagi (Selasa, 25 Mei 2010) ketika ibu baru mau masuk airport Swarnabhumi Thailand untuk melanjutkan penerbangan ke Nepal-Kathmandu untuk sebuah acara dan ibu kebagian presentasi mewakili Komnas Perempuan. Aneka rasa muncul, untung ada kawan Jane McGrory yang dengan cekatan mencaikan tiket pulang ke Indonesia dengan Singapore Airlines, setelah mencoba cari beberapa maskapai lain yang tidak memungkinkan terbang dalam waktu dekat ke Jakarta. Yang unik, tas sudah terlanjur masuk bagasi dan ikut terbang ke Nepal.
Sms lain dari Noli sekretaris ibu yang memforward sms dari mas Muchlis menyusul: "Noli, ini suami Yuni. Aku coba kontak simpati Yuni gak bisa, kasih tahu bapak masuk rumah sakit lagi, koma". Lalu ibu balas update bahwa akhirnya dapat pesawat jam 12.20."Ati-ati yo mbak tetep tegar" sms dari om ahsan, disusul dari om Daris, terbaca dari Singapore saat transit: "kasihan bapak mbak, gak bisa ngungkapin maunya, dan sekarang sering nangis dan kayaknya tadi kesakitan waktu dimasukin selang lewat hidung buat masukin nutrisi, karena gak bisa nelan, airpun gak bisa, kasihan mbak, aku nggak tega". Sempat panik juga waktu di Thailand mau balas tidak ada pulsa, jadi akhirnya minta ayah dan Noli untuk transfer pulsa, jalan jauh cari wifi, dan dengan email akhirnya bisa kirim minta pulsa untuk membalas sms ke Om Daris: "bilangin bapak aku dalam perjalanan pulang, jam 12an pesawat brkt. Aku dari jauh berdoa terus, moga-moga tangan gusti Allah ngeman bapak, diringankan sakitnya dan aku dikasih kesempatan untuk merawat bapak". Sepanjang diatas pesawat ibu cuma bisa melantun lirih doa sambil membiarkan sepuas mungkin airmata menderai. Yang penting nanti didepan bapak tidak menangis, harus kelihatan kuat biar bapak juga kuat. karena bapak paling tidak suka lihat anaknya menangis.
Bertemu Orang baik saat-saat sulit
Di Jakarta ayah siapin cari tiket pesawat ibu dari Jakarta ke Solo tp kelihatannya tak terkejar dengan pesawat terakhir kecuali ke Jogja ada Garuda jam 7. Persis jam 6.5 pesawat ibu mendarat dan di imigrasi ibu langsung bypass lewat krn emergensi tanpa ngantri. SAmpai counter Garuda sudah habis, kecuali mau antri di standby tiket mengandalkan mereka yang gagal terbang karena telat atau mencancel. Ibu antri di standby tiket, Ibu ceritakan ke petugasnya bahwa ibu dalam situasi emergensi, kelihatannya ada penumpang lain yang mendengar percakapan ibu, lalu ada 2 penumpang yang langssung mengalah untuk mendahulukan ibu. Luar biasa, jalan hidup ibu selalu dimudahkan, terutama saat-saat genting begini selalu dikasih kemudahan. Akhirnya bisa terbang dan ayah dengan Vikra Vinda yg sudah nunggu di Bekasi (yg berjaga incase ibu nggak dapat tiket pulang bareng), akhirnya jalan bawa mobil.

Di Pesawat ketemu dg Buya SyafiĆ­ Maarif mantan ketua PP Muhammadiyah. Ibu ajak senyum dan waktu turun ibu kejar. "Buya, saya Yuni, alhamdulillah saya dapat amanat terpilih sebagai ketua Komnas Perempuan sejak 3 bulan lalu (Maret 2010)". Buya langsung menyalami, selamat ya, berarti anda melanjutkan bu Saparinah dan Na..Kama (Maksudnya Kamala)."Iya buya. Tetapi saya mengejar buya kapasitas saya sebagai individu, saya putri pak Bardus Syafaat dari Baturetno. Bapak pernah cerita buya dulu pernah mengajar di ST Baturetno, kebetulan waktu muda ayah saya juga pernah mengajar disitu dan ingat buya. Beliau juga berjuang nelateni Muhammadiyah di situ. Jadi beliau kirim salam untuk buya, dan mohon doa, karena bapak sekarang sedang kritis di Yarsis Solo". Buya termenung dan jelas gurat duka diwajah beliau."duh, saya berdoa, moga-moga kesehatannya membaik. Sabar ya. Sampaikan salam untuk bapak. Saya bangga ketua Komnas Perempuan dari Baturetno". Anda kuliah dimana? "Sedang menuntaskan PhD di Univ Amsterdam buya, mohon doanya juga". Kata buya, "luarr biasa orang Baturetno ini, ayah anda pasti bangga. Dimana beliau dirawat?". Di Yarsis Buya... Akhirnya kami berpisah dalam hening.

Ayah-Akung yang berhati nabi

Sesampai di rumah sakit, senyum bapak yang 4 hari lalu ibu temua saat menjengung sesudah dari Semarang (menginap 2 malam), sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah wajah sakit yang luar biasa, tergolek tidak bisa apa-apa. Bapak seperti tidak percaya melihat anaknya sudah tiba. Dengan menahan dalam ibu berusaha kuat dan mengusap-usap bapak, berdoa usapan sayang ini bekerja mengurangi sakit beliau.
Padahal waktu pulang kampung menengok, bapak sudah mulai membaik, jalan sudah tanpa tongkat, dan berkali-kali mengingatkan untuk siap-siap biar tak tertinggal pesawat "Cobaa ihitung waktu dari sini sampai terminal, dari terminal sampai Solo, bandara".

Bapak kini sudah melemah secara fisik, tapi selama kami merawatnya kami ajak untuk ceria. Komunikasi sangat terbatas, tetapi kecerdasan bapak sangat membantu komunikasi bekerja dengan menulis huruf yang sulit dibaca, dengangerakan jari seakan menulis juga sulit, berlanjut dengan menyebut dari A-Z lalu kalau huruf yg dimaksud bapak menganggung, hingga membuat poster huruf. Tetapi menunjuk sangat sulit..jadi paling mudah mengeja satu persatu, seperti "sakit, luka lidah, gerakkan kaki, beli pipet, perawatan apa, dll".

Hari ibu tulis surat ke kawan-kawan komisioner di kanto: "Doa kawan-kawan bekerja, bapak mulai sedikit bs gerakkan jarinya untuk membuat isyarat-isyarat yang beliau inginkan (terkadang berbentuk huruf). Tp kesadaran EQ-nya masih sempurna, dg isyarat minimalisnya (disela nafas tersengal) masih menyempatkan untuk mengingatkan kami-kami untuk memberi tip kepada perawat (padahal etik dirumah sakit tidak bisa), masih sempat kasih code huruf untuk membeli "pipet" untuk membuang cairan ludah dimulutnya (krn motorik menelannya belum berfungsi), selalu melirik jam untuk dituntun tayamum untuk sholat, bahkan mengingatkan saya untuk kembali ke jakarta (dg isyarat tulisan "pesawat", yang kami tebak seperti quizz hingga berkeringat karena sering salah). Saya bilang, kawan-kawan baik-baik ikut mendoakan beliau, dan memahami situasi ini, saya bilang, selasa ada rapat paripurna saya harus kembali, beliau mengangguk lega karena isyarat yang ingin beliau sampaikan bisa kami fahami.

Beginilah jadi anak pertama dan perempuan sendiri yang punya kedekatan emosional luar biasa sejak kecil dengan beliau. Jadi kata ibu almarhumah dulu: "kalau bapak sakit, kalau saya datang langsung ceria dan semangat makan, jadi cepat sembuh". Beliau tinggal satu-satunya orang tua saya, bahkan kedua mertua juga sudah tidak ada. Jadi memang "ketir-ketir"(was-was) sekali kalau beliau sakit. Merasa punya orang tua sangat berharga, punya tempat untuk kembali.

Jadi intinya, senin saya sudah kembali ngantor.... Salam, Yuni".

Cepat sembuh bapak, akung tercinta. You are the only parent we have, lentera hidup dan bapak yang berhati nabi".