Tampilkan postingan dengan label About Home Sawangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Home Sawangan. Tampilkan semua postingan
Semilir Hijau
Saung Setu Semilir sudah mulai hijau, menyulap dari area yang sempat lama (dari awal dibeli th 2003an hingga 2006an dari bbrp tetangga) tak terurus, sampai dipakai buat parkir berbagai rongsokan, kandang ayam tetangga, sejam 2011 mulai dipagar dan dihijaukan secara bertahab selama hampir setahun...sekarang sudah segerr. Saung yang semula bambu 2kali2, sekarang dibuat lagi atap macam garasi yang masih utuh batako, dan dihias macam-macam jadi lumayan cantik. Murah meriah dan cozy kata kawan-kawan yang main.
Disain Ringan yang Meringankan
RUANG PEMBUGAR: Idenya ingin bikin taman dalam, tapi sejujurnya ruang ini belum ideal disebut sebagai taman dalam, karena air kami keringkan dan tanaman kami minimkan. Kolam tengah ruangan ini biar sejuk, tepinya bisa untuk duduk-duduk dan serasa diluar padahal didalam. Walaupun sementara ini kolam tengah ini kami keringkan, tetapi ada fungsi-fungsi lain yang barangkali menginspirasi. Perhatikan eternit transparant itu. Tujuannya ingin mencuri matahari supaya sampai senja jelang maghribpun masih terang. Lumayan kan hemat listrik? Lalu kami memasang neon diatas eternit itu yang memberi efek cahaya berbeda. Sekarang perhatikan lantainya yang terbuat kerikil batu sikat sebagai varian lantai yang menyehatkan, karena seperti dipijit refleksi saat mau ke kamar mandi. Kalau bibir kolamnya sih jelas untuk kursi extra saat bosan bersofa ria diruang keluarga. Jadi sehat dan ringan kan?
Label:
About Home Sawangan,
Hobby-Creativity
Rumah Ramah
Duh kalau begini, perlu pertanyakan pada diri kia, apa sih fungsi dan esensi rumah? Apakah museum mejeng benda mewah yang menunggu decak? Tempat gua bertapa sunyi sepi tanpa salam tamu? Atau rumah hangat yang siapapun nyaman untuk berada didalamnya? Atau bisakah menjembatani semua hal sebagai rumah hangat, tapi juga indah dan asik untuk mengkoleksi benda bersejarah.
Kami belum bisa membuat rumah ramah yang ideal, tapi berdasarkan pengalaman diatas, kami mencoba beberapa hal ini:
1. Kenali dulu siapa kita dan siapa orang yang akan lalu lalang di rumah. Jadi waktu bikin rumah dan pilih benda pengisinya sesuaikan denan karakter orang yang akan lalu lalang didalamnya. Yang jelas nggak penghuni gang jambu maupun kebanyakan tamunya mayoritas keluarga yang bawa anak, dan anak-anaknya jarang yang anteng, kayak Viva juga!! Jadi kami menghindari furniture yang tajam dan berbahaya (tapi kolam tengah banyak dikritik juga sih). Pilih furniture yang finishingnya rustic ketimbang yang mulus sophisticated dan mudah kelihatan kalau tergores.Jadi balai-balai bisa untuk maindakon atau bekel sekalipun nggak apa-apa.
2. Utamakan space bermain untuk anak dan beri mereka kenyamanan untuk merasa punya rumah. Jadi kami biarkan Vinda main lompat karet di rumah dengan teman-temannya, atau main volly yang soft dll dalam rumah. Intinya kepentingan anak nomor satu, tapi bukan berarti rumah sepi melompong kosong. Jadi letakkan benda mudah pecah pada tempat yang tidak terjangkau anak. Dulu bahkan jaman Vikra kecil, kita punya pot cantik bentuk kepala berkuping, kami ikat kawat transparan biar tetap indah tapi juga tidak membahayakan anak.
4. Selalu hindari membeli benda bersejarah yang mudah pecah. Kami tidak punya piring antik, kristal menyilaukan, dll. Jadi souvenir travelling internasional bisa cantik juga dalam bentuk logam, kayu, dll. Kalau toh harus dari benda mudah pecah kami cari yang mudah didapat dan murah.
5. Beri pengertian pada anak arti "koleksi"yang harus dirawat saat bertamu atau milik kita sendiri. Juga libatkan anak kita untuk menjadi tim untuk handle anak tamu kita yang super liar. Tidak jarang piano habis di stemp di gubrak-gubrak.. jadi biasanya Vikra Vinda akan ngajak mereka nyanyi dan membantu ngemong. Yang jelas ketamuan anak kecil yang nglempar batu-batu ke ruang tengah, nglempar koleksi numismatic (coin beberapa negara) ke kolam, atau melayani anak-anak yang maunya menurunkan souvenir dari dalam bufet, pernah juga mike baru karaoke di jilat penuh ludah dan tidak bisa dipakai lagi, pokoknya sudah biasa!!
Bukan berarti kami super sabar dan super ramah...pernah juga sih kesal karena temen-temen Viva main didalam berisik dan tidak sensitif kalau kami perlu istirahat. Kalau sudah begini biasanya kami panggil Viva dan kasih tahu buat pindah ke ruang samping atau berganti aktivitas yang anteng. Tapi kalau ama temen-temen mereka yang udah biasa main, ya udah kayak anak sendiri, langsung ditegur dan oke-oke saja...
Kamar mandi alami
- Kenali batu alam yang tahan air dan tidak, pastikan bagian yang selalu basah, dipasang batu alam yang tahan air.
- Buat komposisi yang pas, antara terang dan gelap. Misalnya bagian sempit, pastikan dipasang batu alam terang, sehingga bisa lebih terkesan lapang.
- Cukup cahaya dan ventilasi, sehingga batu alam tidak berjamur dan sehat. Kami menggunakan genteng kaca untuk mencuri cahaya, sehingga sorepun masih tampak terang. Hemat energi kan?
Inilah kreasi kami, alhasil, Vikra paling menikmati berlama-lama baca di toilet. Memang sejuk dan privat. Apalagi mandi pakai jambangan dengan ciduk batok....serasa di kampung Gedawung atau Drajad 30 tahun lalu... Akhirnya ayah menikmati juga (dan pasti diam-diam memuji..he..he..)
Label:
About Home Sawangan,
Hobby-Creativity
Lampu semak bambu
Kalau lampu duduk ini, sengaja didisain biar batangnya bisa untuk pot kembang hydroponic. Jadi sinar dari atas mantul kedaun menjuntai kan unik (difoto waktu belum jadi dan ampe sekarang juga belum dipernis. Tadinya pingin ditutup pakai kain organdi india, atau kasih coin-coin/kancing, atau dikasih penjuntai melingkar. Pokoknya bisa disulap apa aja deh).
Lampu pipa bambu itu sederhana kan? ini yg buat omacan. Bambu besar dipotong, sisi atas pastikan tersumbat ruas untuk pelindung dari air dan sisi bawah potong memegas. Efek cahaya malamnya bagus, apalagi menyemburat dari balik daun-daun bambu air. Ini kami pasang berderat 4 atau lima titik disepanjang dinding samping. Asik kan?
Danau Bojongsari Sawangan: "Catur konglomerat"
Rumpian tetangga tentang jendral konglomerat gang jambu:
"Itu tanah pak jendral, luas benner..ampe ujung setu (danau)! dalemnya ada peternakan kuda, kebonnya gede bener. Kalau malam pan saya kagak berani lewat situ. Gelap...ihhh serremmm".
"Belakang sono pan dulunya mau buat sutet, tapi ada tanah pak jendral tuh..., jadi kagak jadi".
"Kuda pak jendral udah pada kosong sekarang, dulu ratusan, harga se-ekornya jutaan. Kalau sakit atau pincang, ditembak dan dikubur gitu aja".
Begitulah kira-kira mpok tukang sayur, bang mandor atau cerita penjaga kebun para tetangga kami saat mampir kerumah tentang misteri dibalik benteng tinggi hektaran tanah di gang jambu. Dulu semua serba misteri, tetapi melalui satelit kami bisa mengintip. Di sekitar gang jambu ada tanah maha luas (mungkin panjang 2 KM lebar 1 KM untuk satu spot) milik malaikat para "jendral", tidak tahu siapa jendral itu, konon sudah uzur tidak punya anak. entah jenderal beneran, atau sekedar birokrat yang nakut-nakutin warga dengan kata jendral yang bikin bergidik kalau mau ngapa-ngapain. Yang jelas tanah pak jendral menjadi pagar bibir danau sisi barat daya. Untungnya gang jambu bertahan punya jalan kampung untuk tetap bisa akses ke danau dari beberapa sisi.
Diseberang jalan gang jambu (baru tahu dari satelit), penuh dengan tanah-tanah luas, dan baru nngggehh bahwa tetangga sering bilang ada tanah menteri untuk jualan tanaman (bisnis nursery), atau tanah konglomerat buat bisnis plesiran. Yah...persis sebrang gang jambu adalah pemancingan permata buana, lengkap dengan kolam renang, cottage dan restoran. Tapi rumah kami masuk gang, bertetangga dengan komunitas nano-nano!.
Konglomerat memagar danau rakyat
"Itu tanah pak jendral, luas benner..ampe ujung setu (danau)! dalemnya ada peternakan kuda, kebonnya gede bener. Kalau malam pan saya kagak berani lewat situ. Gelap...ihhh serremmm".
"Belakang sono pan dulunya mau buat sutet, tapi ada tanah pak jendral tuh..., jadi kagak jadi".
"Kuda pak jendral udah pada kosong sekarang, dulu ratusan, harga se-ekornya jutaan. Kalau sakit atau pincang, ditembak dan dikubur gitu aja".
Begitulah kira-kira mpok tukang sayur, bang mandor atau cerita penjaga kebun para tetangga kami saat mampir kerumah tentang misteri dibalik benteng tinggi hektaran tanah di gang jambu. Dulu semua serba misteri, tetapi melalui satelit kami bisa mengintip. Di sekitar gang jambu ada tanah maha luas (mungkin panjang 2 KM lebar 1 KM untuk satu spot) milik malaikat para "jendral", tidak tahu siapa jendral itu, konon sudah uzur tidak punya anak. entah jenderal beneran, atau sekedar birokrat yang nakut-nakutin warga dengan kata jendral yang bikin bergidik kalau mau ngapa-ngapain. Yang jelas tanah pak jendral menjadi pagar bibir danau sisi barat daya. Untungnya gang jambu bertahan punya jalan kampung untuk tetap bisa akses ke danau dari beberapa sisi.
Diseberang jalan gang jambu (baru tahu dari satelit), penuh dengan tanah-tanah luas, dan baru nngggehh bahwa tetangga sering bilang ada tanah menteri untuk jualan tanaman (bisnis nursery), atau tanah konglomerat buat bisnis plesiran. Yah...persis sebrang gang jambu adalah pemancingan permata buana, lengkap dengan kolam renang, cottage dan restoran. Tapi rumah kami masuk gang, bertetangga dengan komunitas nano-nano!.
Konglomerat memagar danau rakyat

Masih ingat awal kami beli tanah se-uplik di gang jambu th 93-an, kami sering dengar cerita konflik serius warga sekitar danau Bojongsari dekat rumah kami dengan pemilik Telaga Golf beberapa tahun lalu. Tahun 1995 saat kami pindah kesitu kelihatannya agak "mereda". Pemilik telaga Golf rajin undang artis dari Titi DJ, Koesploes, Saski-geofani, dll untuk meluluhkan hati warga dengan hiburan gratis. Telaga golf sekarang menjadi megah, indah dan pasti menyimpan marah korban yang susah punah. Pernah kunjungi Aquatic fantasy? disitulah tempatnya. Klik: http://www.telagagolf.com/. Lokasi ini diseberang danau sisi gang jambu dan 1,5 km dari rumah kami. Kebayang kalau kami sudah ada disitu pasti ikut seru.
Monster mengangkang : Danau Bojongsari dari satelit . Klik ini!! <http://maps.google.com/maps?f=q&hl=en&geocode=&q=parung++jakarta+Indonesia&ie=UTF8&ll=-6.389683,106.75415&spn=0.010833,0.019226&t=h&z=16>
Ibaratnya danau adalah gambar orang/monster berdiri membelakang (biar lebih jelas, klik peta dari satelit diatas foto) maka telaga golf mengelilingi punggung hingga sisi luar kaki kanan danau ini. Lalu sisi selangkang, mengitari sisi luar kaki kiri hingga ketiak lebar dan sisi luar tangan kanan adalah milik Bakri group dengan Sawangan golf, yang juga menghamparkan bisnisnya, lengkap dengan cottage, area golf maha luas, 2 kolam renang untuk standard atlet nasional. Terbuka untuk umum...Berputar ke arah punggung tangan adalah milik diklat P&K. Selebihnya adalah milik para jendral-jendral yang tak bernama, atau milik orang Jepang, atau milik orang Jakarta. Oh ya, Oppie Andaresta artis penyanyi juga tinggal ditepi danau ujung jalan gang jambu.
Kenapa telaga Bojongsari menjadi rebutan?? rupanya telaga ini paling luas se Depok (kalau diukur via satelit kira-kira sekitar 850X1100 m2). Suasananya masih hijau, rakyat/komunitas sekitar situ rata-rata masyarakat betawi, pendidikan rendah yang dipikir asik jadi sasaran empuk karena minim resistensi. Tetapi mungkin pemerintah malu setelah konflik dengan Telaga golf. Makanya dinas pariwisata memberikan secuil sisi ketiak kanan danau untuk arena hiburan rakyat dan sisi-sisi beberapa tepi pundak dan leher danau dibuat jogging track. Tiap minggu ada dangdutan, warung apung dan buat mojok pasangan-pasangan juga. Kami rajin jalan pagi sekitar danau, menikmati ikan asap uda, cari ranting atau kembang kering juga menikmati dangdut sambil pesan ikan bakar di saung. "maju! maju gih, yuk nyanyi kepanggung" begitu kata ayah ngajak atau ndorong ibu nyanyi ditengah hiburan kampung pinggir danau. Vikra Vinda langsung marah "norak, norak, pulang nih kita". he..he.. ya..beginilah kami para rakyat menikmati danau kami sebelum dipagar para konglomerat. Kita hidup bersama orang susah tapi dikelilingi fasilitas megah. Kata ayah, kita tinggal di kampung, tapi fasilitas real estate!. Beginilah secuil cerita socio-demografis kami dan sekitar rumah kami.
Studio Mini dan Kamar Hobby Vikra
Lain Vinda lain Vikra...dia cuma pesan, "bu, kamar Vikra mau biru, bagian atas ada beda". Itu saja..tahunya dia sudah jadi. Nggak mau pusing dan ribet. Inilah hasil akhirnya...semua benda koleksi dia disitu, studio music mini dia juga disitu...lumayan, dia bikin beberapa lyric lagu, menggubah satu lagu sunda dan dengan band-nya merekam lagu rock kerja bareng timnya. Tentu baru coba-coba....Di foto ini tampak agak rapi. Aslinya? Hayo kak, jujur? dimana handuk? tas? baju? Ampunnn....
Kamar Vinda Ganti Wajah
Garasi? Sanggar Anak? Perpus?Kamar Tamu?
Namanya saja "garasi", tapi praktis kami tidak pernah menggunakannya sebagai garasi sejak tinggal dirumah ini. Kami menamakannya "Sanggar Viva", disitu arena pajang lukisan mereka,untuk main,olah raga, baca dan berasik ria dengan teman-temannya. Sanggar ini idenya juga untuk perpustakaan yang bisa diakses tetangga (sobat viva gang jambu), tapi prakteknya belum banyak yang memanfaatkan. Karena dalam satu waktu terkadang banyak tamu yang menginap, selain kamar Vikra Vinda, yang bisa muat 6 orang, kami juga bikin sanggar ini untuk kamar tamu. Kami tinggal letakkan kasur, ganti ornamen hiasan, jadi deh kamar tamu.Tentu pas ada tamu, arena bermain anak berpindah ke ruang tengah. Yang kami senang, nyaris semua tamu lebih senang tidur disini, karena udaranya ngalir dengan baik. Ruang ini termasuk ruang idola ayah kalau mau tidur siang, tetapi tetap pingin deket sama 2 bocah kami.
Yunich1@yahoo.com
Label:
About Home Sawangan,
Hobby-Creativity
Ruang atau Kamar Tamu? Kreasi emergensi.
Beginilah hobby ibu yang suka dengan disain deco...belajar kreatif, multi fungsi, indah dan tidak harus mahal!
Label:
About Home Sawangan,
Hobby-Creativity
Rumah Kami
2. Sobat-sobat lagi ngumpul
3. Aqief, ponakan Solo lagi nengok mas Pika (Vikra) mbak Inda (Vinda)
Disinilah tempat segala rasa tumpah, tempat buku bertebaran, tempat khusyu berjamaah, tempat ayat Tuhan rutin dialunkan oleh suara bersahaja anak-anak, tempat genjrang-genjreng gitar dan suara PD penghuninya, tempat memejam mendengar lantunan piano klasik jari-jari lentik si gadis kecil, tempat mematung menonton kotak hidup dan ratusan lempeng CD/DVD an segala sodaranya..
Disinilah tempat singgah kerabat dan sobat, disinilah ..disinilah ada kehidupan!! Dari yang usil, yang tertawa ngakak, yang romantis habis, yang nguras airmata, yang damai berpeluk, yang bebas merdeka mengkritik, yang jorok, yang sok bersih, yang ceriwis, yang apa aja....
* Kalau mau lihat detail rumah, bisa dilihat di Majalah Interior "IDEA" yang 2 kali memuat Rumah Gg Jambu 55, untuk rubrik rumah antik dan beranda belakang
Filosofi Sedarhana Rumah Kami
Sejuk: Kami ingin AC alam dan rumah hemat energi, jadi ada 3 kolam penyejuk alami rumah (belajar dari masjid-masjid tua wali songo yang dikitari kolam), lalu penuh bukaan pintu lebar yang membiarkan angin berlenggang berlarian sesukanya.
Makna dan Alur Ruang
1. Halaman: Awal kehidupan, arena bermain lapang dan ceria mewakili kehidupan kanak-kanak. 2. Kolam Hati (berbentuk love) sebagai simbol transisi dari kanak ke remaja yang penuh roman.
3. Beranda depan: Ruang meremaja, tersedia untuk cengkerama santai (mungkin untuk pacaran Viva kelak), dan kamipun sering memakainya untuk “pacaran”.
4. Ruang Tamu pengantin: Konsep ruang tamu ini bertema pengantin, symbol masa pasca remaja. Disana ada sepasang Loro Blonyo (sepasang pengantin Jawa), ada kain panjang sidomukti untuk pengantin, meja lesung etalase aksesoris pengantin peninggalan mbah Bu’ almarhumah waktu dulu jadi perias pengantin, lalu ada aneka koin dan beras symbol kacarkucur (sekalian untuk numismatic/koleksi coin aneka Negara).
5. Kolam tengah dalam ruangan juga symbol transisi dari pengantin ke masa penting berikutnya. 6. Ruang tengah multi fungsi: Ini symbol riil kehidupan keluarga. Ruang tengah ini berfungsi sebagai living room (ruang keluarga), ruang makan, ruang music dengan piano gitar dll, perpustakaan yang tersimpan di balik lemari-lemari kuno peninggalan moyang-moyang kami.
7. Beranda belakang: tempat transisi jelang tua, istirahat..
8. Musolla dan kolam belakang: di ujung belakang rumah kami letakkan Musolla (amanat uti sebelum wafat pingin ada Musolla), simbol sakralitas ujung kehidupan dan kolam ujung sebagai simbol transisi ke kehidupan yang tak berbatas.
Educatif dan romantis: Terpengaruh satu tulisan orang jepang bahwa ruang keluarga muda musti sebanyak mungkin berinteraksi dengan anak. Jadi kami bisa saling melihat walaupun aktifitasnya beda-beda. Kami bisa nonton TV dari ruang tamu atau beranda belakang, bisa ngetik atau baca Koran sambil lihat Viva main musik. Tidak ada alat hiburan terutama TV di kamar, karena sebisa mungkin mengutamakan interaksi. Alat hiburan berlebihan didalam kamar,akan membuat anak berasik sendiri dan kamar jadi tempat lari dari masalah dan mengurung dihibur benda, ketimbang menyelesaikannya.
Multi fungsi: Ruang tamu bisa jadi kamar tamu kalau 4 meja digabung dan dipepetin kekursi panjang untuk ranjang, lalu partisi dibentangkan…langsung tersulap jadi kamar tidur privat tamu, lengkap dengan kacanya. Mushola? berbentuk balai kalau ada tamu juga bisa untuk tempat istirahat, bawahnya untuk gudang penyimpanan. Garasi? Bukan hanya untuk mobil, tapi sekarang juga bisa untuk perpustakaan, berbalai-balai untuk main, baca dan kalau ada tamu over bisa untuk istirahat tamu. Garasi untuk perpus ini idenya kami sediakan untuk tetangga atau teman main Viva untuk baca-baca sambil main dan kadang pas ngumpul-ngumpul, jadi terminal untuk menyusui atau menidurkan tamu kecil yang lucu-lucu.
Silahkan datang ke Gang Jambu yang bersahaja dan (sok) filosofis dan historis ini :)
Langganan:
Postingan (Atom)











