Tampilkan postingan dengan label Wadah keluarga-kerabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wadah keluarga-kerabat. Tampilkan semua postingan

Idul Fitri At Kampung

By : Vikra Alizanovic


Lebaran this year somewhat feels a lot different from the pasts. Probably it was because we hadn’t gone to our hometown for Lebaran in quite a while. This year, we’re going to my grandfather’s in Baturetno, Solo, Central Java, and in Lamongan, East Java.

We were off from Jakarta about a week before the big day. We travel by car. The trip was fine and fun. But having a long trip while fasting is not very easy. Although there is a rule in Islam that says that travellers may choose not to fast during the travel, we choose to keep fasting. Our first destination was to my Uncle Daris in Solo, who is my mom’s younger brother. We only come by to say hello, because we’re gonna see each other again anyway later at my grandpa’s house. After that, we went straight to Baturetno. My grandpa and my step-grandmother was really glad to see us. We stayed there for about 5 days before my other cousins, uncles and aunts all gathered there. My father went to Jakarta first because his holiday hasn’t started yet. He’s coming again one day after Idul Fitri.

On our 2nd day there, we go to Jogja to meet my Uncle Ahsan, my mom’s youngest brother. We stayed there for a night. Uncle Ahsan drives us around. He knows I enjoy eating. That’s why he always managed to take us to great food places. The next day we went to Malioboro. It is a traditional shopping district in Jogja. It usually sells souvenirs, clothes, and stuff. Most are Batik. From Malioboro, we went back to my grandpa’s.

Funnily, at the road, in Wonosari, I was stopped by a police. It was a really bad luck. First, because I haven’t got my driving license yet. The officer claims that I run through a red light. Well, I might have, because the road was empty so I don’t really care if there was even a red light. I let my mom do the talking. Finally, we’re let go. Don’t know how. And then we continue on to my Grandpa’s.

One thing that I love the most about spending Lebaran in my hometown is the meal. The meal is just extraordinary. Opor Ayam, Oseng Tempe, Jangan Lombok, Tongseng. Delicious. While staying in Baturetno, I almost never missed Tarawih pray. Hehehe. And finally, the big day arrives. All my cousins have gathered. In the morning we pray Ied together. After Ied, we shake hands with each other forgiving sins we have made in the past. And then after shaking hand with everyone there, we eat Lebaran meal there. It is rice with fish or tempe or eggs, packeted with banana leaves. It was delightful.


And then when we’re back home, we start ‘sungkeman’. It is a tradition in which we kneel down before our elder and ask for forgiveness. We start from the elder, and on to the younger making a line. Mostly people would cry. Maybe I’m just not that kind of person. -____-

The next day, my dad came. We were all exhausted. Guests are coming like an endless rain, it never stops. Hahaha. But in the night we had a good time. We set up tent in front of the house. We grilled fish and cassava. It was delicious. I enjoy eating grilled fish.



And then the next day we packed and prepared to leave. None of us were excited to leave. I know that everyone still wants to stay. 4 days was just too short. But we all have our own things to do. We had to attend the other family meeting in Lamongan. Om Daris’s family must attend their other family meeting too in Solo, and Om Ahsan’s family must attend their other family meeting in Jakarta. So, we bid farewell to Akung, and off to Lamongan.

Lebaran at Kampung: Picture





Mengenang Pakde- Michael Jackson

Dalam 2 hari ini dapat 2 kabar duka, pertama Michael jackson sang legendaris dan satu lagi pakde Narto seorang manusia biasa (kakak uti almarhumah). Kematian adalah peristiwa natural bagai digit-digit pasti, tetapi banyak hayatan-hayatan hidup yang menarik diserap dari keduanya.

Michael Jackson sangat mengesan dengan perjuangan anti rasisme dia dengan menjadikan tubuhnya sebagai experimen dari hitam ke putih dan dengan radikal dia bilang: "warna kulit bisa dibuat, tetapi kenapa warna manusia harus dibedakan?". Satu ungkapan menariknya lagi bahwa manusia bisa mati tetapi berkarya melalui musik, sang artis tidak pernah mati. Hilang tubuhnya, tetapi karyanya akan abadi sepanjang hayatnya".

Lalu kalau pakde Narto? Sekilas tak ada yang istemewa, tetapi bagi ibu dan keluarga, pakde narto punya keunikan luar biasa. Pakde memang bukan ritualis, beliau bahkan titik tertentu mempraktekkan hal-hal yang secara sosio religious tidak diterima. Tetapi sebagai ayah dan suami pakde cukup serius, putra-putrinya relatif dimapankan, yang pertama sekolah dan kuliah di univ idola, yang kedua jadi pilot, ketiga melanjutkan bisnis keluarga (pemilik bis) salah satu kota di Jateng dan yang keempat wiraswasta.
Pakde adalah manusia tulen Jawa, pencinta wayang, sahabat karib Ki Manteb Oye..dalang terkenal. Kalau ada hajat wayang di Semarang, pakde nyaris yang selalu diminta menjadi "perantara" dan rumah pakde selalu jadi tempat transit sebelum manggung. Sampai-sampai bude tahu makanan kesukaan manteb dan istri-istrinya.salah satunya lele. Saking deketnya dengan Manteb pas reuni keluarga besar trah Hatmopawiro (uyut), ki Manteb sendiri datang untuk ndalang memeriahkan acara keluarga ini sebagai wujud kedekatan dengan pakde.

Pakde bude memang selalu membuka rumahnya untuk sobat dan kerabat2 dari kampung. Paling tidak waktu akung sakit jaman ibu kecil dan juga jaman ibu operasi amandel, rumah pakde selalu jadi transit berminggu-minggu selama opname di Semarang. Karena kebetulan pakde sebagai pejabat di salah satu RS dan dosen di Semarang. Sehingga kami selalu merasa tentrem kalau di handle pakde.
Makanya kalau pulang kampung, uti selalu menyambut pakde sebagai tamu spesial. Siap-siap deh ibu diponggal-panggil: "nduk, pakde rawuh, kamar tamu ditoto sing rijik, seprei ijo bordir dipasang, anduk anyar dicaose pakde (pakde datang, kamar tamu ditata yang rapi, seprei bordir hijau dipasang dan pakde disiapin handuk baru". Setelah mandi sore siap-siap ada tugas lanjutan dari uti: Nduk, mundut sate masak karo sate bakar neng nggone kembar dinggo dahar pakde, matur utusane bu Bardus (Sana beli sate kuah dan sate bakar di warung makan kembar, bilang pesanan bu Bardus)". Sampai sekarang ibu nggak faham kenapa diakhir kalimat kalau order beli ini itu uti selalu harus bilang "ini utusan bu Bardus", mungkin pedagang-pedagang itu terhanyut sama keramahan uti jadi uti yakin akan ditambah sesuatu yang plus.
Saat kecil, hal lain yang mengesan dari pakde, selalu kalau pakde pulang kampung, jelang pulang ke Semarang, pakde mencari ibu untuk disangoni (dikasih uang sayang). Jumlahnya Rp 100-500 rupiah uang kertas baru. Pada masa kecil ibu uang segitu serasa terima uang 50-300 ribu jaman sekarang. Pernah ibu lagi buang air besar, pakde manggil-manggil dan ibu belang "injih pakde, mangke rumiyin", kirain pakde sudah berangkat ke Semarang karena bus Rino sudah beberapa kali mengklakson dan kedengaran sampai Gedawung. Tetapi pas ibu keluar rupanya pakde masih nunggu, hanya untuk salaman, ngusap kepala dan ngasih uang baru 500an. Peristiwa ini mengesan sekali sampai sekarang.
Sampai kami berkeluarga pakde bude juga menganggap kami sebagai anaknya, untuk ikut memikirkan salah satu putra beliau yang perlu diajak diskusi saat dianggap punya masalah. Juga saat putra keduanya mau menikah di Jakarta, nyaris rumah gang jambu mau jadi tempat transit rombongan dari Semarang dan kampung (tapi tidak jadi karena besan menyediakan guest house). Yang jelas pakde 3 tahun melawan sakit pengerasan hati dan 2 hari lalu jam 4 sore pakde diberitakan pergi selamanya. Langsung ibu cabut lagi ke Semarang padahal baru 3 hari balik dari Solo. Kata ayah yang habis sakit: "kalau ayah nggak habis cuti lama, pasti ayah akan berangkat. Kalau sehat, bagusnya berangkat, nanti ayah anterin cari kendaraan". Ya udah, bismillah...rasanya marem/puas bisa datang ke Semarang memberi penghargaan terakhir, paling tidak mewakili uti almarhumah yang selalu penuh bakti pada beliau.

Sugeng tindak pakde...juga untuk Jacko..both of you trully coloring the world.

* Foto dg jacko diatas waktu "ketemu"di Museum Madame Tussoud Amsterdam.

Sunatan Yufa

"mas Vikra, mbak Vinda, pakde, Bude, besok sabtu,19 Juni, Yufa mau dipotong". Ini sms ananda ponakan tersayang Yufa Aqya (putra 1 om daris adik ibu) yang sudah gagah berani merelakan disunat. Foto ini ritual jelang berangkat. Akung memimpin doá dengan khusyu.
Ini saat menunggu di RS Yarsis Solo. Full team pokoknya. Ada Akung Uti dari ayah Yufa, ada Akung Uti dari mama Yufa. Walaupun dokter Rosalia (uti Yufa dari mama) seorang dokter, tapi motong cucu sendiri pasti ketar-ketir juga. Supporter lain ada Bude Yuni-mbak Vinda, Om Ahsan- tante Laras. Yang paling lucu Aqiev adik Yufa yang penasaran mau lihat kakaknya disunat. Jadi kami yang diluar sibuk mengalihkan perhatiannya. Yang jelas mereka-mereka yang berani masuk ruang sunat ada om Daris dan dokter Daris penyunatnya, Omacan, Akung dan satu-satunya perempuan yg berani masuk cuma mbak Vinda (ikuti ceritanya dan video prosesi sunat Yufa dari tangan mbak Vinda).

Ini bingkisan untuk para tamu. (sstttt...ibu seksi sibuk yang nata-nata bingkisan ini ampe jam 1 mlm...untung tambah pasukan tante Laras, jadi dari jam 20-24 lewat akhirnya beres). Om Daris sibuk yang disain grafis souvenir dan tante Wori yang sibuk dengan isi hantaran dan pernak-perniknya. Moment sunatan begini sekaligus promosi perusahaan baru Om daris dan Tante Wori; amati gelas itu ada tulisan Chika-Chika (Citra Karya mandiri), perusahaan interior dan arsitektur milik dan rintisan mereka sendiri ( karena om Daris dan tante Wori keduanya arsitek, tapi selama ini om Daris jadi direktur perusahaan properti bukan miliknya sendiri). Kamar Yufa dibawah ini contoh hasil karya Chika-Chika untuk membuat istirahat yang disunat jadi nyaman. Tertarik mencoba disain om Daris? Silahkan hubungi : 08179470891


Proses sunat dan kelucuan Yufa, akan ditulis mbak Vinda. Kata dokter, baru pertama kali ada pasien yang lucu dan pintar kayak Yufa...suasana sunat jadi ajang dagelan sambil degdegan.
Begitu baru pulang dari rumah sakit, rupanya ada kabar mengagetkan soal pakde Muchlis yang bikin bude Yuni dan mbak Vinda kalang kabut cari pesawat untuk pulang segera ke Jakarta. Wish everything goes better!

Kunjungilah "SMILE" di Jogja


Pingin belanja sambil tersenyum? Kalau kebetulan tinggal atau sedang mengunjungi Jogja, rasanya tidak afdol kalau tidak menikmati senyum Omacan (om Ahsan om Vikra-Vinda adik bungsu ibu) di Smile. Smile, nama minimarket yang dirintis omacan dengan konsep dekat dengan circle "K", buka 24 jam. Lokasinya di Jl.Boulevard (depan fak Kehutanan UGM, berjejer dengan kawasan wisata gudeg di Jogja bu spt gudeg Hj Ahmad, yu Jum, gudeg yu Narni, bu Narto. Lebih gampang lagi dari MM (Magister Managemen UGM) 100 m ketimur, daerah Jl Selokan Mataram.

Smile baru dibuka 2 hari lalu sama akung tercinta yang khusus dijemput untuk berdoá. Pemberian nama-nya sempat sms-an lucu sama ibu. Ibu kasih ide nama S'mart artinya pintar, tapi juga bisa dibaca semar, punokawan yang gendut kayak empunya dan bijak penuh tawa.Tapi pemiliknya lbh sreg smile, dan ibu ledek; " kalau ditanya akung yang suka hal-hal Islamy (baca bau Arab), gimana? bilang aja diambil dari kata Ismail..itu lebih aman daripada dikasih nama Barokah atau Hidayah" . Wis, apapun namanya, yang penting Smile selalu...

kampung yang dirindu

Akung semakin sepuh. Berbakti paling menyenangkan akung adalah rajin-rajin menengok beliau di kampung Gedawung yang dari waktu ke waktu tak banyak berubah. Ritual rutin pulang kampung juga ziarah ke makam uti dan berlama-lama nyantai bercerita disisi makam seakan uti ada disana, dan seakan mendengarkan dengan senyum. Ini gaya kampung untuk orang kampung, dengan fun ibu akung uti omacan pakai capil (topi petani) yang ibu borong buat dibawa ke jakarta untuk lampu gazebo rencananya.
Di rumah akung akan asik dengerin suara jangkrik dan kodok, asik tidur rame-rame depan TV, asik menyerbu sarapan pagi pecel mbak tumiyem atau nasi kuning mbok Dayat, dan yang paling asik, sampai setua ini, akung selalu mengelus-elus kepala ibu yang bikin hati langsung mak-nyess. Akung setelah stroke banyak istirahat. Kebetulan sudah pensiun. jadi sekarang banyak beraktifitas untuk menggembala umat, mengurusi asosiasi haji dan tak henti berikhlas di Muhammadiyah.

Bude....bude...mana hadiahnya? Begitu teriakan Aqiev ponakan (putra om Daris dan tante Worry) saat ibu nyampe rumahnya di Solo. Kalau mau pulang, Aqiev Yufa juga paling rajin ngingetin '"gajian"dari akung. Istilah gajian ini dulu dari kak Vikra untuk mengistilahkan ämplop sayang"dari akung utinya. Tahun ini Om Daris sama tante Worry mau berangkat haji...wah, keduluan deh ayah ibu....

Dik Bumi 3 Bulan

Dik Bumi, Pinaris Sekar Bumi adalah makhluk terkecil dari cucu akung-uti...putriya Omacan (om Ahsan adik ragil Ibu) dan tante Laras. Besok ultah 3 bulan...ini kado kecil buat dik Bumi dari kak Vikra Vinda bude dan pakde ya..we love you.

1 Month, Jogjakarta 29 Des 08



2 Months (Jakarta, 17 Feb 09)













3 Months (Jakarta, 7 Maret 09)

3 hari ber-Drajad-ria

Di pojok Leiden, sambil berkaca-kaca pak Kusnan yang sudah 30 tahun tahun terdampar di Belanda bilang: "yang paling saya rindu dari Indonesia adalah duduk bercengkerama bersila lesehan dan main ketempat teman-saudara tanpa harus janjian". Memang masyarakat semakin modern semakin banyak belitan janjian dan schedule. Bahkan di Belanda, cucu mau main ke rumah kakek neneknya atau anak ke orang tuanya harus janjian dulu. Pengalaman bertamu dengan spontan ini persis terjadi beberapa hari lalu, kami kedatangan pakde Tafif (kakak tertua ayah) dengan istri dan 2 anaknya dari Drajad Lamongan tanpa kabar sebelumnya. Dan tahu-tahu sudah sampai di Ciputat minta dijemput. " Bu, bener pakde Tafif datang tanpa ngasih tahu dulu?. Untung pas kita lagi di rumah", begitu Vikra keheranan dapat surprise kedatangan pakde-budenya dan sepupu-sepupunya.

Seperti biasa, sudah pasti oleh-oleh khas Lamongan membuat suasana gang Jambu jadi beraroma Derajad. Ada iwak pe (ikan asap), sego jagung (nasi jagung) lengkap dengan terasi untuk sambal koreknya bikin makan siang jadi sedap nikmat. Kriuk-kriuk marneng (jagung goreng yang di tabur kacang beberapa gelintir) dan kacang sangrai pasir juga bikin ayah merasa jadi orang Lamongan lagi :). Kalau ibu sibuk milihin kacangnya yang bikin ayah keki, "lho kok kacangnya habis? Ini seni makan marneng, tahu-tahu nemu kacang kan asik...".

Pakde Tafif Adurrahman Spd, bude Dra.Ir Chaeriyah, mbak Renda Septin RR (3 SMP), mas Widan (TK B), sayang mas Dwiki dan mbak Citra kedua anaknya yang lain tidak ikut. Bude Ir selama di gang jambu sibuk manjain masak aneka masakan Lamongan sesuai order. Ada cumi oseng, asem-asem Patin, daging lapis, dll...Beginilah nasib tamu gangjambu..siapapun yang punya keahlian masak yang ngangenin, selalu dimonggokan untuk ber-atraksi menjajal resepnya. Jadi siap-siap...banyak sudah korbannya!! Kalau pakde sibuk membuat cahaya matahari, alias memapras tanaman belakang yang sudah terlalu rimbun..makacih pakde!


Bersama Vikra yangbelum mandi dan ibu yang sudah harum siap-siap mengantar pulang mereka sambil keliling lewat Monas, Istana Negara, Istiqlal, dll. Beberapa hari sebelumnya keliling taman mini, dan anjangsana ke Tangerang tempat keluarga...kasihan sampai mabok!

Saling latihan, yang 3 orang diatas latihan jadi model, yang moto latihan jadi fotografer.

Ini trio pendowo, ayah, pakde dan om Gofar sedang bersantai. Om Gofar adik ayah nomor 2 dari ragil tinggal di gang Jambu. 2 pedowo lain om Aam belum lama ke Jakarta juga dan satu lagi om Yazid di Jogja.

Naris Sekarbhumi Lahir











By : Omacan family (Yasir Ahsani*, Laras Komalasari and Pinaris Sekarbhumi)

doaian ya aku sehat dan cepet gede biar bisa nemenin mbak inda main. aku lahir hari senin, 08 desember 08 pukul 20:00 malem pas idul adha. ayahku kasih nama "Pinaris Sekarbhumi" artinya " putri yang dikodratkan/digariskan tuhan untuk menjadi mahkota/bunga di jagad/ bhumi". awalnya mau dikasih nama depan "Chandani" tapi gak jadi, akhirnya pake kata pinaris dari bahasa jawa kawi.Ayahku jg nyediain nama laki-laki, karena belum ada kepastian aku lahir cewek ato cowok. kata ayahku kalo aku lahir laki-laki namanya "Cakrabhumi Herjendrajeningrat" artinya "senjata yang memusnahkan kebiadaban di bhumi" ayah ibuku seneng banget, ayahku tiap hari sial-siul terus, nyanyi2 ngalor ngidul padahal suaranya jelek nganggu aku bobok aja. bude,pakde lotis,mas pika,mbak inda ditunggu ya maennya ke jogja..

* Omacan/Yasir Ahsani adik ibu paling kecil.

Buat yang mau kasih ucapan silahkan klik komentar dibawah ini. Ini ucapan-ucapan kami:

Bunis (Bude manis Yuni ch): Panggilannya Pinar atau Naris atau Nais/Ness nih?? Bude mau panggil Naris atau Nais aja deh... Selamat bergabung meramaikan cucu cucu akung uti ya... Pasti uti disana bahagia banget tambah cucu dan pasti menjaga dik Naris dengan kasih sayangnya. Dan pasti klau uti ada 40 hari akan ditungguin terus,dimandiin, ditemenin bobo malam2. Gak usah sedih nggak ditungguin akung uti ya..mas Vikra juga nggak sempat ditungguin keburu gak sabar ingin cilukba lahir. Sehat, cerdas, putih hati dan budi ya nak...

Mas Vikra: semoga nggak mirip bapaknya (omacan), nggak mirip embaknya (vinda), nggak mirip budenya (Ibu), jadi anak yang baik, berbakti pada mas Vikra. Kok namanya pake Bumi, kesannya keras..omacan mau kalau gede jadi jegger kayak Vinda?

Pakde Lutis (Muchlis, paggilan ponakan tercinta sebelum fasih mengeja): Seneng jenenge...PInaris pasti cah'e uayu, uapik. Nek oleh usul, pakde luwih milik diwalik dadi Sekar Pinaris. Rasah nganggo Bhumi.

Mbak Inda (Vinda): Slmt Ya Om..Cie..Pny ank baru..Namanya direvisi lg dong , biar bgs...hehehe.

Furniture Warisan Leluhur : Memori masa kecil

Uyut uti Hajjah Sutiyah dan uyut akung Milan Hatmopawiro adalah orang tua yang membesarkan uti sejak bayi dan tinggal didepan rumah ibu di Gedawung. Mereka punya 2 putra biologis : Soenarto (mantan kepala fisiotherapy RS Karyadi-Dosen) dengan putra-putri: Dodi ajiyoso Adi (alumni IPB), Tri Saksono Minursito (Pilot), Budi Riandari (pengusaha bus Ambarawa), Yoyon Dibyo Gunawan (wiraswasta). Lalu putra kedua akung Soenarso dengan putra-putri": Titis Widowati (istri anggota DPRD), Bayu Anjasmoro (guru), Danur Wendo (wiraswasta), Muri Setyawan (?). Sementara uti adalah ponakan yang diambil sejak bayi karena anak perempuan uyut dua-duanya meninggal.



Uyut uti adalah perempuan Jawa yang tangguh, gigih dan kaya untuk ukuran kampung kami. Uyut uti berdagang batik dan juga berlian yang dipesan oleh orang-orang kaya lokal disitu. Uyut uti tidak bisa baca tulis, tetapi cerdas. Silsilah uyut uti dari keturunan lurah-lurah sesepuh kampung itu, bahkan penamaan kampung Gedawung konon dari uyut-uyut sebelumnya. Uyut akung dari keluarga biasa, tapi akhirnya menjadi pelanjut lurah, cukup kharismatik dan penuh skill. Waktu kecil ibu paling sering disuruh beli rokok Kerbau dan akan dihadiahi se sloki anggur kolesom cap orang tua. Jadi ibu sejak kecil sebetulnya sudah peminum...he..he.... Ibu pula yang diwajibin uti mengantar makanan sore setiap hari ke mereka (kami menyebutnya mbah kakung-putri kulon/barat). Lalu ibu pula yang diwajibin bikin teh com-coman (teh tubruk) kalau uyut akung kerumah. Dan sebelnya teh tubruknya yang masuk mulut dibuang gitu aja di lantai yang habis di sapu. Jadi latihan berbakti dengan orang tua, kakek-nenek, tertanam betul dari melayani mereka. Tapi hobi home decorating ibu dengan memanfaatkan bahan seadanya dan kreatif murah tapi bagus, belajar banyak dari uyut akung ini, karena uyut akung hobi nukang dan ibu sering disuruh pegang palu/paku sambil megangi tangga dibawah. Jadi akung bisa buat slerekan gordin dari cincin selang yang dipotong-potong, kayu sisa dibuat kursi cantik, pagar bambu dibuat gonta-ganti. Saat wafat, sehari sebelumnya ibu, ayah, Vikra sempet menengok dengan nafas yang tersengal... tapi alhamdulillah kayaknya lega habis ditengok cucunya, dan pergi.



Benda-benda bersejarah ini dipaket dengan susah payah sama omacan. Bentuk awalnya sudah lusuh tua, rusak sana sini, tetapi sampai di Jakarta kami bawa ke galeri antik untuk dirapikan. Biayanya lumayan, tetapi karena akan menyejarahkan, jadi memang kami niatkan. Bufet ini dulu dipakai untuk tempat TV uyut, tetapi laci-lacinya untuk bahan pertukangan berharga buat uyut akung. Jadi masa kecil ibu lekat sekali dengan bufet ini. Lacak punya lacak, bufet ini dulu dibeli uyut dari sodagar china kaya di Mbatu (Baturetno). Dan memang oleh toko antik dirayu akan dibeli karena kayunya sudah langka, kayu Ambon Sutra. Mau dibeli? No way.... we dont need money... we need our history. Sejarah bufet kecil ini sampe ke tangan ibu, sesaaat setelah uyut uti wafat, akung Narto Semarang beres-beres rumah dan ibu bilang suka bufet itu ke uti. Uti kan manja dan pinter ngrayu sama kakaknya, jadi dibilang, "pakde, niki Yuni ting petringsing senenge aneh-aneh. Niki pingin bufet adah pukul niko lhe pakde.. pareng mboten"( pakde, yuni nih anaknya suka unik neko-neko bin aneh-aneh..pingin bufet tempat palu itu lho pakde, boleh ngak). Akung Narto langsung bilang... yo kono punduten (ya sana, ambil aja dengan santainya). Horrreee...



Kalau peti ini dulu jaman ibu kecil sangat mistis ditaruh dikamar uyut, dekat dengan tombak 2 menempel dinding dan diatasnya sering ditaruh kendi empat mulut dan sesajen lain. Jaman itu uyut belum se-Ialmy sekarang, masih kejawen sekali. Didalam peti ini juga cantik, tempat uti naruh uang buanyak (dari persepsi bocah saat itu) dan perhiasan. Masih ingat waktu kecil uyut uti rajin belikan perhiasan emas tiap lebaran, kadang gelang, kadang anting, dll dan selalu diambil dari situ. Perhiasan uyut uti banyak sekali, peniti, tusuk konde, cincin, gelang, dll semuanya berderet berlian. Jadi image bahwa uyut uti kaya, dan perempuan harus pintar cari uang dengan kerja keras, terajari dari mereka-mereka. Walaupun untuk ukuran rumah jaman sekarang, rumah uyut jelek, tapi pernah pada jamannya, ini rumah tembok pertama dikampung kami, orang ynag punya mobil pertama, dan mereka relatif jadi tumpuan tempat keluarga yang tidak mampu untuk survive. Tapi awal-awalnya peti itu untuk tempat pakaian katanya? lho kok? iya..jaman dulu pakaian orang itu dari karung goni, jadi punya baju satu dua itu barang berharga... oww gitu. Peti ini ibu dapat saat uti masih sehat, ibi minta langsung dan dikasih langsung...



Ini dulunya lemari dapur yang sudah reyot, belakangnya kawat-kawat nyamuk untuk tempat makanan. Jadi kalau menghantarkan makanan, selalu ditaruh disini. Baunya masih ingat dalam memori, penguk...gak enak blas. Dan bayangkan itu untuk tempat makanan. Maklum nenek-nenek. Kalau ingat lemari ini juga inget mbah Niti, pembantu setia uyut yang meninggalpun di rumah uyut sampai tua. Mbah Niti ini sayang banget sama ibu, kalau ibu malas maem sampai dikejar-kejar suruh maem mau didulang (disuap sama yune/pembantu uti), ibu sering lari ke ketiak mbah Niti. Dan mbak Niti akan cari akal biar ibu maem dengan nawarin yang ibu suka. Jaman itu ibu suka nasi krawu (nasi hangat yang dicampur dengan parutan kelapa dan garam. Betapa tidak bergizinya ya... tapi nasi putih jaman itu dikampung ibu hanya dikonsumsi keluarga berada, karena kalau main ketempat temen, selalu maem nasi tiwul bahkan yang hitam sekali dan nasi putih hanya ditaruh segengam untuk campuran). Apapun yang ibu mau maem mbah Niti nuruti membuatkan. Kalau uyut-uyut nyembelih ayam, selalu atinya buat ibu, dan mbak Niti yang sering nyuapin. Mbah Niti juga nurut aja kalau ibu mau kelapa bakar dimakan pake gula jawa.. nggak ngeluh dia nyalain api pawon (masih pake kayu), dan wajahnya seneng kalau sudah siap dan disuapin ke ibu. Sering juga dibuatin tajin, dan ibu lebih seneng ketimbang susu Indomelk dan minyak ikan yang selalu dirayu-rayu untuk disuapkan ke ibu. Ama mbah Niti, kami sering ngobrol didepan pawon. Dan kalau ibu jatuh atau digigit kucing, mbak Niti selalu ambil kayu dan mengebuk-gebuk ke tanah atau kekucing, nyalahin mereka, kenapa tanah kok bisa njatuhin ibu. Ah..lucu, konsep orang Jawa... anak kecil selalu harus super terlindungi dan selalu benar. Ini yang dikritik sama pendidikan Belanda saat itu (di majalah tua di KITLV), bahwa orang tua selalu nyalahin kodok kalau ada anak jatuh.. tapi kok suka ya dibegituin.. rasanya udah sakit, dianggap tak bersalah dan didekap..sakit terasa hilang. Makanya spiritulitas orang Jawa dalam, karena diberlakukan dengan dalam juga. Peristiwa lain yang bikin ibu agak trauma, pernah lihat mbah Niti jatuh dari undakan tangga dapur dan hidungnya berdarah. Padahal ringan saja, tapi ibu girap-girap (ketakutan) antara kasihan dan takut darah.


Balik ke lemari ini buat omacan juga ada memorinya, karena lemarinya jorok, cicak juga rajin singgah. Suatu kali uyut menghantarkan oleh-oleh mie buat omacan (uyut selalu bawa oleh-oleh untuk kami kalau dari pasar atau dari kulakan ke Klewer, bisa ayam, roti semir, roti kacang ijo, dan ati karena ibu susah maem dan ati dipercaya proteinnya bagus). Nah, mie yang dikasih uti tadi pas omacan maem, rupanya ada cicaknya..makanya ampe sekarang omacan suebel banget ama Cicak. Sejarah lemari ini sampai ketangan ibu, ceritanya ama uyut sudah dikasih sama mbak Warni (yang ngasuh ibu waktu kecil), terus pas ibu minta sama uti, seperti biasa uti-akung tahu kalau ibu punya mau artinya "harus dan sak-jet sak nyet, harus saat itu juga". Jelek adat kan? Tapi nggak tahu kenapa mereke pelihara :), barangkali ini energi positif buat mereka bahwa sisi lain dari sifat ini adalah gigih dan tidak menunda pekerjaan. Oleh uti diakalin, mbak Warni ditawarin lemari yang lebih bagus (karena memang lemari diatas sudah juelek banget), dan tentu mbak Warni suka banget. Ama akung lemari diatas dicat biru muda..alahmaakkkk..wong kalau bisa mau dikeep antik, kok malah dicak ki pie to? Makanya proses pengelupasan dan menjadi tampak cantik ini butuh energi sendiri,pake soda api, dll. Untung tukang antiknya jago, dan sengaja dipilih kayu tua untuk belakangnya. Cantik kan?? kalau hitung-hitungan ekonomis, mendingan beli barang baru dengan disain antik, tetapi karena memang niat mau memuseumkan...ya harus mau susah dan mengeluarkan budget extra. Dengan benda-benda tua dirumah ...sejarah manis dengan mereka selalu tersimpan, dan serasa mereka bangga terhargai. Karena kami pakai untuk menyimpan buku-buku penting. Makasih uyut..mbah Niti....



Ini makam mereka saat kami melingkar di makam uti (Misniyati Bardus Syafaát) yang sederhana. Sementara uyut akung uti bersanding dibawah rumah pusara yang dibikin lumayan megah untuk ukuran pusara di makam itu, yang dibangun oleh salah satu pakdenya ibu, lengkap dengan atap, pagar besi, keramik dll. Jadi kalau nyari makam uyut, gampang! cuma ada 2 makam yang bergazebo di makam Belikwatu (terlihat dari jalan besar) , yaitu punya uyut dan punya pak Marmo pemilik bus Ismo konglomerat Baturetno. Ahh... mestinya lebih berfaidah uangnya buat mbetulin atap sekolahan... yang betul-betul akan menjadi "atap" mereka selama berbaring dengan amal jariyahnya.

Akung uti dan pelanjutnya

Foto th 1992 saat pernikahan ayah ibu. Ini silsilah dari keluarga ibu, akung Bardus Sayafaát (1946) menikah dengan uti Misniaty (1951) . Mereka berdua menikah th 1967, dan mempunyai 3 putri-putra: 1. Yuniyanti Chuzaifah (1969) menikah th 1992 dengan Muchlis Ainur Rofik . 2. Daris Fachuddin (1973) menikah dengan Woro Yuliati pada tahun 2000. 3. Yasir Ahsani (1977) menikah th 2007 dengan Laras Komalasari.



Foto ibu, om Daris, omacan tahun 2004 saat liburan bersama di Jogja

Foto 2007 saat ngumpul merawat akung yang sedang sakit. Yang tengah saat ini sedang menyelesaikan S3 di Belanda, suami alumni univ Michigan USA/news produser. Om Daris , arsitek, dipercaya menjadi direktur perusahaan properti Griyatama, istri alumni arsitek juga. Om Ahsan, ekonomi bekerja di perusahaan Ciputra group, koordinator sub region Jateng untuk site aquisisi pro-XL, istri alumni kimia-fisika.

Ini generasi ketiga: Vikra Alizanovic (1993), Vandana Mernisi (1996),
Tsaqief Yufa Aqya (2001), Tsaqiev Yufa Aqilla (2005). Foto diambil saat pernikahan omacan di Solo 2007.


Ini foto lengkap keluarga besar akung uti dan anak-cucu 2 generasi. Foto diambil saat perkawinan omacan 2007 di Serpong. Uti yang dalam foto ini adalah uti penerus (lastri Handayani), menikah dengan akung th 2005, hampir 2 tahun setelah uti wafat.