Lomba Foto kembang pisang

Vinda
ayah
Vikra
Ibu



Ngisi wiken sederhana, menunggu makan siang, estafet kamera bergantian ngeklik kembang pisang di halaman. Syarat lomba: masing- masing ngeklik 2 kali, tidak boleh lihat karya pemotret sebelumnya, setelah selesai baru boleh lihat, kalau sama boleh diulang. Hasilnya: 2 karya ayah dan Vinda ambil sudut yang sama (tp yg diupload yg beda)... selamat bantu menilai!!

Kunjungilah "SMILE" di Jogja


Pingin belanja sambil tersenyum? Kalau kebetulan tinggal atau sedang mengunjungi Jogja, rasanya tidak afdol kalau tidak menikmati senyum Omacan (om Ahsan om Vikra-Vinda adik bungsu ibu) di Smile. Smile, nama minimarket yang dirintis omacan dengan konsep dekat dengan circle "K", buka 24 jam. Lokasinya di Jl.Boulevard (depan fak Kehutanan UGM, berjejer dengan kawasan wisata gudeg di Jogja bu spt gudeg Hj Ahmad, yu Jum, gudeg yu Narni, bu Narto. Lebih gampang lagi dari MM (Magister Managemen UGM) 100 m ketimur, daerah Jl Selokan Mataram.

Smile baru dibuka 2 hari lalu sama akung tercinta yang khusus dijemput untuk berdoĆ”. Pemberian nama-nya sempat sms-an lucu sama ibu. Ibu kasih ide nama S'mart artinya pintar, tapi juga bisa dibaca semar, punokawan yang gendut kayak empunya dan bijak penuh tawa.Tapi pemiliknya lbh sreg smile, dan ibu ledek; " kalau ditanya akung yang suka hal-hal Islamy (baca bau Arab), gimana? bilang aja diambil dari kata Ismail..itu lebih aman daripada dikasih nama Barokah atau Hidayah" . Wis, apapun namanya, yang penting Smile selalu...

Spa Fish & Hepi Weekend di Puncak

By : Vikra Alizanovic.

Sabtu kemaren, kita sekeluarga pergi ke Puncak. Acaranya dadakan. Kita diajak Om Fauni, sedangkan gw lagi nginep di rumah temen di Cinere. Terpaksa, gw harus berangkat pagi-pagi dari rumah temen, soalnya Ayah bilang mau berangkat subuh.
As expected, gw telat bangun. Jam 5.30 baru berangkat dari rumah temen gw, dan pas gw sampe rumah. Taunya, gerbang rumah masih dikunci. Gw klakson, ga ada yang respon. Ternyata Ayah Ibu Vinda semua kesiangan juga..
Ternyata pas Ayah mau nyetel alarm jam 4, Ibu bilang gak usah. “Hari “libur” gini gak mau pake alarm. Biarkan kita bangun sewajarnya. Jadi, kalo aja tadi gak gw klakson-in, mungkin gak bakal ada yang bangun.
Akhirnya, kita berangkat dan sampai GunungMas kebun teh sekitar jam 9 kurang. Sampe sana, kita langsung ganti pake sepatu. Om Fauni udah disana dari jam 7-an. Kita semua langsung jalan, lewat trek hiking GunungMas melalui kebun-kebun teh. Jalannya cukup jauh. Naik-turun bukit. Kita juga lomba lari. 2 kali. Hasilnya, gw menang berturut-turut. Ibu, si turis jepang wannabe, teriak-teriak gak jelas. Vinda, ngeluh. Dan Ayah, sekarang keseleo dan pegel-pegel.



Setelah jalan pagi dan minum teh hijau di GunungMas, kita pergi makan siang. Karena kebetulan Om Ipung-Bude Ikun lagi di Puncak juga, kita jalan bareng. Kita makan di Ayam Goreng Cianjur. Sedap. Ada nasi uduk, ayam bakar, tempe penyet, cah kangkung, tumis pucuk labu siam, dll. Perut kenyang.
Habis makan, kita mutusin ke hotel Puncak Pass. Disana soalnya udaranya dingin. Om Ipung nyewa cottage di Puncak Pass. Sampai di Cottage, kita yang cowok-cowok main gaple. Seru. Tadinya sempet kepikiran pengen berenang, tapi karena dinginnya pasti minta ampun, dan gw alergi dingin, gak jadi deh. Pas udah sore-an, kita pergi ke kampoeng Brasco (outlet). Cari baju gw ama Vinda. Habis puas belanja, Om Fauni nawarin nyoba Fish Spa. Ituloh, yang kaki kita dicelupin ke akuarium yang isinya ikan-ikan kecil yg diimport dari Turki), terus kaki kita dikerubutin. Katanya, manfaatnya bisa mengangkat sel-sel kulit mati dan memperlancar peredaran darah.

Nah, pertama, gw sama bude Ikun dulu yang nyoba. Kita harus ngebilas kaki kita dulu. Nah, pertama pas masukin, kaki gw langsung dikerubutin ikan. Kaya pembagian BLT aja. Kaki gw pembagi BLT-nya dan ikan-ikan itu rakyat kurang mampu-nya. Gw teriak-teriak tertawa di awal. Gelinya minta ampun. Sampai sela-sela jari kaki juga digerogotin sama tuh ikan. Lamanya 15 menit. Habis gw, Vinda yang nyoba. Hasilnya gak keliatan banget. Paling kulit gw yang rada lebih halus.

Nah, habis having fun di Brasco, kita balik ke cottage Puncak Pass untuk jemput Om Ipung dan go to have dinner. Kita ber-dinner ria di RM Rindu Alam. Spesialis kambing. Jadi di meja itu disediain segala jenis kambing. Dari kambing guling, sop kambing, sate kambing, sate padang, ada juga sate ayam. Kita makan lahap. Daging kambing guling-nya mantap banget ditambah sambel kecap. Kenyang banget. Habis dinner, gw pamit sama om ipung dan bude ikun. Mereka nginep di Puncak Pass, sedangkan gw skeluarga sama om fauni pulang balik ke Jakarta. It was a fun weekend, dan besoknya masih hari minggu..

Pijit Berantai

"Nda.., injek2 ayah Nak"."
Yang diminta sih denger. Tapi, biasanya masih riwa-riwi. Sibuk ini, sibuk itu. Pokoknya, minta injekan Vinda --yang berat badannya, meskipun terus semakin berat, masih proporsional buat nginjek pungung-- kayak ngeramal cuaca. Ndak thenthu! Hehe..
Tapi ya emang kudu sabar. Secara bobot, emang cuma Vinda yang ngepas diminta injekan. Vikra? Hemm..beratnya masih di atas 90 kg. Sesekali mijet punggung, boleh lah.
Yang jelas momen injek menginjek, pijit memijit, apalagi rame-rame model begini, bener-bener relaxing. Tiap hari naik motor, pp rumah kantor lebih 70 km, bikin punggung sering kaku. Kalau udah tengkurep, diinjek, dan mak "kreekkk..". Hemm.. mak plonggg.... (ayah)
Vinda: pokoknya kalo udah denger kata2 "nda'.., injek2 nda'.." paling males dehh. pgn kabur aja. hehehe.. ya dgn sangat amat terpaksa akhirnya ya nginjek2 juga deh...

"Ayah mah kalo mijit kayak nyubit", begitu protes Vinda kalau dibangunin ayah sambil dipijit. Ada kebiasaan terpuji ayah, kalau pas ngantor super pagi, cara pamitan sekaligus mbangunin ber 3 dengan dipijit satu-persatu. Enak gak enak urusan belakangan...tapi sekarang masuk siang terus, perlu ada tagihan nih. Ibu paling sering dikomplain pijitannya gak terasa, karena jarinya gak bertenaga babar blas katanya (ibu)

Vikra: Katanya, vikra itu mijitnya paling enak. Tahu spot-spot yang pas. Paling enak itu mijit kepala. Spot diatas pelupuk mata itu bisa ngilangin pusing kalo dipijit. Sumbernya sih gak jelas, pake feeling aja. Kalo di kita enak, biasanya di orang lain juga enak. Tapi ritual-nya lain kalo mijit ibu. Karena suka males-malesan, jadi yang dipijit juga gak jelas. Kdang hidung, kuping, mulut, juga ikut dipijit. Eik paling seneng juga kalo ayah berangkat pagi, terus dibangunin dengan cara dipijet. Cuman kadang babe kalo mijet gak mikir jumlah tenaga. Sekalinya kenceng, kenceng banget. Bangunin sih bangunin, tapi kalo salah urat atau patah tulang gimana?

Balada "man jadda wajada"

" Man jadda wajada, man saaro'ala ddarbi washola..lengkap dengan artinya: barangsiapa bersungguh-sungguh pasti dapat, dan barangsiapa berjalan diatas jalannya pasti sampai". 2 mahfudot (kata mutiara) itu kami tulis di mading kamar mandi. Jangan-jangan ada yang komentar, tulisan Arab kok di kamar mandi. Kenapa orang nggak bisa bedain ayat Qur'an dengan bahasa Arab ya. Lanjut lagi, ceritanya kami punya 2 mading (majalan dinding), satu disekitar kamar anak untuk naruh karya anak-anak dan info-info penting macam klipping, jadwal acara menarik dll. Satu lagi sengaja pintu kamar mandi anak, sisi dalamnya kami pilih bahan whiteboard, selain tahan air juga biar bisa untuk nulis perbendaharaan kata atau hal-hal penting biar sambil di toilet anak-anak baca sesuatu. Tetapi 2 anak itu jiwa usilnya selangit...setelah mereka baca dan mungkin hafal (katanya disekolah mereka juga terpampang 2 mahfudlot itu), Vikra melanjutkan dengan menulis bawahnya, yang semula kami pikir..wah hebat banget ini anak bisa hafal mahfudlot lain karena tulisannya mirip pakai "wa man"juga. Tapi pas kami dekati tulisannya ternyata:
"wa man anta" (dan siapa kamu?).
Lalu Vinda nggak kalah saing, dia buat sesuatu, kalimat "barangsiapa berjalan diatas jalannya..., dia hapus beberapa hurufnya, kalimatnya jadi berbunyi:
" barang apa berjalan diatas jalannya?".
Ampuunnnn.... usil banget....

"Usil" mereka memang sejak kecil, keturunan kali ya...salah satunya, waktu mereka kecil, setiap mau bobok, kami pingin mentradisikan mendongeng atau bacakan buku cerita. Tapi mereka, terutama Vikra selalu take over : " ibu, sini Vikra aja yang lanjutin", karena dia selalu protes yang dongengnya nggak seru, yang alurnya nggak seperti di buku dll. Jadi gantian dia yang dongengin kalau mau tidur. Dalam hati ketawa tapi sisi lain Vikra jadi terlatih artikulatif. Lumayanlah dia pernah juara pidato dan story telling bahasa Inggris mewakili sekolahnya.

Kembali ke soal mahfudlot..Ceritanya kami ingin sedikit-sedikit menjadikan rumah sebagai "pesantren" buat anak-anak kami. Image bahwa pesantren yang bagus adalah alternatif edukasi yang menarik, melekat didalam diri kami berempat. Saat liburan, kami sering menyempatkan keliling ke aneka pesantren dari Pabelan, Gontor pusat maupun cabang2nya di Mantingan maupun Magelang, DarunNajah, Lazuardi, dll. Selain silaturahmi ke sobat-sobat ayah Ibu (karena ayah alumni Gontor juga), sekalian memperkenalkan anak ke dunia pesantren. Mereka cukup tertarik, tapi maju mundur dan saling nggelendot keberatan saat ditawari mondok. Vinda tidak mau ditinggal kakaknya, Vikra juga keberatan pisah. Aspek-aspek psikologis menggelayut, apalagi pengalaman beberapa alumni, pas curhat-curhatan, mereka merasa kohesi antar kakak adik menjadi tidak mendalam karena tidak bertumbuh bersama, tetap dekat tetapi tidak tahu banyak karena lama tidak saling bersama. Selain itu juga soal nutrisi, karena kekurangan gizi pada saat nyantri, bagi tubuh-tubuh rentan macam ibu, berdampak berbeda. Sebetulnya semua bisa dijembatani dan tidak bisa hitam putih melihatnya. Tapi akhirnya kami mencoba membuat konsep " mondok di rumah". Artinya kami pakai basic edukasi pesantren dengan panca Jiwa dan motto pondok dalam mendidik anak dengan segala spirit lain dari kyai dan guru-guru dan kami modifikasi dengan kesejarahan kami. Nafas motto dan panca jiwa pondok ini menarik:

MOTTO PONDOK
BERBUDI TINGGI
BERBADAN SEHAT
BERPENGETAHUAN LUAS
BERPIKIRAN BEBAS

PANCA JIWA PONDOK
KEIKHLASAN
KESEDERHANAAN
UKHUWAH ISLAMIYAH
BERDIKARI
BEBAS

Ada hal-hal yang coba kami kritisi, misalnya ukhuwah Islamiyah kami tanamkan menjadi ukhuwwah insaniyah. Karena alumni pondok banyak yang terbiasa hidup dlm mono religion, bergaul dengan kebanyakan orang Islam, sehingga mental pluralisnya tidak optimal bertumbuh dalam setiap orang. Dalam khutbah-khutbah para alumninya cenderung masih banyak prejudice ini itu thd agama lain. Kemandirian dan kesederhanaan selalu kami usahakan. Kami menerjemahkan, sederhana adalah pilihan gaya hidup lebih bersahaja dari kemampuan seseorang. Sederhana tidak harus makan tempe tahu dan punya 3 baju, tetapi mampu beli Mercy atau truck :) tapi memilih mobil bersahaja, mampu belanja di mall tapi bersenang belanja di pasar tradisional, mampu beli AC tapi memutuskan rela berpanas tidak pakai, dll itulah kebersahajaan. Bersahaja adalah hidup karena faedah bukan karena "wahh".

Alasan lain membiarkan anak "mondok dirumah", kadang dalam hati...sekolah kami tinggi-tinggi, beberapa kali jauh dari anak, kenapa kok tidak dikembalikan ke mereka ilmu-ilmu itu selain dibagi juga ke orang lain?. Jadi memodifikasi rumah menjadi spirit pesantren ini lucu dan sedang diperjuangkan terus...karena tantangannya minta ampun, dari IT sampai pop culture yang menganga diluar.... kami coba bikin fondasi pondok tetapi dinding dan atapnya bisa fleksible... bukan copy paste pesantren yang konvensional tentunya. Walaupun sibuk, kami bangga anak mengaji karena kami yang ajari (waktu kecil pernah kami biarkan ikut iqro' di musolla sebelah biar ceria dengan teman-temannya), kami juga ingin anak-anak sedikit tahu bahasa Arab sebagai kunci memahami tradisi agamanya. Tidak muluk-muluk, pesantren adalah ruh..bukan raga, bukan sekedar jilbab dan peci.

Sambal Goang



By: Vandana Mernisi

Biasanya kalau wiken kta makan di rmh makan, salah satu favorit kita di rmh makan Gandi* yang ada pecaknya. Tapi kalau disitu ibu mesen sambel goang terus. Vinda blm prnah nyobain. Br blm lama ini Vinda nyobain, rasanya enak ternyata. kata ibuku, dulu waktu hamil Vinda, ibu suka mual, bisanya makan pake sambel goang itu. Trus ibu manggil pelayannya (empok waiter Betawi),nanyain resep sambel goang. Katanya pake cabe rawit, asem muda, garam doang.


Kalo malam minggu kmren, Vinda ama keluarga keluar mkn di Pondok cabe tmpat nasi uduk enak **, disana banyak yang jualan buah-buahan. Trus habis makan kta beli jeruk Bali. Harganya beragam-ragam, ada yang 10 ribu 3, tapi kcl-kcl. Ada yang 5 rb satu, yang paling mahal 8 rb satu. Yang 8000an itu gede-gede. kta beli yang 8 rb satu. Trus kita pulang mampir beli martabak. Martabaknya enak, dulu sih rame, skr sepi. Nggak tau kenapa. Sebenernya toppingnya enak, tapi lapisan adonannya krng lembut. Trus kita pulang, tapi bannya kempes, mampir ke tambal ban. Nyampe rumah buka pintu ada Melon (kucing) nungguin depan pintu. Ini kebiasaan Melon, kalo nggak ada orang, dya nungguin kta-kta didepan pintu terusss.


Ket tempat (note ibu)
* RM gandi di pintu masuk Sawangan Golf (200 meter dri perempatan Bj Sari ke arah Depok).
** Nasi uduk Betawi di pintu masuk geria Muliatama Jl Raya Gaplek -Pdk Cabe, sisi luar airport Pelita Air service Pondok Cabe

Greenery of Leiden rivers

Photographer: ci ibu manis.















Ini jeprat-jepret ibu saat bersepeda atau jalan kaki di seputar Leiden untuk menghibur diri pas Vikra Vinda ayah sudah pulang. Ini bukan hobi, walaupun oleh temen-temen photographer dikomentari sayang kalau tidak dikembangkan. Foto 1: jalan sungai dekat Molen kalau lagi ke arah stasiun CS. Foto 2: Zoete Woudsingel, sungai arah rumah tante Sandra kalau diajak maem bareng. Foto 3 + 4: Witte Singel sungai yang tiap hari disusuri kalau mau ke kantor atau ke kampus.

Makan Enak Seputar Sawangan-Pamulang

Soup kambing
- Sebrang Rivaria 100 meter arah depok.
- Soup Gunung Sindur

Ikan dan Seafood
- Pecak Ikan mas RM Gandi
-
Soto

Pecel

sayur Besan

Nasi Goreng-Aneka m

Sekolah (pada) Binatang

Status di facebook Ibu: "lagi bertaman, lihat jaring laba-laba besar yang nutup akses ke pojokan....bingung, mau dibuang kok aku serasa trantib gusurin sepihak, padahal buatnya pasti susah. Tapi kalau didiemin, takut laba-laba aneh itu beracun dan ngundang korban....ada ide???"

Komentar2 di FB:
1.Ona Kaplale: "diajak diskusi ajaaaa... hhihi... siapa tau ga beracun, jeung.."
2.Zm fauzi: "Pindahin sak sarang-sarangnya, tapi BTW ngesetnya lagi bisa gak? Itulah kuasa Allah....sekedar bikin peta jejaringnya di komputer kita pasti bisa, tapi pas implementasi cara masangnya....serahkan pada sang laba-laba lagi deh".
3.A. Farhan: "rumit, minta prtimbangan k spiderman aj gmn bu hehe?"
4. MH Thamrin: "Aku tahu laba-laba itu..namanya Muchlis kan?"

Seperti pernah ditulis beberapa kali oleh ayah dan Vikra, di rumah gang jambu ini tempat yang "nyaman" jadi kebun binatang. Entah apa alasan binatang itu untuk menyatu dengan kami, yang jelas penghuni betahnya ada 2 kucing pets (Benzo, Melon), ikan di 2-3 kolam, kelelawar bertengger di teras, burung sriti di ruang tamu, kodok, cicak, kupu-kupu, tokek, laba-laba. dll.

Lalu serangga-serangga lain gimana? Disini masalahnya... pernah suatu kali lagi main ke Makasar, ada temen yang ambil sendal keras dan menghajar kecoa bertubi-tubi...duhhh.. melekat dalam memori kok kejam banget ya. "Itu harus dibasmi yun...kamu tahu kan itu serangga berbahaya..bla..bla...". Pokoknya panjang lebar sobat yang kebetulan dokter ini menjelaskan ke kuping ibu yang seakan terbuka tapi hati kemana-mana. Sekarang ini, sebagai jalan tengah, kalau ada kecoa, karena nggak suka tapi nggak tega, jadi ibu telentangin saja kecoa itu dan diserahkan pada Tuhan. Kata ayah...."itu mah sama saja membunuh". "Iya yah..tapi kalau dia kuat bisa survive kan?, lagian kenapa sih Tuhan kok mbikin binatang yang telentang aja bisa matii?". Tapi kalau pas lagi gak sabar ya ambil sendal dilumpuhkan pelan, diambil dan dimasukin ke closet dengan pikiran, maaf ya..aku nggak bermaksud membunuh tapi siapa tahu kau bisa survive didalam sana.

Saat nyemprot nyamuk atau pakai raket nyamuk..selalu konflik batin, "ini syirik gak ya? kok serasa meyekutukan Tuhan, karena tiba-tiba aku jadi Tuhan yang seenaknya membunuh makhluk Tuhan..sang nyamuk". Entah..selalu saja guilty, tapi kalau ingat bahwa itu binatang berbahaya, ya dengan bismillah ketika harus membasmi mereka... sesekali ingat ungkapan om Daris saat menunggu uti sakit dan gak bisa tidur gara-gara nyamuk.."udahlah bu..ikhlaskan, nyamuk itu kan makanannya ya dari darah kita, masak berbagi sedikit saja kita habisi nyawanya". Wajah uti kelihatan bingung tapi ada yang mengalir ke hatinya..

"Pokoknya ibu cuma tega basmi nyamuk dan kecoa. Kalau semut jangan pernah dibunuh, mereka tidak mengganggu dan tidak berbahaya" begitu ungkapan berulang. Jadi paling gemes dan sedih kalau lihat ada orang menyemprot baygon ke semut...atau menyapu kasar semut-semut...kenapa sih nggak di alihkan saja? Kalau selama ini harus menyemprot ke sarang kecoa atau nyamuk....selalu berfikirnya gimana biar tidak pada berkembang biak...tetapi pas ada yang bergelimpangan mati...perasaan aneh muncul.

Entahlah....yang jelas capek-capek melihara ikan di kolam, pas mau panen selalu tak tega memakannya (tetapi demi tamu ya tetap dimasak tapi tak berani melihat saat dimatikan). Lihat ada kucing liar yang main, lalu kita cuma kasih makan piaraan kita..kadang terbersit..kok diskriminatif ya...ini persis kebijakan immigrasi yang anti sama migran, yang dimanjakan cuma warga/milik kita dan tutup mata pada pendatang walaupun itu kucing....

Rupanya nggak gampang berhati begini, kadang relung hati didalam sana merenung..mungkin nggak ya, suatu kali ketika pahalaku terlalu sedikit dihitung, satu dua binatang itu mengajak diskusi Tuhan, "apakah menyelamatkan nyawa binatang yang lemah ini kalah oleh kening hitam karena mabuk sujud memuaskan dirinya dan sibuk jadi peminta-minta nasib dan penghiba ke Tuhan dalam doa ndemimil mereka"?

Casting paksaan: Seru-seruan sama temen2


By Vikra Alizanovic

Belum lama ini, gw dan temen-temen pergi ke Museum Air Tawar di TMII untuk ngerjain tugas biologi.Udah jauh-jauh ke TMII, gak mungkin dong kita langsung pulang. Sehabis dari TMII, kita semua jalan-jalan ke Citos. Banyak kebodohan yang kita laksanakan sepanjang perjalanan. Dari lampu katana gw yg gw nyalain pas di terowongan dan lupa gw matiin. Jadi deh, lampu nyala terus sampe citos. Nyasar sudah pasti. Kita kelewat gerbang masuk tol, sehingga mesti muter 2 kali. Salah kordinasi juga sama temen yang bilang kalo ada razia, sehingga mesti muter lagi dan masuk gerbang tol yang sebelumnya. Pokoknya ngakak-ngakak sepanjang jalan.

Sampe citos, rencananya sih mau nonton aja. Jadilah, kita nonton Fast & Furious. Kacaunya, gw salah ngitung pas beli tiket. 12 orang, padahal ada 13 orang. Nah, pas udah masuk studionya, mbak petugasnya nyamperin gw. Jadilah, gw harus keluar lagi ke loket dan nambah lagi 1 tiket.

Selesai nonton, kita niat nyari makan. Duit cash gw tipis. Tinggal ada kartu Flazz BCA, tapi sedikit tempat yang bisa pake Flazz. Karena keliling gak dapet, akhirnya kita nongkrong aja sambil nonton fashion show. Habis itu, kita main ke timezone. Main keenakan, ngabisin kartunya Adit, temen gw. Karena pada lagi asik main, gw diem2 ke J.Co bareng 2 temen gw, Chandra dan Teguh. Eh, disana kita ketemu lagi sama mas-mas dari Radio Prambors (yg lg bikin acara disitu). This is bad. Belum tahu ceritanya? Gw ceritain..

Jadi, di citos lantai atas lagi ada acara Fruit Tea Bintang Gokil, yang digarap sama orang-orang Fruit Tea sama Prambors. Nah, mas-mas Prambors ini sweeping dari atas ke bawah narik2in para remaja. Gw juga sebelumnya udah ditarik 2 kali. Pertama pas mau nonton, gw bilang aja telat mau nonton. Yang kedua, selesai nonton, gw bilang aja ke toilet. Gw sempet mikir mau kabur lewat fire escape, tapi nggak boleh sama mas-nya. Kacaunya, mas-nya main fisik pegang-pegang. Kalo mbak-nya sih ga papa. Kalo begini caranya, gimana gw gak kabur. Nah, pas di J.Co ini, kynya mas ini inget muka gw. Pengen kabur, udah telat. Akhirnya, gw buang muka. Eh, si mas ini ngajak ngobrol Chandra dan chandra ngiya-in aja. Terpaksa deh, harus ikut. Gw maju sama 4 temen gw yang lain. Chandra, Dimas, Teguh, dan Kyka. So, naiklah kita ke panggung, memperkenalkan diri, dsb. Skenario kita, jadi begini : gw, dan yang lain lagi jalan sambil minum fruit tea, nah, chandra gak kedapetan, dan dia minta-minta ke kita. Long story short, dia pura-pura pingsan buat dapetin Fruit tea, kita panik yang dilebay-lebay-in. Lalu chandra kita minum-in fruit tea dan dia bangun, trus kita ngomong bareng2, “Fruit Tea enak buat Seru-Seru-an!!”.

Lumayan seru lah. Plus, gw juga lagi haus. Plus lagi, kita dapet suvenir stiker peserta yang gw tempel di lemari, sama pin dari prambors. Not bad lah.

Setelah itu, kita main lagi ke timezone, terus pulang deh. Nah, pas pulang, bensin gw udah sekarat banget. Gw jg lagi gak ada duit cash. So, kita keliling2 nyari pom bensin yang bisa pake Flazz. Gak ada yang bisa. Giliran ada, mesin Flazz-nya rusak. So, bismillah, dan alhamdulillah, bisa juga nyampe rumah…