Belajar Gamelan Dengan Seniman Kraton di Michigan
Berlibur ke Rumah Sakit Jiwa (1)
Ketika masuk area RS, yang megah dan bersih itu, ayah bertemu dg direkturnya, kami bertiga ingin eksplorasi. Pertama ngobrol dg resepsionis, diceritakan bahwa penghuni RSJ 70 % laki-laki, usia produktif, kebanyakan karena tekanan ekonomi dan hentakan masalah (wah hebat ya perempuan lebih kenyal dan survive). Kami dibolehkan ke karantina, disana pasien yg baru, wajib tinggal disini untuk penenangan. Terlihat masih ada yang mengamuk, ada yang gemetar, ada yang ngoceh soal dangdut, ada yang ngajak kami ngobrol, ada yg pegang kuping melulu dan minta ditiup suaminya dan ada yang meringkuk tak berdaya. Yang jelas, karantina itu untuk mereka yang dianggap belum bisa mengontrol, buat yang agresif, ada yg tangan kakinya diikat dengan kain lembut dengan tempet tidur. Agak serem memang, tapi tidak seseram yang kami bayangkan. Disini keluarga wajib menunggu sampai pasien tenang, biasanya 2 hari. Tapi tergantung pada diagnosa, dimana pasien dan keluarga berulang-ulang ditest dg aneka pertanyaan.
Ibu masuk membawakan makanan sekedarnya. Mereka langsung salaman, berebut makanan, ngajak ngobrol, ada juga yg pinjam HP untuk kontak keluarganya. Walaupun sedikit takut, ibu langsung membangun rasa aman dan langsung membuat lingkaran tak sengaja dg mereka. Mereka satu-persatu ibu ajak ngobrol dan mengalirlah cerita-cerita yang diluar dugaan dan mengharukan dibawah ini (baca bag 2: Cerita dibalik tembok RSJ):
Kawan karib Binatang (tentang Vikra)
Berlibur ke Rumah Sakit Jiwa (1)
Kami masuk area RS yang megah dan bersih itu, saat ayah bertemu dg direkturnya, kami bertiga ingin eksplorasi. Pertama ngobrol dg resepsionis, diceritakan bahwa penghuni RSJ 70 % laki-laki, usia produktif, kebanyakan karena tekanan ekonomi dan hentakan masalah (wah hebat ya perempuan). Kami dibolehkan ke karantina, disana pasien yg baru, wajib tinggal disini untuk penenangan. Terlihat masih ada yang mengamuk, ada yang gemetar, ada yang ngoceh soal dangdut, ada yang ngajak kami ngobrol, ada yg pegang kuping melulu dan minta ditiup dan ada yang meringkuk tak berdaya. Yang jelas, karantina itu untuk mereka yang dianggap belum bisa mengontrol, ada yg tangan kakinya diikat dengan kain lembut dengan tempet tidur. Agak serem memang, tapi tidak seseram yang kami bayangkan. Disini keluarga wajib menunggu sampai tenang, biasanya 2 hari. Tapi tergantung pada diagnosa, dimana pasien dan keluarga berulang-ulang ditest dg aneka pertanyaan.
Ibu masuk membawakan makanan sekedarnya. Mereka langsung salaman, berebut makanan, ngajak ngobrol, ada juga yg pinjam HP untuk kontak keluarganya. Walaupun sedikit takut, ibu langsung membangun rasa aman dan langsung membuat lingkaran tak sengaja dg mereka. Mereka satu-persatu ibu ajak ngobrol dan mengalirlah cerita-cerita yang diluar dugaan dan mengharukan dibawah ini (baca bag 2: Cerita dibalik tembok RSJ):
Cerita dibalik tembok RSJ (2)
Obrolan direbut sama cowok 37 tahunan yang tambun, wajah memelas dan pake bahasa Jawa timuran dia ngadu: "mbak, awake dewek iki salah opo ya, kok kita dibuang sama sodara-sodara kita disini. Paling banter kita kan cuma ngomong sendiri, gak pernah kita ganggu mereka, gak ngerugiin mereka. Kita disini dibuang mbak, dihukum. Mereka gak mau diganggu, malu sama kita". Lalu ibu elus pundak dia, meyakinkan bahwa itu nggak bener, sodara-sodaranya pasti pingin dia sembuh.
Cowok yang dipojok kelihatan antusias mau ngomong, badannya agak maju pingin didengar. Lalu ibu tanya: sampean krasan tah nang kene?. Langsung spontan dia jawab"aku krasan mbak nang kene". "Lho, ngopo krasan"? tanya ibu dg muka antusias. "mbak, masalahe nak nang omah aku dibelok/dipasung. Nang kene enggak, banyak temennya". Ibu tanya; "udah berapa kali mlebu kene". "wis gak iso diitung mbak" jawabnya jujur.
Sambil ngobrol, memang sesekali ada cowok yang melintas begitu saja sambil ngasih genggaman kertas dilipat, ibu buka dg GR kirain ada tulisan khusus, rupanya cuma bungkus rokok lecek, nggak ada apa-apanya. Lalu ada juga yang masih mungut bungkus teh kotak yang sudah di tong sampah untuk dihisap padahal sudah habis. Lalu ada lagi yang merayu pinjam HP mau ngontak saudaranya minta pulang. Tapi petugas mengerling ke ibu untuk tidak ngasih HP. Ibu antara tidak tega, tapi bilang pulsa habis. Begitu omongan nyinggung soal HP, ada satu lagi juga nitip sms biar dikirim ke saudaranya untuk jemput, pas ibu tanya ke petugasnya dibolehkan, ibu akhirnya sms pas diluar, biar yg sebelumnya tidak tersinggung.
Lalu ada cowok tinggi botak yang kepalanya banyak luka, mendekat. Agak risih, dan takut juga kalau diapain, padahal pintu bangsal terkunci jeruji, dan kita seakan terperangkap didalam dengan puluhan mereka, cowok semua (bangsal cewek terpisah). Tapi cowok ini tidak menyentuh sama sekali (dalam hati, orang yang kita anggap gila aja bisa sopan dan jauh dari sikap melakukan pelecehan seksual). Lalu ibu tanya: "sampean pie critane kok sampe sini?". Dg senyum ikhlas dia cerita "Jarene/kata guruku, seko cilik, SD, aku suka ngajak ngomong sendiri pohon petai Cina". "lho kok iso?". "Embuh mbak, aku suenenggg... prosoku/rasaku pohon iku uapik tenan. Aku juga seneng lihat matahari lama-lama. Yo embuh, opo sebab-e".
Yang menarik, info dari RS, lebaran kali ini semakin sedikit pasien. Padahal dulu-dulu, setiap lebaran penuh pasien dadakan, karena banyak keluarga yang memilih membuang /menitipkan anggota keluarganya karena gengsi saat banyak tamu lebaran, dan diambil seusai lebaran. Tapi sekarang orang mulai sadar, bahwa kunci sembuh orang yang dianggap gila adalah rasa dicinta, bebas tekanan, dan harus dianggap seperti orang normal. RSJ bukan buangan, tapi memang untuk menyembuhkan. Dan konon pemerintah mulai memberi anggaran layak untuk rumah sakit yang selama ini menjadi momok sangkar "hantu". Ahh...liburan yang berbeda, Rumah sakit yang penuh keramahan dengan jiwa-jiwa yang harus direngkuh dan diselamatkan. Sudah saatnya, tidak menstigma mantan pasien RSJ, mereka sama seperti mantan pasien jantung... yang bisa sembuh atau kambuh. Mereka adalah kita juga.
Camping Hiking di Gunung Pangrango (1)
Belum lama ini, beberapa minggu yang lalu, kita ada rencana weekend camping ke Sukabumi sama keluarga-keluarga temen2 ayah ibu. Pokoknya rencananya udah mateng banget, eh tahunya satu persatu mereka nge-cancel acara itu.
Daripada kesel gak jelas, akhirnya we decided to take the weekend vacation on our own. Kita berempat sekeluarga berangkat hari jumat itu ke Sukabumi, nama tempatnya Cinumpang. We had lunch at Rumah Makan Bu Bunut. Sayangnya, gw lg sakit, jadi lidah masih asem banget. Tapi sambel-sambelnya sedap banget. Habis makan, kita langsung ke Cinumpang, disitu ada camping ground, cottage bambu dan kali.
Balik lagi kebawah naik mobil, kita check sebentar camping groundnya. Ternyata tempatnya asik banget. Adem, perlengkapan yang disediain juga bagus dan lengkap. Sayangnya Vinda rewel gak mau camping, karena gak rame-rame. Dan gak tahu kenapa dari Cinumpang tadi, ada lebah yang ngikutin kita terus. Bener-bener ngikutin. Nempel.
Akhirnya karena waktu sudah agak malem, kita nyari hotel. Ketemu sih hotel yang enak. Kita bermaksud cuma untuk spend the night. So, besok paginya kita udah checkout duluan. Kita googling nyari website sarapan yang cukup terkenal di daerah situ, dan ketemu sama Bubur Ayam Bunut. Enak? Pastinya. The unexpected awesome culinary part is the thing I love the most about vacations. (baca part 2 dibawah artikel ini)
NB : Ini kita surveiin info camping ground dan cottage buat rame-rame (muat 30 orang) kalau kapan-kapan mau camping ke Situgunung
Camping - Hiking di Gunung Pangrango (2)
Sehabis sarapan, kita berencana mau ke Lembah Halimun. Gak jelas mau ngapain. Sampai sana, Ayah nyuruh kita make sepatu. Turns out, we’re going hiking. Off to the high mountains of Mount. Gede-Pangrango. Me, mom, and Vinda decided to just wear sandals. Ayah satu-satunya yang paling antusias soal make sepatu. FYI, belakangan ini bokap jadi punya fetish sendiri sama sepatu. Buat setiap kegiatan nyaris ada sepatunya sendiri. Waktu ke tempat-tempat sport stations, ayah beli banyak banget sepatu. Ada sepatu boot kulit yang bagian depannya keras banget, gw yakin bisa nendang orang sampai tulangnya patah. Alesannya sepatu ini buat naik motor. Ada lagi running shoes, buat lari. Terus sepatu bola, sepatu kantor, sepatu casual, sepatu badminton. Aneh gak ada sepatu buat tidur atau buat mandi. Sepanjang perjalanan kalo kita ngeluh sedikit soal pake sendal, ayah langsung nyeletuk lagi soal pentingnya sepatu.
Sebelum naik gunung, kita nanya beberapa orang berapa jauh jaraknya sampai ke air terjun. Ada yang bilang 1 kilo, 2,5 kilo, 1,7 kilo lah. Faktanya, hiking di gunung gak bisa dihitung berdasarkan jarak. Jalan yang naik-turun-naik-turun-naik-naik-naik-naik-naik sampe bikin kaki bengkak kalo pake sendal dan bikin ayah ngedumel lagi soal pentingnya sepatu, yah pokoknya, naik gunung gak gampang. Kita sempet stress soal Vinda yang ngedumel about how slow we are, and how fast she is. Dia juga ngedumel tentang berapa kali kita udah disalip sama rombongan lain.
Dan ternyata, setelah jalan panjaaaaaaaaaaaaaaaaaang, kita nyampe, di pos PERTAMA. Jalan ke air terjun masih stengah jalan, dan medannya lebih berat. For me, sempet kepikir untuk balik aja naik ojek. Tapi karena dorongan dari om-om yang ada di pos itu, akhirnya I decided to keep going.
Jalannya emang bener berat. Ada bagian dimana jarak setengah kilo, dan jalannya menanjak terus. Kita sempet berhenti 2 kali disini. Tiap kita nanya orang, “masih jauh gak pak?”, they all answer with the same answers. “udah deket kok pak”. Liars. Tapi mungkin emang poinnya supaya kita terus jalan. Kita sempet disalip beberapa rombongan lagi. Malah, ada mas-mas yang tadi kita temuin, yang udah mau balik lagi kebawah. Dia bilang jalannya udah deket. Katanya tinggal naik-turun-naik-turun-jembatan-naiiiiiiiiiikkk, terus sampe deh di air terjun.Excited to get there, kita jalan terus. Kita juga penasaran soal seberapa naik ‘naiiiiiiiiiikkk’ yang mas tadi bilang. Nah, sesampainya kita di jembatan, ternyata naiknya lumayan ‘naiiiiiiikkk’. Daripada hiking lebih bisa dibilang panjat tebing.
After a while, we decided to go back to the foot mountain. Setelah jalan sebentar, kita nyampe di Pos tadi. Dari pos tadi gw pulang duluan naik ojek, since I’m the most exhausted one. Tapi yak, bayarannya untuk meninggalkan keluarga, kaki gw berdarah-darah. Ternyata rute ojeknya isn’t exactly an ojek route. Kita ngelewatin kebun the dan jalannya sempit banget, sehingga lutut gw kebeset dahan yang tajem. Yak, karma kali. Tapi akhirnya gw sampai di mobil, dan gw tidur di mobil.
Setelah ayah, dkk nyampe, kita nyari makan di daerah sekitar situ. Kita makan nasi goreng, soto mie, gorengan, jagung bakar, sambil nyeruput teh manis anget. Nasi gorengnya ternyata enak. Habis makan, we were exhausted. Jadi, kita ngambil sleeping bag, tiker dan selimut, dan masuk ke camping groundnya. Kita istirahat di gazebo pinggir sungai sambil tidur-tiduran. Ibu sama ayah mandi di sungai.
Out of nothing, tiba-tiba ayah ngusulin kita camping aja. Toh rencana awal emang kita mau camping. Minimal itu harus kesampaian. Dad promised us to just take a nap in a tent and leave at night. So, sekita maghrib tenda sewaan kita sudah didirikan. Kita tidur dan foto-foto lagi didalam tenda. Skitar jam 10 malem, kita beres-beres dan pulang. Yang penting kita udah tidur di tenda. That counts as Camping. Malemnya, kita makan di restoran deket bandrek yang ayah cari-cari dan akhirnya ketemu juga.After all that, we go back to Jakarta with a large smile and an unforgettable experience to tell..
Garuda di Dadaku
By: Vikra Alizanovic.Baru aja seminggu yang lalu, kita sekeluarga nonton film Garuda di Dadaku, which claims to be the most long-awaited Indonesian family movie of the year. Hari senin kita berangkat ke WTC BSD. Di perjalanan, kita gak bakal terkejut kalo antreannya bakal panjang banget, soalnya emang kata temen-temen filmnya bagus. Gak nyangka, sampai sana, ternyata gak ada antrean. Tapi, begitu kita cek ke mbak-nya, ternyata yang ada tinggal tiket untuk jam main 19.00. Padahal itu baru jam 2 siang. Tiket untuk yang jam 14.40 dan 16.50 udah ludes. Habis. Ganas. Gak nyangka.
So, karena bener-bener niat, we decided to come back tomorrow before the theatre even opened. Kita bakalan dateng besok jam 11-an, karena jam segitulah loket tiketnya buka. Eh, begitu nyampe, bioskopnya emang masih tutup, tapi didepan pintu bioskopnya bertumpuk-tumpuk para massa. Udah kaya demo buruh, dari ibu-ibu yang gendong bayi, bocah-bocah lugu ingusan, pasutri yang kayaknya newlyweds, anak2 smp, sma, semua ada disana. So, bokap dengan sangat bijaksana berkata, “kak, ngantri.”
Yak, akhirnya gw yang harus mengorbankan tubuh gua ini untuk siap bergulat sama pasutri-pasutri itu nanti pas pintu bioskop dibuka. So, gw langsung mendekatkan diri ke pintu, tapi ada om-om gendut yang ngalangin gw. Pas gw senggol, dia menggeram. Imej-nya jadi kayak gw mau ngelawan beruang. Karena masih sayang sama anggota tubuh gw, gw nyari celah lain.
Selagi nyari celah, pintu bioskop tiba-tiba terbuka… Yak!!! Layaknya pacuan kuda, kita semua berpacu ke loket pembelian. Gak peduli umur dan badan, gw harus menang. Sialnya bocah-bocah ingusan itu mimpin di depan. Yah, setidaknya gw dapet barisan tengah. Tangan gw lebarkan ke samping biar gak ada yang nyalip. Medan perang berantakan. Ada ibu-ibu yang nabrak papan reklame film. “Stop Vikra! Gak ada waktu untuk ketawa!”, pikir gw. Dengan menahan tawa, gw terus berlari ke arah loket. Sayangnya, disamping gw bocah kecil berambut jabrik nabrak pot tanaman. Hahahahahaha, gw ketawa. Sialnya, gara-gara ketawa, gw kehilangan fokus. Gw disalip om-om yg gendong anak perempuannya.
Yah, akhirnya setelah dapet tiket, kita kebawah dulu ngemil di cafe favorit kita. Sampai akhirnya, kita masuk bioskop. Kegiatan nonton berlangsung secara normal. By normal, I mean it. Harus nahan malu kalo bokap udah ketawa. Selera humor bokap jelek. Jadi di adegan yang gak lucu, bokap sering ketawa sendiri, dengan suara yang aneh. Penonton lain pada nengok ke arah kita. Mungkin mereka ngira ada penyembelihan kambing di Studio tersebut.
Eniwei, overall, filmnya bagus. Bener-bener Indonesia banget. Cerita tentang seorang anak yang berjuang keras untuk jadi Timnas Sepakbola Indonesia, bertarung mewakili tanah air tercinta, walaupun dilarang oleh kakeknya sendiri. Film ini juga banyak menyinggung hal-hal yang cukup penting. Seperti dimana si Bayu, karakter utamanya, harus latihan bola di kuburan yang sudah gak dipake, karena di Jakarta sudah gak ada tanah kosong. Gedung dan bangunan dimana-mana. Semua jalan sudah dibeton. Kalaupun ada, tanah itu sudah dibeli dan dipagar, sehingga anak-anak yang punya bakat gak bisa menyalurkan bakatnya.
Di film ini juga memberitahu para orangtua, bahwa untuk tidak memaksa anaknya untuk belajar ini-itu, melainkan membiarkan sang anak melakukan apa yang dia suka, selama hal itu menuju ke sesuatu yang positif.
Film ini lain dari yang lain. Dimana tadinya film indonesia hanya tentang horor yang dimainkan oleh artis-artis seksi tapi kurang bermutu aktingnya dan aspek seni-nya nyaris tidak ada. Mereka lupa bahwa sesungguhnya perfilman itu bukanlah bisnis perfilman, melainkan seni perfilman.
Film ini juga bener-bener membangun rasa nasionalisme di dalam diri para penonton, dibuktikan oleh para temen gw yang mengaku begitu. Even I, I think have become a nationalist. Whatever that is. Walaupun sampe sekarang gw belum hafal UUD alinea pertama. Well, pokoknya ini film recommended banget. Four Thumbs Up! A-must-see…
Tentang TV

Vikra menyalakan TV rata-rata pas mau tidur, kecuali pas dia mau main PS dengan adiknya atau temen-temennya. "NGapain sih pada suka banget ama kamar Vikra"? Keluh dia kesal-kesal senang kalau kami ngerumun di kamar dia, jadi living room pindah ke kamarnya. Kalau Vinda yang masih perlu diajak negosiasi, karena durasi nonton dia kok lama ya? " Bu, Vinda tuh kalau belajar dimatiin, nonton juga sebentar aja pas pulang sekolah buat istirahat nunggu kursus". Pokoknya banyak alasan. Tontonan kesukaan dia rata-rata ttg jelajah, explorasi, acara anak, music dan kuliner.
Tapi yang menarik, pas sambil nonton kami diskusi..dan celetukan dia kadang menarik. 2 hari lalu pas nonton bedah rumah RCTI dimana orang miskin tiba-tiba dapat rumah bagus,dia bilang :" kenapa sih nggak dibantu cari pekerjaan yang lebih baik, kalau dia kerja kan anaknya bisa sekolah, hidupnya lebih baik, bisa bikin rumah! Kalau dikasih rumah tetep kerja susah jadi pemulung, percuma aja rumah bagus". Kemarin pas nonton acara "Kalau aku menjadi" dimana orang kota berperan dan ikut jadi orang susah, ibu tanya ke dia, " ciadek, kalau kamu jadi produser acaranya, apa yang kamu mau bantu ke mereka?". Vinda nyeletuk " daripada dikasih sembako, kompor gas, listrik gitu, mestinya kasih aja tempat tidur dulu, kan anaknya sakit paru-paru, karena lembab tidur dibawah terus". Hmm..gitu???
Pendidikan adil gender dalam keseharian anak
Selain hal diatas, prinsip mendasar lain, jangan ada pembakuan peran dan jangan biarkan ada stratifikasi peran satu lebih tinggi dari yang lain. Tanpa sadar kita orang tua masih rajin mendendangkan "habis mandi kutolong ibu membersihkan tempat tidurku" (emang bersih-bersih temapt tidur kerjaan ibu? kenapa tidak dilihat sebagai perkerjaan dan kebutuhan bersama atau kebutuhan si anak itu sendiri). Atau kita masih senang bilang; "untung punya anak perempuan jadi ada yang bantu-bantu". Tak sadar bahwa pembakuan dan pemisahan tugas ke anak laki-laki dan perempuan ini bisa merugikan mereka di kemudian hari. Pernah ada kawan ibu di Belanda, sekitar thn 2002, seorang bapak urung jadi PhD gara-gara tak sanggup bertahan melayani dirinya sendiri seperti memasak, mencuci, belanja dll.Dia menganggap dirinya rendah dan menderita dengan itu semua. Padahal mendorong anak baik laki-laki dan perempuan untuk latihan membantu dirinya dengan pekerjaan diatas itu penting, sesederhana apapun. Tapi juga jangan dicegah kalau ada anak perempuan yang hobi masak atau bikin kue..yang jelas keduanya didorong dan diberi contoh. Ada baiknya nggak ayah atau ibu membuat dapur jadi ajang bersama. bukan hanya space perempuan! Sehingga anak dapat contoh kongkrit bahwa laki-laki masuk dapurpun akan tetap keren!!.
Ultah Anak Partisipatif dan Kreatif
Ultah pasaran untuk anak buat orang yang gak mau repot, selalu jelas urutannya; pesen kue tart atau pesan tumpeng, sebar undangan, bikin nasi kuning dan paket bingkisan buat yang datang. Keluarga gang jambu bukan tidak pernah begitu...beberapa kali terjadi saat anak sendiri yang meminta pesan kue tart dengan model yang mereka suka. Tetapi bisa dihitung dengan jari. Incase terpaksa kue tart pesan, biasanya acaranya yang sedemian rupa dipakai untuk moment mengkreatifkan anak. Ini beberapa cerita ultah yang pernah kami bikin:1. Kue buat sendiri: Hampir rata-rata kue atau tumpeng kami buat sendiri dengan cara surprise atau mereka sendiri yang buat. Waktu ultah 3 tahun Vikra menyusun donat untuk jadi kue ultahnya sesuai bentuk yang dia suka. Pernah juga kue tart strawaberry dalam gambar ini buatan Vinda untuk ibu atau puding untuk ayah dan kakak dibuat dengan super berkeringatnya.
2. Acara partisipatif: Sudah langganan Vikra yang selalu susun dan jadi pembawa acara setiap ultah dirinya atau adiknya. Selain anak yang terlibat, kawan-kawan undangan juga diajak terlibat, misalnya meminta teman-temannya untuk membuat kado 1 huruf raksasa (dibagi-bagi) lalu pas ngumpul dirangkai menjadi tulisan Ultah Vinda 11 (seperti dalam gambar diatas). Atau membuat koran bekas jadi topi ultah. Bahkan kue ultahpun bisa dihias ramai-ramai dengan teman2nya. Hasil tidak penting, yang penting proses!!

3. Jadikan event kultural: Beberapa ultah yang pernah kami bikin, khususnya saat di luar negeri, betul-betul kita jadikan moment untuk memperkenalkan Indonesia, dari makanan lengkap dengan penjelasan filsafat tumpeng, lalu ada sessi ttg Nature Indonesia dengan memperlihatkan fotofotoalam dan budaya, lau permaian juga unik, memindahkan acara lomba 17-an untuk anak-anak bule kan asik, misalnya memecah balon dengan menduduki, menggigit sendok kelereng, makan kerupuk,joget jeruk. Yang juga asik kami pernah sengaja meminta kawan yang kebetulan guru tari untuk mengajari tari Jawa sederhana untuk seluruh undangan...duh serunya, sampai ada yang komentar " ini melebihi promosinya dinas pariwisata". Alhasil..banyak sobat-sobat yang jatuh cinta banget sama Indonesia.
4. Surprise: Sering kami ultah tanpa kue dan seremoni, tapi temanya bikin surprise. Jadi pernah bangun tidur anak diberi satu kado disampingnya, tapi didalamnya ada dibuat sandi unttuk mendapatkan kado berikutnya, misalnya ditempat tersembunyi atau baru bisa dapat hadiah kalau melakukan sesuatu. Misalnya harus gantian menjadi PRT dari membuatkan minuman dan masak sederhana, setelah dapat hadiah, kado berantai berikutnya meminta untuk memerankan pekerjaan ayah lagi live liputan, lalu mendandani adiknya, memijit ibunya, main piano dan dance, dll..jadi kadonya sampai 10 an mengikuti jumlah usianya, tetapi kado berantai ini fun banget.
5. Sobat ber-asik : Kadangkita biarkan anak untuk juga buat acara dengan beberapa gelintir sobat karibnya, misalnya kita temani pergi ke tempat yang mereka pilih. Vikra waktukecil suka ngajak ke Ragunan, atau naik kuda ke puncak atau makan ditempat yang mereka suka dengan kawan-kawannya..apalagi anak tambah remaja, ultah dengan teman memang tak bisa terlewat. Tapi selalu kita ajak yang kreatif dan tidak konvensional.
6. Moment Berbagi: Pernah juga ultah kita tidak ngapa-ngapain sama sekali, kita cukup menyiapkan amplop beberapa dan mengajak anak-anak mengantarkan ke orang-orang dhuafa', atau ultah di kampung dan kita bagi-bagi bingkisan dengan alat sekolah atau buku bacaan.
7. Fun Evaluation: Ultah juga bisa dipakai untuk saling mengapreasiasi dan mengevaluasi. Misalnya saat ultah sudah jadi langganan masing-masing anggota keluarga menulis sesuatu untuk yang berultah..yang positif dan hal-hal yang perlu diperbaiki... lalu pernah juga melingkar dengan teman-temannya saling kasih input saat Vinda ultah 9 tahun..memang tidak mudah, karena tradisi mengkritik dengan cantik ini tidak ditumbuhkan dengan baik...
Mainan Anak Jaman Baheula
Mainan Anak jaman Baheula
Gajah Kompak di Taman Safari (2005)
Moga-moga pengunjung gang jambu nggak ada yang ketularan gadis satu ini, yang sampai kelas V SD kalau pergi-pergi maunya dipangku ibunya didepan. Bahkan paling ekstrem, waktu keliling Jawa hampir 10 hari, full menikmati sofa natural pangkuan ibunya. Berkali-kali ayah ingetin: "Nda, mbok duduk sendiri kasihan ibu...". Si gadis cuma merespon seperti angin lalu, dan kakaknya dibelakang ya heppy, karena dia menikmati jokbelakang leluasa sendiri. Di gambar ini kalau kelihatan cemberut nangis, tebak kenapa? Ini gara-gara ayahnya ngeledek pura-pura tidak menjalankan mobil saat binatang mengerumun di taman Safari.
Ini atraksi akrobat binatang yang lumayan fun. Aneka binatang unjuk kebolehan. Kalau kita cermat melihat jadwal, kita bisa ikuti paket show dari atraksi gajah, harimau-singa, lumba-lumba, anjing laut, multi binatang dan koboy show juga.
Tak terhitung berapa kali dua bocah ini merayu kesini, karena Vikra terutama suka sekali binatang. Safari malam juga mengasikkan, kita bisa melihat binatang liar berlaga pada malam hari dan lebih hidup. Mata singa tajam kesorot cahaya mobil jadi lebih serem, plus atraksi lampu-lampu kermis/toyland bergabung dengan dinginnya lereng gunung seru juga.
Gajah aja bisa diajari sekolah.. hebat ya. Pelatihnya perempuan-perempuan pemberani. Gajah-gajah ini diajari duduk berbaris, berdiri dengan satu kaki, saling bertumpu seperti rantai, memberi hormat, dll. Asiknya sambil nonton atraksi kita akan diberi pengetahuan ttg seluk beluk binatang tersebut, dari makanan, gaya hidup, habitat dan cara konservasinya. Buat edukasi anak boleh lah...Selain itu kalau kearah puncak, biasanya kita sekalian menginap semalam buat hirup udara segar, menikmati ronde di puncak dan esoknya makan di warung Sunda Ciawi yang sedap itu. Ini kenangan foto-foto lama th 2005.Recycle - Small Art at Home
1. Kok badminton bisa dipakai lampion seperti gambar diatas
2. Kaleng-kaleng juga bisa disulap, tinggal dipilog (cat semprot), sudah bisa jadi asbak, tempat pernik, dll. Bahkan kepikir waktu kemarin ke IKEA, kaleng begini dijajar banyak-banyak diatas papan, lalu diberi tutup bisa untuk tempat bumbu. Wah, ide menarik...tapi masangnya miring lho ya...kalau masang telentang sudah biasa. Atau kalau malas bikin tutup, bisa buat tempat foto...dijejer banyak...cantik. Atau bisa juga wadah koleksi aneka bumbu/rempah dari jaman kuno atu berbagai negara... jadi puluhan! Asik kan bisa jadi museum bumbu juga (tapi makan kaleng emang jarang sihh... tidak sehat kan?). Oh ya... kalau untuk wadah satuan, badan luar bisa dihias macam-macam... yang digambar ini asal-asalan.. tebak apa? itu karet gelang!! tetap dipasang atau diangkat setelah disemprot jadinya cantik kayak guratan lukisan.Atau bisa ditempel kertas yang bersketsa saat disemprot, dan dilepas setelahnya juga cantik... Silahkan berkreatif ria deh..
3. Botol kaca kecil minuman (kratingdeng,C1000) kami pakai untuk lentera/lampu kecil kalau pas ngumpul-ngumpul dijejer pinggir kolam atau pagar rumah..lumayan bikin romantis (tapi selama minyak susah...jarang lagi kami pakai)
4. Botol besar kami pakai untuk pot bunga hydroponic (harusnya banyak..tapi baru beberapa biji taruh tembok depan jendela Vinda..tidak berlanjut. Padahal kalau dijejer ditembok dengan kembang menjuntai..cantik lho...gak capek nyiram lagi!
Jadi bumi juga tersenyum...karena tidak kembung menelan sampah tak terkunyah, tapi juga senang karena dipercantik...
Gambar Nabi Muhammad di museum yang kami kunjungi
Penampakan Jibril didepan Muhammad "The Archangel Gabriel appearing to Mohammed. An illustration from a 1594-5 Turkish edition of the Siyer-i-Nabi. In the Louvre Museum, Paris".
Nabi Muhammad diatas buroq: "The Night Journey of Muhammad on His Steed, Buraq; leaf from a copy of the Bustan of Sacdi, dated 1514. From Bukhara, Uzbekistan. In The Metropolitan Museum of Art, New York".
Nabi Muhammad (naik keledai) berpegangan dengan malaikat Jibril. "Mohammed, on a blue donkey, touching hands with the Archangel Gabriel, from the 1595 illustrated edition of the Siyer-i Nebi. Topkapi Palace Museum, Istanbul, Turkey".
Source (picture and english text) from: Mohammed Image Archive, Islamic Depictions of Mohammed in Full @:
http://www.zombietime.com/mohammed_image_archive/islamic_mo_full/ .
Kapan-kapan akan kami tampilkan poster dan postcard nabi Muhammad yang dijual bebas di suatu negara yang pernah dikunjungi oleh salah satu anggota gang jambu (tunggu tanggal mainnya).
Bersama dari benda sederhana
Coba tebak ini karya siapa? Yang merah bertuliskan bismillah itu siapa lagi kalo bukan ayah? Yang bentuk jambu mete? he.. . he...kayaknya bikinnya gampang, tapi mbentuk sabun itu susah juga ya. Ini hasil minimal dari usaha maksimal sodara-sodara. Nah yang asal potong kayak kristal atau keju itu siapa? ceritanya dia mau buat sesuatu, karena patah-patah, nggak sabarnya muncul, langsung potang potong kegemesen sendiri. Ha..ha..prakarya gini memang bagus untuk melatih kesabaran anak ya. Deret paling bawah ada kunci, kelinci, orang...itulah pemenangnya! foto orangnya ada terlihat dalam posting ini. Sabun-sabun itu sekarng kami taruh di kain tissue, kami pakai buat pengharum lemari pakaian (pernah baca tips dari majalah). Rupanya asik juga, tiap buka lemari kecium sabun rasa madu vanilly oleh-oleh tante Lory dari amrik (salah satu yang dipatah-patah berbentuk kristal itu yang paling tajam baunya). Sedap kan?? Jadi sabun bisa juga jadi lem perekat kebersamaan dan pengharum sekaligus.
Tips Travelling Keluarga Gang Jambu 55
New York hotel December 2002, main kartu strwabery dan tebak-tebakan jelang bobo.
c. Hotel just for "sleeping or relaxing"?: Jadwal acara mempengaruhi pilihan hotel. Jangan pilih hotel sebelum tahu acaranya. Tentukan "hotel itu for relaxing atau just for sleeping". Kalau mau banyak relax di hotel untuk nyantai, pilih hotel yang memang ok, ada kolam renangnya, kamar dan fasilitasnya yang asik, resto sekitar hotel yang baik dan dekat. Tapi kalau kita tahu jadwal padat, pilih hotel yang dekat historical/turistic/important places. Misalnya datang malam di kota itu, pilih yang paling dekat, mudah dan fungsional (gak perlu mahal karena hanya numpang tidur). Atau pilih hotel deket airport kalau memang pagi harus ngejar pesawat. Management pemilihan hotel ini membantu saving money dan energy. Bisa juga ambil night trein seperti hotel berjalan, maksudnya pastikan bisa tidur berebah dengan baik dan ngepas dengan jadwal tidur..tahu-tahu pagi sampai kan asik juga.
g. Jaga fisik sempatkan relaxing: Bikin jadwal yang tidak menyalahi biological clock kita. Jadi idealnya mulai kegiatan setelah jam 9 pagi, artinya kita cukup tidur, sempat istirahat dengan rileks. Jangan pilih pesawat/transport yang pagi banget, bisa bikin stress dan otomatis kita akan kehilangan seharian itu karena lelah dan loyo. Atau waktunya tidur, jangan paksa melanjutkan perjalanan atau bersenang-senang, karena itu akan merusak hari berikutnya atau mengancam keamanan kalau memaksa nyetir malam. Ibu paling galak memaksa ayah istirahat nyetir, belok ke hotel, biar istirahat dan segar besoknya!! Jangan pernah telat makan, terutama anak-anak kalau telat maem akan gampang marah dan acara liburan jadi kacau. Pastikan sarapan yang bermutu karena akan mengeluarkan energi seharian. Makan makanan yang aman untuk travelling (jangan pedes atau nggak familiar di perut dan lidah untuk pagi dan siang). Nah, sempatkan sore malam untuk rileks (berenang, nonton yang ringan dan menghibur seperti flamenco atau pertunjukan kultural yang gak banyak mengeluarkan energi). Jadi atur jadwal ke museum atau yang banyak energi pas pagi dan siang. Nah malam waktunya explorasi kuliner.Jangan sungkan keluarkan budget untuk makan di resto yang lumayan, atau terkenal karena khas wilayah situ (gak harus yang mewah dan mahal, sesuaikan dengan budget). Biasanya kami minta anak-anak pilih menu yang mereka suka dan kalau bisa yang belum pernah mereka coba. Lalu kami pilih menu yang berbeda dan saling coba..jadi kita bisa ngenali banyak aneka makanan khas situ dalam satu waktu. Incase perut bermasalah, kan handle lebih mudah karena sudah tidak banyak aktifitas. Pilih juga tontonan yang khas, paling terkenal atau melegenda yang jadi icon kota itu. Yang ringan lucu karaokean/lihat live music, ngafe sama temen-temen di wilayah itu, atau cari tempat makan yang unik.
h. Selektif Bawa Barang: Kalau banyak jalan, seringan mungkin bawaan yang dibawa. Kalau kita tidak menginap di kota itu, sampai stasiun/terminal, langsung cari locker penitipan koper, dan bawa yang diperlukan saja. Packing? Kalau winter, jaket luar satu, tapi bawa pakaian dalam/kaos panjang yang ketat,ringan dan hangat agak banyak biar bisa gonta-ganti. Baju tebal longgar dibanding dengan baju ketat nggak masuk udara, efeknya hampir sama. Siapkan snack pengganjal, semacam coklat itu ringan tapi mudah mengenyangkan.Minuman bawa secukupnya, jangan hanya hemat 3000 perak, kita nggotong-nggotong 1 liter yang bikin lelah. Alat killing time juga penting selama diatas kendaraan, seperti buku, kartu,alat music dll. Tapi alat music model ipod, nintendo atau hiburan individual, sejujurnya tidak ideal untuk dibawa trip keluarga, karena mengurangi interaksi,. WOng tujuan jalan itu untuk berasik-asik sekeluarga kan? Atau boleh bawa, tapi hanya dimainkan saat kita sudah puas berinteksi/ngobrol.
i. Tips kecil tapi penting:
- Rumah rapi: Jangan tinggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Karena capek-capek liburan, nyampe rumah disambut rumah berantakan, alamak!! memori jalan-jalan habis dan kesal begitu sampai rumah.
- Makanan tersedia dirumah: Pastikan sampai rumah ada makanan atau sudah makan. Jangan sampai, capek-capek harus keluar lagi cari makanan atau capek masak lagi (asumsikan nggak ada PRT, atau telp PRT sebelum sampai rumah untuk siapkan rumah dan makanan).
Have a nice trip...
