Tampilkan postingan dengan label Cerita Weekend. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Weekend. Tampilkan semua postingan

Camping - Hiking di Gunung Pangrango (2)

By Vikra Alizanovic

Sehabis sarapan, kita berencana mau ke Lembah Halimun. Gak jelas mau ngapain. Sampai sana, Ayah nyuruh kita make sepatu. Turns out, we’re going hiking. Off to the high mountains of Mount. Gede-Pangrango. Me, mom, and Vinda decided to just wear sandals. Ayah satu-satunya yang paling antusias soal make sepatu. FYI, belakangan ini bokap jadi punya fetish sendiri sama sepatu. Buat setiap kegiatan nyaris ada sepatunya sendiri. Waktu ke tempat-tempat sport stations, ayah beli banyak banget sepatu. Ada sepatu boot kulit yang bagian depannya keras banget, gw yakin bisa nendang orang sampai tulangnya patah. Alesannya sepatu ini buat naik motor. Ada lagi running shoes, buat lari. Terus sepatu bola, sepatu kantor, sepatu casual, sepatu badminton. Aneh gak ada sepatu buat tidur atau buat mandi. Sepanjang perjalanan kalo kita ngeluh sedikit soal pake sendal, ayah langsung nyeletuk lagi soal pentingnya sepatu.

Sedikit note, bahwa pertama-tama, yang paling banyak ngedumel dan menyatakan diri paling gak niat naik gunung, is none other than the devil herself, Vinda. Dan gw udah jadi the bad guy duluan dengan ngingetin dia supaya jangan manja. Nah, faktanya, pas udah di gunung, dia yang paling semangat. Berhubung gw masih agak sakit, dan sedikit susah napas kecapekan, gw harus berhenti beberapa kali to catch my breath. Nah, if you know Vinda, then you would how she would react. Yap, dia dengan sukses ngingetin gw supaya jangan manja. She lectures me. How nice.

Sebelum naik gunung, kita nanya beberapa orang berapa jauh jaraknya sampai ke air terjun. Ada yang bilang 1 kilo, 2,5 kilo, 1,7 kilo lah. Faktanya, hiking di gunung gak bisa dihitung berdasarkan jarak. Jalan yang naik-turun-naik-turun-naik-naik-naik-naik-naik sampe bikin kaki bengkak kalo pake sendal dan bikin ayah ngedumel lagi soal pentingnya sepatu, yah pokoknya, naik gunung gak gampang. Kita sempet stress soal Vinda yang ngedumel about how slow we are, and how fast she is. Dia juga ngedumel tentang berapa kali kita udah disalip sama rombongan lain.

Dan ternyata, setelah jalan panjaaaaaaaaaaaaaaaaaang, kita nyampe, di pos PERTAMA. Jalan ke air terjun masih stengah jalan, dan medannya lebih berat. For me, sempet kepikir untuk balik aja naik ojek. Tapi karena dorongan dari om-om yang ada di pos itu, akhirnya I decided to keep going.

Jalannya emang bener berat. Ada bagian dimana jarak setengah kilo, dan jalannya menanjak terus. Kita sempet berhenti 2 kali disini. Tiap kita nanya orang, “masih jauh gak pak?”, they all answer with the same answers. “udah deket kok pak”. Liars. Tapi mungkin emang poinnya supaya kita terus jalan. Kita sempet disalip beberapa rombongan lagi. Malah, ada mas-mas yang tadi kita temuin, yang udah mau balik lagi kebawah. Dia bilang jalannya udah deket. Katanya tinggal naik-turun-naik-turun-jembatan-naiiiiiiiiiikkk, terus sampe deh di air terjun.

Excited to get there, kita jalan terus. Kita juga penasaran soal seberapa naik ‘naiiiiiiiiiikkk’ yang mas tadi bilang. Nah, sesampainya kita di jembatan, ternyata naiknya lumayan ‘naiiiiiiikkk’. Daripada hiking lebih bisa dibilang panjat tebing.

And after all that effort (rupanya kita naik gunung ketinggian 1350 kaki) akhirnya kita sampai di air terjun. Our first thought was ‘WOW’. Subhanallah, air terjunnya indah. Jadi air terjunnya mengalir di atas dinding batu yang tinggi banget. Di bawah air terjun itu mengalir air yang luar biasa bening dan luar biasa dingin. Disana cuma ada tukang jualan pop mie-minuman dan bakso tusuk. Kita makan pop mie bareng-bareng di bawah air terjun. Pop Mie never tasted that delicious in my life. Karena gw menderita alergi terhadap dingin, dimana kulit gw bisa langsung bentol-bentol semua, I stayed di warung minum tersebut sambil nyeruput kopi susu. Nikmat banget. Now this is what I would call vacation. Setelah itu kita foto-foto, ayah sempet nyoba mau nyebur, tapi gak jadi karena terlalu dingin.

After a while, we decided to go back to the foot mountain. Setelah jalan sebentar, kita nyampe di Pos tadi. Dari pos tadi gw pulang duluan naik ojek, since I’m the most exhausted one. Tapi yak, bayarannya untuk meninggalkan keluarga, kaki gw berdarah-darah. Ternyata rute ojeknya isn’t exactly an ojek route. Kita ngelewatin kebun the dan jalannya sempit banget, sehingga lutut gw kebeset dahan yang tajem. Yak, karma kali. Tapi akhirnya gw sampai di mobil, dan gw tidur di mobil.

Setelah ayah, dkk nyampe, kita nyari makan di daerah sekitar situ. Kita makan nasi goreng, soto mie, gorengan, jagung bakar, sambil nyeruput teh manis anget. Nasi gorengnya ternyata enak. Habis makan, we were exhausted. Jadi, kita ngambil sleeping bag, tiker dan selimut, dan masuk ke camping groundnya. Kita istirahat di gazebo pinggir sungai sambil tidur-tiduran. Ibu sama ayah mandi di sungai.

Out of nothing, tiba-tiba ayah ngusulin kita camping aja. Toh rencana awal emang kita mau camping. Minimal itu harus kesampaian. Dad promised us to just take a nap in a tent and leave at night. So, sekita maghrib tenda sewaan kita sudah didirikan. Kita tidur dan foto-foto lagi didalam tenda. Skitar jam 10 malem, kita beres-beres dan pulang. Yang penting kita udah tidur di tenda. That counts as Camping. Malemnya, kita makan di restoran deket bandrek yang ayah cari-cari dan akhirnya ketemu juga.

After all that, we go back to Jakarta with a large smile and an unforgettable experience to tell..

Lomba Foto kembang pisang

Vinda
ayah
Vikra
Ibu



Ngisi wiken sederhana, menunggu makan siang, estafet kamera bergantian ngeklik kembang pisang di halaman. Syarat lomba: masing- masing ngeklik 2 kali, tidak boleh lihat karya pemotret sebelumnya, setelah selesai baru boleh lihat, kalau sama boleh diulang. Hasilnya: 2 karya ayah dan Vinda ambil sudut yang sama (tp yg diupload yg beda)... selamat bantu menilai!!

Spa Fish & Hepi Weekend di Puncak

By : Vikra Alizanovic.

Sabtu kemaren, kita sekeluarga pergi ke Puncak. Acaranya dadakan. Kita diajak Om Fauni, sedangkan gw lagi nginep di rumah temen di Cinere. Terpaksa, gw harus berangkat pagi-pagi dari rumah temen, soalnya Ayah bilang mau berangkat subuh.
As expected, gw telat bangun. Jam 5.30 baru berangkat dari rumah temen gw, dan pas gw sampe rumah. Taunya, gerbang rumah masih dikunci. Gw klakson, ga ada yang respon. Ternyata Ayah Ibu Vinda semua kesiangan juga..
Ternyata pas Ayah mau nyetel alarm jam 4, Ibu bilang gak usah. “Hari “libur” gini gak mau pake alarm. Biarkan kita bangun sewajarnya. Jadi, kalo aja tadi gak gw klakson-in, mungkin gak bakal ada yang bangun.
Akhirnya, kita berangkat dan sampai GunungMas kebun teh sekitar jam 9 kurang. Sampe sana, kita langsung ganti pake sepatu. Om Fauni udah disana dari jam 7-an. Kita semua langsung jalan, lewat trek hiking GunungMas melalui kebun-kebun teh. Jalannya cukup jauh. Naik-turun bukit. Kita juga lomba lari. 2 kali. Hasilnya, gw menang berturut-turut. Ibu, si turis jepang wannabe, teriak-teriak gak jelas. Vinda, ngeluh. Dan Ayah, sekarang keseleo dan pegel-pegel.



Setelah jalan pagi dan minum teh hijau di GunungMas, kita pergi makan siang. Karena kebetulan Om Ipung-Bude Ikun lagi di Puncak juga, kita jalan bareng. Kita makan di Ayam Goreng Cianjur. Sedap. Ada nasi uduk, ayam bakar, tempe penyet, cah kangkung, tumis pucuk labu siam, dll. Perut kenyang.
Habis makan, kita mutusin ke hotel Puncak Pass. Disana soalnya udaranya dingin. Om Ipung nyewa cottage di Puncak Pass. Sampai di Cottage, kita yang cowok-cowok main gaple. Seru. Tadinya sempet kepikiran pengen berenang, tapi karena dinginnya pasti minta ampun, dan gw alergi dingin, gak jadi deh. Pas udah sore-an, kita pergi ke kampoeng Brasco (outlet). Cari baju gw ama Vinda. Habis puas belanja, Om Fauni nawarin nyoba Fish Spa. Ituloh, yang kaki kita dicelupin ke akuarium yang isinya ikan-ikan kecil yg diimport dari Turki), terus kaki kita dikerubutin. Katanya, manfaatnya bisa mengangkat sel-sel kulit mati dan memperlancar peredaran darah.

Nah, pertama, gw sama bude Ikun dulu yang nyoba. Kita harus ngebilas kaki kita dulu. Nah, pertama pas masukin, kaki gw langsung dikerubutin ikan. Kaya pembagian BLT aja. Kaki gw pembagi BLT-nya dan ikan-ikan itu rakyat kurang mampu-nya. Gw teriak-teriak tertawa di awal. Gelinya minta ampun. Sampai sela-sela jari kaki juga digerogotin sama tuh ikan. Lamanya 15 menit. Habis gw, Vinda yang nyoba. Hasilnya gak keliatan banget. Paling kulit gw yang rada lebih halus.

Nah, habis having fun di Brasco, kita balik ke cottage Puncak Pass untuk jemput Om Ipung dan go to have dinner. Kita ber-dinner ria di RM Rindu Alam. Spesialis kambing. Jadi di meja itu disediain segala jenis kambing. Dari kambing guling, sop kambing, sate kambing, sate padang, ada juga sate ayam. Kita makan lahap. Daging kambing guling-nya mantap banget ditambah sambel kecap. Kenyang banget. Habis dinner, gw pamit sama om ipung dan bude ikun. Mereka nginep di Puncak Pass, sedangkan gw skeluarga sama om fauni pulang balik ke Jakarta. It was a fun weekend, dan besoknya masih hari minggu..

Sambal Goang



By: Vandana Mernisi

Biasanya kalau wiken kta makan di rmh makan, salah satu favorit kita di rmh makan Gandi* yang ada pecaknya. Tapi kalau disitu ibu mesen sambel goang terus. Vinda blm prnah nyobain. Br blm lama ini Vinda nyobain, rasanya enak ternyata. kata ibuku, dulu waktu hamil Vinda, ibu suka mual, bisanya makan pake sambel goang itu. Trus ibu manggil pelayannya (empok waiter Betawi),nanyain resep sambel goang. Katanya pake cabe rawit, asem muda, garam doang.


Kalo malam minggu kmren, Vinda ama keluarga keluar mkn di Pondok cabe tmpat nasi uduk enak **, disana banyak yang jualan buah-buahan. Trus habis makan kta beli jeruk Bali. Harganya beragam-ragam, ada yang 10 ribu 3, tapi kcl-kcl. Ada yang 5 rb satu, yang paling mahal 8 rb satu. Yang 8000an itu gede-gede. kta beli yang 8 rb satu. Trus kita pulang mampir beli martabak. Martabaknya enak, dulu sih rame, skr sepi. Nggak tau kenapa. Sebenernya toppingnya enak, tapi lapisan adonannya krng lembut. Trus kita pulang, tapi bannya kempes, mampir ke tambal ban. Nyampe rumah buka pintu ada Melon (kucing) nungguin depan pintu. Ini kebiasaan Melon, kalo nggak ada orang, dya nungguin kta-kta didepan pintu terusss.


Ket tempat (note ibu)
* RM gandi di pintu masuk Sawangan Golf (200 meter dri perempatan Bj Sari ke arah Depok).
** Nasi uduk Betawi di pintu masuk geria Muliatama Jl Raya Gaplek -Pdk Cabe, sisi luar airport Pelita Air service Pondok Cabe

Jalan " Pagi ke Danau

By Vikra Alizanovic

Minggu kemarin, kita sekeluarga pergi olahraga pagi. Gak tahu bisa disebut olahraga atau gak. Dengan berseragam kaos dan celana pendek, terus pake sendal, menempuh jalan becek, dengan niat mau makan indomie rebus telor dipinggir danau, gw gak tahu bisa disebut olahraga atau gak (kali karena ngiler indomie yang hanya boleh dimakan 2 minggu sekali di rumah kalee)
Anyway, kita mulai jalan pagi dari jam 8 (kayaknya sih). Jalan pagi kami mulai dengan antusias, sambil menyapa” orang yang kita temuin dengan nada sok akrab. Jalan becek kita tempuh dengan penuh perjuangan. Ditengah jalan kita berhenti nyapa orang yang lagi nangkep udang lobster. Ibu langsung bilang, “Dijual gak bang, bisa buat dimakan?” Ampun deh, kan bisa dipelihara. Nyaris tiap mau beli hewan, niatnya pasti buat dimakan.
Lanjut jalan, kita ngelewatin jalan becek lagi. Bingung gw, foto caleg-caleg udah numpuk sampe pas di depan rumah gw dengan muka yang bener-bener gak enak, tapi jalan ancur dimana-mana belum bener-bener juga. Cuma nambahin sampah di gang jambu aja. Anyway, Gw ama ayah jalan aja terus, begitu kita nengok ke belakang, ternyata ibu lagi berfoto-foto ria dengan gaya yang kurang bagus untuk kesehatan mata. Bermodalkan sebuah kamera dan bantuan dari putrinya, ibu berhasil mengacaukan keharmonisan pagi yang indah itu.

Lanjut berjalan, gak tahunya warung yang kita tuju tutup. Akhirnya, kita putar balik ke warung bang Niang. Bang Niang itu temen ayah yang dibeli tanahnya. Sampai sana, kita mesen 4 mie rebus telor sama the anget. Sedaap.. sambil makan di pinggir danau pula. Ini enaknya hidup di kampung. Setelah makan, kita mau nyobain naik getek/rakit. Vinda gak mau ikut. Takut katanya. Akhirnya, kita naik bertiga. Geteknya panjang, jadinya seimbang. Setelah kita udah jalan, eh, vinda baru teriak-teriak pengen ikut. Akhirnya, terpaksa kita harus menepi lagi. Ngerepotin banget deh.
Gw ngedayung di paling depan, ayah di paling belakang. Vinda sama ibu ditengah. Asik banget, kita bener-bener merasakan desa disitu, tanpa bayar sepeserpun, yah, kecuali buat indomie tadi. Ditengah jalan, gw sempet punya rencana untuk kabur naik rakit ke pulau lain, namun setelah mengecek perbekalan dan bawaan(vinda dan ibu), kayaknya gak mungkin. Jalan kita lama-lamain, biar kerasa, tapi jadi lama beneran karena vinda dan ibu menawarkan atau lebih tepatnya memaksa untuk mendayung. Belum lagi ditengah jalan getek kita nyangkut di jaring orang, hingga akhirnya mengharuskan gw haru berdiri dan ngangkat tali jaring itu pake dayung, sehingga geteknya goyang-goyang dan menghasilkan teriakan yang lumayan keras dari adik gw, yang bikin orang-orang di pinggir danau pada ngeliatin kita.

Akhirnya, kita udah nyampe lagi di tempat bang Niang. Di perjalanan pulang, sudah tradisi, merupakan ‘race to the bathroom’. Dengan perut yang kelewat penuh dengan indomie dan gorengan, begitulah jadinya. Sialnya, ditengah jalan, ayah mampir beli pupuk kandang. Eh, gw yang disuruh ngambil motor. Untungnya, ada temen gw yg lewat. Bisa nebeng deh. Setelah ngambil motor dan jemput ayah, ternyata gw malah disuruh bawa 2 karung gede berisi ‘fresh goat poop’ atau, tai kambing yang masih seger. Sial! Salah apa sih gw? Sampe rumah, karung itu susah banget buat gw turunin karena kejepit di stang motor. Karena kesel, akhirnya tuh kasur gw tendang”in. eh, jadinya malah ujung satunya bocor dan semua pup itu keluar. Gw ngerasa ada sesuatu yang magis happening, soalnya kepala gw udah kaya flying gitu, atau mungkin karena pup kambing itu saking bau-nya. Gak lagi-lagi deh.

nge-PIM, by me...

by Vikra Alizanovic

Sekarang, kerap tiap malam minggu gw diajak temen2 gw buat nongkrong. Gak jelas dimana, yang penting nongkrong. Gw punya beberapa temen yang mungkin kerjaanya tiap malem minggu nge-PIM (Pondok Indah Mall) terus..Bukannya gimana, cuman gw rada gak suka aja sama budaya macam gitu. Aside from the fact that it's costly, it's quite a distance from where I lived. Walopun begitu, bukan berarti gw gak enjoy dan menikmati. Jujur aja, untuk beberapa occasion, dan kalo ditemenin sama temen-temen yang asik, gw suka aja.

Beberapa bulan yang lalu gw juga baru tahu cara anak-anak remaja dengan dompet sedang macam gw ini :), nge-PIM. jadi, dibelakang mall itu, ada tempat parkiran yang emang kayanya dipake sama orang-orang yang males parkir di dalem mallnya. Bayarnya juga lebih murah.
Setelah itu, kalo lu gak ada duit buat makan di foodcourt, kansup (kantin supir) pun jadi. Hanya dengan modal 10ribu rupiah, perut kenyang, bahkan kekenyangan. Biasanya, kalo gua ma tmen2 gw sih, abis parkir, masuk lewat lift barang, keluar di lantai kansup. Masuk kansup dulu, gak jelas ngapain, kaya perhentian pertama lah, ngecek ada siapa aja. Kadang cuci mata sedikit. Karena menurut gw, jaman sekarang, mode baju bukan di atur di catwalk, tapi dari apa yang dipake cewek" di kansup tiap malam minggu. Yang mungkin aneh buat orang awam, kalo ngeliat kansup, justru dipenuhin sama berbagai remaja yang tampangnya nyaris gak ada tampang2 supir sedikitpun. Lucu.

Biasanya abis ngecek populasi di kansup, baru kita ke atas. Biasanya kita tawaf (keliling 7x mengelilingi ka'bah) dulu naik-turun dan keliling PIM. Nyari pencerahan. Sama nyari temen. Kalo lagi usil, kadang kita ke toko-toko musik, nyobain alat-alat, untuk ngecek kualitas, padahal buat pamer skill sama orang-orang sekitar, lalu berkomentar belaga profesional padahal ujung-ujungnya juga gak beli.
Kadang juga mampir ke toko mainan, ber-nostalgia, ngeliatin stand" hot wheels yang biasanya dimainin ama bocah-bocah kecil, dan memperhatikan dengan mupeng yang amat sangat. Belum lagi kalo mampir ke toko action figure-nya yang harga dan kualitasnya gila-gilaan. Cuma figure kepalanya Wolverine doang, 1 juta lebih, gila..

Trus kalo laper, kita liat dompet dulu. Kalo tipis, balik ke kansup lagi.. Kalo tebel, cek dulu, duit apa bon. Atau malah lu naruh STNK di situ. Alhamdulillah, Kalo emang ada duit, foodcourt lah. Atau kalo sedang, bisa lah beli hokben paket hemat yang cuma 15 ribu. gak terlalu kenyang, emang, tapi worth it sdikit lah.

Allover, it's not all that bad. Buat gw, sebulan sekali udah cukup main" ke sana. Gw juga gak suka kalo terlalu sering. dilihat dari dompet gua yang sedang, dan manajemen duit gw yang emang udah bener2 katro'--sumpah, 100ribu kalo gw lg gila bisa abis begitu aja tanpa gw inget gw pake buat apaan, dan akhirnya gw mesti nulis postingan lagi di blog ini buat dapet duit ekstra, yah, udah kayak part-time writer beneran deh gw. anyway--gw lebih milih nyantai di rumah dan ngerem di kamar, atau jalan-jalan ke tempat yang seger... ke bogor, atau puncak gitu...

Weekend: Belajar Bertaman






Istirahat adalah perpindahan dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Menerjemahkan weekend dengan semangat itu, ayah ibu bertekad merombak taman belakang tanpa tukang. "Bener nih yah kuat nyangkul-nyangkul?". "Bisa-bisa!!" begitu yakinnya ayah pas ibu tanya (walaupun esok harinya kami ler-teler). Yang jelas pohon pisang rimbun belakang, separuhnya kami bongkar karena Vinda sering komplain kegelapan dan terlalu lembab sampai boleh dikatakan gelap.
Pas sabtu kami mulai cari kembang sekitar rumah gang Jambu, karena memang Sawangan adalah centra tanaman. Tips mencari tanaman/bertamandari pengalaman kami; 1. Ini tips lucu, tapi boleh dicoba... survei dulu harga kembang yang kita inginkan, kalau pas survei kami menghindari pakai mobil, karena tukang tanaman sendiri (tetangga) bilang: "kembang ini kalau dijual ama yang bersedan bisa 50 ribu", padahal kami beli dengan motor cuma 10 ribu. 2. Tips berikutnya, kalau sudah tahu harga, kami memilih tidak beli pinggir jalan, kami biasa beli ke petaninya langsung yang notabene tetangga. Petani untung karena dapat harga lebih tinggi dibanding dijual ke pedagang, dan kitapun juga bisa dapat harga miring. Kalau pembaca gangjambu mau cari tanaman, kami bisa recomend petani-petani yang kami kenal dan ada di dalam-dalam. 3. Pilih tanaman yang ramah bumi; penyerap pollutan (macam sanxieviera), tidak manja dan haus air, juga pilih yang daunnya tidak mudah menyampah. 4. Idealnya pilih yang bisa untuk apotik hidup, misalnya kumis kucing, sirih untuk rambat, pandan, daun honje/kunyit/jahe/..sayang kami baru bisa koleksi beberapa, karena memanfaatkan tanaman yang sudah ada. 5. Bagus dalam pot, sehingga moveable, kalau bosan bisa ganti posisi.

Alhasil taman belakang beda tampilan, dan puasnya karena dikerjain sendiri sampai disain landscapenya-pun sendiri. Vikra sibuk jadi supir pembawa tanaman, Vinda buat cake yang uenak yang disantap sesudah melahab baso buatan sendiri juga. Hmmm...keep creative for your weekend and enjoy your happiness from a little thing !!

Demam sport : Dari Bagong ke Petruk!

Weekend kemarin nggak seperti biasanya, kami berempat ke Gramedia Bogor selain cari buku juga mau lihat-lihat treadmeal buat di rumah. Karena nggak ada yang sreg, akhirnya nemu alat sport lucu, seperti pompa yang fun untuk sit up and body shape. Gerakan demam sport ini emang secara obyektif perlu, karena kami cenderung "subur-subur" karena hobi hunting kuliner.
Kalau dance revolution game ini memang sudah sejak dulu jadi mainan kesukaan Vinda untk sport and fun...kalau ayah ibuyang coba bukan fun tapi jadi funny :)

Sit up, sit up, sit up!! kalau sekarang kita mirip artis Semar or Bagong...kita mau dan mentransfor bentuk jadi artis Petruk dengan cara bersport ini...

New Year Trip 1: How I Spend My New Year

By Vikra Alizanovic


Celebrating this year’s New Year’s Eve, we celebrate it in Jogja. At the 31st of December, we explore Jogja’s recreation place. We go to Ullen Sentalu Museum, the museum of Javanese traditional arts, which we will explain to you in another article. Then, we go to lunch at Boyong Kalegan, and to some other places. At the evening, we go to a Tourism Village, called Sogan Village, Desa Rejondani Ngaglik. At night, we decided to spend New Year’s Eve at my uncle’s neighborhood, roasting corn and grill fish.

But, my arrogant and selfish sister wanted to go to alun-alun. In there, there is a wide field which in the middle of the field stands 2 big beringin trees. The distance between those 2 trees aren’t far. It’s only about 10 meters or so. There is a local belief, which if you can manage to walk past between those 2 trees with your eyes closed; it means that you have a pure soul and good luck. Although it was only around 7 pm or so, the traffic is already jammed badly. Finally, we decided to turn back over and head back home. On the way back home, my mom still questioning my sister whether or not is she okay with this, because she was the one who asked to go there in the first place. I said to my mom, “Mom, don’t push it. Even if she really wanted to, what can you do? Didn’t you see the traffic?? ”. My mom spoiled my sister too much. Moreover, after that, my sister slept at the car until we came home.

After we arrived at my uncle’s house, all the neighbors were already gathering in one of their neighbor house. We joined them. It wasn’t that bad. It was quite pleasant, actually. They prepared barbeque, grilled fish, corn, some light drinks, ginger ale, and karaoke. I really enjoyed the food. I wanted to eat more but my mom told me to hold my appetite, since this is other people’s party, and we are just a mere guest. It was only me & my parents. My sister was already asleep. After some fish and some ginger ale, I was full. At around 10 o’clock, I was already sleepy so I went back to the house and sleep. In my sleep, I can hear the voice of people singing, which was quite annoying. Moreover, then, I hear my dad and my mom singing which is totally disturbing. A total racket. But, I was finally slept. A while later, I can hear a little voice of people counting down. I’m too tired to get up and celebrate, so I continue sleeping. The next morning, I wake up at around 8 am. I feel a little sad and disappointed for missing the party last night. But then I thought, there are still many years to come….

Enjoying a Reggae Concert at a Charity Case Event



By Vikra Alizanovic

Just last Saturday night, me and family decided to go out to town. There was an event happening in the Proclamation Statue Park, in central Jakarta. The event consist of sundanese traditional act, called ‘Calung Sunda’, which commence at 19.00 o’clock, and we have almost no interest in watching at all. I think, almost all of the people who came there only come to watch the show after the Calung. There’s a reggae concert, by Tony Q. Rastafara, who is quite well-known around the rastaman(it’s what they call people who enjoys reggae music, and commonly, rastaman are peoples who are oppressed and in a poor community). Tony Q’s songs are usually always talks about human rights, love, freedom, peace, etc. That is why he would be invited to such event.
When we arrived there, the Calung is still commencing. We take the time to look around at the conventional stands. At the first stand there was a miniature statue of the victims of ‘Lumpur Lapindo’ made from the actual mud from ‘Lumpur Lapindo’. Sadly, it wasn’t for sale, because it was poisonous.
The second stand was called the Green House. Next to it, it sells productive plants, or eatable plants, like pepper, cabbage, cucumber, etc. Inside, it sells a lot of spices from all over Indonesia. It also sells drinks made from a spices called ‘secang’ and ginger. It tastes almost like ginger ale, only, they didn’t add sugars to it. The taste was a little bit spicy, sweet, and warming.
Finally at 20.30 ‘clock, the real show starts. At first, they didn’t bring out Tony Q just yet. First, they bring out this guy called ‘Mbah Surip Van Der Saar’. Probably just a nickname. He sings all this funny songs spontaneously. He is covering for Tony Q while Tony is tuning his guitar backstage.
Then, after waiting for a while, Tony Q is finally out. Most of the crowds were standing up and most of them stand right in front of the stage and dance. We stayed back, because it might get dangerous. We just dance slowly in the back,but we really enjoyed it. The songs were after all really nice. It really spoke. I really enjoyed it. We all enjoyed it, except for my sister. While a live concert is going on, she just sat there and play a game on her phone. She’s the only one that’s really bummed out. I hate for bein’ like that.
We stayed for only a couple of songs, then we head out. We go look for dinner. We go to Blok M, and have dinner at Grilled Chicken Ganthari. It was really lively. It was a great night.

Karaoke Inul Vista


Salah satu ritual weekend adalah untuk katarsis. Jadi ngumpul dengan teman-teman, makan-makan asik atau ber-nyanyi ria adalah pilihan yang pas. Salah satunya karaoke dengan teman-teman fun juga menghibur. Keluarga gangjambu paling sering kalau karaoke dengan om Fauni-tante Neng, pernah coba aneka tempat, dari yang kelas Parung sampai Fatmawati, BSD atau di Inul Vista. Joged? pasti! Apalagi kalau ayah sudah nyanyi dangdut dengan backing vocal dan dancer kami semua. Paling anak-anak yangbermuka masem sebel lihat orang tua-tua yang lupa usia.
Kali terakhir jama'ah lebih banyak, ada om Ace calon anggota dewan kita dengan istrinya tante Ita dengan 2 artis Cerah dan Pancar yang jagoan nyanyi Laskar Pelangi berulang-ulang. Vinda hobi nyanyi lagu Rihanna yang ngebeat, Vikra semi pop rock, tante Neng Ibu yang slow-slow..ayah dangdut, om Ace tante Ita berpop mutakhir, nah om Fauni sibuk cari lagu word...yang bikin kita penasaran. Ujung-ujungnya...rupanya lagu "iso ngliwet". Mesakke...

Tapi puas berrame ria setelah menikmati makan malam di resto jepangHanamasa rame-rame traktiran tante Neng. Karaokeannya gantian ayah yang traktir.... Lagi yuk...

Obrolan Weekend: Laptop dan Anak Aktifis



Ayah (hari sabtu) : Tadi siang rapat POMG Leci (Labs School Cinere sekolah Vikra), Tgl 4-7 Nop kelas 1 (angkatan Vikra) ada riset trip di Lembang Bandung. Vikra dah nulis, dah baca?

Ibu: Keren tuh. Bagus riset di Lembang. Moga-moga ada live in dalam small group kayak program Al-Izhar di Halimun. Murid-murid tinggal sama petani, pemetik teh, dan membuat report dan refleksi). Ciadek lagi ngapain? Temen-temen sekolahnya pada suka maen kerumah nggak?

(Biasanya dia bawa temen2 sekolahnya kerumah, dan kita dapat kewajiban mulangin mereka satu persatu ke daerah Pamulang 8-10 kilo. Tapi ya kita layani aja, sekalian njalin keakraban sama orang tua temen-temen dia. Di jalan juga bisa fun ndengerin bocan-bocah ABG itu ceriwis pada cerita. Buat ortu penting untuk melihat emotional intelegence anak dalam berkawan, dan melihat progress mereka. Pernah kita dengar anak-anak itu menggosipkan temannya yang sok, atau perasaan mereka waktu ranking turun..dll. Pulangnya biasanya nglanjutin ngobrol ttg sikap-sikap itu)

Vikra: Bu, Udah baca tulisan Vikra belum? So?

Ibu dah baca, bahasanya mantap..isinya kayak aktifis, kritis tapi fun. Wah kalo gini emang layak dapat laptop. Tapi rajin nulis yak. Test.. nglanjutin compliment via Hp ayah kemarin... Hanya ada satu kata "hebat". Ibu suka eui bacanya. Dah 7 kali ibu baca. Bahsa Inggris dan logikanya ngalir. Lanjut maaangg.. Dah dapat kan laptopnya gak sampe sehari?

Gipain yak? Ditelp susah kalleee. Ya udah kalo gak papa. Vinda lagi keluar ama temen-temennya. Vikra nunggu komentar tulisannya..entar ayah telp kalo dah ada Vinda

Masak? Coba lagi yang..Barusan masuk rumah..sabtu biasanya berisik ada tukang (ibu mojok di kafe bawa kerjaan sambil jalan moto-moto).

Ibu (hari minggu) : Yayangkkkuu... kok gak ada respon? Sms komen ttg Vikra masuk gak? Emang enak dibilang nggak adil? Kita didemo dengan cara fun sebenernya dengan kalimat Vikra"; "I want it, I demand it and I have my rights. I have my arguments..." bahasa aktifis banget. Great yak!!

He..he.. ayah speechless..cieee..Dia show of force lah pokoknya. Bahasa Inggrisnya bagusan mana? jujur?

Bagus mana ama native speaker (maksudnya ayah dijulukin Native sama om Awan gara-gara ke Amrik dulu). Jujur! speechless juga. Dia dah pegang itu laptop? Apa komentar dia dalam hitungan hari dah dapat laptop?

(Sebetulnya sejak 2 bulan lalu kami dah rencana beli laptop, tadinya mau yang mini, tapi akhirnya yang laptop normal. Tapi kami nggak mau anak minta langsung ada. Jadi ayah udah beli tapi diumpetin dan minta Vikra nulis dulu kenapa perlu laptop. Selain diskusi bendanya, kami sempat diskusi perlu nggak dibilang ini milik siapa atau siapa? Sebelumnya kami juga beda pendapat soal Vinda yang dibeliin motor. Ibu strongly against/menolak sikap ayah yang menggampangkan ok waktu Vinda bilang itu motor Vinda (padahal sebetulnya motor bersama). Karena Vinda ada kecenderungan suka dengan kata "punya" dan takutnya dia berbangga dengan temannya, dan teman2nya akan "pingin"dan menuntut orang tuanya yang barangkali nggak semua mampu. Jadi intinya sikap Vinda jangan disuburkan. Tapi ayah punya argument lain, bahwa itu sekedar fun tapi juga jelas untuk sharing tanggung jawab. Kalau itu merasa punya dia, maka dia akan tangung jawab rawat, bahkan kata ayah Vinda mau cuci motor segala. Ayah ngeledek..katanya emang ibunya pernah cuci motor/mobil? Lha wong gak punya sense of belonging je....

Ayah: Ini lagi di lapangan badminton. Seharian minggu di rumah. Beresin laptop. Udah bisa internet. Vinda sibuk ngrefrienster. Kakaknya download komik. Hallahhh. Vikra senyam-senyum gak jelas. Dia puja puji laptopnya bagus. Tapi justeru Vinda yang make melulu.

Lho laptop apple yang baru dibenerin katanya dah dikuasai ndoro putri menis-menis. Kok sekarang expansi punya kakaknya lagi?

Iya karena i-book Apple (yang rusak dan habis dibenerin di Jogja berbulan-bulan) gak bisa ngenet... wis pokoknya sibuklah dia. Gak tau friensternya kayak apa...

Recycle - Small Art at Home

Keluarga gang jambu memang perlu belajar lagi untuk merecycle sampah seperti keluarga teman lain yang disiplin sekali memisahkan sampah organik dan non-organik. Kami belum disiplin sekali soal ini, perlu belajar! belajar! Tetapi ada budaya kecil-kecil yang kami terapkan, misalnya stereo foam selalu kami cuci ulang untuk bisa dipakai lagi dan lagi (sampai ditertawakan PRT, awalnya dikira pelit). Misalnya untuk mengirim makanan ke tetangga atau untuk tempat wadah benda kering, atau memberi makan binatang. Lalu botol-botol juga kami organisir dikasih pemuda kampung buat diuangkan untuk kas masjid atau desa. Sampah yang bisa dibakar dan dikomposkan kadang kami buat (tetapi belakangan pengelolaan sampah oleh pemuda kampung, jadi sampah diambil banyak-banyak untuk menguruk legokan yang dalam katanya. Mestinya kami mulai bisa intervensi untuk kebijakan kampung ini, selama ini kami memastikan jangan dibuang disungai.
Sampah-sampah yang kira-kira bisa kami daur ulang menjadi karya seni selalu kami kumpulkan. Misalnya:
1. Kok badminton bisa dipakai lampion seperti gambar diatas



2. Kaleng-kaleng juga bisa disulap, tinggal dipilog (cat semprot), sudah bisa jadi asbak, tempat pernik, dll. Bahkan kepikir waktu kemarin ke IKEA, kaleng begini dijajar banyak-banyak diatas papan, lalu diberi tutup bisa untuk tempat bumbu. Wah, ide menarik...tapi masangnya miring lho ya...kalau masang telentang sudah biasa. Atau kalau malas bikin tutup, bisa buat tempat foto...dijejer banyak...cantik. Atau bisa juga wadah koleksi aneka bumbu/rempah dari jaman kuno atu berbagai negara... jadi puluhan! Asik kan bisa jadi museum bumbu juga (tapi makan kaleng emang jarang sihh... tidak sehat kan?). Oh ya... kalau untuk wadah satuan, badan luar bisa dihias macam-macam... yang digambar ini asal-asalan.. tebak apa? itu karet gelang!! tetap dipasang atau diangkat setelah disemprot jadinya cantik kayak guratan lukisan.Atau bisa ditempel kertas yang bersketsa saat disemprot, dan dilepas setelahnya juga cantik... Silahkan berkreatif ria deh..

3. Botol kaca kecil minuman (kratingdeng,C1000) kami pakai untuk lentera/lampu kecil kalau pas ngumpul-ngumpul dijejer pinggir kolam atau pagar rumah..lumayan bikin romantis (tapi selama minyak susah...jarang lagi kami pakai)
4. Botol besar kami pakai untuk pot bunga hydroponic (harusnya banyak..tapi baru beberapa biji taruh tembok depan jendela Vinda..tidak berlanjut. Padahal kalau dijejer ditembok dengan kembang menjuntai..cantik lho...gak capek nyiram lagi!
Jadi bumi juga tersenyum...karena tidak kembung menelan sampah tak terkunyah, tapi juga senang karena dipercantik...

Lampu semak bambu

Ngisi wiken kali ini ngomongin soal bikin-bikin cahaya yuk....Ini dua capil/caping (topi petani ) yang disusun dan diberi pembatas pipa bambu 20 cm untuk kabel. Jadi cantik menggantung dirumah kita. Kreasi ini kami gantung didepan pintu samping, efek cahaya malamnya kayak matahari terbenam, ada lengkungnya. Tapi bagus juga ditaruh diatas meja makan yang kesan country. Kalau mau kesan klasik, pernis dengan warna antik/coklat tua. Capil ini jug akan tambah kenes (kalau punya waktu) tambah dengan rumai-rumbai kecil natural atau gantungan klinting-klinting mengelilingi capil ini (bisa dari tali knor, manik warna kayu, biji-bijian, kerang atau gemerincing yang tipis-tipis).
Berwiken ria jalan pagi sekeluarga ke setu/danau, cari ilalang atau kembang/ranting kering. Tetangga sering nanya? "buat apa ntu sampah? ada-ada bae", begitu mereka meledek. he..he..
Cantik kan sinarnya? Ide begini sangat cocok untuk orang yang suka hal-hal natural dan suka gonta-ganti suasana. Selebihnya juga ingin ngajak anak-anak bahwa kreatif itu bisa menyulap sampah menjadi indah, kreatif itu jangan apa-apa cuma bisa beli, kreatif itu bangga dengan buatan sendiri. Kalo bosen, segera ganti ! bisa ranting kering, bisa bilah daun pisang. Efek cahayanya keren lho kalau pas gelap (pilih lampu hologram yang kecil ya).













Kalau lampu duduk ini, sengaja didisain biar batangnya bisa untuk pot kembang hydroponic. Jadi sinar dari atas mantul kedaun menjuntai kan unik (difoto waktu belum jadi dan ampe sekarang juga belum dipernis. Tadinya pingin ditutup pakai kain organdi india, atau kasih coin-coin/kancing, atau dikasih penjuntai melingkar. Pokoknya bisa disulap apa aja deh).
Lampu pipa bambu itu sederhana kan? ini yg buat omacan. Bambu besar dipotong, sisi atas pastikan tersumbat ruas untuk pelindung dari air dan sisi bawah potong memegas. Efek cahaya malamnya bagus, apalagi menyemburat dari balik daun-daun bambu air. Ini kami pasang berderat 4 atau lima titik disepanjang dinding samping. Asik kan?

Hunting event kultural untuk anak di Jakarta


Mengajak anak ke mall akhir pekan? mudah sekali! Setiap radius 10 KM di Jakarta, kita akan mendapati mall bergebyar disana sini persis seperti syair Iwan fals: "hari-hari kita diisi hasutan, hingga kita tak tahu diri sendiri". Anak-anak pelajar sekarang ngomongnya di mall apa beli ini itu? Salah satu anak kami kalau disuburkan juga potensial untuk terlena menikmati berbelanja...atau mungkin juga kami,kita dan kita-kita semua!
Tapi disela deraan sarana konsumtif itu, kalau kita mau susah, ada beberapa tempat kultural yang bisa jadi alternatif untuk akhir pekan sekeluarga terutama anak-anak. Eventnya sangat jarang, musti rajin buka info koran atau saling berbagi info antar kawan. Beberapa event kebudayaan yang pernah kami ikuti (kami sertakan list tempat yang bisa kawan-kawan buru infonya)

1. Bentara Budaya Gramedia : Beberapa event yang juga bagus untuk anak yang pernah kami hadiri adalah Festifal boneka-drama anak Jepang, juga "wayang"jepang. Pameran buku anak juga sering disitu termasuk menghadirkan penulisnya, sehingga anak bisa ngobrol dengan orang dibalik bacaan mereka. Event malam yang juga menarik adalah festifal Kecak Bali dihalaman Bentara Budaya.


2. Pusat Kebudayaan Kedutaan asing: Misalnya saja Erasmus Huis (Belanda). Waktu mau ke Belanda, Viva nonton video tentang Belanda di perpustakaan Erasmus. Juga pernah melihat pameran origami (lipas kertas) dan karya instalasi kertas yang menarik-menarik. Tapi Viva bilang biasa-biasa! Lalu di pusat kebudayaan Jerman (Goethe institute), kami pernah keasikan nonton Asian piano festifal untuk anak-anak. Wow, hebat-hebat sekali. Paling enggak kami ingin Viva memetik semangat dari peman-pemainnya. Btw, Institusi asing kalau ulang tahun juga sering menarik, misalkan waktu ulang tahun Ford foundation kami melihat festifal taiko (drum Jepang).Ada info lagi?? saling kabar-kabari ya..

3.Gedung Kesenian Jakarta: Paling akhir kami nonton peluncuran buku dan malam gerakan 1000 buku untuk tunanetra. Sangat menyentuh, karena kita diajak melihat dunia dari mata gelap sang tunanetra.Dalam event itu juga ada Rieke Diah Pitaloka baca puisi dan artis-artis terkenal. Di halaman GKJ kami juga pernah gabung untuk acara peringatan hari perempuan oleh Komnas perempuan yang dikemas sangat dramatik.

4.Taman Ismail Marzuki: Sudah pasti disitu ada Planetarium. Disitu kita juga bisa ikut latihan teater, tari dll. Tapi karena jauh, ya kami cuma hadir untuk event-event tertentu saja. Kami bela-belain hadiri konsert Jogja jazz untuk gempa Jogja.Dwiki Darmawan termasuk salah satu yang membandegani acara ini dan melelang keyboarnya. AB Three melelang suara/satu lagunya.Ada Daniel Sahuleka yang datangdari Belanda untuk menyumbang lagu juga. Group band top pada hadir juga. Anak-anak perlu dan wajib ikut untuk memupuk hati. Event unik lain, kami pernah ajak viva lihat tarian sufistik karya Miranda Risang Ayu. Selain itu juga nonton festifal theatre kalau tidak salah nonton teater semut tampil (viva pernah ikut-ikutan latihan sama mereka waktu di Cipanas).
5. Mall: belakangan ini,kebangkitan kebudayaan China di Indonesia tambah menyemarak. Ini moment menarik buat anak-anak untuk mengakrabi kebudayaan mereka. Waktu di Michigan tempat prof Linda Liem mereka bermain Barong show dan dperkenalkan dengan budaya angpao dan segala perayaan gong xi fat chai. Di mall kalau mau tahun baru China, bisa lihat Barongshow festifal, Circus China, Gong xi Fat choi cocert. Bagus untuk mulai meretas prasangka etnik sejak dini. Di mall juga kami nonton belajar membatik (cinere mall), Pets exhibition, nonton, ke gramedia...dan makan (kalau terpaksa sudah kepalaran, karena biasanya kami sudah tahu makan dimana yang paling asik..)

(Note: Karena kami tidak memfoto saat hadir di event diatas, maka semua foto diatas kami ambil dari browsing, kecuali gambar membatik).

Moga-moga berguna
Yunich1@yahoo.com