Skill dan Management Hidup: Wasiat Uti 3


Kempalan Mbenjang Rebo Pon (kumpulnya Besok Rabu Pon)
Ketua Dharma Wanita: Percaya Diri
Karena posisi akung, uti jadi ketua Dharma Wanita. Kalau mau pidato, akung yang membuatkan text (pas uti wafat ibu temuin di tas ke pasar uti). Uniknya, walaupun uti cuma tamat SMP, kalau pidato PD banget. Belum lagi, beliau canggih atur-atur anak buahnya yang sebagian juga sarjana. Kalau mau ada pertemuan Dharma Wanita, uti selalu yang atur waktu dan yang lain harus menyesuaikan sesuai dengan jadwal "hari pasar" yang memungkinkan buat uti, biar acara pasar beliau tidak terganggu. Tapi uti juga kritis, suatu kali ada acara "paket"dari kabupaten tentang merawat tubuh dengan susu dan membuat bunga dari roti tawar. Uti nggak bisa nahan ketawa dan sebel dengan program itu. Jadi dengan teman-temannya di pasar uti cerita-cerita betapa tidak sensitifnya bikin acara. "Timbang susu dinggo adus, mbok yo didumke neng bocah-bocah Polaman kono (daripada susu buat mandi, mbok ya lebih baik dibagikan ke anak-anak di Daerah polaman sana). Sampai rumah uti juga cerita-cerita lagi ke kami... Akung sering ngasih julukan uti bakat jadi direktur, karena hobinya ngatur dan ngritik orang yang kerja nggak sistematis. Sikap PD uti juga sering memenuhi obrolan dengan tamu-tamu akung, padahal sering sekali datang tokoh-tokoh masyarakat, tapi tetap aja uti punya tema yang menarik dengan tamu kelas apapun..

"Jajan 10 rupiah (Jajan 10 rupiah atau Rp 1000 rupiah jaman sekarang)"
Berhemat dan menabung

Kami sekeluarga dianggap keluarga berkecukupan untuk ukuran kampung kami, karena katanya sering amal dan membantu sana-sini. Tapi kenapa uang jajan kami hanya 10 rupiah seperti teman-teman kami yang tidak mampu? Dengan uang itu kami hanya bisa membeli 2 jenis makanan. Itupun masih sering didesak untuk menabung sisanya. Ya. Sekarang baru merasakan bahwa uti mengajarkan bagaimana cari uang, mengatur uang tapi tidak mengajari berboros membelanjakan uang.

"Yen lelungan, duit diprenco-prenco (Kalau bepergian, uang dipisah-pisah)"
Berfikir antisipatif (jaga-jaga)


Setiap mau bepergian, terutama ke akung, selalu uti sibuk mengingatkan untuk memisah-misah uang. Karena akung pernah hilang dompet waktu ngajak ibu kecil ke Jakarta. Tapi bener, karena akung memisah-misahkan uang dibeberapa tempat, jadi dana tetap aman. Coba kalau ditaruh satu dompet..nggak jadi deh kami jalan-jalan.

Opo-opo kudu cek-cek! (Apa-apa itu harus cek-cek, cepat dan urut)
Berlatih gesit dan sistematis

Cek-cek..cek-cek (cara nyebutnya kayak bilang deg-deg, bukan check). Kami selalu diburu-buru untuk bekerja cepat, sistematis dan tuntas. Kalau tidak..bisa panjang urusan. Kadang kami merasa lelah harus denger khotbah uti dengan kalimat sama, berulang-berulang-berulang! Tapi persistensi (gigih dan gak bosan) ini rupanya energi yang mahal dan tidak selalu kami punya pas kami jadi orang tua. Uti selalu tidak cepat bosan mengingatkan walaupun dengan resiko tidak disuka! Tapi tetap saja akhirnya masuk ke rongga badan kita.

"Ojo nganti ra iso tuku anderok (jangan sampai nggak bisa beli underwear/pakaian dalam)"
Perempuan harus mandiri

Waktu itu pas uti ganti baju dalam kamar, dan ibu diatas tempat tidur uti sedang mewiru kain panjang uti untuk resepsi. Sambil pake anderok (daleman biar tidak transparant) uti bilang, "anak perempuan harus bisa cari uang, jangan sampai hanya beli anderok pakain dalam saja minta uang sama suami". Nah lo..tapi kalau suami yang mau beliin nggak apa-apa kan uti?


"Wis kono, resik-resik njobo (Sudah sana, bersih-bersih diluar) "
Perempuan tidak harus didapur

Nggak tahu kenapa, kalau ibu masuk kedapur, uti selalu nyuruh ibu keluar dan bersih-bersih rumah depan saja. Mungkin juga karena ibu sibuk nanya, mana merica, mana ketumbar (sampai menikah ibu baru tahu bedanya dua bumbu ini, dan setelah kuliah ibu baru pertama kali menanak nasi dan sayur, itupun waktu ditempat bulik yang sedang melahirkan). Uti tidak mewajibkan anak perempuan untuk memasak, dan membiarkan anak perempuannya berdiskusi diteras pagi hari dengan akung asal pekerjaan selesai, suatu yang unik untuk ukuran tradisi dikampung kami.

Omah kudu rijik!! (Rumah harus rapi dan indah)
Seni menata rumah

Kalau sampai ada tamu dan rumah kotor karena debu atau daun banyak di emperan..wah alamat akan ada khutbah panjang. Jadi rumah kami yang suangat berdebu itu harus rutin dilap. Uti kayak malu sekali kalau pas ada tamu, kelihatan tidak sempurna. Nyapu rumah harus sampai ke kolong-kolong, yen nyapu ojo kenceng wae! (kalau nyapu jangan lurus aja), begitu uti selalu nasehatin penyapu rumah kami. Bersihkan tempat tidur juga harus tuntas sampai bawah bantal dengan alasan lucu: yen ono ulone pie yen ra resik (kalau bersihkan tempat tidur tidak menyeluruh, gimana kalau sampai ada ular dibawah bantal)? Uti juga sangat mendukung kalau ibu nata rumah. Apalagi mau lebaran, hampir bisa ditebak uti pingin suasana baru dan siap keluarin modal untuk benda baru, dari furniture atau perlengkapan dekoratif lain seperti(gorden,sprei, bantal kursi, toples dll). Pernah ibu tidak setuju dengan pilihan uti beli sofa L, uti akan dengan gampangnya minta pemilik toko furniture untuk menukar (mereka kenal baik dan hormat sama uti). Di taman halaman rumah kami juga banyak ditanami kembang. Tapi nggak ada satupun yang beli, hampir semua dikasih orang. Ada aster, dahlia, mandevilla, bakung, pakis, kacang-kacangan, kertas, dll.


Diapalke, rasah dicatet (Dihafalkan, tidak usah dicatat)
Melatih memori

Setiap belanja ke warung, ibu yang masih kecil disuruh menghafalkan lebih dari 10 items yang mau dibeli, dan nggak boleh dicatat. Diapalke..ojo enek sing ketinggalan! (jangan sampai ada yang terlewat). Wah, rupanya Uti lagi nglatih memori kita ya! Jadi disepanjang jalan ibu ngapalin: bawang satus, brambang satus. terasi seket, minyak sekilo, prambors sak botol, vanilly kalih, tomat seprapat, dll..dll..mau kesandung-kesandung deh!! yang penting uti nggak mau tahu, nggak boleh ada yang salah!!

Peka Sesama : Wasiat Uti 2

"Sopo sing maem bakso? (siapa yang makan bakso?)"
Solider dengan sesama

Uti pernah marah besar waktu Ibu sama om Daris masih kecil, beli bakso untuk berdua saja, tidak membelikan untuk PRT kita (karena memang beli dari sisa uang jajan). Uti melihat sisa mangkok di cucian piring, dan ngecek siapa yang makan? Uti marah..kok bisa-bisanya kalian makan enak berdua, sementara yang mbantuin tidak dibagi?

"Yen maem koncone didum (kalau makan temannya harus dibagi)"
Berbagi, jangan enak sendiri
Karena anak kecil, sering tidak sadar makan snack oleh-oleh dari uti didepan teman-teman. Uti akan memanggil dan bilang, kalau masih ada makanan didalam, bagi teman-teman, tapi kalau sudah habis, jangan sekali-kali makan didepan teman padahal nggak berbagi!


"Gelas diambu, seprei bordir dipasang! (gelas dicium, seprei bordir dipasang)"
Tamu adalah Raja
Bagi akung uti, tamu adalah raja. Setiap ada tamu, uti berulang-ulang (bahkan sampai hafal) untuk cium gelas biar nggak amis,selalu pilih gelas terbaik untuk tamu, dilap yang bersih, bikin teh yang enak, ngaduk jangan ada suara, busa adukan dibuang, taruh ditatakan dengan pegangan cangkir sisi kanan, angkat dengan nampan sejajar dengan muka (biar bisa lihat jalan dan minuman tidak dibawah mulut), hidangkan untuk yang tua dulu, gelas bapak harus sama dengan tamu, lalu persilahkan tamu untuk minum dengan cara yang super ramah, santun dan dengan kromo inggil!! (bahasa Jawa paling halus). Kalau tamu menginap, harus ganti seprei bordir yang terbaik siap dengan handuk, dan tamu akan dipaksa makan dan makan. Uti selalu mengingatkan, stock snack untuk tamu jangan diganggu gugat, karena uti akan malu kalau pas ada tamu dan sampai kehabisan snack yang layak.

"Blonjo kokehan (belanja kebanyakan)"
Berbagi rejeki
Menurut cerita kawan uti, uti selalu punya alasan seakan belanja sayuran/lauk kebanyakan, hanya untuk membagi kawannya di pasar yang kebetulan dagangannya nggak laku. Ya. Ibu sampai sekarang nggak bisa ketemu kawan-kawan uti dan nggak berani masuk ke deretan kios uti, karena ibu nggak kuat kalau ketemu teman uti..persahatan uti dengan kawan-kawanya sangat rekat.

"Dinggo mundut dawet (buat beli cendol)"
Pelanggan seperti saudara
Dengan mata kepala sendiri ibu sering nyaksiin uti menyelipkan uang 500 rupiah (jaman itu seperti 5000-10.000) kepada anak kecil yang dibawa belanja ke kios uti “iki nggo mundut dawet/ini buat beli cendol) Padahal yang mereka beli kadang cuma celana dalam atau hasduk pramuka yang harganya lebih murah dari uang yang uti kasih. Pelanggan tadi munduk-munduk sumringah sambil bilang..sibuu, matur suwun! Atau buat muállaf, uti kerap kasih mukena juga. Tidak jarang uti sok akrab, nanya ke ibu-ibu yang kelihatan dari pelosok mana; “cah ayu kae wis neng ndi to” (si cantik/anaknya si pelanggan ini sudah dimana sekarang) , sering banget si pelanggan jawab..ingkang pudi to bu? Lare kulo kakung sedoyo? (yang mana bu, anak saya laki-laki semua)..nah lo!!

"Peladen! Teh pahit kalih, putihan setunggal! (pelayan resepsi! teh pahit dua, air putih satu)"
Penerima tamu handal dan perhatian terhadap orang
Uti paling laris jadi penerima tamu tetangga-tetangga yang punya hajat. Padahal seharian berdiri, bicara, harus beli kebaya baru dan kadang ke salon sanggulan yang juga nambah anggaran. Tapi dengan ikhlas dan ceria, uti menjalaninya dengan aktif dan sensitif (peka). Uti selalu hafal tamu-tamu (padahal bisa 2000an orang), siapa saja yang kena sakit gula, minumnya apa, dll. Uti tanpa sepengetahuan tamunya selalu order minuman yang aman untuk mereka.

"Kabeh wis dicacah? (semua sudah dihitung?)"
Semua untuk tetangga: Penyewaan gratis alat makan untuk pesta.

Kami selalu pusing disuruh sering-sering menghitung jumlah sendok, gelas, mangkok piring, dll, yang jumlahnya ratusan untuk dipinjamkan ke tetangga. Perlengkapan itu lengkap dan dilengkapi untuk dipinjamkan. Kata bulik (tante di Jakarta) kalau disewakan sudah menghasilkan banyak uang pasti. Tapi uti selalu mau repot untuk menyenangkan dan membantu orang lain. Ikhlas lagi…karena tidak jarang benda-benda itu hilang sedikit demi sedikit karena salah hitung waktu mengembalikan.
Aki diiwit-iwit nggo kethoprak (aki dihemat buat nonton kethoprak)
Rumah jadi gedung opera rakyat
Seingat ibu, keluarga kamilah yang pertama atau kedua yang punya TV dikampung kami. Jadi praktis setiap hari rumah selalu banyak tetangga yang datang ikut nonton bareng. Apalagi malem Rabu, pas ada kethoprak mataram Sapto Hudoyo TVRI Jogja. Makanya ibu sering sekali diingetin untuk tidak pakai aki terlalu lama-lama (karena waktu itu belum ada listrik), walaupun lagi nonton Tom and Jerry juga harus mengalah demi malam Rabu. Uti rasanya udah seperti terikat wajib tayang demi tetangga-tetangga. Rumah jadi kayak gedung opera rakyat, puluhan orang datang dari aneka usia. Yang sepuh-sepuh diaturi duduk paling depan diatas kursi, anak-anak duduk dibawah dan yang muda-muda berdiri dibelakang. Uti atur dengan tertib. Yang lebih unik lagi, uti selalu sibuk minta yang mbantuin di rumah untuk bikin teh manis untuk puluhan orang itu terutama yang sepuh dan bapak-bapak/ibu-ibu. Untuk remaja selalu diblang nggawe dewe nggih sing enom-enom (yang muda bikin sendiri). Bahkan kalau rewange udah kelihatan capek, uti tidak segan-segan turun tangan sendiri mondar-mandir kedapur, bahkan rela kelewat sedikit acara kethoprak itu.

Kepribadian & Keluarga: Wasiat Uti 1

Mengenang Uti tercinta: Hj. Misniyati Bardus Syafaát (alm).

Cerita-cerita ini ditulis oleh ibu/bude/tante Yuni (putri pertama uti Misniyati). Uti wafat 23 Januari 2003, setelah setahun menderita kangker usus dengan meninggalkan akung tercinta Bp. H.Bardus Syafaát, ketiga putri-putranya 1. Yuniyanti Chuzaifah dan suami Muchlis Ainurrafik) , Daris Fatchuddien dan istri (Woro Yuliaty), (Yasir Ahsani dan calon pacar Laras Komalasari)) dengan 3 cucunya (Vikra Alizanovic, Vandana Mernissi dan Tsavier Yufa Aqya, dik Aqief belum lahir ya..) .

Yang menyesakkan, saat beliau wafat, ibu sedang tidak didekatnya, karena sedang berada di Amerika menemani suami yang sedang study dengan Vikra Vinda juga. Ibu menunggu 3 bulan setelah uti operasi, nunggu bugar dan malah uti sendiri yang mendorong ibu untuk berangkat dengan wajah cerianya. Ibu agak lega melihat uti ikhlas dan kelihatan sehat. Tepat sebulan disana..ada telphon, bahwa uti sudah berpulang… semua perasaan bertimbun, dari rasa menyesal, bersalah, berduka, tidak siap dan sesak sekali. Tapi uti pergi hanya fisiknya, jiwa uti ada dalam nadi kami. Kami rekam dan bekam, selalu!

Ini beberapa cerita ringan, tapi seperti dinamit..kecil, sederhana tapi bertenaga sekali memori tentang uti ini, lewat perintah-perintah yang penat didengar pada masanya tapi moga-moga ada yang menjalar ke kami, kerabat dan sobat…. cerita-cerita ini subyektif, sedarhana tapi barangkali bisa jadi inspirasi kecil tentang bagaimana membesarkan putra-putri dengan cara bersahaja dari keseharian,makanan, kerjaan ringan dll..Uti tidak pernah membaca buku tentang pendikan, emotional intelegence atau kursus etika..uti adalah perempuan desa, bersahaja, ceria tapi ingin sempurna menjadi orang tua.

"Sulak-sulak, Seblak-seblak (bersih-bersih debu dan tempat tidur)"
Disiplin dan tanggung jawab sejak dini

Ya, walaupun akung uti nyaris selalu punya 2 anak asuh dan terkadang “rewang” dirumah yang membantu, tapi sejak kecil usia 4 tahun ibu sudah harus bersihkan rumah dan tempat tidur pagi dan sore. Padahal melipat selimutpun masih kesulitan dan harus digelar dulu diatas lantai. Kalau jam 3 sore masih main, akan dijemput oleh yang membantu dirumah, untuk selesaikan tugas itu. Padahal dalam hati..daripada mereka menjemput, kan sudah selesai kalau mereka sulak-sulak dan seblak-seblak sendiri. Tapi tidak pernah terjadi. Harus ibu!

"Sing ora ono dibagehi (Sisihkan buat yang laginggak ditempati)"
Bersikap Adil

Apapun bentuk makanan, sesuka apapun, sedikit atau sebanyak apapun, uti selalu wanti-wanti untuk membagi sama rata (termasuk dengan yang mbantuin di rumah), kalau diantara kami ada yang pergi, justeru mereka yang harus disisihin dan diingat! Jadi siapapun merasa adil, aman dan diingat.

"Arepo srupiah, Jujul dicaoske" (Walaupun satu rupiah, uang sisa belanja harus dikembalikan)"
Jujur dan jangan pakai diluar hak kita

jaman kecil sering diminta uti belanja ke warung. Suatu kali uti kelihatan tidak suka, karena ibu beli permen dari uang kembalian. Dalam hati ..uti pelit! Tapi uti menjelaskan, kalau dimintain tolong belanja, semua uang kembalian walaupun satu rupiah, kembalikan dulu. Kalau ingin sesuatu, matur (bilang dulu) sebelum berangkat. Itu cara uti menyelipkan kejujuran dan mencegah memakai sesuatu yang bukan hak kita. Uti mestinya jadi anggota anti korupsi!

"Ben Sore munjung mbah kakung putri (Menghantar sesuatu untuk Uyut akung uti setiap sore)
Berbakti tak pernah henti

Nduk, wis pakpung? Aduh anakku wis thinis (Sayang udah mandi? Wah putriku udah cakep rapi). Kalau sudah dipuji begitu, siap-siap ada komando berikutnya, menghantarkan makanan untuk uyut akung uti setiap hari. Setiap peristiwa penting juga rutin, bahkan pas lebaran uti buanyak bikin bingkisan untuk uyut, pakde-bude, dll.

"Yen Bapak rawuh, ojo lali unjukan, bapak ibu rawuh ora pareng dolan" (Kalau bapak datang jangan lupa buatkan minum dan nggak boleh main pas bapak-ibu baru datang)
Merawat dan menata keluarga

Tugas ibu waktu kecil selalu buatkan minum untuk akung pagi, jelang pulang kantor dan sore hari. Aturan yang lain, pas akung uti datang, semua harus ngumpul dirumah. Habis itu bobo siang. Kalau akung uti tidur siang nggak boleh berisik dan harus dibangunkan kalau ada tamu. Kalau pingin makanan, jangan jajan diluar, tetapi bawa makanan ke rumah dan makan sama-sama.

"Isih ono dino" (Masih ada hari)
Berfikir kedepan dan menunda kepuasan

Dimulai dari hal-hal kecil, uti selalu tidak suka kalau ada makanan, lalu kita habiskan saat itu juga. Kalimat yang selalu muncul..masih ada hari esok! Jadi kami dilatih untuk menunda kepuasan.

"Azan, TV Klek!" (Azan, matikan TV)
Spiritualitas

Pokoknya begitu bunyi azan maghrib, tidak ada ba..bi..bu..TV langsung harus mati, sudah harus rapi berangkat ke masjid, dan pulang maghriban kami harus mengaji. Pokoknya itu harus! Ya...rutinitas spiritual yang sederhana, tapi penyeimbang nurani.

"Ibu bodo ora opo-opo sing penting anak kudu pinter" (Ibu bodoh tidak apa-apa, yang penting anak pinter).
Serius dengan masa depan anak

Uti yang hanya tamat SMP, yang dulunya pernah kita lihat sebelah mata membandingkan dengan akung yang sarjana, tapi rupanya beliau sangat semangat biar anaknya tuntas dan setinggi mungkin sekolah. Rela bekerja dari subuh, lelah tanpa keluh, cukup dengan 2 tablet anti lelah yang barangkali secara diam-diam dikonsumsi setiap hari. Dan pada akhirnya beliau sakit setahun kena kangker usus, salah satunya karena konsumsi obat ini bisa jadi.

Jalu, Sobat Vikra lahir bareng


Nggak hanya lahirnya janjian bareng....
tapi ketemu tokoh-tokoh dunia juga seperti janjian...
Tapi Vikra di di Amsterdam dan Jalu di Amerika..(2007)

Ini surat dari Om Hendro sekeluarga di Canada:

Om Hendro : "Waktu Jalu lihat foto Vikra sama Vinda langsung bilang "No no no...it's not Vikra. Common it's not Vikra.." Lucu banget karena yg dia bayangkan Vikra masih kecil. "He is so big!", dia pikir dirinya juga gak setinggi Vikra.Lucunya waktu ditanya Vinda, dia bilang gak banyak berubah he he..". ( 3 Nov 07)
Tante/Bude Ida: "Aduh, aku nggak ngenalin Vikra sama sekali. Vikra nggak bayi lagi hehehe. Aku masih ingat foto Vikra dan Jalu waktu baru bisa tengkurep.(kayaknya aku masih simpan fotonya) di Indo. Waktu cepat banget pergi. Tahu-tahu kita udah tua heheh. Kalau adiknya sih tetap sama, makin anggun dan Jawani kayak ibunya. Aku sendiri nggak ngira Jalu bakal tinggi melampaui ayahnya. Kalau aku jadi kelihatan mini sekali disampingnya. Tapi seperti kebanyakan orangtua, dia still my baby hahaha" (7 Nov 07)

Ya, nggak terasa Vikra tidak ketemu Jalu Dibyo Sanwasi sahabat yang lahirnya bareng ini sudah hampir 7 tahun mungkin. Keluarga om Hendro Prasetyo + tante Ida Ahdiah (redpel salah satu Tabloid dan pemerhati pendidikan) dengan putranya Jalu ini, sangat dekat dengan kami. Pada awal kami menikah th 1992 sampai Vikra umur 2 tahun, kami tinggal berhadap-hadapan di Gg Bungur Ciputat kontrakan keluarga Mas Matnaím mbak Leha. Kesejarahan kami juga dekat, karena hamil dan lahirnya Vikra dan Jalu juga bareng. Ceritanya tante Ida lebih dulu masuk klinik Syahid IAIN, sehari sesudahnya Ibu nyusul dikamar yang sama. Karena ibu sudah pecah ketuban kecapekan ke PRJ muter-muter nganterin mbah bu (almarhumah nenek viva dari ayah), maka pagi-pagi tgl 7-7-93 langsung masuk klinik Syahid dan Maghrib Vikra lahir. Mbah bu yang ikut full nungguin, begitu dengar Vikra lahir laki-laki langsung spontan bilang: Negoro lanang! (Negara laki-laki), karena semua putranya pendowo limo, ayah salah satunya, dan terima cucu pertamanya, laki-laki lagi!

Jalu lahir 3 hari kemudian setelah tante Ida bersusah payah berjuang. Karena tante Ida sudah terlalu lama bersakit-sakit dan dokter harus bertindak cepat untuk menyelamatkan Jalu, maka diputuskan divacum kepalanya. Yang masih terbayang-bayang, kepala Jalu waktu itu dibalut sama daun pepaya atau daun keladi ya? Pokoknya Jalu kelihatan lucu! Tapi sehari kemudian, Jalu sudah kelihatan ganteng dan sehat.
Ketika membesarkan Jalu dan Vikra, kami sering sharing, karena sama-sama experimen anak pertama. Setelah itu Vikra pindah ke Sanggar Ayu dan 1995 pindah ke Gang Jambu. Sementara Jalu tinggal di Villa Pamulang Mas. Tapi tetap sering saling kunjung, sampai akhirnya mereka ke Canada.

Aduh, kangen banget ya , lama nggak ketemu Jalu. Ceritanya Om Hendro lagi ambil S3 di McGill Canada. Cepet selesai ya om, tante...biar Vikra ama Jalu bisa ketemu. Tapi sebentar lagi ibu ketemu sama mereka di Montreal. Ibu tanya Jalu mau dibawain apa? Tante Ida jawab jenaka: " Kan Yuni tahu kesenangannya Jalu kue S hehehe. Apa mau bawa rujak gowok yang kita makan waktu hamil muda dulu?"

"Ribet" diskusi piara anggora

By Vikra

Sawangan 5 Nov 07

Soal anggora; Kalau Vikra mikirnya begini, misalnya ada temen yang main ke rumah, kan nanti bisa ngelus-elus kucing Vikra. Trus nanti bilang "ih vik, lucu banget kucingnya.."kan vikra juga bisa pamer nanti...

Kita berdua udah dikasih kuliah panjang tata cara ngurus anggora sama bude. Biayanya juga gak gede-gede amat..kalau menurut Vikra, melihara anggora ruginya lumayan, tapi kalau bude bisa ngurusin tanpa ada beban sedikitpun, kenapa kita nggak?

(note ibu: Tulisan Vikra ini muncul setelah Vinda tanya ibu setuju nggak? Seperti biasa kami selalu diskusi kalau mau memutuskan sesuatu. Menurut ayah diskusi via telp sama ibu: "dicoba aja dulu, kita lihat aja gimana mereka nanti". Habis itu Ibu sms viva dengan aneka pertanyaan untuk nglatih mereka memperhitungkan sesuatu sebelum berkeputusan: "Yang ngrawat kalian berdua? Gimana ngrawat anggora yang benar ? apa untung ruginya buat keluarga? Tapi Vinda sempat kesal; "ah..ibu ribet!! " ha..ha..akhirnya setelah jawaban mereka meyakinkan, ibu ok, dengan syarat nggak nambah beban mbak Tutik PRT kami dan mereka bisa jaga kebersihan).

Anggora, anggota baru..

By Vinda

Sawangan, 5 Nov 07.

Vinda mau punya kucing anggora blasteran dikasih dari sodaranya bude *. Ngrawatnya, dilepas aja gak apa-apa. Dia tuh dirumah terus gak pernah keluar. Maemnya nasi pake ikan dibejek2. Bude kan juga punya kucing anggora malahan bude ngrawatnya dari bayi. Jadi bude tau semua. Dari cara mandi sampai makan.

* bude adalah tetangga sebelah rumah lama kami.

Coba Resep hidangan berkuah terlezat


By Vinda

Sawangan, 04 Nov 07

Tadi ke BSD beli buku buat test, sama buku buat masak..disini jarang ada minyak ikan sama minyak wijen. Vinda mau masak asam-asam buntut sama capcay seafood kuah. yang lain aneh-aneh.
(Foto: waktu masak di tempat tante Marina de Reght Amsterdam, April 07)

Like daughter like mother: Hobby and female talk

Kata orang kami serupa..tapi tak sama...
"bu, apa bumbu spagheti? blz!!, beberapa hari kemudian ada sms lagi dari gadis yang sama: "Bu disini jarang kan ada minyak ikan sama minyak wijen, beliin ya". Ayah nambahin sms: Mau dimasakin apa? Vinda beli buku masak hidangan berkuah terlezat..hmm (04-11-07). Ya, Vinda hobi memasak. Tapi ada juga buah jemari lezat dia, permainan piano klasiknya yg juga sedap (walaupun kalau diminta main, susah ngrayunya, nunggu lagi mood). Hobi lainnya outbond!
Kalau pas wiken, sesudah dari toko buku, pas ayah kakak hunting CD, kami berdua hunting aksesories untuk bergaya. Ya, kami berdua sudah mulai bisa tukaran baju, sepatu, aksesories dll. Yang jelas, kami selalu diskusi, nggak apa-apa gaya, modis, yang penting otak dan hati harus berisi! Jangan sampai guaya selangit tapi otak kosong!! Kami sambil keliling ngobrol, jangan ikut tergiur mental "sakit"ingin putih, seperti desakan iklan-iklan. Nikmati dan rawat apa yang didapat dari Tuhan. Jangan takut hitam berpanas-panasan kalau memang mendapatkan banyak pengalaman!! Yes..white is not always beautiful.. pelajaran tinggal di negeri berkulit putih , membuat dia sadar, bahwa orang bule aja pingin coklat. Jadi sambil gandengan cari aksesoris atau mandi berluluran berdua, kami menjadi teman, bebas tanya jawab soal reproduksi dan menyiapkan anak-anak menjadi ABG yang ceria dan moga-moga matang.

Banyak yang bilang kami berdua mirip, tapi satu-satu elemen wajah beda! Beberapa elemen Vinda mirip ayah juga. Tapi langgam kami mungkin banyak miripnya. Kami berdua ceriwis, ngaturan (ya kak?) spontan dan expresif (begitu penilaian ayah ttg ibu, tapi kalau Vinda gimana yah?). Ibu hobi singing, dancing and decorating. Kalau udah decor rumah lupa waktu bahkan kadang kesel-keselan sama ayah, karena ibu ngeyel dengan ide ibu (tapi hasilnya bagus kan yah?). Kerap juga diminta teman untuk decor rumah baru mereka. 2 kali rumah kami masuk majalah interior dan kamar di Leiden pernah jadi contoh kamar international student house untuk promosi univ Leiden. Tapi ibu nggak suka masak (untung Vinda suka). Walaupun kalau sudah terpaksa, ya pasti ibu bisa. Terutama pas di Amerika dan Belanda sama keluarga, masakan ibu lumayan kan? Buat ngundang dinner temen-temen juga tidak mengecewakan. Tapi kalau masak indomie dan dadar telor, ayah nggak percaya ibu! Turun tangan sendiri. Emang bener sih, rasanya lebih enak! Untuk kasih sambal di soup, Vinda juga bilang, ayah aja yang kasih!! He..he... Tapi Vikra juga biasa masuk dapur dan sibuk nyusun menu buat mbak Tuti. Ya, kami berempat nggak cowok nggak cewek lentur dengan dapur dan makanan.

Catatan kecil satu lagi, ibu dulu waktu Vikra lahir pingin dipanggil "bunda" tapi nggak kesampaian, karena kata ayah kayak sandiwara aja! he..he..akhirnya banyak sobat karib yang tahu cerita ini, dan mereka nyuruh anaknya panggil ibu dengan bunda...yang panggil ke kami mami dan papi juga ada, untungnya bunda-panda nggak ada. Bahkan 4 anak om Aam, semuanya ayah yang kasih nama! Jadi, banyak anak banyak rejeki!!

Extremism and (t) errorism at home: Hobby & Creativity

Like son like father...

Ini hobi Vikra...ratusan komik, ratusan CD dan sekarang hobi dengan hotwheels (mobil kecil yg keren-keren). Extreem!! (untung ibu bikin design kamar yang match sama hobi Vikra). Satu lagi, Vikra hobi Harry Potter, sampai sampai baca buku bahasa Inggris Harry Potter yang setebal bantal, selesai dalam waktu 3 hari, tanpa buka kamus. Pas kita check bener nggak dia faham vocab2nya, rupanya terjawab semua! How do you know those words? "From the movies (DVD) that I watch everyday". Memang Vikra agak gaya, karena selalu hapus subtitle bhs Indonesia and keep hearing the english
versionnya. Kami juga mengingatkan, boleh nonton film, tapi jangan jadi konsumen saja! Coba tetap kritis dan berfikir bagaimana film itu dibuat! Barangkali dia menerjemahkan itu dengan coba membuat interview dengan seorang pedagang telor dadar jajanan anak-anak, pertanyaan-pertanyanya menyentuh. Selain itu dia kadang menyutradarai drama. Boleh-boleh!

Kalau yang ini? Dirumah kami ada yaang punya hobi kalau beli celana (selain celana kekantor) tanpa sadar nyaris selalu pilih warna krem, beli lagi.. krem.., beli lagi krem lagi!! Pas dihitung sekilas, ada 14 ! sekalinya ada warna lain..Kuning! Yes.. This is another kind of (t) errorisme at home, like the name of the owner (Ainur rofik that sounds close to "error Rofik"). Tapi hobi son and father sama. Hobi musik dan nonton film..jadi kalau wiken, pergi bareng-bareng berempat, makan bareng, tapi pas ada sessi hobi..terpisah! Son and father, daughter and mother!
Hobi ayah yang lain, badminton! 4 set juga dinekadin! Mental nekad plus extrem ayah ini positif tapi bikin ibu jantungan. Vikra sejak kelas 2 SMP sudah diajari dan bisa nyetir, kelas VI SD sudah bisa naik motor, dan sejak umur 2 tahun Vikra Vinda sudah bisa renang. Ayah (dengan provokasi ibu) juga mendekatkan Viva ke musik, ibu penyanyinya (amatir tapi PD). Salah satu yang nikmat, habis minum kopi berdua, ayah genjreng-genjreng gitar atau piano (sambil pundak kiri naik), ibu merem melek nyanyi..belakangan Vikra juga jadi pengiring. Hmm sedap! Ya..tanpa disengaja, ayah banyak memperkaya skill dan ibu banyak concern ke soal-soal emotional intelegence...kalau IQ? Kami berempat mencoba saling mendukung dong!

Note of Nov 07.

Puri Laras ditangan Omacan..Selamat!!

Komentar ayah soal rumah baru Omacan (om Yasir Ahsani): " Omahe Apik, ahsan lagi bikin pager rendah, apik.. ono patung Bali loro apik..teras teko kayu yo apik.. he..he. Dominan krem.. coklat.. kamar mandi kayak dapur luar kita. Kombinasi batu alam, kayu, krem.. apik.) (17.10.07).

Komentar ahli usil sedunia Vikra yang sengaja ngledek omacannya: " Kursi ama tikernya kurang nyaman. Kayak tidur di tengah hutan. Tempat tidurnya sih lumayan..masih agak gerah..norak! pake dupa segala! Terus didepan rumah masang patung mirip yang punya rumahnya lagi! Di toilet pake naruh ulekan segala, emang sambil eé mau ngulek? Disamping sofa dipasang gentong rotan kayak tempat sampah. Mejanya dari kayu yang udah lapuk! Pokoke ndeso ". 17.10.07/ 23

" Iki kamarmu mbak, mengko tak pijiti"..Thats so sweet. He is our adorable brother and lovely Om. Vikra Vinda Yufa Aqief (geng ponakan) juga bebas kolokan sama dia..sampai ada julukan Om Kaya! krn dia sangat royal sama siapapun yang dekat dihatinya (makanya ibu kayak herder ngingetin om ragil ini untuk nabung dan beli rumah. Tapi hebat kan, masih bujang sudah punya 2 rumah?). Satu hal yg aneh, Vinda sama om-nya ini kalo ketemu saling gantian berkorek kuping ria sambil merem melek berdua. Ampun!

Ini tante Laras, calon tantenya Viva, mereka sudah tunangan dan akan menikah tgl 2 Des 07 ini. Selamat ya om.. Selamat punya Puri dan Laras!! Selamat menentramkan hidup bersama Puri +Laras Jogja yang deket mbah Marijan itu.. Love dari kami berempat: Vikra Vinda Ayah Ibu.

Karya Sekolah Vinda: Kenangan

Kuda zebra karya Vinda umur 6 thn di Northside School Ann Arbor 2002. Aduh, zebranya lucu ya? Karya ini dibikin berdasarkan tema. Mrs McGarty dan Mrs Moss mengajak berkarya dengan tema Afrika. Jadi semua murid-murid diajak masak ttg makanan Afrika, diajak nonton video, membaca buku-buku, berpakaian Afrika dan membuat binatang khas benua ini. Kreatif!

Topeng keramik ini dibuat Vinda waktu di sekolah Lucas Van Leiden 2007. Mr Jaap guru Vinda minta murid berkreasi apa saja. Rata-rata pada buat pot bunga. Vinda bosan ah! Jadi Vinda buat topeng ini. Mirip siapa ya?

Karya Sekolah Vikra: Kenangan!

Ini salah satu kenangan tulisan Vikra th 2002, waktu baru sebulan di sekolah Nortside School Amerika. Nyaris karya-karya Vikra bertema binatang. Vikra juga pernah nulis tentang walrus yang harus dicari dari berbagai perpustakaan atau searching dari website untuk menghasilkan tulisan ilmiah. Tapi sayang, cuma ada satu karya ini yang tersimpan.

Nah kalau ini kenangan karya art Vikra di Davinci College Belanda th 2007. Karya seni lain terbuat dari logam untuk denting gantung. Burung ini masih dipasang dikamar ibu Leiden, kalau pas kangen Vikra bisa diayun-ayun seakan burungnya mengangkasa.


Jakarta Muacet!! Ancurrr!!


Sedapnya bebas kemacetan...ayah lagi menikmati kenyamanan berkanoe di sungai witte Singel Leiden, melewati Universitet Bibliotheek (gambar atas), KITLV dan Botanicus Garden....cerah dunia kalau transportasi lancar, aman dan tenang begini...Holland April 2007.

ANTV-Building Jakarta , 2 Nov 07
Gambar-gambar dari kontributor untuk topic petang udah masuk semua..baru bisa napas dikit..Tapi mendung gelap bangettt, alamat 2,5 jam lagi nyampek rumah. Ancur dan macet semua. Mau lewat mampang..mau lewat pejompongan..mau lewat radio dalam.. Sudirman lancar dikit..tapi mampet di radio dalem..Lagi ada pembangunan busway dimana-mana..jalur gatot subroto diambil setengah..permata hijau..pondok indah..semua baru dimulai. Baru dimulai aja udah macet ampun ampunan..Lewat buncit juga ancur..Setelah tol naik berlipat-lipat..arteri ragunan lebak bulus..macet..cet. Pengendara mobil tetep gila, karena gak ada alternatif.. Orang depok..pamulang..bintaro..ciputat..mau naik busway darimana? Jalur lbk bulus akan ada lewat Pdk Indah, kedoya..dan mogot..ke harmoni. Via Fatmawati-Blok M gak dibikin, sempit. udah gak mungkin. Dari gang jambu gak ada. Kalau ada pasti bang saar tertarik ama projek itu..dan udah siap-siap nyaloin tanahnya.. eh..mendung dah gluduk-gluduk..kalo gak pulang sekarang..bisa ampek malem..gimana dong? Cunnnnnnnnnn (2-11-07).
(Tulisan diatas hasil chatting record dari kalimat-kalimat ayah jelang pulang kantor di Kuningan)

Gaya Pemberani Ciadek: Outbond..

Outbond at Cimahi Bandung, Juli 2007

This area is 20 minutes from Bandung, at the valley of Tangkuban Perahu mountain West Java. An alternative weekend for educating the kids to love our nature and to increase thier bravery!

Kodok Ajaib dan Hadiah bulu Pinguin di Central Park Zoo New York

New York 2003
Kodok yang dilukis Tuhan..ajaib, indah sekali! Tapi menurut Vikra pembaca buku binatang, kodok ini sangat beracun. Koleksi Central Park Zoo New York, East 64th street and 5th avenue New York ini sangat kaya. Ada wild konservasi dan aquariumnya juga.

Di kebun binatang ini, taman burungnya luas sekali, jadi burungnya bebas beterbangan. Nyaris setiap mampir kota, kita masuk museum dan yang nggak ketinggalan kebun binatang. Karena Vikra sangat antusias ttg binatang. Dan cita-citanya mau jadi peneliti binatang katanya.


Foto paling bawah saat Vikra maju kedepan dalam kuliah tentang pinguin. Vikra tanya macam-macam, sampai penceramahnya bilang: "how lucky your parents to have you". Sebagai penghargaan, Vikra (satu-satunya dari sekian banyak pengunjung) yang diberi hadian BULU PINGUIN! Thank..

Coba Kursi Rocket di Science Centre Toronto

Toronto, 15 Feb 03.
Viva sedang melatih indera, membedakan aneka aroma..disitu secara sederhana dijelaskan bagaimana indera kita bekerja. Ini pengalaman di Ontario Science Centre,770 Don Mills rd, Toronto Canada. (http://www.ontariosciencecentre.ca/). Kebetulan program ayah di MJF memang memfasilitasi untuk bawa keluarga. Buat yang mau ke Toronto sekarang ini (th 2007) lagi ada pameran puing-puing Titanic disini.

Asiknya bisa mencoba kursi rocket! Selain ruang angkasa, viva juga olah fisik; dari jaga keseimbangan sampai latihan panjat tebing. Yang juga menarik kita bisa melihat bagaimana alat musik menghasilkan bunyi, lalu nyoba mendirikan rambut, melihat sejarah penemuan mobil, dll.
Apa acara nanti malam? Kita mau ke Canadian National (CN) Tower ! Ini tower tertinggi di Canada lho..

Pasar Malam Kermis di Molen De Valk Leiden


By: Vinda

Leiden, 5 April 2007.
Hari jum’at mulai libur Easter. Vinda, kakak, Ibu
sempat ke Kermis atau pasar malam di depan Molen De
Valk, kincir angin Leiden. Ada gurita,funhouse, komidi
putar,bombomcar, DLL asik banget…

itu baru permainannya, belum hiburannya.

Vinda.

Anak -anak sudah ABG..

Ini nostalgia masa kecil anak-anak. Pas ABG, mereka mandiri tapi juga masih suka manja-manjaan sama ayah ibu sih. Ini foto lagi manja sama ayah kalau mau sekolah....(6 thn, Ann Arbor 2002)
Begini kalau lagi manja sama ibu...lendotan sambil nglukis karya Monet di Metropolitan Museum New York.

Gaya manja kakak?? Surga dibawah telapak kaki ibu....enak ya kak kaki ibu sambil dielus-elus kepala?

Sekelumit Weekend antara Sawangan-Leiden, 27-28 Oct 07

Sawangan : Tadi ayah bangun-bangun jam 10. Vinda yang bangunin..Dia bilang ayah belum makan kan?? Rupanya dia udah nyiapin nasi goreng buatan dia..hemmm!! “Tapi udah dingin nih yah”..katanya. Dia ambilin piring..emang laper, ayah habisin..Sambil nonton Aisyah..dia lihatin ayahnya makan..Dia lihat piring bersih..wajahnya sumringah!! Hahaha

Kemarin hari Sabtu Vinda ditempat Risti, Vikra ngeband. Vinda sudah ayah tawari. Nonton bareng-bareng ayah aja hari Minggu. Dia bilang:" nggak! Vinda mau jalan-jalan sama Risti. Ayah nggak ikut nggak apa-apa, katanya". Nah lo! Susah punya anak ABG!

Tadi pagi kerja bakti bikin fondasi kuburan. Sore ini pada mau nonton get married, tapi diajak ipung (Saiful Mujani) main badminton. Setelah badminton maem ikan di Wates, ama Ipung dan kak Uci. Beberapa minggu nggak main badminton badan pegel semua. Vikra akhirnya diajak nginep ama Berli (anak om Ipung-Bude Ikun di Puri Laras), Vinda dirumah. Ini lagi nemenin Vinda belajar matematika. Pusing ayah, gak bisa bantuin..he..he..nunggu Vikra.

(Ini bbrp sms ibu pas wiken: Tadi barusan ama Fuad Jabali di Leiden CS, nitip teh buah juga buat Vinda, ini lagi cari hot wheel buat Vikra. Kayaknya libur prioritasi anak-anak yang...diatur aja jamnya biar bisa dua-duanya. Kalau sepi mau chatting hayuk! Bilang viva juga, pas ayah libur prioritasin sama ayah or family day. Kan ama teman sekolah udah ketemu tiap hari di sekolah. Perut udah enakan, tapi kenapa kalau malam kambuhnya ya? Ada pemutaran film dokumentasi Marina ttg Yaman, tapi aras-arasen).

Visiting tante Miss Sultan Agung Semarang

At the mosque of Sultan Agung Semarang Central Java. Peace Vinda? (26 June 07)
Yuni's hard friends tante Miss and tante Fatra since 1983 at boarding school of Pabelan Magelang Central Java.

At Miskasari bakery owned by tante Miss-om Logika and lovely kids Aang, Vq and Qila. Congrats with 7 shops! Tante Fatra with her sweet daughters Vidia and Opie.

Sudut-sudut mengesan Colombus-Ohio




Vikra Dapat Pasangan di Artist Zoo Amsterdam

Amsterdam, 15 April 07
Ini semua hasil photography Vikra di Artist zoo Amsterdam. Pas dapat moment sobat-sobat Vikra lagi bermesraan. Ada kambing gunung, monyet dan kura-kura..semua berpasangan!

Selama di artis zoo ini giliran Vikra yang pegang kendali kamera, sampai kamera sempat jatuh. Tapi nggak apa-apa, yang penting Vikra Vinda berkarya.
Di Kebun binatang ini, Viva ibu jalan-jalan sama keluarga MARS (om Martua, Ahimsa,Rugun, dan tante Sandra).

Hangatnya rumah keluarga Saiful Mujani (Om Ipung)

Kenapa kami bela-belain main ke Ohio? Ya jelas, bude Ikun itu dah lengket sama ibu sejak dari Pabelan. Om Saiful (kami biasa panggil om Ipung), ayah, ibu itu satu kelompok study Formaci (tapi beda jauh angkatan). Lalu mereka menikah, ayah satu-satunya kawan yang dicomot dibawa ke Solo untuk mendampingi, kami pernah tinggal bersebelahan beberapa tahun di kontrakan Sanggar ayu jaman susah (sekarang jaman apa ya?).Jadi, walaupun salju tebal, kami nekad lari mengunjungi mereka dari Ann Arbor.
3 pasang, om Ipung (Saiful Mujani dan bude Ikun), Om Eep dan tante Aci, Ayah dan ibu...asik banget, datang dimasakin macem-macem, ada sop buntut, kepiting...pokoknya semua ada.
Kakak Putri dan Vinda. Waktu kecil, kami punya kesayangan manggil dengan mbak Enti. Vinda menikmati banget nih main berdua, dipakein kutek, didandani...betah lah..
Ini para cowok-cwo, Berlian Katulistiwa (berli putra om Ipung), Alam (putra om Eep) dan Vikra.

Ohio, Februari 2003

Cheesnut

By Vinda

Sawangan, 24 Sept 07

Lanjutin aja masak chessnutnya. kok katanya banyak yg ngambilin di pinggir jalan emang pohonya ada dimana? kayaknya gak pernah liat. teerus udah tau di rumput banyak kotoran anjing. vinda kayaknya lupa dech waktu kita beli chessnut sampe mau berantem*). kok ibu belum tidur sich? kan udah malem. bu, nanti vinda lebaran gak mau pulang kampung.

*) Note ibu: Ceritanya waktu di Istanbul dekat grand bazar, penjualnya mau memeras dan maksa kita untuk membayar dengan harga yg nggak masuk akal dan tidak sesuai dengan yang ada dipapan.

Gaya Kakak Sakti

Pokoknya nggak bisa diam....gerak terus!! sakti..bisa mengangkat apa saja (9 th, 2002)

Kangen taekwondo ya kak? Umur 5 tahun setahun ikut taekwondo tapi jadi anak bawang sabam pelatihnya. Sekarang ikut Tapak suci..ayo kak Deni! suruh lari 10 KM!! (2002)

Gaya Keren Kakak

Di balkon rumah Belanda Witte Rozen Straat 44, Leiden,
datang disambut salju (3 Feb 07)
Euromast tower Rotterdam, melihat view kota metropolis
dengan jembatan cantik Erasmus.

Nyanyi bareng dengan Bob Marley di Madame tussoud Amsterdam (April 07)

Vikra Masuk Majalah

Gamma, 17 Januari 2001
Home News Archives

Shinchan Diprotes, Shinchan Digandrungi
Komik Crayon Shinchan mengundang banyak protes. Ada yang menilai isinya berbau pornografi dan kurang ajar.
SETIAP ke toko buku, Murti Bunanta kerap menyempatkan diri ke kelompok buku bacaan anak-anak. Maklumlah, ibarat hidangan, buku cerita anak adalah makanan kesukaan doktor sastra anak ini. Dan, waktu berkunjung beberapa bulan lalu, mata Ketua Kelompok Pencinta Bacaan Anak itu "tergoda" pada sebuah komik yang agak lain. Soalnya, komik yang berjudul Crayon Shinchan, karya Yoshita Usui dari Jepang, itu disegel dengan stiker hologram original. Dengan demikian, isi komik yang edisi Indonesia diterbitkan oleh PT Indorestu Pacific itu tak bisa dibaca sama sekali oleh calon pembelinya.
Meski begitu, untuk diketahui, para pembeli dapat membaca sampul belakang. Di situ disebutkan bahwa Crayon Shinchan adalah seorang anak taman kanak-kanak berusia 5 tahun yang sangat nakal dan konyol. Kenakalannya melebihi anak seusianya, sehingga sering menimbulkan masalah pada orang di sekitarnya: ayah, ibu, guru, dan temannya.
Ini agaknya yang menarik perhatian dan sekaligus "menyebalkan" dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu. Dengan rasa kurang puas, komik tersebut tetap dibelinya dan ditelitinya. Kesimpulannya: komik tersebut menipu para pembaca. Sebab, komik itu menggunakan tokoh anak untuk mengungkapkan sikap dan pikiran orang dewasa. Karena itu, sebagai ilmuwan, ia merasa terpanggil untuk melindungi anak-anak Indonesia dari pengaruh buruk yang mungkin ditimbulkan komik Jepang tersebut.
Langkah awal yang dilakukannya adalah mengirim surat pembaca ke berbagai media massa. Tujuannya adalah memberitahukan kepada masyarakat luas bahwa komik tersebut "berbahaya" bagi anak-anak. Ternyata, Murti tidak sendirian. Beberapa bulan sebelum ia mengirim surat pembaca, sudah ada dua orang yang menulis surat pembaca di harian Kompas, misalnya. Mereka mengingatkan para orangtua agar berhati-hati membeli komik untuk anaknya. Jangan sampai membeli komik Crayon Shinchan, yang katanya berbau porno dan kurang ajar, perangai yang tak pantas untuk anak usia balita seperti Crayon Shinchan. "Kami prihatin. Bila buku itu beredar di masyarakat luas, tentu akan berdampak negatif terhadap perkembangan anak-anak," tulis pembaca tersebut.
Begitu pula orangtua lain. Bahkan, ada seorang ayah yang tersentak mendengar pertanyaan anak perempuannya yang berusia delapan tahun. "Apa, sih, playboy itu, Yah?" tanya sang anak dengan polosnya. Sang ayah tak menjawab, tapi malah bertanya, "Dari mana kamu tahu itu?" Sang anak yang bernama Vikra Alizanovic itu menjawab, "Rahasia, deh." Setelah ditelusuri, tenyata yang ditanyakan anaknya itu ditemukan pada judul Crayon Shinchan volume kedelapan, "Hm...hm...hm...Aku si Playboy Kecil", milik teman anaknya. Sejak itu sang bapak melarang si anak membaca komik yang sulit dipahami anaknya tersebut.
Kekhawatiran ini, tampaknya, juga telah merambah ke beberapa sekolah. Sekolah Dasar Harapan Ibu, tempat penyanyi cilik Sherina Munaf belajar, sudah lama melarang muridnya membawa dan membaca Crayon Shinchan ke sekolah. Soalnya, ada sebagian wali murid yang protes dan meminta sekolah membuat peraturan supaya murid tidak membaca Crayon Shinchan. Larangan seperti ini juga diterapkan di sebuah madrasah di kawasan Ciputat. Itu terjadi sejak ada laporan dari seorang murid yang menyebutkan bahwa di Crayon Shinchan volume I ada adegan pornonya.
Terakhir, protes semacam ini juga telah disampaikan ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Umumnya, para konsumen tidak ingin Crayon Shinchan dijual bebas. Protes ini semakin memasyarakat setelah dua harian Ibu Kota mengangkatnya secara berturut-turut.
Protes terhadap Crayon Shinchan memang bukan hal baru. Jauh sebelumnya sudah pernah melanda Taiwan dan Korea Selatan. Bahkan, di negeri asalnya, Jepang, sekitar tujuh tahun lalu, komik Shinchan pernah menyulut kemarahan kaum ibu dan para guru. Tapi, sekarang, kemarahan itu sudah mereda. "Mungkin mereka sudah terbiasa dengan gaya komik tersebut," kata Masashi Nakano, salah seorang manager di Futaba Sha Ltd., penerbit Crayon Shinchan, kepada Shizuko Ito dari GAMMA.
Benarkah demikian isi komik tersebut? Untuk menjawabnya, silakan buka lembaran-lembaran Crayon Shinchan dari jilid 1 hingga 8. Di halaman 56 Crayon Shinchan volume 1, misalnya. Di situ terlihat adegan kedua orangtua Shinchan yang sedang menyalurkan kebutuhan biologis mereka tanpa mengunci pintu kamar. Sikap ceroboh ini, ternyata, mendatangkan akibat. Tiba-tiba Sinchan terbangun karena mau buang air. Ia lalu masuk ke kamar orangtuanya yang sedang asyik masyuk itu. Ternyata, dalam pandangan anak nakal yang lucu ini, ayah dan ibunya sedang bermain gulat. "Main gulat diam-diam, saya juga mau," kata Shinchan mengomentari keadaan orangtuanya itu. " Iya, ini gulat," kata sang ibu dengan terpaksa membohongi anaknya untuk menghindarkan malu.
Suatu ketika (volume ketiga), Shinchan bertemu Riyo Jualaku, 27 tahun, single, sales lady dari perusahaan Mayutsuba, yang berdandan menor. Tanpa basa-basi, anak polos ini bertanya kepada gadis tersebut, "Punya burung tidak?" Di buku lain, tampak Shinchan sedang menunjuk bokong seorang pramuniaga sambil bertanya, "Papa liatin ini, ya?" Pertanyaan ini membuat sang ayah tersedak, sehingga minuman yang ada di mulutnya tersembur ke luar. Lalu, sang ibu menasehati anak tunggalnya, "Crayon, kamu jadi anak baik, kan?" Sikap lembut ibunya ini disambut baik Crayon.
Nukilan seperti ini tentu masih banyak lagi. Tapi, ketiga cuplikan cerita di atas cukup menggambarkan "kepornoan" komik Crayon Shinchan yang memang tidak pantas dibaca anak-anak. Selain berbau porno, oleh pengkritiknya, komik ini juga menjual adegan kurang ajar terhadap orang tuanya. Contohnya, ketika pipi Shinchan dicubit ibunya, spontan ia memaki ibunya sebagai "nenek kejam". Terkadang Crayon juga mencemooh ibunya seperti ini, "Mama cantik, kulitnya kasar seperti kulit ikan hiu." Masih banyak lagi contoh lain.
Komik ini, tentu, tak akan mengundang protes bila tidak diminati anak-anak. Masalahnya, komik yang ilustrasinya terkesan asal-asalan ini ternyata digemari anak-anak. Coba lihat di Gramedia Bandung. Meski tidak menjual Crayon Shinchan, di toko buku terbesar di Jawa Barat ini cukup banyak orangtua yang menanyakan Crayon Shinchan. "Dalam lima menit ada satu orang yang menanyakannya," kata Lunardi Harianja, staf Kepala Toko Gramedia Bandung. Jika toko buku itu buka 12 jam sehari, jumlah yang menanyakan Shinchan ada 144 orang. Jadi satu minggunya, menurut penghitungan Lunardi, lebih kurang seribu orang yang bertanya.
Di Gramedia, Jalan Basuki Rachmat, Surabaya, penjualan komik Crayon Shinchan mengungguli komik lainnya. "Ya, lebih kurang dua kali lipat komik biasa," kata Gusmarinda, manajer toko buku tersebut. Karena laris, toko buku ini mengubah pikiran dari tidak mau menjual menjadi ikut memperdagangkan Crayon Shinchan. Padahal, di mata Gusmarinda, isi Crayon Shinchan agak kotor untuk anak-anak.
Peminat Crayon Shinchan bisa dilihat juga pada jumlah penonton film animasi Crayon Shinchan yang cukup banyak. Film yang ditayangkan RCTI setiap Minggu pagi sejak Juli lalu itu (26 episode) memiliki rating 9 hingga 11. "Ini berarti film tersebut ditonton sembilan hingga sebelas persen dari setiap 100 penonton," kata Humas RCTI, Murdjadi Ichsan, seperti dikutip harian Republika. Bahkan, menurut Murdjadi, banyak masyarakat yang minta jam tayangnya ditambah menjadi satu jam.
Daya pesona Crayon Shinchan pada anak memang tak dapat dimungkiri. Daya tarik ini setidaknya menghinggapi diri Wulan. Pelajar kelas 6 SD Kaliasin VII, Surabaya, ini mengaku suka kepada Shinchan. Katanya, "Itu karena bandel, tapi lucu." Ira, pelajar kelas dua sebuah SMU swasta di Surabaya, termasuk yang keranjingan membaca Crayon Shinchan. "Ia itu lucu, tapi lucunya beda dengan Doraemon. Lucunya gimana, ya. Lucu-lucu konyol, gitu," kata Ira memberi alasan mengapa ia suka pada Crayon Shinchan kepada Nurul Amalia dari GAMMA.
Tampaknya tak hanya murid sekolah yang menyukai Crayon Shinchan. Orang dewasa pun sangat suka. Itu terlihat, misalnya, pada diri Andi Yudha Asfandiyar, 34 tahun, Manajer Division of Children & Young Adults Penerbit Mizan, Bandung. "Saya suka membacanya. Komik ini cocok untuk orang seusia saya," kata pengamat komik itu. Di mata Andi Yudha, Crayon Shinchan adalah anak TK yang polos, lugu, dan lucu. Bila mendapat perintah dari orang dewasa (ibu, ayah, dan gurunya), perintah itu ia kerjakan menurut pandangannya sendiri, sehingga sering terjadi benturan.
"Ini wajar saja dilakukan anak seusia Crayon Shinchan yang masih polos dan dunianya adalah bermain," kata Andi Yudha. "Tapi, komik ini memang konsumsi untuk orang dewasa, kira-kira SMA ke atas," tambahnya. Soalnya, isinya mengkritik orang dewasa yang memandang anak kecil secara salah, bahkan meremehkan anak kecil. Lihat saja pada adegan di bawah ini.
Suatu ketika ayah Crayon berpesan kepada anaknya, "Crayon, nanti kalau ada orang mencari Bapak, bilang saja Bapak sedang pergi. Bapak ingin istirahat." Nah, ketika tamu datang, Crayon mengatakan kepada sang tamu apa adanya. "Kata Ayah, kalau ada tamu datang, suruh bilang bahwa Ayah sedang pergi. Sekarang, sebenarnya, ayah sedang istirahat," ujar Crayon.
Lalu, di mana letak kesalahannya? Bagi Yudha, kesalahan selama ini terletak pada cara pandang orangtua terhadap komik ini. Banyak orangtua beranggapan bahwa komik itu lucu, bergambar kartun, dan tokoh utamanya anak kecil --tanpa membaca isi cerita dan nilai-nilai yang dikandung komik tersebut. Itu berarti komik bisa dikonsumsi anak kecil, padahal belum tentu bisa.
Arswendo Atmowiloto, pengarang dan pengamat buku cerita anak, juga berpandangan demikian. Baginya, komik Crayon Shinchan tidak porno. "Komik Crayon Shinchan ini dianggap porno karena yang membacanya merasa anak-anak," kata Arswendo. Komik itu, menurut Arswendo, memang tidak pas untuk anak-anak, tapi untuk anak SMU tidak ada masalah.
Di negeri asalnya komik ini pada awalnya memang untuk orang dewasa. Itu bisa dilihat, misalnya, pada media tempat Crayon Sinchan pertama kali dipublikasikan ke masyarakat Jepang, Agustus 1992: Shukan Manga Action. Majalah mingguan komik aksi ini khusus buat orang dewasa. Itu pun penggemarnya kaum pria yang sudah bekerja. Tapi, dalam perjalanan waktu, pengemar menjadi meluas, dari anak kecil hingga orang dewasa.
Hal ini, tampaknya, tak lepas dari pengaruh televisi. Seperti dikatakan Arswendo atau Andi Yudha, bila tayangan cerita itu sukses di televisi, biasanya buku dan lainnya ikut sukses. Itulah yang dialami komik Crayon Shinchan, yang film animasinya ternyata sangat digemari anak-anak. Meski tidak paham terhadap isinya, anak tetap saja gemar membali buku Crayon Shinchan.
Karena itu, membaca komik ini, saran Andi, harus didampingi orangtua. Soalnya, di komik itu juga terdapat nilai-nilai yang baik. Misalnya, ketika melihat orang sakit, Shinchan membawa buah tangan. Namun, saat itu terjadi kekeliruan, yakni ketika oleh-oleh itu diletakkan Shincan di kaki si sakit. Nah, kekeliruan ini perlu dijelaskan.
Persoalannya kini tinggal pada penerbit. Seharusnya penerbit mencantumkan batas usia pembacanya, sehingga orangtua tidak "tertipu" dengan sampulnya yang bergambar anak kecil. Rupanya, hal itu telah dilakukan penerbit sejak jilid kedelapan.
Julizar Kasiri, Gagak Lumayung, Rika Condessy, Julie Indahrini, dan Seiichi Okawa
©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com
if(window.OAS_AD) OAS_AD('Bottom');

Gaya rajin ciadek

Rajin..tapi masih melet juga, perpus kelas Ann Arbor, Feb 2003

Anne Frank (bukan Ana perang), rajin nulis diary kalau lagi marah....sampai ayah, ibu, kakak, takut nama kita masuk di diary (6 th, 2002)
Mau bobo baca ya dek....boleh cun? (6 th)

Gaya Melet Ciadek

Gaya melet mau flying fox di Little farmer Bandung (8 Juli 07). Gaya melet cobra imut di pangkuan Kanguru, Spring Lisse (3 Mei 07)
Gaya Comodo lagi nggak melet di Taman tulip Keukenhoff Belanda (3 Mei 07)