Tampilkan postingan dengan label Edu-tainment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edu-tainment. Tampilkan semua postingan

Belajar Gamelan Dengan Seniman Kraton di Michigan

Michigan, 2003
Vikra Vinda mengenal lebih jauh gamelan dan tari Jawa, bukan di Solo kampung ibu, tapi justeru waktu di Michigan. Kebetulan, ada Om Wasi Bantolo dan Tante Olivia yang mengajar gamelan dan tari Jawa di univ Michigan. Mereka orang hebat! Tante Oliv adalah penari kraton Solo, termasuk salah satu penari bedoyo (tari mistis exclusive untuk Raja). Dari tante Oliv ibu banyak tahu tentang kehidupan raja dan segala sisi gelap dibalik dindingnya. Kami menyebut tante Oliv dengan putrinya pak Mantan! maklum kembang desa anak pak Lurah! Vikra Vinda diajari gerakan basis tari Jawa. Susah ya?

Ini keseharian kami bersama mereka! Sekarang gantian ngenalin om Wasi. Kalau sering lihat wayang orang TV-RI, pasti sudah tidak asing lagi! Dia juga sering terlibat dalam balet Ramayana Prambanan, dan beberapa CD karya timnya. Di Michigan Om Wasi mengajar dan bikin project performance menarik "voice of earth" dimana banyak pihak ikut terlibat, termasuk kami dikit-dikit semangat bantuin. Makasih ya om dah sabar ngajarin Vikra yang nggak mau diam! Mereka sekarang punya sanggar di Solo. Om Wasi dulu juga penari kraton ! Belum lama ini mereka punya si kecil, dan kami lumayan agak sering nengok mereka. Kangen! Selamat paskah Om Wasi dan tante Oliv! Mana ayam bu Beternya?

Berlibur ke Rumah Sakit Jiwa (1)

Awalnya agak bergidik saat memasuki lorong-lorong RSJ di salah satu kota, yang terbayang adalah wajah orang gila yang tak terkontrol, menyeramkan dan menyerang. Tangan Vinda mencengkeram erat lengan ibunya dan mukanya pias pucat ketakutan. Ngapain liburan ke RSJ? Disamping kami ingin lebih jauh tahu dunia "gelap" RSJ, mempertebal spiritulitas anak-anak (dan kami sendiri tentunya), juga ingin ketemu direktur RSJ yang kebetulan berkorespondensi dg ayah untuk konsultasi psikiater yang terbaik untuk handle saudara yang selama ini menarik diri bersosialisasi, pendiam dan tidak punya gairah hidup. Rumitnya lagi, dia tidak percaya dg dunia medis dan anti obat farmacits.

Ketika masuk area RS, yang megah dan bersih itu, ayah bertemu dg direkturnya, kami bertiga ingin eksplorasi. Pertama ngobrol dg resepsionis, diceritakan bahwa penghuni RSJ 70 % laki-laki, usia produktif, kebanyakan karena tekanan ekonomi dan hentakan masalah (wah hebat ya perempuan lebih kenyal dan survive). Kami dibolehkan ke karantina, disana pasien yg baru, wajib tinggal disini untuk penenangan. Terlihat masih ada yang mengamuk, ada yang gemetar, ada yang ngoceh soal dangdut, ada yang ngajak kami ngobrol, ada yg pegang kuping melulu dan minta ditiup suaminya dan ada yang meringkuk tak berdaya. Yang jelas, karantina itu untuk mereka yang dianggap belum bisa mengontrol, buat yang agresif, ada yg tangan kakinya diikat dengan kain lembut dengan tempet tidur. Agak serem memang, tapi tidak seseram yang kami bayangkan. Disini keluarga wajib menunggu sampai pasien tenang, biasanya 2 hari. Tapi tergantung pada diagnosa, dimana pasien dan keluarga berulang-ulang ditest dg aneka pertanyaan.

Setelah tenang, pasien dipindah ke ruang perawatan dengan seragam seperti ini dlm gambar ini. Rata-rata kamar berisi (+-) 10-20 orang, tapi juga ada kamar VIP. Sengaja kami masuk ke kamar yang banyak pasiennya terutama dari keluarga miskin. Vinda menyerah memilih menunggu di ruang tamu karena ketakutan. Tapi ibu dan Vikra tetap masuk (walaupun akirnya Vikra keluar nemenin adiknya). Kami dibukakan pintu jeruji masuk bangsal itu, yang menjaga gerbang selain petugas juga pasien-pasien yang sudah dianggap sembuh dan diyakini tidak akan lari. Begitu masuk, kita disambut aneka wajah yang secara obyektif memang banyak yang menyeramkan. Ada yang muka lebam-lebam, kaki bekas pasung, kepala botak bekas luka, muka bengong tak komunikatif, ada yang sibuk sendiri nggak mau diam, ada yang ganteng, ada yg ramah nyebut RT RW rumahnya berulang-ulang seakan kita mau kerumahnya.

Ibu masuk membawakan makanan sekedarnya. Mereka langsung salaman, berebut makanan, ngajak ngobrol, ada juga yg pinjam HP untuk kontak keluarganya. Walaupun sedikit takut, ibu langsung membangun rasa aman dan langsung membuat lingkaran tak sengaja dg mereka. Mereka satu-persatu ibu ajak ngobrol dan mengalirlah cerita-cerita yang diluar dugaan dan mengharukan dibawah ini (baca bag 2: Cerita dibalik tembok RSJ):

Kawan karib Binatang (tentang Vikra)

"Ikan atiii..ikan atiii", sambil jari mungilnya menunjuk ke aquarium di gendongan ayah. tentu ditemani ibu yg berdaster dan pegang-pegang kaki kakak yang mungil lembut. Saat itu usianya dibawah 2 tahun, sangat cepat memahami konsep abstrak, bahkan konsep mati saat ikan-ikan di aquarium itu diam melayang dimainkan gelembung air. Aquarium itu diusung dari rumah om Beng Rawamangun dan ditaruh di taman kecil Sanggar Ayu, yang disulap dari tanah pojok yang semula jadi tumpukan sampah. Dia melihat ikan mati dan juga binatang lain yang mati dengan tatapan lama. Setiap lihat binatang diam tak gerak, selalu jarinya menunjuk sambil bilang atii..atii (mati,mati). Cuilan penting yang tak terlupa tentang concern Vikra pada binatang, saat usia 5 tahun, sempat punya kelinci yang dibeli di Bogor. Adeknya juga punya satu. Di sepanjang jalan saat kami travelling ke wilayah Jabar, kelinci dipegangi, disayang-sayang, diuyel-uyel. Entah stress karena dimobil kelamaan, entah stress dapat overdosis kasih sayang, akhirnya kelinci di pangkuannya tak bisa bertahan. That was the hardest part, to let the rabbit goes flying to heaven. Mengubur sulit, jadi kami cari sungai deras biar proses larungnya cepat. Vikra membopong dengan muka biru berurai airmata, terisak-isak sampai pundak dadanya tersengal-sengal. Dia layangkan dengan lembut kelinci untuk dibawa deras air. Di mobil cukup lama kami mengalihkan perhatian biar sedihnya berkurang pelan-pelan. Kisah lainnya jaman dia kecil dulu, nyaris tiap jelang tidur kerap kami bacakan buku cerita yang mayoritas tentang binatang atau dongengkan sesuai order atau bahkan bacakan buku cerita buatan akung (karton ditempel gambar menarik ditulis tangan). Walau kadang kalau kami mau dongeng diambil alih gantian dia yang cerita, karena memang Vikra suka bertutur, jadi biasanya kami yang jadi pendengar. Tradisi ini membuat dia jadi penutur yang sistematis. Salah satu cerita yang dia kagumi adalah cerita Nabi Nuh, karena heroismenya selamatkan binatang saat banjir, dan mu'jizatnya bisa bicara dengan binatang. Sampai suatu kali saat dia mau kuliah kedokteran hawan, kami tanya alasannya, dia bilang ; "bu, jangan cerita orang, vikra tertarik jd dokter hewan, karena waktu kecil pingin kayak nabi Nuh, bisa bicara dengan binatang". Jadi mau tak mau di rumah kami memang selalu ada pets, terutama kucing. Vikra sering marah kalau ada kucing budukan yang mampir, kita kasari karena saat mau makan lumayan menjijikkan. Kucing piaraan kami paling suka bertengger di badan vikra, atau temani tidur sepanjang malam. Kucing yang dekat dengan dia cenderung lembut friendly yang sering jadi biang manas-manasi adeknya ; " tuh Vin, kucing hasil didikan kakak beda kan? Lebih bla..bla..bla..". Sampai saat kuliah di UGM, dia "pindahkan" kost jadi ke kampus. Alat-alat yang diusung dari rumah, dari 2 gitar, amply, TV, dll diangkut ke kampus untuk centre aktifitas dengan teman-temannya. Sampai suatu kali teman-temannya tak berani cerita, kucing mampir yang akhirnya menjadi sabahat Vikra, suka lendotan, mati tak bersebab jelas. Dikubur oleh kawan-kawannya, dan mereka bersepakat ; "jangan kasih tahu Vikra, nggak tega kita". Penggal-penggal lain obsesi kasih dia dengan binatang berderet, dari bercita-cita mau jadi direktur kebun binatang yang bisa buat spesies baru (terinspirasi dari mengunjungi New York Zoo, dimana dia dipuji seorang tutor Pinguin, bahwa orang Asia hebat, betapa parentnya beruntung, karena dia antusias bertanya. Saat lebih kecil pernah terkesima dg pemberi makan binatang di Ragunan yang smart menjelaskan, dan diapun ingin jadi pemberi makan binatang. Mau tahu cara di ultah? Di kebun binatang juga. Mau tahu saat kuliah dan liburan? Masih ngajak di Taman Safari yang sudah tak terhitung. Saat kuliah semester 3, kampus buat program Banjir Bandang di Jakarta yang terjadi pada 14-15 Januari 2003, dia berangkat dg kawan+ dosennya. Ibu buat 2 status di FB ; "Bbrp hr lalu, Nak nganang minta izin jd relawan kampusnya UGM bwt mitigasi banjir Jkt. Pas sampai,blm nengok rumah,dah minta didrop kendaraan buat tim-nya. Tiap hari tak henti mobile, dari nyetir, angkat logistik, temani PAUD, jd konselor anak-anak, evakuasi hewan dg tim dokter hewan, makan rela telat, sering kuyup bajunya. Weleh..welehh...proud of u, pasti ! (walau was-was dikit). (Dilike oleh 20 kawan ibu). Lalu saat dia usai jadi relawan, pas wiken di sofa kesukaannya, kami ber 3 ngobrol (ayah sedang ke Bogor rapat IJTI, ayah terpilih jadi wakil ketua Umum Ikatan Jurnalis TV Indonesia). Pas cerita mengalir, dia akhiri ; "Sudah bu, sudah bu!" Pinta nak nganang sendu, sambil tutup muka tak ingin lanjutkan obrolan. Dia sedih saat jd relawan banjir Jkt, b'usaha evakuasi binatang, tp yg dia saksikan sudah banyak binatang yg mati, ada yg di kandang terkunci tenggelam, kelaparan, ada yg tertinggal+ditinggal dikalahkan tuk jaga rumah, atau telat tertolong tdk jadi prioritas saat m'ungsi atau evakuasi. (Kami hening bbrp saat)".

Berlibur ke Rumah Sakit Jiwa (1)

Awalnya agak bergidik saat memasuki lorong-lorong RSJ di salah satu kota di Jawa. Yang terbayang adalah wajah orang gila yang tak terkontrol, menyeramkan dan menyerang. Tangan Vinda mencengkeram erat lengan ibunya dan mukanya pias pucat ketakutan. Ngapain liburan ke RSJ? Disamping kami ingin lebih jauh tahu dunia "gelap" RSJ, mempertebal spiritulitas anak-anak (dan kami sendiri tentunya), juga ingin ketemu direktur RSJ yang kebetulan berkorespondensi dg ayah untuk konsultasi cari psikiater yang terbaik untuk handle saudara yang selama ini menarik diri bersosialisasi, pendiam dan tidak punya gairah hidup. Rumitnya lagi, dia tidak percaya dg dunia medis dan anti obat farmacits.

Kami masuk area RS yang megah dan bersih itu, saat ayah bertemu dg direkturnya, kami bertiga ingin eksplorasi. Pertama ngobrol dg resepsionis, diceritakan bahwa penghuni RSJ 70 % laki-laki, usia produktif, kebanyakan karena tekanan ekonomi dan hentakan masalah (wah hebat ya perempuan). Kami dibolehkan ke karantina, disana pasien yg baru, wajib tinggal disini untuk penenangan. Terlihat masih ada yang mengamuk, ada yang gemetar, ada yang ngoceh soal dangdut, ada yang ngajak kami ngobrol, ada yg pegang kuping melulu dan minta ditiup dan ada yang meringkuk tak berdaya. Yang jelas, karantina itu untuk mereka yang dianggap belum bisa mengontrol, ada yg tangan kakinya diikat dengan kain lembut dengan tempet tidur. Agak serem memang, tapi tidak seseram yang kami bayangkan. Disini keluarga wajib menunggu sampai tenang, biasanya 2 hari. Tapi tergantung pada diagnosa, dimana pasien dan keluarga berulang-ulang ditest dg aneka pertanyaan.

Setelah tenang, pasien dipindah ke ruang perawatan dengan seragam seperti dlm gambar ini. Rata-rata kamar berisi (+-) 10-20 orang, tapi juga ada kamar VIP. Sengaja kami masuk ke kamar yang banyak pasiennya terutama dari keluarga miskin. Vinda menyerah memilih menunggu di ruang tamu karena ketakutan. Tapi ibu dan Vikra tetap masuk (walaupun akirnya Vikra keluar nemenin adiknya). Kami dibukakan pintu jeruji masuk bangsal itu, yang menjaga gerbang selain petugas juga pasien-pasien yang sudah dianggap sembuh dan diyakini tidak akan lari. Begitu masuk, kita disambut aneka wajah yang secara obyektif memang banyak yang menyeramkan. Ada yang muka lebam-lebam, kaki bekas pasung, kepala botak bekas luka, muka bengong tak komunikatif, ada yang sibuk sendiri nggak mau diam, ada yang ganteng, ada yg ramah nyebut RT RW rumahnya berulang-ulang seakan kita mau kerumahnya.

Ibu masuk membawakan makanan sekedarnya. Mereka langsung salaman, berebut makanan, ngajak ngobrol, ada juga yg pinjam HP untuk kontak keluarganya. Walaupun sedikit takut, ibu langsung membangun rasa aman dan langsung membuat lingkaran tak sengaja dg mereka. Mereka satu-persatu ibu ajak ngobrol dan mengalirlah cerita-cerita yang diluar dugaan dan mengharukan dibawah ini (baca bag 2: Cerita dibalik tembok RSJ):

Cerita dibalik tembok RSJ (2)

"Mbak, mosok aku gak sholat teraweh sepisan wae dikeroyok sak kampung (masak nggak solat teraweh sekali aja dihajar orang sekampung). Lalu si Anwar (bukan nama sebenarnya) ini, menunjukkan luka-luka bekas pukulan warga di tangan, kakinya, juga mukanya yang bekas diinjak-injak dan terlihat masih legam hitam. Di tangannya ada luka bekas diikat yang ditunjukin seperti anak 4 tahun ngadu ibunya krn habis jatuh. Dia nampak perlu sekali didengar. Dengan pertanyaan meng-empati, ibu terus menggali dg bahasa jawa timuran dan berusaha mendengar khusyu'. "Kok bisa War"?, masak gara-gara gak sholat kamu dipukulin, mesakke banget kamu. Emang kamu lagi ngapain pas mereka datang?". Anwar jawab; "Aku lagi nonton TV mbak, dengerin radio!". "Oo, gitu. Sebelum itu kamu ngapain, kok sampai mereka marah?. Mosok rek gara-gara gak sholat aja orang marah", desak ibu dg nada santai becanda. Kata Anwar: "temenan mbak/sungguh!"katanya bersikukuh. "Kasihan, emangnya kamu biasane rajin ke masjid ya?" tanya ibu banting setir pertanyaan. "Lho mbak, aku tuh muázin, tukang azan, goro-goro aku gak azan, orang sekampung gak teraweh". Ibu hampir kecekik nahan ketawa! tapi ditahan. Akhirnya tetep aja ibu menganggap dia orang normal, jadi ibu ajak ketawa wajar sambil ngeledek. "ya itu War sebab-e!". Petugas bahkan nambahin: "war, crito sama mbaké kon munggah-munggah genteng masjid , manjat kelapa sambil teriak-teriak". Owwww....gamblang sudah akhirnya.

Obrolan direbut sama cowok 37 tahunan yang tambun, wajah memelas dan pake bahasa Jawa timuran dia ngadu: "mbak, awake dewek iki salah opo ya, kok kita dibuang sama sodara-sodara kita disini. Paling banter kita kan cuma ngomong sendiri, gak pernah kita ganggu mereka, gak ngerugiin mereka. Kita disini dibuang mbak, dihukum. Mereka gak mau diganggu, malu sama kita". Lalu ibu elus pundak dia, meyakinkan bahwa itu nggak bener, sodara-sodaranya pasti pingin dia sembuh.

Cowok yang dipojok kelihatan antusias mau ngomong, badannya agak maju pingin didengar. Lalu ibu tanya: sampean krasan tah nang kene?. Langsung spontan dia jawab"aku krasan mbak nang kene". "Lho, ngopo krasan"? tanya ibu dg muka antusias. "mbak, masalahe nak nang omah aku dibelok/dipasung. Nang kene enggak, banyak temennya". Ibu tanya; "udah berapa kali mlebu kene". "wis gak iso diitung mbak" jawabnya jujur.

Sambil ngobrol, memang sesekali ada cowok yang melintas begitu saja sambil ngasih genggaman kertas dilipat, ibu buka dg GR kirain ada tulisan khusus, rupanya cuma bungkus rokok lecek, nggak ada apa-apanya. Lalu ada juga yang masih mungut bungkus teh kotak yang sudah di tong sampah untuk dihisap padahal sudah habis. Lalu ada lagi yang merayu pinjam HP mau ngontak saudaranya minta pulang. Tapi petugas mengerling ke ibu untuk tidak ngasih HP. Ibu antara tidak tega, tapi bilang pulsa habis. Begitu omongan nyinggung soal HP, ada satu lagi juga nitip sms biar dikirim ke saudaranya untuk jemput, pas ibu tanya ke petugasnya dibolehkan, ibu akhirnya sms pas diluar, biar yg sebelumnya tidak tersinggung.


Lalu ada cowok tinggi botak yang kepalanya banyak luka, mendekat. Agak risih, dan takut juga kalau diapain, padahal pintu bangsal terkunci jeruji, dan kita seakan terperangkap didalam dengan puluhan mereka, cowok semua (bangsal cewek terpisah). Tapi cowok ini tidak menyentuh sama sekali (dalam hati, orang yang kita anggap gila aja bisa sopan dan jauh dari sikap melakukan pelecehan seksual). Lalu ibu tanya: "sampean pie critane kok sampe sini?". Dg senyum ikhlas dia cerita "Jarene/kata guruku, seko cilik, SD, aku suka ngajak ngomong sendiri pohon petai Cina". "lho kok iso?". "Embuh mbak, aku suenenggg... prosoku/rasaku pohon iku uapik tenan. Aku juga seneng lihat matahari lama-lama. Yo embuh, opo sebab-e".

Lalu ibu memanggil ngajak gabung cowok guanteng, tengku Wisnu, David Ducovni, Tom Cruise aja kalah. Penasaran banget, karena wajahnya juga tidak mengguratkan dia bermasalah. Kelihatannya pintar, kharismatik dan penuh kontrol. "mrene tah, crito-crito? sini yuk crita-crita. Dah mau pulang tah?". Dia tidak mau cerita, mengambil jarak dan kayaknya mendifinisikan diri sudah sembuh. Lalu pas udah mau pulang ibu sempetin keluar dari barisan pas, khusus mendekat dia ngobrol ngalor ngidul untuk bangun kepercayaan dan akhirnya dia cerita. "aku mrene iku dibuang keluargaku mbak. Habis aku beda pendapat ama sodara-sodaraku. Mereka maksain aku. Aku hampir aja dapat cita-citaku, tapi keluargaku gak setuju. Aku ngamuk". Wis berapa kali mrene? "3 kali". Tapi mosok sih beda pendapat aja sampai dibawa mrene?". Lagi-lagi petugas dg entengnya bilang. "kon mbok crito, ngamuk meh mateni bapakmu/mbok crita kamu ngamuk hampir membunuh bapakmu". Ohh...

Yang jelas, cerita-cerita mereka, bener-bener membuka mata, tentang bagaimana orang sehat ini berkontribusi untuk membuat atau memperparah mereka yang kita anggap gila. Yang mengharukan, petugas-petugas disana dengan penuh sabar dan cintanya menemani mereka, seperti jadi orang tuanya. Kadang mencet hidung mereka kalau ada yang lucu, atau mengingatkan untuk tidak larut ke halusinasi dengan mengalihkan perhatian. Makanan juga relatif baik (seperti dalam gambar ini dg buah, perhari sekitar Rp 30.000, termasuk makan dan asrama, kecuali yang dapat keterangan miskin dan VIP.

Yang menarik, info dari RS, lebaran kali ini semakin sedikit pasien. Padahal dulu-dulu, setiap lebaran penuh pasien dadakan, karena banyak keluarga yang memilih membuang /menitipkan anggota keluarganya karena gengsi saat banyak tamu lebaran, dan diambil seusai lebaran. Tapi sekarang orang mulai sadar, bahwa kunci sembuh orang yang dianggap gila adalah rasa dicinta, bebas tekanan, dan harus dianggap seperti orang normal. RSJ bukan buangan, tapi memang untuk menyembuhkan. Dan konon pemerintah mulai memberi anggaran layak untuk rumah sakit yang selama ini menjadi momok sangkar "hantu". Ahh...liburan yang berbeda, Rumah sakit yang penuh keramahan dengan jiwa-jiwa yang harus direngkuh dan diselamatkan. Sudah saatnya, tidak menstigma mantan pasien RSJ, mereka sama seperti mantan pasien jantung... yang bisa sembuh atau kambuh. Mereka adalah kita juga.

Camping Hiking di Gunung Pangrango (1)

By : Vikra Alizanovic

Belum lama ini, beberapa minggu yang lalu, kita ada rencana weekend camping ke Sukabumi sama keluarga-keluarga temen2 ayah ibu. Pokoknya rencananya udah mateng banget, eh tahunya satu persatu mereka nge-cancel acara itu.

Daripada kesel gak jelas, akhirnya we decided to take the weekend vacation on our own. Kita berempat sekeluarga berangkat hari jumat itu ke Sukabumi, nama tempatnya Cinumpang. We had lunch at Rumah Makan Bu Bunut. Sayangnya, gw lg sakit, jadi lidah masih asem banget. Tapi sambel-sambelnya sedap banget. Habis makan, kita langsung ke Cinumpang, disitu ada camping ground, cottage bambu dan kali.

Tempatnya kurang menjanjikan sih, tapi udaranya seger banget. Habis observasi sebentar, we decided to look for another place. Kita naik lagi dan ketempat resort lain namanya Situgunung. Situgunung ini termasuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, jadi tempatnya tuh masih hutan banget. Kita mau ngeliat cottage-nya, sayangnya tempat permukimannya jelek, gak keurus, terpencil banget di tengah hutan gunung, dan dipinggir danau. Padahal kalo dikelola bisa jadi bagus banget. Akhirnya kita malah foto-foto dan nyantai di pinggir danau-nya.

Balik lagi kebawah naik mobil, kita check sebentar camping groundnya. Ternyata tempatnya asik banget. Adem, perlengkapan yang disediain juga bagus dan lengkap. Sayangnya Vinda rewel gak mau camping, karena gak rame-rame. Dan gak tahu kenapa dari Cinumpang tadi, ada lebah yang ngikutin kita terus. Bener-bener ngikutin. Nempel.

Malemnya, kita nyari makan. Sempet kepikiran mau ke GunungMas aja, dan nyari makan malam ontheway kesana, tapi ayah sama ibu malah ngajak keliling2 kota Sukabumi nyari bandrek yang dulu pernah mereka minum. Katanya bandrek itu enak banget. Sayangnya, setelah muter-muter gak jelas, we didn’t find it. Tapi kita malah nemu tempat Surabi dan Sekoteng yang enak banget. Sekotengnya manis dan anget, dimakan bareng Surabi Duren yang gurih dan manis. Sedap.

Akhirnya karena waktu sudah agak malem, kita nyari hotel. Ketemu sih hotel yang enak. Kita bermaksud cuma untuk spend the night. So, besok paginya kita udah checkout duluan. Kita googling nyari website sarapan yang cukup terkenal di daerah situ, dan ketemu sama Bubur Ayam Bunut. Enak? Pastinya. The unexpected awesome culinary part is the thing I love the most about vacations. (baca part 2 dibawah artikel ini)



NB : Ini kita surveiin info camping ground dan cottage buat rame-rame (muat 30 orang) kalau kapan-kapan mau camping ke Situgunung

Camping - Hiking di Gunung Pangrango (2)

By Vikra Alizanovic

Sehabis sarapan, kita berencana mau ke Lembah Halimun. Gak jelas mau ngapain. Sampai sana, Ayah nyuruh kita make sepatu. Turns out, we’re going hiking. Off to the high mountains of Mount. Gede-Pangrango. Me, mom, and Vinda decided to just wear sandals. Ayah satu-satunya yang paling antusias soal make sepatu. FYI, belakangan ini bokap jadi punya fetish sendiri sama sepatu. Buat setiap kegiatan nyaris ada sepatunya sendiri. Waktu ke tempat-tempat sport stations, ayah beli banyak banget sepatu. Ada sepatu boot kulit yang bagian depannya keras banget, gw yakin bisa nendang orang sampai tulangnya patah. Alesannya sepatu ini buat naik motor. Ada lagi running shoes, buat lari. Terus sepatu bola, sepatu kantor, sepatu casual, sepatu badminton. Aneh gak ada sepatu buat tidur atau buat mandi. Sepanjang perjalanan kalo kita ngeluh sedikit soal pake sendal, ayah langsung nyeletuk lagi soal pentingnya sepatu.

Sedikit note, bahwa pertama-tama, yang paling banyak ngedumel dan menyatakan diri paling gak niat naik gunung, is none other than the devil herself, Vinda. Dan gw udah jadi the bad guy duluan dengan ngingetin dia supaya jangan manja. Nah, faktanya, pas udah di gunung, dia yang paling semangat. Berhubung gw masih agak sakit, dan sedikit susah napas kecapekan, gw harus berhenti beberapa kali to catch my breath. Nah, if you know Vinda, then you would how she would react. Yap, dia dengan sukses ngingetin gw supaya jangan manja. She lectures me. How nice.

Sebelum naik gunung, kita nanya beberapa orang berapa jauh jaraknya sampai ke air terjun. Ada yang bilang 1 kilo, 2,5 kilo, 1,7 kilo lah. Faktanya, hiking di gunung gak bisa dihitung berdasarkan jarak. Jalan yang naik-turun-naik-turun-naik-naik-naik-naik-naik sampe bikin kaki bengkak kalo pake sendal dan bikin ayah ngedumel lagi soal pentingnya sepatu, yah pokoknya, naik gunung gak gampang. Kita sempet stress soal Vinda yang ngedumel about how slow we are, and how fast she is. Dia juga ngedumel tentang berapa kali kita udah disalip sama rombongan lain.

Dan ternyata, setelah jalan panjaaaaaaaaaaaaaaaaaang, kita nyampe, di pos PERTAMA. Jalan ke air terjun masih stengah jalan, dan medannya lebih berat. For me, sempet kepikir untuk balik aja naik ojek. Tapi karena dorongan dari om-om yang ada di pos itu, akhirnya I decided to keep going.

Jalannya emang bener berat. Ada bagian dimana jarak setengah kilo, dan jalannya menanjak terus. Kita sempet berhenti 2 kali disini. Tiap kita nanya orang, “masih jauh gak pak?”, they all answer with the same answers. “udah deket kok pak”. Liars. Tapi mungkin emang poinnya supaya kita terus jalan. Kita sempet disalip beberapa rombongan lagi. Malah, ada mas-mas yang tadi kita temuin, yang udah mau balik lagi kebawah. Dia bilang jalannya udah deket. Katanya tinggal naik-turun-naik-turun-jembatan-naiiiiiiiiiikkk, terus sampe deh di air terjun.

Excited to get there, kita jalan terus. Kita juga penasaran soal seberapa naik ‘naiiiiiiiiiikkk’ yang mas tadi bilang. Nah, sesampainya kita di jembatan, ternyata naiknya lumayan ‘naiiiiiiikkk’. Daripada hiking lebih bisa dibilang panjat tebing.

And after all that effort (rupanya kita naik gunung ketinggian 1350 kaki) akhirnya kita sampai di air terjun. Our first thought was ‘WOW’. Subhanallah, air terjunnya indah. Jadi air terjunnya mengalir di atas dinding batu yang tinggi banget. Di bawah air terjun itu mengalir air yang luar biasa bening dan luar biasa dingin. Disana cuma ada tukang jualan pop mie-minuman dan bakso tusuk. Kita makan pop mie bareng-bareng di bawah air terjun. Pop Mie never tasted that delicious in my life. Karena gw menderita alergi terhadap dingin, dimana kulit gw bisa langsung bentol-bentol semua, I stayed di warung minum tersebut sambil nyeruput kopi susu. Nikmat banget. Now this is what I would call vacation. Setelah itu kita foto-foto, ayah sempet nyoba mau nyebur, tapi gak jadi karena terlalu dingin.

After a while, we decided to go back to the foot mountain. Setelah jalan sebentar, kita nyampe di Pos tadi. Dari pos tadi gw pulang duluan naik ojek, since I’m the most exhausted one. Tapi yak, bayarannya untuk meninggalkan keluarga, kaki gw berdarah-darah. Ternyata rute ojeknya isn’t exactly an ojek route. Kita ngelewatin kebun the dan jalannya sempit banget, sehingga lutut gw kebeset dahan yang tajem. Yak, karma kali. Tapi akhirnya gw sampai di mobil, dan gw tidur di mobil.

Setelah ayah, dkk nyampe, kita nyari makan di daerah sekitar situ. Kita makan nasi goreng, soto mie, gorengan, jagung bakar, sambil nyeruput teh manis anget. Nasi gorengnya ternyata enak. Habis makan, we were exhausted. Jadi, kita ngambil sleeping bag, tiker dan selimut, dan masuk ke camping groundnya. Kita istirahat di gazebo pinggir sungai sambil tidur-tiduran. Ibu sama ayah mandi di sungai.

Out of nothing, tiba-tiba ayah ngusulin kita camping aja. Toh rencana awal emang kita mau camping. Minimal itu harus kesampaian. Dad promised us to just take a nap in a tent and leave at night. So, sekita maghrib tenda sewaan kita sudah didirikan. Kita tidur dan foto-foto lagi didalam tenda. Skitar jam 10 malem, kita beres-beres dan pulang. Yang penting kita udah tidur di tenda. That counts as Camping. Malemnya, kita makan di restoran deket bandrek yang ayah cari-cari dan akhirnya ketemu juga.

After all that, we go back to Jakarta with a large smile and an unforgettable experience to tell..

Garuda di Dadaku

By: Vikra Alizanovic.
Baru aja seminggu yang lalu, kita sekeluarga nonton film Garuda di Dadaku, which claims to be the most long-awaited Indonesian family movie of the year. Hari senin kita berangkat ke WTC BSD. Di perjalanan, kita gak bakal terkejut kalo antreannya bakal panjang banget, soalnya emang kata temen-temen filmnya bagus. Gak nyangka, sampai sana, ternyata gak ada antrean. Tapi, begitu kita cek ke mbak-nya, ternyata yang ada tinggal tiket untuk jam main 19.00. Padahal itu baru jam 2 siang. Tiket untuk yang jam 14.40 dan 16.50 udah ludes. Habis. Ganas. Gak nyangka.

So, karena bener-bener niat, we decided to come back tomorrow before the theatre even opened. Kita bakalan dateng besok jam 11-an, karena jam segitulah loket tiketnya buka. Eh, begitu nyampe, bioskopnya emang masih tutup, tapi didepan pintu bioskopnya bertumpuk-tumpuk para massa. Udah kaya demo buruh, dari ibu-ibu yang gendong bayi, bocah-bocah lugu ingusan, pasutri yang kayaknya newlyweds, anak2 smp, sma, semua ada disana. So, bokap dengan sangat bijaksana berkata, “kak, ngantri.”

Yak, akhirnya gw yang harus mengorbankan tubuh gua ini untuk siap bergulat sama pasutri-pasutri itu nanti pas pintu bioskop dibuka. So, gw langsung mendekatkan diri ke pintu, tapi ada om-om gendut yang ngalangin gw. Pas gw senggol, dia menggeram. Imej-nya jadi kayak gw mau ngelawan beruang. Karena masih sayang sama anggota tubuh gw, gw nyari celah lain.

Selagi nyari celah, pintu bioskop tiba-tiba terbuka… Yak!!! Layaknya pacuan kuda, kita semua berpacu ke loket pembelian. Gak peduli umur dan badan, gw harus menang. Sialnya bocah-bocah ingusan itu mimpin di depan. Yah, setidaknya gw dapet barisan tengah. Tangan gw lebarkan ke samping biar gak ada yang nyalip. Medan perang berantakan. Ada ibu-ibu yang nabrak papan reklame film. “Stop Vikra! Gak ada waktu untuk ketawa!”, pikir gw. Dengan menahan tawa, gw terus berlari ke arah loket. Sayangnya, disamping gw bocah kecil berambut jabrik nabrak pot tanaman. Hahahahahaha, gw ketawa. Sialnya, gara-gara ketawa, gw kehilangan fokus. Gw disalip om-om yg gendong anak perempuannya.

Yah, akhirnya setelah dapet tiket, kita kebawah dulu ngemil di cafe favorit kita. Sampai akhirnya, kita masuk bioskop. Kegiatan nonton berlangsung secara normal. By normal, I mean it. Harus nahan malu kalo bokap udah ketawa. Selera humor bokap jelek. Jadi di adegan yang gak lucu, bokap sering ketawa sendiri, dengan suara yang aneh. Penonton lain pada nengok ke arah kita. Mungkin mereka ngira ada penyembelihan kambing di Studio tersebut.

Eniwei, overall, filmnya bagus. Bener-bener Indonesia banget. Cerita tentang seorang anak yang berjuang keras untuk jadi Timnas Sepakbola Indonesia, bertarung mewakili tanah air tercinta, walaupun dilarang oleh kakeknya sendiri. Film ini juga banyak menyinggung hal-hal yang cukup penting. Seperti dimana si Bayu, karakter utamanya, harus latihan bola di kuburan yang sudah gak dipake, karena di Jakarta sudah gak ada tanah kosong. Gedung dan bangunan dimana-mana. Semua jalan sudah dibeton. Kalaupun ada, tanah itu sudah dibeli dan dipagar, sehingga anak-anak yang punya bakat gak bisa menyalurkan bakatnya.

Di film ini juga memberitahu para orangtua, bahwa untuk tidak memaksa anaknya untuk belajar ini-itu, melainkan membiarkan sang anak melakukan apa yang dia suka, selama hal itu menuju ke sesuatu yang positif.

Film ini lain dari yang lain. Dimana tadinya film indonesia hanya tentang horor yang dimainkan oleh artis-artis seksi tapi kurang bermutu aktingnya dan aspek seni-nya nyaris tidak ada. Mereka lupa bahwa sesungguhnya perfilman itu bukanlah bisnis perfilman, melainkan seni perfilman.

Film ini juga bener-bener membangun rasa nasionalisme di dalam diri para penonton, dibuktikan oleh para temen gw yang mengaku begitu. Even I, I think have become a nationalist. Whatever that is. Walaupun sampe sekarang gw belum hafal UUD alinea pertama. Well, pokoknya ini film recommended banget. Four Thumbs Up! A-must-see…

Tentang TV


Pada dasarnya kami penganut kaum yang berfikir bahwa TV jangan masuk kamar anak. Karena beberapa hal, pertama TV dikamar hanya akan "mengamarkan" anak, anak akan keasikan sendiri dengan dunianya di kamar, dan ada kecenderungan kalau bermasalah akan lari kekamar dibanding menyelesaikannya. Kedua, kohesi antar keluarga menjadi terganggu karena anak akan memilih acaranya sendiri di kamar. Ketiga anak tidak terbiasa share untuk saling debat atau mengalah menentukan acara atau saling komentar yang ditontontonnya. Rule/aturan itu berjalan mulus hingga suatu kali TV Tuti PRT kami tak terpakai (karena dia pulang kawin) dan karena anak-anak mulai bobo sendiri, jadi merasa perlu ada bunyi-bunyian pengantar tidur. Kami awalnya bersikukuh, tetapi anak-anak mulai merengek dan protes " We wanna have our own room that we can bring our friends and enjoy our talk or even watch TV there. Please...!!". Akhirnya perjanjian temporer TV boleh masuk kamar kami perpanjang sekalian ngetest disiplin mereka kapan hidup dan kapan mati.

Vikra menyalakan TV rata-rata pas mau tidur, kecuali pas dia mau main PS dengan adiknya atau temen-temennya. "NGapain sih pada suka banget ama kamar Vikra"? Keluh dia kesal-kesal senang kalau kami ngerumun di kamar dia, jadi living room pindah ke kamarnya. Kalau Vinda yang masih perlu diajak negosiasi, karena durasi nonton dia kok lama ya? " Bu, Vinda tuh kalau belajar dimatiin, nonton juga sebentar aja pas pulang sekolah buat istirahat nunggu kursus". Pokoknya banyak alasan. Tontonan kesukaan dia rata-rata ttg jelajah, explorasi, acara anak, music dan kuliner.
Tapi yang menarik, pas sambil nonton kami diskusi..dan celetukan dia kadang menarik. 2 hari lalu pas nonton bedah rumah RCTI dimana orang miskin tiba-tiba dapat rumah bagus,dia bilang :" kenapa sih nggak dibantu cari pekerjaan yang lebih baik, kalau dia kerja kan anaknya bisa sekolah, hidupnya lebih baik, bisa bikin rumah! Kalau dikasih rumah tetep kerja susah jadi pemulung, percuma aja rumah bagus". Kemarin pas nonton acara "Kalau aku menjadi" dimana orang kota berperan dan ikut jadi orang susah, ibu tanya ke dia, " ciadek, kalau kamu jadi produser acaranya, apa yang kamu mau bantu ke mereka?". Vinda nyeletuk " daripada dikasih sembako, kompor gas, listrik gitu, mestinya kasih aja tempat tidur dulu, kan anaknya sakit paru-paru, karena lembab tidur dibawah terus". Hmm..gitu???

Pendidikan adil gender dalam keseharian anak

" Lho, anak perempuanmu kok masih kamu beliin Barbie?". Begitu salah satu kawan heran ketika melihat Vinda hobi main Barbie. "Vinda itu dulu waktu kecil kaku, tegaan, nggak care temperamental dan sulit bercerita, makanya dia perlu mainan untuk melembutkan rasanya dan latihan bercerita . Lagian Vikra (anak laki-laki kami) waktu kecil juga biasa kok main boneka. Barbie dan boneka itu bagus lho buat peraga pendidikan, nglatih anak ngomong, dialog, entah itu buat cowok atau cewek".


Memang tidak mudah menerjemahkan pendidikan adil gender dalam keseharian anak. Yang paling pasaran kita dengar, anak cewek boleh main bola, panjat-panjatan, cowok boleh masak-masakan dll. Ini semua benar, tapi apa berarti anak cewek tidak boleh main boneka dan masak-masakan? Biar gamblang kunci pendidikan adil gender adalah biarkan anak menjadi manusia,bebas memilih dan jangan sampai identitas seksual dia menjadi penghalang untuk mengembangkan potensinya. Ingat waktu tsunami atau bencana lain kebanyakan yang meninggal perempuan? Karena tidak bisa menyelamatkan lari atau naik ke genteng. Ingat juga masa krisis penghuni RS Jiwa adalah laki-laki karena desakan sosial ekonomi yang dibakukan dan ditanggungkan ke laki-laki. Padahal bisa jadi istri-istri mereka banyak yang pintar-pintar dan berskill, tetapi capek dan "pasif" tak optimal dirumah demi "kelaziman sosial". Berapa banyak kerugian bangsa karena banyak perempuan sarjana yang akhirnya tidak bisa mengembangkan potensinya karena terkondisi untuk menjadi ibu rumah tangga yang mulia tapi tak terhargai secara sosiologis dan ekonomis?

Selain hal diatas, prinsip mendasar lain, jangan ada pembakuan peran dan jangan biarkan ada stratifikasi peran satu lebih tinggi dari yang lain. Tanpa sadar kita orang tua masih rajin mendendangkan "habis mandi kutolong ibu membersihkan tempat tidurku" (emang bersih-bersih temapt tidur kerjaan ibu? kenapa tidak dilihat sebagai perkerjaan dan kebutuhan bersama atau kebutuhan si anak itu sendiri). Atau kita masih senang bilang; "untung punya anak perempuan jadi ada yang bantu-bantu". Tak sadar bahwa pembakuan dan pemisahan tugas ke anak laki-laki dan perempuan ini bisa merugikan mereka di kemudian hari. Pernah ada kawan ibu di Belanda, sekitar thn 2002, seorang bapak urung jadi PhD gara-gara tak sanggup bertahan melayani dirinya sendiri seperti memasak, mencuci, belanja dll.Dia menganggap dirinya rendah dan menderita dengan itu semua. Padahal mendorong anak baik laki-laki dan perempuan untuk latihan membantu dirinya dengan pekerjaan diatas itu penting, sesederhana apapun. Tapi juga jangan dicegah kalau ada anak perempuan yang hobi masak atau bikin kue..yang jelas keduanya didorong dan diberi contoh. Ada baiknya nggak ayah atau ibu membuat dapur jadi ajang bersama. bukan hanya space perempuan! Sehingga anak dapat contoh kongkrit bahwa laki-laki masuk dapurpun akan tetap keren!!.

Sementara pekerjaan yang secara sosiologis diidentikkan dengan kerjaan maskulin seperti mengecat, potong rumput,cuci mobil... tetep manis aja tuh dilakukan oleh anak cewek dan kita ibunya juga kasih contoh bisa melakukannya. Atau apa masalahnya kalau anak cowok ikut bikin kue atau menjahit? Toh itu penting misalnya untuk bisa memasang emblem atau kancing dll. Memasak buat anak cowok juga penting diajari, jangan sampai rumah terbakar atau kaki dia ketumpahan minyak goreng gara-gara anak laki-laki kita tidak tahu tehnik memasak yang aman.

Lho, lalu apa beda laki-laki dan perempuan? Kekhawatiran yang sering muncul, lalu apa nanti anak laki-laki nggak jadi kecewek-cewekan atau sebaliknya? Paling ekstrem apa nanti nggak jadi banci?? Tak perlu khawatir sama sekali. Kita tidak akan membuat manusia laki dan perempuan menjadi sama sebangun sejenis!! Kita hanya ingin membuat setara dan adil. Jadi identitas atau sifat atau peran yang tidak akan berdampak pada ketidak adilan, ya biarkan saja melekat di masing-masing. Misalnya anak perempuan pakai anting, dandan, anggun atau feminin. Tapi yang penting jangan sampai bilang bahwa anak perempuan harus anggun. Juga jangan kita menanamkan bahwa tubuh anak perempuan adalah objek. Misalnya menyuruh menutup bagian tubuh tertentu karena alasan tubuhmu "aurat", akan membuat anak merasa tubuhnya adalah objek. Lebih baik pakai alasan, pakai baju yang sopan nak, kalau kamu di wilayah aman atau dirumah, bebas pakai baju yang A atau yang B. Lalu anak cowok bergaya gagah, rada macho-macho..ya biarkan aja!! Yang penting kalau feminitasnya membuat dia manja tak mandiri dan lemah..atau kemachoan itu membuat cowok dominan dan kasar, ya rubah! Laki-laki dan perempuan itu perlu punya sikap feminin dan maskulin. Misalnya laki-laki penting untuk punya sifat feminin juga, seperti melankolis, tergantung, sementara perempuan juga perlu punya sifat tegas dan rasional. Yang penting meletakkan sifat-sifat itu pada kontek yang tepat dan fleksible. " Bicara dulu! apa masalahnya baru boleh nangis" ! Begitu kami selalu mengajari anak terutama anak perempuan untuk tidak cengeng. Jangan biarkan nangis dulu,ajak untuk rasional dulu, tetapi nangis sebagai ekspresi sedih tetap perlu, termasuk anak laki-laki mau nangis nggak masalah. Karena larangan menangis bagi anak laki-laki itu bisa juga mengganggu mekanisme psikologisnya dan ujung-ujungnya mengundang masalah jantung. Tuhan kasih air mata untuk seluruh manusia (bukan hanya perempuan), untuk menumpahkan masalah mereka biar beban hati meleleh.Adil gender sebagai istilah bisa dari mana saja, tetapi sebagai spirit keadilan adalah milik semua manusia, milik kita, milik anak kita...

Ultah Anak Partisipatif dan Kreatif

Ultah pasaran untuk anak buat orang yang gak mau repot, selalu jelas urutannya; pesen kue tart atau pesan tumpeng, sebar undangan, bikin nasi kuning dan paket bingkisan buat yang datang. Keluarga gang jambu bukan tidak pernah begitu...beberapa kali terjadi saat anak sendiri yang meminta pesan kue tart dengan model yang mereka suka. Tetapi bisa dihitung dengan jari. Incase terpaksa kue tart pesan, biasanya acaranya yang sedemian rupa dipakai untuk moment mengkreatifkan anak. Ini beberapa cerita ultah yang pernah kami bikin:

1. Kue buat sendiri: Hampir rata-rata kue atau tumpeng kami buat sendiri dengan cara surprise atau mereka sendiri yang buat. Waktu ultah 3 tahun Vikra menyusun donat untuk jadi kue ultahnya sesuai bentuk yang dia suka. Pernah juga kue tart strawaberry dalam gambar ini buatan Vinda untuk ibu atau puding untuk ayah dan kakak dibuat dengan super berkeringatnya.



2. Acara partisipatif: Sudah langganan Vikra yang selalu susun dan jadi pembawa acara setiap ultah dirinya atau adiknya. Selain anak yang terlibat, kawan-kawan undangan juga diajak terlibat, misalnya meminta teman-temannya untuk membuat kado 1 huruf raksasa (dibagi-bagi) lalu pas ngumpul dirangkai menjadi tulisan Ultah Vinda 11 (seperti dalam gambar diatas). Atau membuat koran bekas jadi topi ultah. Bahkan kue ultahpun bisa dihias ramai-ramai dengan teman2nya. Hasil tidak penting, yang penting proses!!




3. Jadikan event kultural: Beberapa ultah yang pernah kami bikin, khususnya saat di luar negeri, betul-betul kita jadikan moment untuk memperkenalkan Indonesia, dari makanan lengkap dengan penjelasan filsafat tumpeng, lalu ada sessi ttg Nature Indonesia dengan memperlihatkan fotofotoalam dan budaya, lau permaian juga unik, memindahkan acara lomba 17-an untuk anak-anak bule kan asik, misalnya memecah balon dengan menduduki, menggigit sendok kelereng, makan kerupuk,joget jeruk. Yang juga asik kami pernah sengaja meminta kawan yang kebetulan guru tari untuk mengajari tari Jawa sederhana untuk seluruh undangan...duh serunya, sampai ada yang komentar " ini melebihi promosinya dinas pariwisata". Alhasil..banyak sobat-sobat yang jatuh cinta banget sama Indonesia.


4. Surprise: Sering kami ultah tanpa kue dan seremoni, tapi temanya bikin surprise. Jadi pernah bangun tidur anak diberi satu kado disampingnya, tapi didalamnya ada dibuat sandi unttuk mendapatkan kado berikutnya, misalnya ditempat tersembunyi atau baru bisa dapat hadiah kalau melakukan sesuatu. Misalnya harus gantian menjadi PRT dari membuatkan minuman dan masak sederhana, setelah dapat hadiah, kado berantai berikutnya meminta untuk memerankan pekerjaan ayah lagi live liputan, lalu mendandani adiknya, memijit ibunya, main piano dan dance, dll..jadi kadonya sampai 10 an mengikuti jumlah usianya, tetapi kado berantai ini fun banget.

5. Sobat ber-asik : Kadangkita biarkan anak untuk juga buat acara dengan beberapa gelintir sobat karibnya, misalnya kita temani pergi ke tempat yang mereka pilih. Vikra waktukecil suka ngajak ke Ragunan, atau naik kuda ke puncak atau makan ditempat yang mereka suka dengan kawan-kawannya..apalagi anak tambah remaja, ultah dengan teman memang tak bisa terlewat. Tapi selalu kita ajak yang kreatif dan tidak konvensional.

6. Moment Berbagi: Pernah juga ultah kita tidak ngapa-ngapain sama sekali, kita cukup menyiapkan amplop beberapa dan mengajak anak-anak mengantarkan ke orang-orang dhuafa', atau ultah di kampung dan kita bagi-bagi bingkisan dengan alat sekolah atau buku bacaan.

7. Fun Evaluation: Ultah juga bisa dipakai untuk saling mengapreasiasi dan mengevaluasi. Misalnya saat ultah sudah jadi langganan masing-masing anggota keluarga menulis sesuatu untuk yang berultah..yang positif dan hal-hal yang perlu diperbaiki... lalu pernah juga melingkar dengan teman-temannya saling kasih input saat Vinda ultah 9 tahun..memang tidak mudah, karena tradisi mengkritik dengan cantik ini tidak ditumbuhkan dengan baik...

Mainan Anak Jaman Baheula

Jaman generasi ayah ibu, bertumbuh disuasana kampung bersahaja, justeru menikmati masa ceria yang luar biasa dan bikin kreatif dengan interaksi antar teman yang sangat mendalam. Mainan anak laki-laki dan perempuan berbeda dan dibedakan memang. Ini cerita mainan anak perempuan di kampung jaman ibu masih anak-anak. Cerita ayah menyusul..
1. Dakon dengan lubang tanah: Jaman sekarang enak main dakon tinggal beli jadi dari plastik atau kayu yang artistik. Jaman dulu, cukup dengan ambil batu ditumbuk-tumbuk ke tanah untuk membuat lubang/legokan padat untuk lubang dakon dengan biji batu kerikil. Alhasil, tiap selesai main, kuku berwarna coklat natural alias full dengan tanah. Jangan diskusikan soal isu hygenic ya..karena tidap bulan ibu dipaksa minum obat cacing.
2. Cathok : Bermain batu sebesar bakso yang dilempar dan ditangkap dengan jari dan memainkan aneka atraksi, batu tidak boleh saling sentuh, cara ambilnya bisa dengan ditangkap dengan telapak tangan atau punggung tangan setelah dilempar, diambil satu persatu tapi dengan gerakan atraksi lembar keatas atau lembar bergantian 3 batu seperti akrobat Cina.
3. Sudamanda: Membuat gambar payung, kapal terbang atau jendela kotak-kotak diatas tanah, lalu kita melempar lempengan batu atau genteng kedalam kotak tersebut dengan diikuti tubuh kita yang berjinjit kaki satu atau melompat-lompat. Ini mirip seperti bermain ular tangga tapi dengan tubuh untuk mengejar skor, tetapi tidak pakai ular atau tangga.
4. Ombak banyu: Membuat lingkaran manusia secara zigzag berseling satu duduk satu berdiri, tangan saling bergandeng, dan tumit kaki yang duduk saling bertumpu ditengah beralas sabut kelapa. Lalu serempak menarik memutar..persis komedi putar manusia..asikkk
5. Gobak sodor: Mirip sudamanda, tetapi idenya bagiamana saling mengunci/memblock lawan untuk tidak bisa melewati ruang/garis berikutnya. Permainan ini memanfaatkan kelengahan musuh dan kerjasama, karena teman lain bisa mengacak konsentrasi penjaga garis agar team kita bisa masuk keruang/garis berikutnya.
6. Pasaran: Main jual-jualan. Pedangangnya macam-macam, bisa tukang jamu dengan botol-botol mini bekas obat diisi aneka warna alamai daun jati untuk merah, dan tambah kapur sirih untuk dapat warna pink, kunyit untuk kuning, tambah kapur sirih untuk oranye, hijau dari daun pepaya. Lalu ada pedagang minyak dari sari air daun waru yang ditumbuk. Kalau ibu paling suka jualan pakaian dari kertas yang digunting dan dibentuk baju-bajuan. Coba pakai apa mata uangnya? Bisa pakai bungkus permen, biji bengung/koro (kacang-kacangan khas kampung ibu), bisa dari potongan kertas, cetak uang dari njiplak uang logam dengan pensil. Kata temen-temen, ibu waktu kecil sok bossy, suka mborong jualan temen-temen dan bilang akan dibayar pake uang kertas (karena akung punya bekas kertas ujian). Tapi kata temen-temen, suka nggak bayar..jadi kalau ketemu sekarang sering ditagih..ha..ha.. padahal sekarang paling takut berhutang :)
7. Rumah-rumahan: Ini bisa membuat rumah beneran dari batang pohong singkong dan disekat dengan kain-kain. Ibu paling suka ambil seprei uti yang bagus-bagus buat bikin rumah paling cakep. Tapi begitu uti pulang, pertama dipuji bagus..tapi habis itu siap terima omelan panjang "seprei keno tlutuh kabeh, ora pareng dolanan seprei nggo sare tamu"(seprei kena getah semua, nggak boleh pake seprei untuk tamu buat mainan). Jadi ibu dikasih seprei jelek-jelek.. tapi bandel juga sih. Tapi jadi tahu intinya nggak bleh kena getah, jadi hati-hati milih pohon yang mau dipakai. Bikin rumah-rumahan lain juga dengan membuat gundukan tanah dan dibuat ruang-ruang cantik dengan furniture dari sumpil (kerang). Luucccuu
8. Kawin-kawinan dan Guru-guruan: Gampang ketebak, kita berperan seakan jadi bapak-ibu atau guru murid. Tapi hanya boleh anak cewek semua.
9. Main bekel dan karet sampai sekarang masih ada juga
10. Jelungan : petak umpet
11. Gamparan: Seperti main kelereng ata la petangue (perancis) menyasar batu lain dari jarak tertentu
12. Main dari tetumbuhan: nah, selain untuk membuat aneka warna, daun juga bisa dimanfaatkan untuk banyak-banyakan mengoleksi dan mencari persamaan. Semakin kita punya sisa yang tidak dipunyai musuh kita berarti kita menang. Ini melatih kecekatan dan ingatan. Daun juga bisa dipakai untuk aksesoris. Daun ketela untuk buat kalung dengan cara mematah bergantian tangkainya dan menyisakan daunnya untuk liontin/bandul. Daun nangka dilipat dua juga bisa untuk mahkota. Pelepah daun pepaya untuk sedotan main busa sabun. Daun petai cina untuk gosok-gosokan biar kulit bersih kekuning-kuningan. Daun kelapa dipakai untuk terompet dengan cara dililit berbentuk tanduk/terompet. Kembang petai untuk mie-mie-an, kembang Jlegor untuk mie pink, kembang Liander untuk mie kuning, kembang turi untuk mie putih.
13. Main boneka: jangan pernah berfikir boneka beli. Ya memang sempat punya, dibeliin akung karena ibu minta terus. Tapi bonekanya dari plastik kaku matanya kram nggak gerak, aling sendi lengan dan paha yang bisa gerak memutar searah. Boneka semuanay bikin. Biasanya dari kain perca diisi kapas, dikasih batang. Atau bikin dengan dijahit. Pernah juga dari kaos tangan pramuka dibikin boneka 3 anak kucing dengan diisi kapas, dikasih pita dileher, mata kping kumis dan diletakkan dalam tabung bambu pendek..lucuuuu.
13. Bernyanyi dan menebak. Ada lagu doktri legendri memutar batu pas lagu habis dan batu berhenti didepan salah satu, berarti dia harus jadi, dan mengejar yang lain. Lalu ada permainan cublak-cublak suang, dengan cara mengumpetkan kertas kecil dalam genggaman dan menabak siapa pembawanya saat lagu sirpong dele kopong. Ini untuk latihan menebak ekspresi. lalu ada lagu ci kelinci bapak pucung bergoyang-goyang alama-lama jadi patung. Latihan mematung dan yang gerak kalah. lalu ada lagu ndok-endokan jo pecah-pecah nduwur pecaho ngisor blog. Menumpuk jari menggenggam dan satu persatu genggaman bawah pecah dengan posisi telapak tangan tengkurap. Ini untuk melatih kesabaran dan latihan capek. Kalau kita paling atas tangan harus bertahan mengenngam sampai pegel nunggu giliran pecah. Banyak lagi dolanan anak jaman dulu, dan nyaris semua mainan kolektif interaktif disertai alunan lagu. Jadi semua motorik dan skill bekerja semua. Aihhh asiknya masa kecil itu... Yang jelas, Vikra Vinda diajari juga beberapa lagu dolanan ini (baca ttg Al-Hamra, label Spanyol), dimana kami nyanyi tembang Jawa di sudut selatan benua Spanyol.
Coba sekarang hitung yang masih survive mainan apa saja? Kalau saja anak sekarang mau susah kayak jaman ibu dulu.. toysR us bakal lari dari Indonesia....

Mainan Anak jaman Baheula

Jaman generasi ayah ibu, bertumbuh disuasana kampung bersahaja, justeru menikmati masa ceria yang luar biasa dan bikin kreatif dengan interaksi antar teman yang sangat mendalam. Mainan anak laki-laki dan perempuan berbeda dan dibedakan memang. Ini cerita mainan anak perempuan di kampung jaman ibu masih anak-anak. Cerita ayah menyusul..
1. Dakon dengan lubang tanah: Jaman sekarang enak main dakon tinggal beli jadi dari plastik atau kayu yang artistik. Jaman dulu, cukup dengan ambil batu ditumbuk-tumbuk ke tanah untuk membuat lubang/legokan padat untuk lubang dakon dengan biji batu kerikil. Alhasil, tiap selesai main, kuku berwarna coklat natural alias full dengan tanah. Jangan diskusikan soal isu hygenic ya..karena tidap bulan ibu dipaksa minum obat cacing.
2. Cathok : Bermain batu sebesar bakso yang dilempar dan ditangkap dengan jari dan memainkan aneka atraksi, batu tidak boleh saling sentuh, cara ambilnya bisa dengan ditangkap dengan telapak tangan atau punggung tangan setelah dilempar, diambil satu persatu tapi dengan gerakan atraksi lembar keatas atau lembar bergantian 3 batu seperti akrobat Cina.
3. Sudamanda: Membuat gambar payung, kapal terbang atau jendela kotak-kotak diatas tanah, lalu kita melempar lempengan batu atau genteng kedalam kotak tersebut dengan diikuti tubuh kita yang berjinjit kaki satu atau melompat-lompat. Ini mirip seperti bermain ular tangga tapi dengan tubuh untuk mengejar skor, tetapi tidak pakai ular atau tangga.
4. Ombak banyu: Membuat lingkaran manusia secara zigzag berseling satu duduk satu berdiri, tangan saling bergandeng, dan tumit kaki yang duduk saling bertumpu ditengah beralas sabut kelapa. Lalu serempak menarik memutar..persis komedi putar manusia..asikkk
5. Gobak sodor: Mirip sudamanda, tetapi idenya bagiamana saling mengunci/memblock lawan untuk tidak bisa melewati ruang/garis berikutnya. Permainan ini memanfaatkan kelengahan musuh dan kerjasama, karena teman lain bisa mengacak konsentrasi penjaga garis agar team kita bisa masuk keruang/garis berikutnya.
6. Pasaran: Main jual-jualan. Pedangangnya macam-macam, bisa tukang jamu dengan botol-botol mini bekas obat diisi aneka warna alamai daun jati untuk merah, dan tambah kapur sirih untuk dapat warna pink, kunyit untuk kuning, tambah kapur sirih untuk oranye, hijau dari daun pepaya. Lalu ada pedagang minyak dari sari air daun waru yang ditumbuk. Kalau ibu paling suka jualan pakaian dari kertas yang digunting dan dibentuk baju-bajuan. Coba pakai apa mata uangnya? Bisa pakai bungkus permen, biji bengung/koro (kacang-kacangan khas kampung ibu), bisa dari potongan kertas, cetak uang dari njiplak uang logam dengan pensil. Kata temen-temen, ibu waktu kecil sok bossy, suka mborong jualan temen-temen dan bilang akan dibayar pake uang kertas (karena akung punya bekas kertas ujian). Tapi kata temen-temen, suka nggak bayar..jadi kalau ketemu sekarang sering ditagih..ha..ha.. padahal sekarang paling takut berhutang :)
7. Rumah-rumahan: Ini bisa membuat rumah beneran dari batang pohong singkong dan disekat dengan kain-kain. Ibu paling suka ambil seprei uti yang bagus-bagus buat bikin rumah paling cakep. Tapi begitu uti pulang, pertama dipuji bagus..tapi habis itu siap terima omelan panjang "seprei keno tlutuh kabeh, ora pareng dolanan seprei nggo sare tamu"(seprei kena getah semua, nggak boleh pake seprei untuk tamu buat mainan). Jadi ibu dikasih seprei jelek-jelek.. tapi bandel juga sih. Tapi jadi tahu intinya nggak bleh kena getah, jadi hati-hati milih pohon yang mau dipakai. Bikin rumah-rumahan lain juga dengan membuat gundukan tanah dan dibuat ruang-ruang cantik dengan furniture dari sumpil (kerang). Luucccuu
8. Kawin-kawinan dan Guru-guruan: Gampang ketebak, kita berperan seakan jadi bapak-ibu atau guru murid. Tapi hanya boleh anak cewek semua.
9. Main bekel dan karet sampai sekarang masih ada juga
10. Jelungan : petak umpet
11. Gamparan: Seperti main kelereng ata la petangue (perancis) menyasar batu lain dari jarak tertentu
12. Main dari tetumbuhan: nah, selain untuk membuat aneka warna, daun juga bisa dimanfaatkan untuk banyak-banyakan mengoleksi dan mencari persamaan. Semakin kita punya sisa yang tidak dipunyai musuh kita berarti kita menang. Ini melatih kecekatan dan ingatan. Daun juga bisa dipakai untuk aksesoris. Daun ketela untuk buat kalung dengan cara mematah bergantian tangkainya dan menyisakan daunnya untuk liontin/bandul. Daun nangka dilipat dua juga bisa untuk mahkota. Pelepah daun pepaya untuk sedotan main busa sabun. Daun petai cina untuk gosok-gosokan biar kulit bersih kekuning-kuningan. Daun kelapa dipakai untuk terompet dengan cara dililit berbentuk tanduk/terompet. Kembang petai untuk mie-mie-an, kembang Jlegor untuk mie pink, kembang Liander untuk mie kuning, kembang turi untuk mie putih.
13. Main boneka: jangan pernah berfikir boneka beli. Ya memang sempat punya, dibeliin akung karena ibu minta terus. Tapi bonekanya dari plastik kaku matanya kram nggak gerak, aling sendi lengan dan paha yang bisa gerak memutar searah. Boneka semuanay bikin. Biasanya dari kain perca diisi kapas, dikasih batang. Atau bikin dengan dijahit. Pernah juga dari kaos tangan pramuka dibikin boneka 3 anak kucing dengan diisi kapas, dikasih pita dileher, mata kping kumis dan diletakkan dalam tabung bambu pendek..lucuuuu.
13. Bernyanyi dan menebak. Ada lagu doktri legendri memutar batu pas lagu habis dan batu berhenti didepan salah satu, berarti dia harus jadi, dan mengejar yang lain. Lalu ada permainan cublak-cublak suang, dengan cara mengumpetkan kertas kecil dalam genggaman dan menabak siapa pembawanya saat lagu sirpong dele kopong. Ini untuk latihan menebak ekspresi. lalu ada lagu ci kelinci bapak pucung bergoyang-goyang alama-lama jadi patung. Latihan mematung dan yang gerak kalah. lalu ada lagu ndok-endokan jo pecah-pecah nduwur pecaho ngisor blog. Menumpuk jari menggenggam dan satu persatu genggaman bawah pecah dengan posisi telapak tangan tengkurap. Ini untuk melatih kesabaran dan latihan capek. Kalau kita paling atas tangan harus bertahan mengenngam sampai pegel nunggu giliran pecah. Banyak lagi dolanan anak jaman dulu, dan nyaris semua mainan kolektif interaktif disertai alunan lagu. Jadi semua motorik dan skill bekerja semua. Aihhh asiknya masa kecil itu... Yang jelas, Vikra Vinda diajari juga beberapa lagu dolanan ini (baca ttg Al-Hamra, label Spanyol), dimana kami nyanyi tembang Jawa di sudut selatan benua Spanyol.
Coba sekarang hitung yang masih survive mainan apa saja? Kalau saja anak sekarang mau susah kayak jaman ibu dulu.. toysR us bakal lari dari Indonesia....

Gajah Kompak di Taman Safari (2005)

Moga-moga pengunjung gang jambu nggak ada yang ketularan gadis satu ini, yang sampai kelas V SD kalau pergi-pergi maunya dipangku ibunya didepan. Bahkan paling ekstrem, waktu keliling Jawa hampir 10 hari, full menikmati sofa natural pangkuan ibunya. Berkali-kali ayah ingetin: "Nda, mbok duduk sendiri kasihan ibu...". Si gadis cuma merespon seperti angin lalu, dan kakaknya dibelakang ya heppy, karena dia menikmati jokbelakang leluasa sendiri. Di gambar ini kalau kelihatan cemberut nangis, tebak kenapa? Ini gara-gara ayahnya ngeledek pura-pura tidak menjalankan mobil saat binatang mengerumun di taman Safari.

Ini atraksi akrobat binatang yang lumayan fun. Aneka binatang unjuk kebolehan. Kalau kita cermat melihat jadwal, kita bisa ikuti paket show dari atraksi gajah, harimau-singa, lumba-lumba, anjing laut, multi binatang dan koboy show juga.

Tak terhitung berapa kali dua bocah ini merayu kesini, karena Vikra terutama suka sekali binatang. Safari malam juga mengasikkan, kita bisa melihat binatang liar berlaga pada malam hari dan lebih hidup. Mata singa tajam kesorot cahaya mobil jadi lebih serem, plus atraksi lampu-lampu kermis/toyland bergabung dengan dinginnya lereng gunung seru juga.

Gajah aja bisa diajari sekolah.. hebat ya. Pelatihnya perempuan-perempuan pemberani. Gajah-gajah ini diajari duduk berbaris, berdiri dengan satu kaki, saling bertumpu seperti rantai, memberi hormat, dll. Asiknya sambil nonton atraksi kita akan diberi pengetahuan ttg seluk beluk binatang tersebut, dari makanan, gaya hidup, habitat dan cara konservasinya. Buat edukasi anak boleh lah...Selain itu kalau kearah puncak, biasanya kita sekalian menginap semalam buat hirup udara segar, menikmati ronde di puncak dan esoknya makan di warung Sunda Ciawi yang sedap itu. Ini kenangan foto-foto lama th 2005.

Recycle - Small Art at Home

Keluarga gang jambu memang perlu belajar lagi untuk merecycle sampah seperti keluarga teman lain yang disiplin sekali memisahkan sampah organik dan non-organik. Kami belum disiplin sekali soal ini, perlu belajar! belajar! Tetapi ada budaya kecil-kecil yang kami terapkan, misalnya stereo foam selalu kami cuci ulang untuk bisa dipakai lagi dan lagi (sampai ditertawakan PRT, awalnya dikira pelit). Misalnya untuk mengirim makanan ke tetangga atau untuk tempat wadah benda kering, atau memberi makan binatang. Lalu botol-botol juga kami organisir dikasih pemuda kampung buat diuangkan untuk kas masjid atau desa. Sampah yang bisa dibakar dan dikomposkan kadang kami buat (tetapi belakangan pengelolaan sampah oleh pemuda kampung, jadi sampah diambil banyak-banyak untuk menguruk legokan yang dalam katanya. Mestinya kami mulai bisa intervensi untuk kebijakan kampung ini, selama ini kami memastikan jangan dibuang disungai.
Sampah-sampah yang kira-kira bisa kami daur ulang menjadi karya seni selalu kami kumpulkan. Misalnya:
1. Kok badminton bisa dipakai lampion seperti gambar diatas



2. Kaleng-kaleng juga bisa disulap, tinggal dipilog (cat semprot), sudah bisa jadi asbak, tempat pernik, dll. Bahkan kepikir waktu kemarin ke IKEA, kaleng begini dijajar banyak-banyak diatas papan, lalu diberi tutup bisa untuk tempat bumbu. Wah, ide menarik...tapi masangnya miring lho ya...kalau masang telentang sudah biasa. Atau kalau malas bikin tutup, bisa buat tempat foto...dijejer banyak...cantik. Atau bisa juga wadah koleksi aneka bumbu/rempah dari jaman kuno atu berbagai negara... jadi puluhan! Asik kan bisa jadi museum bumbu juga (tapi makan kaleng emang jarang sihh... tidak sehat kan?). Oh ya... kalau untuk wadah satuan, badan luar bisa dihias macam-macam... yang digambar ini asal-asalan.. tebak apa? itu karet gelang!! tetap dipasang atau diangkat setelah disemprot jadinya cantik kayak guratan lukisan.Atau bisa ditempel kertas yang bersketsa saat disemprot, dan dilepas setelahnya juga cantik... Silahkan berkreatif ria deh..

3. Botol kaca kecil minuman (kratingdeng,C1000) kami pakai untuk lentera/lampu kecil kalau pas ngumpul-ngumpul dijejer pinggir kolam atau pagar rumah..lumayan bikin romantis (tapi selama minyak susah...jarang lagi kami pakai)
4. Botol besar kami pakai untuk pot bunga hydroponic (harusnya banyak..tapi baru beberapa biji taruh tembok depan jendela Vinda..tidak berlanjut. Padahal kalau dijejer ditembok dengan kembang menjuntai..cantik lho...gak capek nyiram lagi!
Jadi bumi juga tersenyum...karena tidak kembung menelan sampah tak terkunyah, tapi juga senang karena dipercantik...

Gambar Nabi Muhammad di museum yang kami kunjungi

Dibawah ini adalah gambar lukisan Nabi Muhammad yang oleh dunia Sunny dilarang, tetapi diluar sana beterbaran karya tulisan dan lukisan menggambarkan Nabi Muhammad. Tentu Nabi Muhammad bukan seperti dalam lukisan itu sendiri, tetapi hanya imagi pemeluknya terhadap sosok Muhammad. Di Algeria, Uzbekistan, Turki, Teheran, dan dibelahan negeri-negeri Eropa lain, sosok (nabi) Muhammad biasa difigurkan. Ini beberapa karya tentang nabi Muhammad yang tersimpan di museum yang pernah kami kunjungi: Metropolitan museum New York kami datangi th 2003, Museum Istana Topkapi Istanbul pada bulan April 2007, dan museum Louvre Paris pada bulan Mei 2007. Tapi gambar ini dengan detail terkaji justeru belakangan, karena banyaknya item koleksi di museum tersebut.Silahkan klik gambar untuk memperbesar.

Penampakan Jibril didepan Muhammad "The Archangel Gabriel appearing to Mohammed. An illustration from a 1594-5 Turkish edition of the Siyer-i-Nabi. In the Louvre Museum, Paris".






Nabi Muhammad diatas buroq: "The Night Journey of Muhammad on His Steed, Buraq; leaf from a copy of the Bustan of Sacdi, dated 1514. From Bukhara, Uzbekistan. In The Metropolitan Museum of Art, New York".



Nabi Muhammad (naik keledai) berpegangan dengan malaikat Jibril. "Mohammed, on a blue donkey, touching hands with the Archangel Gabriel, from the 1595 illustrated edition of the Siyer-i Nebi. Topkapi Palace Museum, Istanbul, Turkey".

Source (picture and english text) from: Mohammed Image Archive, Islamic Depictions of Mohammed in Full @:

http://www.zombietime.com/mohammed_image_archive/islamic_mo_full/ .

Kapan-kapan akan kami tampilkan poster dan postcard nabi Muhammad yang dijual bebas di suatu negara yang pernah dikunjungi oleh salah satu anggota gang jambu (tunggu tanggal mainnya).

Bersama dari benda sederhana

Wiken, waktu kosong, gemes lihat orang ber-jam-jam keasikan didepan TV? Untung ada pemulung profesional salah satu anggota gang jambu. Maksudnya, ada orang yang rajin ngumpulin barang yang kayaknya bisa disulap jadi sesuatu. Ya sudah, sabun bekas yang tinggal kecil atau nggak termanfaatkan ini biasanya kami kumpulin, pas agak banyak, kami bikin lomba berempat, untuk mengkreasi sesuka hati dan asik juga dikerjain rame-rame, sambil nyek-nyekán (ledek-ledekan).


Coba tebak ini karya siapa? Yang merah bertuliskan bismillah itu siapa lagi kalo bukan ayah? Yang bentuk jambu mete? he.. . he...kayaknya bikinnya gampang, tapi mbentuk sabun itu susah juga ya. Ini hasil minimal dari usaha maksimal sodara-sodara. Nah yang asal potong kayak kristal atau keju itu siapa? ceritanya dia mau buat sesuatu, karena patah-patah, nggak sabarnya muncul, langsung potang potong kegemesen sendiri. Ha..ha..prakarya gini memang bagus untuk melatih kesabaran anak ya. Deret paling bawah ada kunci, kelinci, orang...itulah pemenangnya! foto orangnya ada terlihat dalam posting ini. Sabun-sabun itu sekarng kami taruh di kain tissue, kami pakai buat pengharum lemari pakaian (pernah baca tips dari majalah). Rupanya asik juga, tiap buka lemari kecium sabun rasa madu vanilly oleh-oleh tante Lory dari amrik (salah satu yang dipatah-patah berbentuk kristal itu yang paling tajam baunya). Sedap kan?? Jadi sabun bisa juga jadi lem perekat kebersamaan dan pengharum sekaligus.

Tips Travelling Keluarga Gang Jambu 55

Karena banyak komentar seakan trip yang kami lakukan padat, kapan rileks, apa nggak capek, gimana kok 2 malam seperti menyerap pengalaman seminggu? Atau gila banget keliling Eropa hanya 8 hari? Ini kami turunkan tips traveling ala kami untuk educating, relaxing and gathering.

a. Mau kemana dan mau apa? Yang Jelas! Dimulai dari proses partisipatif, masing-masing kita mau kemana dan mau apa? Keluarga gang jambu yang jelas hobi traveling dan eating! Vikra suka binatang dan hal-hal kultural, Vinda suka bau air dan "shoping-shopingan" gitu deh, ibu kehijauan dan suka air juga (tapi bukan laut), kalau ayah, makan dan sport!! Beda kan masing-masing interestnya! Jadi nyaris tiap trip didisain mengakomodasi 4 penjuru mata ingin itu...baik mau yang long trip atau yang short trip wiken sekalipun. Jadi daur atau paket kalau jalan, kita suka nyantai deket air/hijau sambil jalan "biar olah raga" kata ayah. Ayah hobi sepihak nyiapin sepatu sport kita berempat dan kita ber-3 cuma bisa mendelik tapi tak berkutik. Biasanya kalau capek cari maem enak juga nyempatin ritual mampir shoping yang asik. Misalnya di pekalongan kami mampir pasar batik, Jogja Mirota... atau pasar seni/souvenir ditempat yang menarik. Kalau udah gini, Vikra baca buku dan ayah tidur di mobil. Mereka berdua kadang dengan ikhlas dan memelas menahan kesal....he..he... (katanya kami berdua suka llllaaaammmaaa). Misalnya ke kebun teh, kami coba masuk museum/pabriknya, jalan atau naik kuda keliling, ngafe dan cari makan di puncak atau Bogor yang baik. Tapi kalau trip internasioanl kami cenderung fokus. Misalnya ke Italy, Vikra mau tau banyak Michelangelo, ya kita sempetin lama di Vatican dan ke Florence. Ayah mau dokumentasi Andalusia, ya kita seharian di Al-Hamra dan Cordoba. Ke Malaga ya setengah hari dan menginap pilih hotel pinggir pantai, untuk relaxing renang dan flamenco.Vinda mau Eiffel dan Disneyland....ya mariii!!!


b. Baca dan kenali wilayah tujuan: Si Google akan bantu nih! Baca bareng-bareng tempat wisata yang dituju, sejarahnya, apanya yang unik, jarak, realistis tidak waktunya dll. Sampai info harga tiket, jam buka-tutupnya, jarak dengan hotel, dll. Kalau sama sekali tidak sempat buka google, begitu sampai kota tersebut, langsung ke tourist information. Minta brosure, peta dan minta advis misalnya saya punya waktu 4 jam, spot apa yang realistis dikunjungi, transportnya gimana, tiketnya berapa, temapt makan khas yang direcomend apa?. Lalu jangan cuma beli souvenir, beli buku ttg sejarah kota itu untuk bahan pendalaman. Jadi walaupun singkat bisa dilanjut dengan eksplorasi lewat buku. Lagipula buku kan bisa dibaca yang lain juga kalau kita nggak sempat cerita.


New York hotel December 2002, main kartu strwabery dan tebak-tebakan jelang bobo.

c. Hotel just for "sleeping or relaxing"?: Jadwal acara mempengaruhi pilihan hotel. Jangan pilih hotel sebelum tahu acaranya. Tentukan "hotel itu for relaxing atau just for sleeping". Kalau mau banyak relax di hotel untuk nyantai, pilih hotel yang memang ok, ada kolam renangnya, kamar dan fasilitasnya yang asik, resto sekitar hotel yang baik dan dekat. Tapi kalau kita tahu jadwal padat, pilih hotel yang dekat historical/turistic/important places. Misalnya datang malam di kota itu, pilih yang paling dekat, mudah dan fungsional (gak perlu mahal karena hanya numpang tidur). Atau pilih hotel deket airport kalau memang pagi harus ngejar pesawat. Management pemilihan hotel ini membantu saving money dan energy. Bisa juga ambil night trein seperti hotel berjalan, maksudnya pastikan bisa tidur berebah dengan baik dan ngepas dengan jadwal tidur..tahu-tahu pagi sampai kan asik juga.

d. Transportasi yang rasional: Kenali mana yang sesuai kebutuhan. Kalau waktu singkat, harus rela keluarkan transport mahal dikit untuk sewa taksi keliling kota ketimbang kendaraan umum yang menghabiskan waktu untuk nunggu dan habis waktu untuk pelajari sistem transport (kalau di luar negeri). Bisa juga pilih sight seing bus tour, atau kalau punya waktu lama, perbanyak gonta-ganti transport, busway,tram,atau kendaraan lokal yang nggak ada di negara kita. Pilih pesawat jauh hari kalau mau hemat waktu dan biaya, atau kalau punya waktu pilih jalan darat biar bisa lalui banyak tempat. Kalau bawa kendaraan sendiri pastikan semua fit!!
e. Exploring and learning: Masing-masing orang punya tujuan berlibur traveling dengan gaya sendiri-sendiri. Ada yang pilih satu tempat, relax dan explore habis habisan sampai tahu detailnya. Kalau kami, lebih memilih "Kaya pengalaman dan rasa, tetapi hemat waktu tenaga dan biaya). Makanya, membaca sebelum dan sesudah mengunjungi tempat wisata itu menjadi penting, sehingga pas datang ke tempat itu atau museum, kita tinggal mengkonfirmasi "oww..ini toh" atau kita tinggal menghayati saja sejarah dibaliknya. Misalnya Anne Frank museum atau harem Turki atau taman mini...Bandingkan, tahu bahwa taman mini dulu ada karena ide bu Tien dan berheboh ria debat-konflik di media..akan beda dengan datang asal datang ke taman mini!Datang ke Madame Tussoud sekedar lihat boneka lilin, akan beda kalau tahu bahwa dulu awalnya dibuat dengan model penggalan kepala tokoh dan revolusi Perancis. Pastikan bahwa travelling adalah moment untuk relax, learning culture, history, spirituality. Bagus kalau ada masjid bersejarah kita solat disana, lihat gereja kita masuk dan ajak anak hening didalamnya, menghayati sejarah kemanusiaan di reruntuhan Twin tower New York sambil lihat daftar korban. Melihat fresco di eternit Sistine chappel, membayangkan Michelangelo nglukisnya sambil telentang bertahun-tahun...wow...

f. Partisipatif: Seperti tadi sudah dibilang sejak awal lakukan persiapan dengan melibatkan semua pihak. Anak-anak bisa menjadi tim yang hebat lho. Pengalaman kami,ayah ibu biasanya searching hotel, pilih transport, dll (waktu di Amrik.. ayah yang sibuk, waktu di Eropa gantian Ibu). Secara spesifik ayah biasanya mempersiapkan hal-hal dokumentatif, kalau bawa mobil, kita merem ayah yang siapin semua, karena kekar jadi ayah juga seksi pembawa barang berat, cari locker di stasiun, cari tempat makan enak, dan sibuk mendokumentasi selama jalan-jalan. Ibu kebagian hal-hal teknis (lihat peta, info wisata),pembawa dokumen, caring kesehatan keluarga biar fit semua dan bagian timer.Anak-anak terutama Vikra bisa bantu search tujuan wisata, sejarahnya, memfoto, upload dan organisasi foto, tim leader (baca peta-guide audio), pembawa laptop dan yang berurusan sama automatic machine (tiket, minuman dll). Vinda, sie pembawa tripod (ketinggalan beberapa kali), bagian penghafal jalan (mengingatkan stasiun tempat turun terutama kalau naik subway dan cari jalan balik, karena orientasi ruang dia bagus),pembawa snack dan game (kartu,buku atau mainan untuk killing time).

g. Jaga fisik sempatkan relaxing: Bikin jadwal yang tidak menyalahi biological clock kita. Jadi idealnya mulai kegiatan setelah jam 9 pagi, artinya kita cukup tidur, sempat istirahat dengan rileks. Jangan pilih pesawat/transport yang pagi banget, bisa bikin stress dan otomatis kita akan kehilangan seharian itu karena lelah dan loyo. Atau waktunya tidur, jangan paksa melanjutkan perjalanan atau bersenang-senang, karena itu akan merusak hari berikutnya atau mengancam keamanan kalau memaksa nyetir malam. Ibu paling galak memaksa ayah istirahat nyetir, belok ke hotel, biar istirahat dan segar besoknya!! Jangan pernah telat makan, terutama anak-anak kalau telat maem akan gampang marah dan acara liburan jadi kacau. Pastikan sarapan yang bermutu karena akan mengeluarkan energi seharian. Makan makanan yang aman untuk travelling (jangan pedes atau nggak familiar di perut dan lidah untuk pagi dan siang). Nah, sempatkan sore malam untuk rileks (berenang, nonton yang ringan dan menghibur seperti flamenco atau pertunjukan kultural yang gak banyak mengeluarkan energi). Jadi atur jadwal ke museum atau yang banyak energi pas pagi dan siang. Nah malam waktunya explorasi kuliner.Jangan sungkan keluarkan budget untuk makan di resto yang lumayan, atau terkenal karena khas wilayah situ (gak harus yang mewah dan mahal, sesuaikan dengan budget). Biasanya kami minta anak-anak pilih menu yang mereka suka dan kalau bisa yang belum pernah mereka coba. Lalu kami pilih menu yang berbeda dan saling coba..jadi kita bisa ngenali banyak aneka makanan khas situ dalam satu waktu. Incase perut bermasalah, kan handle lebih mudah karena sudah tidak banyak aktifitas. Pilih juga tontonan yang khas, paling terkenal atau melegenda yang jadi icon kota itu. Yang ringan lucu karaokean/lihat live music, ngafe sama temen-temen di wilayah itu, atau cari tempat makan yang unik.


h. Selektif Bawa Barang: Kalau banyak jalan, seringan mungkin bawaan yang dibawa. Kalau kita tidak menginap di kota itu, sampai stasiun/terminal, langsung cari locker penitipan koper, dan bawa yang diperlukan saja. Packing? Kalau winter, jaket luar satu, tapi bawa pakaian dalam/kaos panjang yang ketat,ringan dan hangat agak banyak biar bisa gonta-ganti. Baju tebal longgar dibanding dengan baju ketat nggak masuk udara, efeknya hampir sama. Siapkan snack pengganjal, semacam coklat itu ringan tapi mudah mengenyangkan.Minuman bawa secukupnya, jangan hanya hemat 3000 perak, kita nggotong-nggotong 1 liter yang bikin lelah. Alat killing time juga penting selama diatas kendaraan, seperti buku, kartu,alat music dll. Tapi alat music model ipod, nintendo atau hiburan individual, sejujurnya tidak ideal untuk dibawa trip keluarga, karena mengurangi interaksi,. WOng tujuan jalan itu untuk berasik-asik sekeluarga kan? Atau boleh bawa, tapi hanya dimainkan saat kita sudah puas berinteksi/ngobrol.

i. Tips kecil tapi penting:

- Rumah rapi: Jangan tinggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Karena capek-capek liburan, nyampe rumah disambut rumah berantakan, alamak!! memori jalan-jalan habis dan kesal begitu sampai rumah.

- Makanan tersedia dirumah: Pastikan sampai rumah ada makanan atau sudah makan. Jangan sampai, capek-capek harus keluar lagi cari makanan atau capek masak lagi (asumsikan nggak ada PRT, atau telp PRT sebelum sampai rumah untuk siapkan rumah dan makanan).


- Siapkan jeda 1 hari sebelum kerja: Kalau trip berat, usahakan ada satu hari jeda sebelum memulai aktifitas/kerja, untuk mengistirahatkan fisik dan secara psikis juga nggak merasa "yaaaa.... besok mulai kerja...huhhh!!", pasti langsung suntuk!! Bekas liburan malah hangus!

- Copy dan pisah-pisahkan dokumen-uang: Usahakan copy dokumen dan taruh terpisah, uang juga dipisah-pisah (ada yang di tas, menempel badan). Biasanya ayah ibu selalu jaga-jaga masing-masing bawa copy document, masing-masing bawa cash dan atm. Jadi incase salah satu dokumen atau uang hilang, masih bisa survive.

- Siapkan cash, jangan bersandar pada card/atm saja. Sering ATM atau credit card kita nggak jalan..nah lo!!, Bagusnya siapkan uang cash juga yang bisa untuk survive setidak-tidaknya untuk hotel dan makan ditempat tujuan selama beberapa hari.

- Selipkan identitas yang melekat di anak (misalnya taruh dikantung pakaian mereka), pastikan anak hafal kontak kita dan sepakati meeting point kalau terpisah. Kami tidak pernah mengalami ini, tapi jaga-jaga ada baiknya...
Have a nice trip...