Furniture Warisan Leluhur : Memori masa kecil

Uyut uti Hajjah Sutiyah dan uyut akung Milan Hatmopawiro adalah orang tua yang membesarkan uti sejak bayi dan tinggal didepan rumah ibu di Gedawung. Mereka punya 2 putra biologis : Soenarto (mantan kepala fisiotherapy RS Karyadi-Dosen) dengan putra-putri: Dodi ajiyoso Adi (alumni IPB), Tri Saksono Minursito (Pilot), Budi Riandari (pengusaha bus Ambarawa), Yoyon Dibyo Gunawan (wiraswasta). Lalu putra kedua akung Soenarso dengan putra-putri": Titis Widowati (istri anggota DPRD), Bayu Anjasmoro (guru), Danur Wendo (wiraswasta), Muri Setyawan (?). Sementara uti adalah ponakan yang diambil sejak bayi karena anak perempuan uyut dua-duanya meninggal.



Uyut uti adalah perempuan Jawa yang tangguh, gigih dan kaya untuk ukuran kampung kami. Uyut uti berdagang batik dan juga berlian yang dipesan oleh orang-orang kaya lokal disitu. Uyut uti tidak bisa baca tulis, tetapi cerdas. Silsilah uyut uti dari keturunan lurah-lurah sesepuh kampung itu, bahkan penamaan kampung Gedawung konon dari uyut-uyut sebelumnya. Uyut akung dari keluarga biasa, tapi akhirnya menjadi pelanjut lurah, cukup kharismatik dan penuh skill. Waktu kecil ibu paling sering disuruh beli rokok Kerbau dan akan dihadiahi se sloki anggur kolesom cap orang tua. Jadi ibu sejak kecil sebetulnya sudah peminum...he..he.... Ibu pula yang diwajibin uti mengantar makanan sore setiap hari ke mereka (kami menyebutnya mbah kakung-putri kulon/barat). Lalu ibu pula yang diwajibin bikin teh com-coman (teh tubruk) kalau uyut akung kerumah. Dan sebelnya teh tubruknya yang masuk mulut dibuang gitu aja di lantai yang habis di sapu. Jadi latihan berbakti dengan orang tua, kakek-nenek, tertanam betul dari melayani mereka. Tapi hobi home decorating ibu dengan memanfaatkan bahan seadanya dan kreatif murah tapi bagus, belajar banyak dari uyut akung ini, karena uyut akung hobi nukang dan ibu sering disuruh pegang palu/paku sambil megangi tangga dibawah. Jadi akung bisa buat slerekan gordin dari cincin selang yang dipotong-potong, kayu sisa dibuat kursi cantik, pagar bambu dibuat gonta-ganti. Saat wafat, sehari sebelumnya ibu, ayah, Vikra sempet menengok dengan nafas yang tersengal... tapi alhamdulillah kayaknya lega habis ditengok cucunya, dan pergi.



Benda-benda bersejarah ini dipaket dengan susah payah sama omacan. Bentuk awalnya sudah lusuh tua, rusak sana sini, tetapi sampai di Jakarta kami bawa ke galeri antik untuk dirapikan. Biayanya lumayan, tetapi karena akan menyejarahkan, jadi memang kami niatkan. Bufet ini dulu dipakai untuk tempat TV uyut, tetapi laci-lacinya untuk bahan pertukangan berharga buat uyut akung. Jadi masa kecil ibu lekat sekali dengan bufet ini. Lacak punya lacak, bufet ini dulu dibeli uyut dari sodagar china kaya di Mbatu (Baturetno). Dan memang oleh toko antik dirayu akan dibeli karena kayunya sudah langka, kayu Ambon Sutra. Mau dibeli? No way.... we dont need money... we need our history. Sejarah bufet kecil ini sampe ke tangan ibu, sesaaat setelah uyut uti wafat, akung Narto Semarang beres-beres rumah dan ibu bilang suka bufet itu ke uti. Uti kan manja dan pinter ngrayu sama kakaknya, jadi dibilang, "pakde, niki Yuni ting petringsing senenge aneh-aneh. Niki pingin bufet adah pukul niko lhe pakde.. pareng mboten"( pakde, yuni nih anaknya suka unik neko-neko bin aneh-aneh..pingin bufet tempat palu itu lho pakde, boleh ngak). Akung Narto langsung bilang... yo kono punduten (ya sana, ambil aja dengan santainya). Horrreee...



Kalau peti ini dulu jaman ibu kecil sangat mistis ditaruh dikamar uyut, dekat dengan tombak 2 menempel dinding dan diatasnya sering ditaruh kendi empat mulut dan sesajen lain. Jaman itu uyut belum se-Ialmy sekarang, masih kejawen sekali. Didalam peti ini juga cantik, tempat uti naruh uang buanyak (dari persepsi bocah saat itu) dan perhiasan. Masih ingat waktu kecil uyut uti rajin belikan perhiasan emas tiap lebaran, kadang gelang, kadang anting, dll dan selalu diambil dari situ. Perhiasan uyut uti banyak sekali, peniti, tusuk konde, cincin, gelang, dll semuanya berderet berlian. Jadi image bahwa uyut uti kaya, dan perempuan harus pintar cari uang dengan kerja keras, terajari dari mereka-mereka. Walaupun untuk ukuran rumah jaman sekarang, rumah uyut jelek, tapi pernah pada jamannya, ini rumah tembok pertama dikampung kami, orang ynag punya mobil pertama, dan mereka relatif jadi tumpuan tempat keluarga yang tidak mampu untuk survive. Tapi awal-awalnya peti itu untuk tempat pakaian katanya? lho kok? iya..jaman dulu pakaian orang itu dari karung goni, jadi punya baju satu dua itu barang berharga... oww gitu. Peti ini ibu dapat saat uti masih sehat, ibi minta langsung dan dikasih langsung...



Ini dulunya lemari dapur yang sudah reyot, belakangnya kawat-kawat nyamuk untuk tempat makanan. Jadi kalau menghantarkan makanan, selalu ditaruh disini. Baunya masih ingat dalam memori, penguk...gak enak blas. Dan bayangkan itu untuk tempat makanan. Maklum nenek-nenek. Kalau ingat lemari ini juga inget mbah Niti, pembantu setia uyut yang meninggalpun di rumah uyut sampai tua. Mbah Niti ini sayang banget sama ibu, kalau ibu malas maem sampai dikejar-kejar suruh maem mau didulang (disuap sama yune/pembantu uti), ibu sering lari ke ketiak mbah Niti. Dan mbak Niti akan cari akal biar ibu maem dengan nawarin yang ibu suka. Jaman itu ibu suka nasi krawu (nasi hangat yang dicampur dengan parutan kelapa dan garam. Betapa tidak bergizinya ya... tapi nasi putih jaman itu dikampung ibu hanya dikonsumsi keluarga berada, karena kalau main ketempat temen, selalu maem nasi tiwul bahkan yang hitam sekali dan nasi putih hanya ditaruh segengam untuk campuran). Apapun yang ibu mau maem mbah Niti nuruti membuatkan. Kalau uyut-uyut nyembelih ayam, selalu atinya buat ibu, dan mbak Niti yang sering nyuapin. Mbah Niti juga nurut aja kalau ibu mau kelapa bakar dimakan pake gula jawa.. nggak ngeluh dia nyalain api pawon (masih pake kayu), dan wajahnya seneng kalau sudah siap dan disuapin ke ibu. Sering juga dibuatin tajin, dan ibu lebih seneng ketimbang susu Indomelk dan minyak ikan yang selalu dirayu-rayu untuk disuapkan ke ibu. Ama mbah Niti, kami sering ngobrol didepan pawon. Dan kalau ibu jatuh atau digigit kucing, mbak Niti selalu ambil kayu dan mengebuk-gebuk ke tanah atau kekucing, nyalahin mereka, kenapa tanah kok bisa njatuhin ibu. Ah..lucu, konsep orang Jawa... anak kecil selalu harus super terlindungi dan selalu benar. Ini yang dikritik sama pendidikan Belanda saat itu (di majalah tua di KITLV), bahwa orang tua selalu nyalahin kodok kalau ada anak jatuh.. tapi kok suka ya dibegituin.. rasanya udah sakit, dianggap tak bersalah dan didekap..sakit terasa hilang. Makanya spiritulitas orang Jawa dalam, karena diberlakukan dengan dalam juga. Peristiwa lain yang bikin ibu agak trauma, pernah lihat mbah Niti jatuh dari undakan tangga dapur dan hidungnya berdarah. Padahal ringan saja, tapi ibu girap-girap (ketakutan) antara kasihan dan takut darah.


Balik ke lemari ini buat omacan juga ada memorinya, karena lemarinya jorok, cicak juga rajin singgah. Suatu kali uyut menghantarkan oleh-oleh mie buat omacan (uyut selalu bawa oleh-oleh untuk kami kalau dari pasar atau dari kulakan ke Klewer, bisa ayam, roti semir, roti kacang ijo, dan ati karena ibu susah maem dan ati dipercaya proteinnya bagus). Nah, mie yang dikasih uti tadi pas omacan maem, rupanya ada cicaknya..makanya ampe sekarang omacan suebel banget ama Cicak. Sejarah lemari ini sampai ketangan ibu, ceritanya ama uyut sudah dikasih sama mbak Warni (yang ngasuh ibu waktu kecil), terus pas ibu minta sama uti, seperti biasa uti-akung tahu kalau ibu punya mau artinya "harus dan sak-jet sak nyet, harus saat itu juga". Jelek adat kan? Tapi nggak tahu kenapa mereke pelihara :), barangkali ini energi positif buat mereka bahwa sisi lain dari sifat ini adalah gigih dan tidak menunda pekerjaan. Oleh uti diakalin, mbak Warni ditawarin lemari yang lebih bagus (karena memang lemari diatas sudah juelek banget), dan tentu mbak Warni suka banget. Ama akung lemari diatas dicat biru muda..alahmaakkkk..wong kalau bisa mau dikeep antik, kok malah dicak ki pie to? Makanya proses pengelupasan dan menjadi tampak cantik ini butuh energi sendiri,pake soda api, dll. Untung tukang antiknya jago, dan sengaja dipilih kayu tua untuk belakangnya. Cantik kan?? kalau hitung-hitungan ekonomis, mendingan beli barang baru dengan disain antik, tetapi karena memang niat mau memuseumkan...ya harus mau susah dan mengeluarkan budget extra. Dengan benda-benda tua dirumah ...sejarah manis dengan mereka selalu tersimpan, dan serasa mereka bangga terhargai. Karena kami pakai untuk menyimpan buku-buku penting. Makasih uyut..mbah Niti....



Ini makam mereka saat kami melingkar di makam uti (Misniyati Bardus SyafaƔt) yang sederhana. Sementara uyut akung uti bersanding dibawah rumah pusara yang dibikin lumayan megah untuk ukuran pusara di makam itu, yang dibangun oleh salah satu pakdenya ibu, lengkap dengan atap, pagar besi, keramik dll. Jadi kalau nyari makam uyut, gampang! cuma ada 2 makam yang bergazebo di makam Belikwatu (terlihat dari jalan besar) , yaitu punya uyut dan punya pak Marmo pemilik bus Ismo konglomerat Baturetno. Ahh... mestinya lebih berfaidah uangnya buat mbetulin atap sekolahan... yang betul-betul akan menjadi "atap" mereka selama berbaring dengan amal jariyahnya.

Tidak ada komentar: