Tampilkan postingan dengan label Pengalaman ke Perancis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman ke Perancis. Tampilkan semua postingan

Eiffel Paris

By Vandana Mernisi




Trocadero/Eiffel Tower Perancis, April 2007

Perancis punya ciri khas menara Eiffel merupakan salah satu keajaiban dunia. Kota ini terkenal sebagai pusat mode terbesar. Oleh sebab itu Negara ini juga terkenal dengan perancang busananya. Prancis dikenal sebagai negara penghasil anggur terbesar ke 2 didunia.

(Note ibu: Bahasanya kok resmi banget? tumben? he..he..rupanya cuplikan tugas sekolah).

Disneyland Paris





Telinga Tuhan di Notre-Dame Paris

Paris, 22 April 2007
Tidak hanya orang Islam yang punya kepercayaan kalau kita haji dan memanggil orang-orang di Mekah, maka yang disebut akan datang. Persis! Tahun 2000 ibu pernah diundang sama KBRI Perancis untuk ngisi acara oleh komunitas Indonesia dan malamnya panel sama Gito Rollies untuk ngisi pengajian di KBRI Paris (Tulisan ini dibuat karena terpantik berita semalam Gito Rollies wafat).
Disela-sela waktu, ibu diajak keliling kota yang masuk 5 kota paling romantis sedunia ini. Oleh panitia, salah satunya ibu diajak ke Notre-dame, kathedral gothic yang pernah jadi setting buku cerita : Si Bongkok Dari Notredame karya Victor Hugo(waktu Vikra 5 tahun kita punya buku ini). Lalu didepan gereja itu ada kepercayaan kalau kita taruh foto dan memanggil orang-orang yang kita cintai untuk datang, pasti suatu kali terwujud. Ibu nggak mau rasional, langsung foto keluarga ibu taruh sambil punya keyakinan suatu saat pasti ayah, Vikra Vinda akan sampai sini. Dan tahun 2007...doa itu terkabul. Kami sekeluarga bisa ziarah kultural kenegeri Napoleon ini. Terimakasih Tuhan....Dikau ada dimanapun, dihalaman gerejapun, telingaMu lebar terpancang. Ibu menengadah sambil membiarkan musisi jalanan jazz latin itu berlaga, sesekali ekor mata ini melirik Vikra yang tubuh hingga giginya ikut ritmik berirama. (leiden, 29 Feb 07)

Menatap Monalisa di Louvre Paris

Paris, 13 April 2007

Karena kepastian cuti ayah tak kunjung pasti, sementara tiket ke Paris dengan kereta cepat Thalist sudah ditangan, terpaksa Viva dan Ibu berangkat duluan dan menjemput ayah keesokan harinya di Gare du Nord Paris. Kami menginap di rumah sobat baik om Alexandre Caeiro (orang portugis) dan tante Immanuelle (orang Perancis) dengan satu puteranya Ilyas. Mereka tinggal di Rue le Bruin 75013 Paris.
Agak seru juga ketemu ayah yang sudah 3 bulan berjauhan sendiri di Indonesia, sementara istri dan anak-anaknya di Belanda. Agak kurus..tapi segera hingar bingar si precil-precil berebut perhatian.

Ayah yang banyak kelililing di Timur tengah merasa exited dengan keunikan Eropa. Jadi sibuk menshooting sepanjang jalan. Kalau di tanya, asik mana yah? "semua kota punya keunikan masing-masing". Untung pagi itu museum Louvre tempat menyimpan lukisan karya Leonardo Davinci yang membuat penasaran dunia, tidak banyak antrian. Biasanya bisa puluhan atau ratusan meter. Tiket masuk 7,5 euro dan anak-anak dibawah 16 tahun gratis. Disitu sempat ketemu kawan lama, tokoh perempuan Indonesia.
Pintu masuk museum seperti pyramid kaca yang dikelilingi istana, fountain dan kolam indah. Koleksi Louvre sungguh kaya, sehingga setelah muter-muter dan kakak Vikra yang jadi guidenya rajin lihat peta, akhirnya baru ketemu koleksi lukisan karya dari Italy ini. Lukisan Monalisa terpampang disitu, digantung ditengah ruangan diatas dinding kaca dan dipagar tali agar pengunjung menjarak 1 meter. Vinda langsung komentar: "bu, kirain Vinda lukisan Monalisa besar". Ya..ternyata lukisannya kecil sekitar 60 X 40 cm. Kami berlama-lama disana sampai puas menikmati senyumnya yang memancing debat, apakah Monalisa riil manusia atau imaginasi Davinci. Ayah dengan mental jurnalisnya nekad menshooting sembunyi-sembunyi, padahal sudah jelas tertulis dilarang memfoto dan merekam dalam bentuk apapun. Dengan santainya ayah bilang: "Prinsip wartawan, apapun sebelum dilarang berarti boleh". Nah lo!!

Leiden, 29 feb 07

Yunich1@yahoo.com