Tampilkan postingan dengan label Pengalaman ke Spanyol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman ke Spanyol. Tampilkan semua postingan

Lengkung Indah Cordoba: Jepretan ayah





Ketika dua peradaban bertempur, masjid dan gereja tertakhluk menjadi satu...tak jelas antara megah, pasrah dan marah. Sejarah terlalu merah berdarah...cukup dikenang dan tidak untuk diulang! Biarkan sunyi dalam harmoni...

(ini jepret-jepret dengan kamera digital biasa-biasa..tapi kami suka).

Detail Al-Hamra! Uncomparable!

Silahkan menikmati hasil jepretan Vikra Vinda...



Foto-foto: Terpukau Istana Al-Hamra





Foto-foto: Taman Firdaus Istana Al-Hamra





Just Amazing...

Demi Istana Al-Hamra Granada

Nunggu antrian tiket sambil nembang Jawa

26 April 07

Setelah keliling-keliling Cordoba kami kembali lagi ke Terminal Cesar Portela Fernandez, kami naik bus naik ke Granada sekitar 2 jam. Sampai di Granada jam 9 malam langsung cari hotel dengan taksi dan dapat hotel Etap Accord, bintang 3. Kami pesan 2 kamar untuk anak-anak dan kami berdua. Kami istirahat dengan baik, lumayan dipijit suami…


Istana Al-Hamra (ayah yang tulis tentang istananya)


Hari ini adalah hari kelima perjalanan kami, Kamis 26 April 2007. Membangunkan anak-anak pagi-pagi adalah ritual mengasikkan. Kami ciumi dan dipijit-pijit kecil, mereka nggeliat-nggeliat lucu, narik selimut dan nggak selalu langsung bangun, apalagi si gadis kecil Vinda itu. Kalau mau bangunin Vikra agak mudah, apalagi kalau dirangsang..”yuk kak, kita sarapan direstoran hotel”…Alhamdulillah, anak-anak relative kooperatif, karena mereka dengar sendiri tadi malam petugas hotel mengingatkan kalau mau masuk Al-Hamra harus pagi-pagi antri tiket biar bisa masuk, karena antriannya bisa ratusan meter.

Supir taksi membawa kami ke pintu yang langsung diarea istana, padahal kami belum ada tiket. Terpaksa ayahnya keluar lagi antri tiket yang panjangnya luar biasa, sehingga perlu 1,30 menit untuk nunggu. Kami bertiga nunggu di halaman samping istana. Anak-anak punya aktifitas sendiri, Vinda baca buku, Vikra ngusilin adiknya, akhirnya mereka berdua main bareng dan ibunya nimbrung ngajarin lagu-lagu Jawa untuk anak-anak bermain, yang hamper punah. Salah satu lagunya:

Cublak-cublak Suweng, Suwenge teng gelenter,mambu ketundung gudel,pak empu ela elo sopo nggowo ndeleake, pong, sirpong dele kopong…anak-anak udah tahu cara mainnya dengan memutar benda kecil untuk diumpetin ditelapak tangan dan ditebak.

Permaian dan lagu berikutnya adalah Ndok-Endokan:

Kepalan tangan saling ditumpuk keatas, dan nyanyi-nyanyi:

Ndok-endokan jo pecah-pecah nduwur pecaho ngisor, Brok.

(tiap kali ada kata brok, kepalan tangan terbawah harus pecah melepas genggaman. Setalah semua gemgaman pecah, satu bergantian menyanyi sambil ngebor ringan telapak-telapak itu dengan lagu:

Riuri-riuri, njang anjang midodari, celeret tibo Nyamplung, kembange opo?

(yang punya tangan harus menjawab bunga tertentu dan melanjutkan nyanyi).

Habis itu anak-anak diajari lagu dan permainan lain:

Doktri, legedri nogosari, wul awul jadah mentul, tolan olan olan jadah manten, tenono mbokmu lungo mbesuk opo, podem mbako enak bako, po dem-dempok, ewok-ewok koyo kodok.

(Permainan ini dengan cara memutar batu kekawan sebelahnyam, beitu lagu habis, orang yang kebagian batu harus bergaya seperti katak.

Pokoknya asik deh permainan anak-anak kecil pedesaan jaman dulu, bukan hanya main, menebak melatih kecerdasan, menebak expresi melatih sensitifitas, tapi juga olah vocal. Selain itu, permainan yang hampir punah ini sayang kalau tidak terwariskan. Kebetulan Vikra Vinda juga suka, karena kalimatnya aneh dan lucu. 2 lagu diatas mereka sudah bisa, kecuali yang terakhir. Wah ngajarin lagu jawa kuno di Granada Spanyol asik juga ya…

Cerita tentang istana, kita serahkan ayah atau Vikra Vinda deh yang nulis….karena kita disitu dari jam 10 sampai jam 4 sore.

Yunich1@yahoo.com

Mesqita Cordoba: Masjid jadi Gereja

Mihrob Masjid (Mesqita)
Wisata Spiritual di Kemegahan Masjid Abad ke 8
Cordoba, 26 April 2007
Kami keliling ke Mezquita, begitu orang menyebut masjid Baiturrahman peninggalan Bani Umayyah. Mesjid ini dibangun oleh Sultan Abdurahman I pada th 784 dengan nama Aljama untuk menghormati istrinya. Dinasti Islam sempat berjaya disini, dirintis oleh Thariq Bin Ziyad yang nekad menyebrang dari Marocco masuk Gibraltar, bibir benua Eropa di Spanyol pada th 711. Waktu di Pesantren sempat terngiang-ngiang guru menjelaskan semboyan Thariq bin Ziyad: Musuh didepanmu dan laut kebelakangmu! Pasukan Islam disemangati maju kedepan, karena kapal dibakarnya. Nama Gibraltar, Andalusia, Granada, Cordoba sangat popular di Pesantren dan bahkan dijadikan nama-nama ruang atau kelompok muhadloroh atau pidato.

Kebesaran kerajaan Islam ini berakhir pada th 1236 oleh perang Salib dan Masjid indah ini akhirnya berubah jadi gereja. Ini ironis tapi sangat biasa pada zamannya, mesjid jadi gereja dan gereja jadi mesjid sebagai symbol penaklukan. Masjid ini mengalami beberapa perkembangan oleh Sultan Abdurrahman III, Alhikam II dan Al Mansur. Ada pelebaran area, penambahan menara dan uniknya, mihrob masjid ini tidak persis menghadap ke Mekah, tapi justeru ke Damascus. Di Cordoba pernah tumbuh seribu lebih masjid. Tapi masjid Baiturrahman inilah yang terbesar di Andalusia dan terbesar kedua didunia. Masjid ini terhubung dengan istana, sehingga para penguasa saat itu lebih terjamin keamanannya, karena sangat rentan akan pembunuhan.

Kecantikannya masih bertahan, kuat! Dalam bisunya merekam rebutan kuasa! Ada Allah, ada salib...berapa banyak darah tertumpah untuk berebut meletakkan simbol di bangunan sakral dan indah ini?
Setelah dari Masjid, kami menyusuri tepi istana dan bekas perpustakaan Baiturrahman menuju jembatan dengan sungai yang menurut sejarah Islam pernah jadi tempat pembuangan abu-abu perpustakaan baiturrahman waktu pembakaran perang salib. Pasukan Islam kalah, perpustakaan ludes, sehingga sungai ini berhari-hari berwarna hitam oleh abunya. Sejarah peradaban Islam di Spanyol tumbang dengan manuskrip-manuskrip rekaman peradaban yang ikut lenyap. Ayah, Vikra, Vinda sibuk memfoto dan memvideo. Mereka exited sekali, karena masjidnya sangat indah. Kami cukup lama menghabiskan waktu disini sampai masjid ini hampir tutup. Sambil naik taksi kami sempat melewati patung 2 telapak tangan dengan doa pedih kekalahan umat Islam saat itu yang dibangun selama sekitar 5 abad.

Mestinya kalau waktu cukup kami ingin ke Gibraltarq, tapi perlu 5 jam lagi. Yang penting kami sudah masuk wilayah Andalusia dengan 2 kota utamanya Granada dan Cordoba dimana dulu menjadi ibukota Andalus. Satu kota lain Sevilla, tapi masih 3 jam lagi dari Cordoba, dan kami putuskan di skip untuk hemat energi, lagipula peninggalan sejarah Islamnya tidak sekaya di Cordoba dan Granada.

Yunich1@yahoo.com

Cordoba oh Cordoba

Ziarah ke Reruntuhan Islam Andalusia

25 April 2007

Kami masuk hari ke empat dari rangkaian trip ini. Hari ini Rabu, 25 April 2007. Dari hostel Ole jam 8 kami naik bus ke station Mendez Alvaro Madrid . Kami hanya bisa beberapa bahasa Spanyol, Gratias, denada, dll. Orang-orang Spanyol hanya sedikit sekali bahasa Inggris. Supir taksi yang kami naiki juga tidak bisa bahasa Inggris sama sekali. Padahal kami mau minta dia puter-puter lihat tempat-tempat penting. Dia tunjuki beberapa tempat penting seperti bibliotek, istana, taman nasional, jalan menuju Plaza Mayor, tapi entah apa yang dia jelasin. Yang jelas dia teriak Mendez Alvaro berkali-kali, kami saling mentertawakan kefrustasian komunikasi kami sambil ikut teriak Mendez Alvaro nama terminal bus luar kota. Kebayang kan, seluruh penghuni taksi teriak “kampong Rambutan, Kampung Rambutan”berkali-kali sambil bingung mau apa. Tapi ayah sibuk nyuting suasana kota.

Sampai di Mendez Alvaro kami naik bus ke Cordoba Andalusia sekitar 3,30. Kami hampir tertinggal karena jarak waktu beli tiket dan cari peronnya Cuma 5 menit, mana sempat salah masuk arena kereta pula….kami sampai nyegat sambil melambai-lambai tangan ke supir bus 1 maksa biar bisa naik. Vikra sempat protes dengan kenekadan itu. Supir busnya agak marah, dengan nunjuk-nunjuk kepala, karena memang bus disana sangat disiplin tepat waktu. Kami jelasin situasinya, entah dia faham atau enggak. Sampai di Terminal Cèsar Portela Fernandez Cordoba jam 2 siang. Terminal ini cukup bagus berhadapan dengan stasiun kereta Plaza de las Tres Culturas. Di area naik turun bus luar kota terminal ini berbentuk melingkar, dan area ini dulu bekas masjid dan reruntuhan sejarah Roman. Ayah sempat membaca sejarah ini disalah satu planknya. Kami makan siang dulu di restorannya, kami nggak bisa bahasa spanyol, jadi kami pesan seperti yang kami lihat orang lain pesan, ada ayam di opor dengan kentang goreng. Jadi kami pesan persis seperti itu.

Disepanjang perjalanan dari Madrid ke Cordoba kami lihat pemandangan menarik, pohon olive zaitun menghampar indah. Ada juga bukit-bukit batu berbilah-bilah seperto bongkahan buku-buku tak beraturan. Rada ingat sedikit suasana menuju Pensylvania, tapi warna batu disini bukan merah tapi hitam. Sesekali kami lihat istana-istana tua atau kubah masjid yang bertebaran jauh yang barangkali sisa peninggalan Islam.

Yunich1@yahoo.com

Semalam di Ole Manuela Malasanya Madrid


Berhostel ria dengan backpacker

24 April 2007

Dari Barcelona kami terbang dengan pesawat Vueling VY1012 selama kurang lebih satu jam. Berangkat jam 16.50 sampai jam 18.05. Dari airport sengaja kami naik bus biar sekalian lihat-lihat kota Madrid. Kebetulan waktu spring begini diatas jam 10 malam baru mulai gelap, jadi kami masih bisa lihat-lihat kota dari atas bus. Kenapa kami ke Madrid? Karena Ayah sempat pesan; “gimana kalau lewat Madrid, walaupun cuma sebentar”. Wah gimana ngaturnya ya? Tapi kota ini sangat penting untuk penggemar bola macam dia yang rela begadang tengah malam sampai jam 2 pagi, dan jam 5 harus cabut kekantor lagi. Oke bisa diatur…tapi nyari hotel yang dekat dengan airport , stasiun bus kearah Cordoba dan sekaligus tidak jauh dari areal night sight seeing rupanya nggak gampang. Karena praktis kami Cuma malam hari dikota itu, jadi memang harus well managed. Akhirnya lewat internet nemu Ole Hostel international, yang terletak di Manuela Malasanya, 23 1A-Madrid, telp: 0034-91-446-5165, fax. 0034914465165. Jalan Manuela Malasanya ini cukup terkenal, ibaratnya seperti daerah jalan Sabang, banyak turis dengan café dan restoran yang rame pada malam hari. Menurut cerita resepsionis hotel, jalan ini dulu slum area, banyak kejahatan disini dan disulap jadi area menarik. Konon sejarah berkembangnya Homo-Lesbi di Madrid juga terdukung oleh kafe-kafe di area ini.

Awalnya agak kaget juga harus stay di hostel yang resepsionisnya di lantai atas, sementara dilantai bawah lengang. Tapi itung-itung asik juga ngrasain gimana bermalam di hostel dengan backpackers. Untuk ukuran kami yang sudah capek, menginap dihostel itu agak merepotkan, karena kamar mandi dan toilet diluar, kamar juga terlalu kecil untuk kami berempat walaupun kami pesan kamar privat. Tapi asiknya ada internet gratis, Vikra sempat berasik ria main internet bikin web untuk group bandnya, dan kesel sendiri belum kelar sudah harus ditinggal. Di hotel ini juga ada dapur bisa masak sendiri, kami sempat masak nasi yang ayah beli dengan lucu, karena dia bilang rice, tapi penjualnya baru faham waktu bilang ruzzo. Rupanya rice, arruzzo dari satu akar arruzz bahasa Arab. Kami maem nasi dengan rendang paru oleh-oleh ayah dan ditemani sambal pedas. Wah asik juga. Kami sempat bersitegang karena i-pot baru Vikra hilang, masak barang 2 juta hilang sekelebat begitu dan menurut ingatannya tertinggal dikursi pesawat. Tapi setelah dilacak disemua tas, ketemu juga. Biasanya kalau kami dapat pengalaman nggak enak, untuk menghilangkan ketegangan cenderung bikin candaan-candaan. Vinda bikin lelucon dengan berperaga macam bintang iklan dengan minuman aneh merk Bisulon dari Madrid, dan ayahnya dijadiin contoh iklan gigi coolgate. Ampunn deh…Habis itu kami ngledekin ayah soal ngigo (mengigau). Katanya kalau ngigo kenceng banget, ceritanya aneh-aneh, nadanya kacau..pokoknya ayah jadi bahan ledekan terusss!!!

Karena nggak bisa-bisa bobo, kami searching lagi hotel di Florence. Gila banget, 2 minggu cari hotel di Florence nggak dapat! Kami ingin dapat hotel yang deket SM Novella stasiun dan dekat historical places. Karena kami cuma punya waktu sebentar sekali. Pas lagi searching internet, Vinda nyusul…ya udah, kami akhirnya jalan berdua jam 11 malam lihat-lihat kota Madrid sekitar hotel. Asik juga jalan sama anak gadis…

Pas pagi sarapan kami ketemu turis-turis lain didapur, persis suasana di rumah. Vinda sempet ngobrol sama ABG dari Argentina, Grand Canaria. Vinda ketemu lagi sama gadis bule yang menawarkan minum air putih tadi malam. Rupanya di Madrid, air putih nggak bisa langsung diminum dari kran kayak di Belanda. Karena dia baik, makanan-makanan belanjaan yang ayah beli tadi malam, kita kasih ke gadis ini. Buat Vikra hostel ini menarik, dia bilang, kapan-kapan kalau traveling sendiri dia akan memilih hostel macam ini..

Yunich1@yahoo.com

Sewa Taksi Keliling Barcelona

Sagrada Familia Barcelona
Barcelona,24 April 2007. Dari Paris Orly kami terbang ke Barcelona jam 11.55-13.35 dengan pesawat Easyjet 4281. Pesawat ini dipesan dengan electronic dan semua serba cepat. Makanan tidak disediakan, tapi bisa dibeli langsung dari pramugarinya. Vinda sempat komentar kenapa pramugaranya kok rada kecentilan waktu meragain prosedur keamanan naik pesawat? Vinda beli roti yang ada brinya atau French cheesenya, tapi dia nggak menikmati. Akhirnya Vikra yang biasa menuntaskan dengan cara seksama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Kami agak dag-dig dug memutuskan apakah perlu keliling Barcelona atau tidak. Karena jam 16.50 kami harus terbang lagi ke Madrid. Praktis kami cuma punya waktu 2 jam efektif untuk keluar dari airport. Apalagi penerbangan Eropa sekarang menyebalkan, pengecekan bawa liquid atau cairan memakan waktu lama sekali, jadi bener-bener 2 jam sebelum terbang kami harus balik ke airport. Tapi sayang juga masak nggak mengintip sedikitpun Barcelona. Jadwal trip ini diacak sama pesawat Vueling yang tadinya berangkat jam 8 malam diajukan jadi jam 16. 55. Tadinya sudah di set up punya waktu 5 jam di Barcelona, mau makan Tapaz atau tortia Patata di La Rambla. Tapi karena memang kami orang nekad, dengan bismillah kami sewa taksi untuk keliling Barcelona dalam 2 jam dengan resiko ketinggalan pesawat. Supir taksinya tidak bisa bahasa Inggris, jadi kami pakai tulisan untuk menjelaskan bahwa jam 15.00 harus sampai airport. Untungnya Vikra Vinda tahu sedikit bahasa Spanyol yang mereka serap dari telenovela anak-anak waktu mereka kecil dulu. Mereka bilang "üna ora", dll. Supir taksi faham, kami pesan minta diajak ke beberapa tempat menarik yang kami ingat. Kebetulan dulu ibu pernah sekali kesana.

Kami dibawa ke boulevard Diagonal, ini semacam jalan Thamrin Sudirman. Ayah sibuk mensyuting dan mengagumi Barcelona yang sejuk hijau, katanya jalan tram pun ditutup rumput. Selain itu banyak pancuran air dan jalannya lebar-lebar. Kami minta juga lewat Plaza Catalunya square dengan patung-patung indah tempat bersantai, La-Rambla tempat orang berjalan relax,. Setelah itu kami ke Sagrada Familia gereja dengan gaya gothic yang indah sekali seperti stalagtit stalagmit, lalu ke gedung Gaudi yang dibangun oleh arsitek terkenal Antoni Gaudi yang eksentrik dengan detail yang sulit tertandingi oleh arsitek mainstream. Memang kami tidak sempat masuk kedalamnya, tapi lumayan bisa menikmati dari luar. Dikota ini juga ada museum Pablo Picasso, tapi singgah kami kali ini harus rela melawatkannya.

Stadion Barcelona
Setelah itu driver mengajak kami ke perbukitan Montjuic, kami melewati pelabuhan dengan patung Colombus dan di bukit itu kami sempat turun masuk ke arena olimpiade dunia 1992 dengan gelora sepak bola yang besar yang diapit gedung-gedung olah raga lainnya. Kami sempat turun berfoto disana, dan drivernya sabar menunggu dengan argometer yang ritmik tetap berputar. Dari bukit Montjuic ini kami bisa melihat mosaic kota Barcelona, terutama port/pelabuhannya. Jalan berkeloknya banyak dihiasi Joshua tree salah satu pohon idola, yang membuat kelokan-kelokan tampak lebih mengasikkan.

Persis jam 15.30 kami sampai di airport, dan kami menghabiskan 60 euro untuk sewa taksi ini. Tapi lumayan lega nggak kehilangan penerbangan berikutnya dan menjangkau banyak tempat. Kami terbantu oleh jalan yang tidak macet, karena orang Spanyol jam siang begini biasanya pada Siesta atau tidur siang. Kantor-kantor juga ada tutup untuk siesta ini, terutama dikota-kota kecil. Kami puas, paling tidak nggak penasaran dengan kota romantis yang sempat direkam dalam album Barcelona Fariz RM yang cukup bikin penasaran. Sampai di Bandara kami makan Tortilla Patata, orang Spanyol menyebutnya Tortia Patata, dadar kentang dan telor dengan bumbu bawang Bombay dan lada sayup-sayup….ayah makan salad anak-anak makan tapaz dengan isi ayam panggang. Wah, ini saatnya terbang lagi ke Madrid. Good bye sweet Barcelona!!

Yunich@yahoo.com

Menikmati Flamenco di Malaga, Spanyol


"Mengejang, Menghentak, Meregang..Penuh Energi!"

Malaga Spanyol, Kamis 26 April 2007

Jam 4 sore setelah keliling istana AlHamra Granada, kami langsung ke stasiun bus menuju kota Malaga. Jarak tempuh dari Granada Malaga sekitar 1,30 menit.

Kami agak tenang karena kami sudah reserve hotel di Malaga. Malaga kota turistik, orang Eropa banyak nyerbu kota centil ini, banyak bunga digantung sendiri-sendiri di dinding dengan aneka warna, banyak gang kecil digelitikin dengan prentil-prentil kembang, air mancur di wadah kolam melingkar jadi kayak ngajakbercanda di setiap perempatan.

Pantainya asik. Banyak kafe tepi pantai dan atraksi kotanya juga banyak. Ada adu banteng matador, ada tari flamenco, ada konser-konser musik. Belum lagi hiburan pantainya. Ada seaworld, kebun binatang dan konservasi alam. Malaga termasuk kota pelesir paling ramai dibanding Granada dan Cordoba. Kedua kota ini lebih dikenal sebagai kota sejarah.

Kami sampai di hotel Tarik, di Paseo Maritimo 49 Torremolinios 29620, telpnya+34952382300. Kami reserve hotel ini dari internet dibantu tante Erry. Hotelnya asik banget, persis dibibir pantai Malaga, bangunannya unik rada mediteranian, banyak mosaic khas istana Alhamra. Kamarnya cukup cozy persis menghadap kolam renang.

Kami langsung renang, air agak dingin tapi seru juga renang bertiga. Ayahnya asik nyuting kami dan yang pasti, ngrokok.

Malam dikit kami melanjutkan lagi searching hotel Florence dan cari makan di restoran sebelah sambil nunggu nonton flamenco dance jam 10 malam. Kami cek apakah flamenco ini bisa untuk anak-anak tidak? Rupanya multi usia. Harga tiketnya lumayan, satu orang 25 euro. Tapi ini penting untuk mengajak anak nglihat kekayaan budaya Spanyol. Apalagi ini dance terbaik di Malaga.

“Biarin, belum tentu seumur hidup sekali,” kata misua.

Kami naik taxi ke Pepe Lopez tempat pertunjukan Flamenco. Gedungnya muat untuk 250 orang, persis di lantai bawah. Bangunan pub ini juga cantik dengan gaya warna-warna terang spanyol selatan, tapi redup oleh cahaya-cahaya klasik yang dibikin dari panci-panci tembaga tua.

Vindasempat berbisik..”Bu, lihat lampunya, unik ya”.

Vinda juga bisikin lagi: “Bu,Vinda suka, akhirnya ada anak kecil yang lainjuga disini”.

Vikra sibuk makan, rupanya tapaz yang kami makan di restoran sebelah hotel tadi tidak cukup mengenyangkan dia.

Persis jam 10 malam, gedung pub mati sebagai tanda pertunjukan mulai. Tidak ada pembawa acara yang ngumbar kata-kata untuk menghabiskan waktu. Kami lihat 8 dancernya berjingkat naik panggung dalam kegelapan. Begitu lampu nyala, para penari dengan baju polkadot warna-warni sudah mematung di atas panggung.

Bajunya attraktif sekali dengan rumbai di bawah yang heboh begitu digoyang. Penari sabar berdiam, lantunan vocal pesinden/penyanyi dengan cengkok Spanyol memulai nadanya seakan ngucapin salam. Pelan –pelan gitar berdenting, begitu nada menghentak seru, penari seperti diberi aba-aba, langsung unjuk kebolehan mereka.

Enam penari perempuan dan 2 laki-laki ini sangat piawai menghentak-hentak sepatu mereka yang sangat popular dengan istilah step dance. Flamenco juga sarat tepukan tangan dan gocekan alat musik jari yang diadu (lupa namanya).

Penari perempuannya sangat estetis, persis seperti gaya dandan pramugari Singapore airlines, yang mengingat rambutnya rapi pepat dengan sanggul simple, untuk mengkontraskan leher jenjang mereka agar dongakan dagu tirus saat menari flamenconya menjadi jelas.

Puluhan kali mereka berganti kostum dan aksesoris, dari kostum pakaian mirip pakaian China Melayu dengan kebaya dan bawahan remple, baju hitam celana hitam dengan topi, baju seksi dengan shawl matador warna kontras, baju balet genit juga nggak ketinggalan.

Penarinya cantik-cantik, tapi penari flamenco yang kata Vinda senior ada satu, wajahnya biasa, tapi gerakannya bertenaga sekali. Dia menari tunggal, dengan musik balada dia mengejang, menghentak, meregang dan memutar dengan penuh energi. Punggung terbukanya sengaja jadi etalasi otot penarinya: bahwa flamenco bukan sekedar mengandalkan gemulai tapi raga urat dan otot sangat penting. Keningnya berkernyit 3 jari, peluhnya mulai keluar berbiji-biji dipunggungnya..tapi dia tetap menghentak, menari dan menari untuk sebuah tepukan kagum penontonnya.

Satu atraksi dari penari laki-laki adalah show keahlian step dancingnya yang ritmik, dalam hitungan menit dia harus menggerakkan gerakan sama dengan intonasi yang persis..luar biasa sekali !!! sepintas kaya suara mesin pabrik yang tidak ada kasalahan ritmiknya. Kami penonton hanya bisa tepuk sambil menunggu apa lagi yang mereka punya!!

Filosofi flamenco ini egaliter, nyaris gerakan penari laki-laki dan perempuan sama, pakaian juga ada beberapa yang sama. Berbeda dari tari salsa atau tari Jawa yang mengkontraskan penari laki-laki danperempuan. Dalam salsa, penari laki-laki yang leading dan atur gerakan, perempuan yang ikut, komplementer tapi harus indah. Tari Jawa, juga mensimbolkan penari laki musti maskulin dan perempuan feminine. Penari laki-laki yang memerankan tokoh perempuan, harus gemulai sekali, sementara penari laki-laki banyak mengangkang kaki dan tangannya untuk menunjukkan otot-ototnya.

Kami puas relaxing malam ini dengan nonton langsung Flamenco…anak-anak jugasuka….

Bobok nyenyak deh!!!

(yunich1@yahoo.com)

Untuk melihat video di you tube search: pepe lopez flamenco.