Tampilkan postingan dengan label Trip Indonesia:Culture-Nature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trip Indonesia:Culture-Nature. Tampilkan semua postingan

Holiday around Mudik, 2009

1.(day 1): Depart from Jakarta with whole fam.
2. Om Daris’s home, hunting favorit food, Serabi Notosuman (Solo pancake with delicate coconut milk), thengkleng but not available, sayur Lombok RM mbok Sayem. Arrived at Akung place almost maghrib.
3. Visit Om Ahsan’s house and brings ayah back to Jakarta via Jogja, Ifthar (buka) with oxtail soup and enjoy alun-alun with ronde (ginger tea with topping), playing glitter kite (kitiran nyala) and ATV car.


4. Super fast shopping at traditional shopping area of Malioboro, explore/sight seeing at Kota gede to antique hotel and silver factory. Afterward back to Baturetno.

5.Explore own dried garden (look empty, but rich of plants. We STILL have some exotic tropical fruits; banana, papaya, srikaya, pineapple. Abundant of coconuts, unique potatoes (gembili uwi), cassava, garut (something like maizena), peanuts (cashew nuts/monkey nuts), koro, benguk, gode, petai China (not available at the western garden).

6. Going to Mulur Sukoharjo for Akunng uti's traditional healing. Reunion with Adithya Jelantik (Vikra old friend since kindergarden, has been 10 years apart, since they moved to Solo. His father is a director of Jamu factory,Gujati 59). Ifthar/dinner break with nasi kucing at Ngadirojo.
7. Making and decorating parcels for poor people, teachers, neighbors and older families. Make over akung house for Idul Fitri.
8. Distributing parcel to ex mom’s teachers (pak Bunyamin, bu Isnartin, pak Mohadi, pak Sarman, bu Narti, pak Rukiyanto), dhuafa’ (poor people).
9. Idul Fitri, praying, forgiveness ritual, visit Uti (grand’s mom) cemetery, received endless guest, visits older relatives.
10. Pick up ayah, breakfirst at Nasi kuning waroeng Giriwoyo, received endless guests, camping at Akung yard and barbeque (fish from own pool and grilled cassava from the garden). Read part 2: Mudik @ Lamongan.

Mudik at Lamongan.

Part 2 (continuation of Holiday around Mudik 2009)

11. Depart to Lamongan (ayah’s hometown in East java), lunch with sour soup at Bojonegoro, preparing fruits parcel for relatives in Lamongan. Transit at soto lontong Karang-geneng.

12. Reunion with big family of Bani Kholil (grand pa of ayah), wonderful!! Already 150 heirs. Playing @ river side of Bengawan Solo. Visit ayah's step mother.


13. Bringing om Gofar to Hospital, the kids hiking to the mountain close by and visit mbah bu-mbah kung cemetery, enjoy bude Ir’s food, informal re-union with ibu’s friends from pabelan (Baroroh,Aisah,Luluk). Bulik Tien’s delivered a baby girl, we provide a name: Havelda Fitriana.










14. Explore Surabaya city, try lontong kupang (kerang mini/baby shell) and lontong balap, Crossing Suramadu hanging bridge (longest brigde in Asia connecting 2 airlands Surabaya and Madura), explore Bangkalan, Madura ireland, crossing the sea by Ferry. Visit Lapindo mud at Sidoarjo. Dinner with Sembilang fish (only cached by fishing way at coral seashore), back to Drajad for 2 hours nap.

15. Back to Jakarta @ 12 midnight, transit at Kudus tower mosque, Mosque of Demak and its cemetery/museum, lunch and rest at Pekalongan, Shopping and Setono batik market Pekalongan, back home arrived 2 am.

Go green holiday

Liburan..yuppy!! Saatnya hasil kerja keras anak-anak berpeluh habis test kenaikan kelas dihargai. Walaupun raport kenaikan kelas kali ini unik, Vikra dpt ranking 3 dan lolos ke IPA tp nilai sedikit tak bergerak dari sebelumnya, sementara Vinda turun ranking tapi nilai naik yg bikin kami bersyukur karena memang belajarnya terlihat serius. "Hasil ulangan uraian matematika Vinda dpt 100 bu, gak tahu entar di rapotnya". Vinda awalnya terlihat kecewa tdk masuk rangking yg dia targetkan, tapi kami selalu bilang: "Tak apa, prestasi adalah ketika capaian hari in lebih baik dari hari kemarin". Karena memang SMP1 ini sangat kompetitif, belum lama thn 2008 dapat ISO 2000 terbaik ke 3 nasional. Pas di cek dg raport temannya yang dpt rangking diatasnya,perbedaaanya cuma hitungan digit koma. Wis gak apa-apa, Apapun hasil kalian, ayah ibu bersyukur dan senang.

Lupakan sejenak sekolah. Liburan telah tiba, ayah tak bisa cuti. Jadi dicicil setiap weekend, dan pd hari-hari biasa anak-anak berliburan dg teman, maklum sudah mulai remaja, jadi berlibur dengan teman juga mengasikkan buat mereka. Walaupun nggak bisa liburan lama, tapi asik juga dilakukan tiap minggu.

Ini liburan "go green"kami, dan seperti biasa kami penyuka alam.

Week 1: Pulang kampung sungkem akung-sunatan Yufa.


Week 2: Berkuda-tracking-teawalk-fun gathering dg keluarga kawan2 dekat di gunung mas Puncak. Ada om Fauni-tante Neng, Om Ace tante Ita cerah, pancar dan Bara, ada om merhan tante Mega dan Putra. Seru. Dari berkuda, tracking kebun teh, main layang-layang, naik mobil ATV, lunch bareng di resto ayam Cianjur. Seru asik.

Week 3: Main ke hutan (cari dan bikin cincau) dan berpantai Carita ria di banten dengan keluarga om Ipung-bude ikun. Kebetulan mereka sekalian syukuran sembelih kerbau, karena kak putri insya Allah mau berangkat sekolah ke Amrik. Sukses ye...btw, cincaunya uenak.


Week 4: Exploring junggle, Hiking gunung Pangrango-camping Halimun dan culinary trip Sukabumi
Ini alur "/jadwal liburan ke Sukabumi kemarin (tadinya mau rame-rame geng Formaci tp pada tidak jadi).
Jumat :
berangkat dan lunch di resto bu Bunut . Exploring camping ground-hill-river of Cinumpang . Breathing at Situ Gunung junggle and lake. Dinner with Durian Surabi and Sekoteng Singapore at Jl. A.Yani Sukabumi. Relax at hotel (playing card and chatting)

Sabtu: Breakfirst at Bubur Bunut (jl. Suryakencana). Hiking at Pangrango mountain. Tracking to Cibeurem waterfall. Lunch with grilled corn at Halimun valley. Camping at side river of camping Ground Halimun . River bath (brrr duingin). Dinner and enjoy the best Bandrek BP at Suryakencana.


Nantikan tulisan masing-masing ttg liburan ini.

Liburan, asyiiiikkkk!!!

Ini di rumah akung yang hijau

By : Vandana Mernisi (tugas sekolah)

Liburan kemarin, saya banyak mengunjungi ke berbagai tempat seperti, Bandung, Solo (rumah kakek saya) serta keJogja (rumah paman saya).

Saya menginap di Bandung salama 3 hari… saya menginap di hotel Papandayan. Di Bandung, saya sempat mengunjungi Kawah Putih yang berada di Ciwidey. Setelah dari kawah itu, tak jauh dari sana banyak perkebunan strawberry, dan kami pun memetik sendiri buah strawberry itu.

Malamnya, kami pergi ke factory outlet. Maklum, Bandung kan terkenal dgn FO2nya itu. Setelah 3 hari kami meluangkan waktu di Bandung, kami bergegas pergi ke Solo.

Disana, kami menginap di rumah kakek saya bersama dengan sepupu-sepupu saya. Wah.. jadi ramai deh… hahaha.. maklum sepupu-sepupu saya masih kecil.

Besoknya, saya pergi ke kotanya SBY, Pacitan yang tak jauh dari sana. Disana saya mampir ke Pantai Telengria, ombaknya besar, jadi saya menyewa papan surfing.. wah.. asiikkk!! Saya terbawa ombak.. hehehe… Setelah dari sana, saya ke Goa Gong.. katanya sih goa itu adalah goa terbesar se-Asia.. wah saya makin penasaran. Ternyata benar apa yang orang bilang, memang goa itu besar sekali, yang paling mengesankan adalah stalagtit dan stalagmitnya..

Setelah dari Solo, saya pergi kerumah paman saya, sebenarnya tujuan utamanya adalah karena istri paman saya baru saja melahirkan anak perempuan, tapi sekalian liburan saja.. hehehe.. di Jogja saya mengunjungi berbagai tempat, yaitu dari alun-alun sampai gunung merapi tepatnya di “Ulen Sentalu” museum. Di museum itu berisi tentang sejarah kerajaan-kerajaan serta sejarah museum itu berdiri. Lalu ke Sogan Village, tempat belajar batik dan aneka permainan jaman bahala, seperti egrang. Juga maen sampan getek waktu makan siang.Malamnya nonton konser piano Ananda Sukarlan di Taman Budaya Jogja. Wah intinya liburan kali ini sangat mengesankan.. ^_^

By:
Vandana mernisi
7.4/32

Jawa Tengah Selatan nan Elok



Cieeee...

Tapi bener. Sebagai warga Jawa Timur, kite akui Jawa Tengah bagian Selatan, terutama wilayah dari perbatasan Pacitan sampai Yogya, memang berubah.

Baturetno hanya satu atau dua jam perjalanan ke Pacitan, atau Gunung Kidul. Tapi, setiap kali pulang kampung, kita jarang memilih mengeksplorasi jalur ini. Yang terbayang, hutan, sepi, jalan jelek, dll.

Dari Baturetno, kampung ci-ibu, ke Lamongan, biasanya kita lewat Solo. Atau sekali-kali lewat Purwantoro-Ponorogo. Lewat Pacitan? Tidak pernah.

Sekarang, entah kapan dibangunnya, jalur Batu ke Pacitan, atau Pacitan ke Gunung Kidul, hingga ke Yogya, bener-bener mulus. Kawasan Randu Alas, jalur menanjak, berliku, dan dulunya serem, kini lapang, mulus, dan elok. Melewati jalur yang hanya beberapa kilometer dari arah Giriwoyo ke arah Punung-Pacitan ini, serasa berada di kawasan Puncak. Cieee..

Perjalanan keluarga Gang Jambu akhir Desember kemarin, terasa semakin nyaman karena semua tampak hijau. Dari beberapa titik bukit yang kita lalui, kita juga bisa menikmati pandangan waduk Gajah Mungkur.

Dari Punung ke barat, melewati Wonosari hingga Yogyakarta, pemandangan tak kalah menarik. Anda akan melalui jalur pegunungan yang elok betul. Gunung, lebih tepatnya bukit-bukit kecil di kanan kiri jalan, berbentuk setengah bola, menjadi panorama indah yang sulit ditemukan di daerah lain.

Dari jalur ini, keluarga Gang Jambu akhir Desember lalu, menikmati banyak tempat wisata eksotis: main ombak di Pantai Teleng Ria-Pacitan; menelusuri lorong-lorong indah Gua Tabuhan, dan menikmati indahnya koleksi ikan hias nelayan pantai Kukup dan Drini..

Sayang, nafsu ingin mencicipi belalang goreng atau bakar di jalur Wonosari-Gunung Kidul, tidak kesampaian.. (ayah)

Nb ci-ibu: Cieee...pengakuan jujur!! biasanya pertarungan memperebutkan siapa yang paling adiluhung anatara Jateng dan jatim tak pernah usai..."nyek-nyek'an /ledek-ledekan dimulai dari membandingkan jalan-jalan jateng -jatim. Nyebelinnya jalan-jalan jateng cenderung jelek-jelek, dan pas border Jatim, selalu provokatif, jalan dibuat extrem aspal hitam mulus. Kali ini pas jalan desember ini, Jateng nunjukin gengsinya!! jalan-jalan mulus buanget!! dan pengakuan orang Jatim terjadi!! Makanya rela-relain nyiapin segelas kopi buat pengakuan ini.... :)

Greatest Cave of Indonesia: Gua Gong





By Vandana Mernisi (tapi kali ini yang ngetik asistennya, karena pundaknya lagi pegel)

Picture : Ci-ibu

Pertama kali masuk gua banyak yang jualan kerajinan batu marmer, ada yang bentuk telor, vas bunga, sendok,ulekan..wah pokoke banyakkk. Pertama kali masuk, bagus lho...banyak stalagtit-stalagmit warnanya nggak kayak batu, tapi warna putih, tapi wujudnya mirip batu kapur, tapi permukaanya mirip marmer halus. Airnya seger, dingin, bening, enak banget..uadhemmm seggerrr banget. Dibawahnya ada sungai, disampingnya ada batu-batu. Disitu ada tukang foto langsung jadi, padahal bahaya banget. Tempatnya lembab..pengaaapppp banget. Udah pengap begitu ibu masih sempet-sempetnya minta foto. Tapi disana banyak kipas angin gede.
Disana banyak ruangan, ada ruang kristal, lupa..cuma inget satu. Tapi menurut Vinda, sama aja semuanya..kerrreennn!! Ada yang bentuknya kayak kue tart, kayak lampu kristal mahal yang dijual di BSD samping bu Suharti, tau kan??
>

Tapi lampu sorotnya nyebelin, warna-warni, kayaknya dianggap remeh, padahal itu bukan rekreasi anak-anak, jadi pakai warna kuning aja udah bagus.
Banyak juga coretan tip-ex, nyebelin. Padahal udah ada peraturannya, nggak boleh nyoret-nyoret, jaga kebersihan, nggak boleh meditasi, kencing sembarangan. Tapi yang nyebelin, karena banyak tetesan air jalanan jadi licin, iiihhhhh sebbelllll.
Waktu disitu, vinda beli telor batu marmer, trus Yufa juga mau ngikutin..

New Year Trip 3: Pantai, enak dijepret tapi....

Pantai Drini Jogja, Des 08

Pantai Kukup Jogja, Des 08

Pantai Teleng ria, Pacitan Des 08

Ibu punya hobi baru 5 bulan terakhir ini, yaitu motret. Pokoknya apa aja dijepret. Ini 3 jepretan di 3 pantai yang kami kunjungi saat New year family trip 09. Lumayan kan?? Semua pantainya masih remaja, belum ngetop, tapi cantik-cantik. Viva dan ayahnya, om Daris family menikmati banget pantai-pantai ini. Ibu sibuk nemenin akung di bibir pantai karena memang ingin mengajak akung refresing, sayangnya fisik akung memang tidak sebugar dulu sebelum stroke. Jadi kami meng-emiemi(care and protectif)dengan akung, satu-satunya orang tua/kakek kami karena ketiga kakek nenek kami sudah tiada.

Balik cerita ttg berpantai ria, disela teriakan happy mereka main ombak, ibu nggak kalah teriak juga, ini komentar ayah kalau habis renang:

"Puas...puas. Puas main ombak. Puas bikin ibu teriak! hehehe..".

Iya emang ibu teriak over khawatir kalau melihat mereka main ombak yang menurut ibu hampir ketengah. Ibu trauma lihat ombak karena pernah lihat orang kalap hanyut ditelan ombak di Parangtritis persis didepan mata ibu. Apalagi sejak kecil uti selalu membangun image bahwa laut itu mistis, jadi tiap kali ke laut pesennya sederet, yang dilarang pakai baju biru-ijolah, yang nggak boleh nyentuh air ombak lah..yang ini itulah.. Tapi yang menyebalkan, nggak ayah nggak anak-anak, bukannya mengempati dan nurutin teriakan khwatir ibu, tapi malah ketawa ngeledek.... jadi buat ibu bukan pantai Telengria tapi "Mentelengria (melotot-Jawa). Uhh pantai..enak dijepret tapi bikin puyeng..tapi mau dikata apa....bocah dan ayahnya nggak punya urat takut, susah,susah!!

New year Trip 2: Cari Pongpong di Pantai Selatan



By: Vandana Mernisi

Beberapa hri yg lalu sblm ke pantai drini Jogja aqiv adik sepupuku, sempet rewel mau dibliin "pompong" vinda mikir "apaan sih pompong?? maksudnya kepompong???" hahahah.. adaada ajah mo kepompong.. ap bgs-ny cba???
nah.. pas lgi perjalanan ke yogya dri baturetno kta sempet mampir ke pantai Kukup dan Drini.. vinda sempet bli kacamata lohhh!! murahh cma 15.000-an hahaha.. itu jg hasil nawar.. sepanjang jalan menuju pantai Kukup banyak bgt yg jual udang.. waaah pesta udang nih.. hahaha.. akhirnya kta makan di pantai, makan nasi oseng pke krupuk bayam, udang, pke es klapa muda.. wuiiihh.. mantaaabb!!! hahahah... abis makan aqiv rewel lagi mo dibliin pompong.. nah saat itu jg akhirnya vinda tw klo ternyata pompong itu keong.. wahhh klo tw gtu vinda jg mo belllii.. hahahaha... yufa ama aqiv beli banyakk bgt.. klo vinda sih cma 2... eh, jgn slh.. akung jg bli lohh...!!!
gak jauh dri stu ada pantai yang ombaknya gak bgitu gede dibandingkan pantai td.. jd kta renang dehh wahh seneng... hahahah..
abis itu ciaaauuu ke yogya deh gak sbr pgn ngeliat adik sepupuku yang baru lahir anak Omacan-tante laras, namanya WRESTI PINARIS SEKAR BUMI...

New Year Trip 1: How I Spend My New Year

By Vikra Alizanovic


Celebrating this year’s New Year’s Eve, we celebrate it in Jogja. At the 31st of December, we explore Jogja’s recreation place. We go to Ullen Sentalu Museum, the museum of Javanese traditional arts, which we will explain to you in another article. Then, we go to lunch at Boyong Kalegan, and to some other places. At the evening, we go to a Tourism Village, called Sogan Village, Desa Rejondani Ngaglik. At night, we decided to spend New Year’s Eve at my uncle’s neighborhood, roasting corn and grill fish.

But, my arrogant and selfish sister wanted to go to alun-alun. In there, there is a wide field which in the middle of the field stands 2 big beringin trees. The distance between those 2 trees aren’t far. It’s only about 10 meters or so. There is a local belief, which if you can manage to walk past between those 2 trees with your eyes closed; it means that you have a pure soul and good luck. Although it was only around 7 pm or so, the traffic is already jammed badly. Finally, we decided to turn back over and head back home. On the way back home, my mom still questioning my sister whether or not is she okay with this, because she was the one who asked to go there in the first place. I said to my mom, “Mom, don’t push it. Even if she really wanted to, what can you do? Didn’t you see the traffic?? ”. My mom spoiled my sister too much. Moreover, after that, my sister slept at the car until we came home.

After we arrived at my uncle’s house, all the neighbors were already gathering in one of their neighbor house. We joined them. It wasn’t that bad. It was quite pleasant, actually. They prepared barbeque, grilled fish, corn, some light drinks, ginger ale, and karaoke. I really enjoyed the food. I wanted to eat more but my mom told me to hold my appetite, since this is other people’s party, and we are just a mere guest. It was only me & my parents. My sister was already asleep. After some fish and some ginger ale, I was full. At around 10 o’clock, I was already sleepy so I went back to the house and sleep. In my sleep, I can hear the voice of people singing, which was quite annoying. Moreover, then, I hear my dad and my mom singing which is totally disturbing. A total racket. But, I was finally slept. A while later, I can hear a little voice of people counting down. I’m too tired to get up and celebrate, so I continue sleeping. The next morning, I wake up at around 8 am. I feel a little sad and disappointed for missing the party last night. But then I thought, there are still many years to come….

Community Research di Cibolang: Hidup Mandiri di Rumah Pak Agus

By Vikra ALizanovic






Pada waktu yang lalu, dari tanggal 4 hingga 7 Oktober 2008, aku bersama teman-teman se-angkatan disekolahku mengikuti acara Community Research ke Cibolang, Desa Kertawangi, Kec. Cisarua. Acara ini bertujuan untuk mengasah kemandirian para siswa. Disini, para siswa dibagi menjadi berbagai kelompok, dan ditempatkan di rumah para penduduk yang ditunjuk menjadi orang tua asuh.
Kami adalah kelompok 6, yang bernama Univ. Cendrawasih. Nama semua kelompok diambil dari berbagai nama Universitas yang berada di sekeliling Indonesia, seperti Univ. Gajah Mada, Univ. Mulawarman, dsb. Di setiap kegiatan ini dipilih sebuah nama Angkatan, ketua Angkatan, Yel-yel Angkatan, dll. Nama Angkatan kami yaitu Adi Widya Bayangkara. Nama angkatan diambil dari bahasa Sansekerta atau bahasa Jawa kuno. Nama angkatan dipilih oleh Ketua Angkatan, yang sebelumnya telah dipilih dari setiap ketua kelompok yang ada. Untungnya, dan juga sekaligus sialnya, ketua kelompok kami, yaitu Vikra, terpilih menjadi Ketua Angkatan Umum.
Untungnya, karena itu menjadi kebanggaan sendiri bagi kami. Sialnya, kelompok yang berisikan Ketua Angkatan selalu menjadi kelompok yang dijadikan incaran para guru dan kakak-kakak OSIS sebagai bahan gemblengan, panutan, serta untuk diusili. Sebab, ketua angkatan harus selalu menjadi panutan bagi teman-temannya.
Kelompok kami ditempatkan di rumah Pak Agus. Beliau seorang petani. Beliau adalah Kepala keluarga. Beliau adalah seorang suami, seorang bapak dari 3 anak dan seorang kakek dari 1 cucu. Istrinya bernama ibu Komalah. Mereka berdua adalah orang yang sangat penyayang, penyabar. Pada saat kami tinggal disana, mereka berdua benar-benar memperlakukan kami layaknya anak-anak mereka sendiri.
Pada hari pertama, bis kami tiba di tempat wisata Little Farmers di Cisarua, Bandung. Karena Cibolang merupakan desa yang cukup terpencil di kaki Gunung Burangrang, hingga tidak memungkinkan bagi bis kami untuk masuk hingga ke desanya. Dari sana, kami harus berjalan kaki menuju desa Cibolang. Kami berjalan cukup jauh. Karena daerah sana merupakan daerah pegunungan, jalannya tentunya pun mengikuti struktur tanahnya. Jarak tempuhnya sekitar 2-3 kilometer.
Sesampainya disana, kami mengadakan apel/upacara pembukaan. Disana, kami dikenalkan pada Pak Agus, orang tua asuh kami, yang akan kami tempati rumahnya untuk beberapa hari kedepan. Kesan pertama yang kami dapat, adalah bahwa Pak Agus adalah orang yang sangat ramah dan penyayang. Beliau sudah berumur kurang lebih 58 tahun. Selesainya upacara, kami langsung dipandu menuju ke rumah pak Agus. Rumah Pak Agus menurut kami lumayan. Tidak terlalu sempit, tidak terlalu luas. Kebetulan, kelompok kami merupakan kelompok yang paling banyak anggotanya, yaitu 11 orang.
Untuk kesan hari pertama, cukup melelahkan dan menyenangkan. Disini kami dididik untuk disiplin. Kami diwajibkan untuk selalu datang ke setiap kegiatan sebelum kegiatan itu dimulai. Untuk shalat Subuh & Maghrib, kami diwajibkan untuk selalu datang ke Masjid disana untuk pergi shalat. Kami hanya punya waktu luang di saat makan siang, sarapan, makan malam, serta beberapa jam tiap harinya untuk pencarian data tugas PKD ( Peduli Kehidupan Desa) dan PDP ( Pengambilan Data Penelitian). Kelompok kami mendapat PDP bertemakan ‘Proses Reboisasi di Desa’.
Malamnya, kami diberi tugas untuk membuat dan menjaga Fendel secara bergiliran. Fendel adalah Tongkat kami yang dipasang dan saling menopang 1 sama lain sehingga tidak jatuh ke tanah. Bila Fendel kuat, maka tongkat tengah yang jadi tumpuan semakin berat untuk ditarik dan bila dijatuhkan tetap kuat berdiri. Tiap malam kami buat jadwal jaga bergilir. Jam 22.00 hingga pukul 00.00, yang jaga adalah para wanita. Dari jam 00.00 hingga 02.00, yang jaga adalah para cowok. Dan dari jam 02.00 hingga 04.00, kami semua harus tidur, dan sebelum jam 04.00, kami semua harus bangun lagi untuk shalat berjam’ah di masjid.
Waktu untuk MCK dan bersih-bersih umumnya selalu kami gunakan untuk istirahat, menyiapkan pensi, dan kultum. Sebab karena mungkin tidak biasa, kami terkadang selalu kelelahan. Ada juga saat dimana kami melakukan penjelajahan, yang merupakan salah satu inti dari acara ini, yang membuat kami benar-benar capek. Kami semua melakukan penjelajahan pada hari ke-3, dari pukul 6 pagi, hingga jam 3 sore. Tiap kelompok diberikan tugas dan amanat dari tiap pos ke pos lain.
Penjelajahan adalah bagian yang paling menantang dari semua program Community Research ini. Kelompok kami, kelompok 6, mendapat giliran paling terakhir. Setiap kelompok dipisah jeda selama 15 menit atau bahkan lebih. Di tengah-tengah penjelajahan juga ada bagian pelumpuran. Kami disuruh untuk merangkak dan berguling di atas Lumpur untuk merasakan apa yang dirasakan para petani di sawah. Setelah itu, kami berjalan naik-turun gunung sejauh kira-kira 8 km atau 18 km. Dimana, di pos terakhir, kami ditujukan ke air terjun. Di air terjun itu, kami ditanyakan berbagai tugas yang telah diberikan kepada kami saat penjelajahan. Disana kami juga disuruh duduk dibawah air terjun sambil bernyanyi lagu wajib nasional sekerasnya. Saya pikir tujuannya adalah membangkitkan rasa cinta kami terhadap tanah air. Kami juga sekaligus membersihkan diri kami dari lumpur tadi.
Setelah melewati semua itu, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Cibolang. Perjalanan balik tidak separah perjalanan yang tadi. Kami memotong jalan melewati bagian lain gunung. Namun, akhirnya kami sampai juga di desa Cibolang. Jadwal menegaskan bahwa acara penjelajahan berlangsung hingga jam 1 siang, namun kelompok saya, yang sampai paling terakhir, sampai pada jam 3 sore. Dimana, seharusnya pada jam 3 itu seharusnya kami pergi ke masjid untuk shalat ashar berjama’ah. Namun, tidak ada satu pun orang di masjid. Bahkan OSIS dan guru pun tidak ada yang muncul. Akhirnya, sore itu kami mengabaikan jadwal dan istirahat hingga maghrib. Malamnya, kami melaksanakan Pensi dan mengadakan acara api unggun hingga jam 00.00 malam.
Di acara api unggun itu, Pak Prawidi, selaku kepala sekolah, Kak Arya, selaku ketua OSIS, serta saya, Vikra, sebagai ketua angkatan umum, dipanggil kedepan untuk menyalakan api unggun secara simbolis serta memberikan kesan & pesan. Untuk bagian Pak Prawidi dan Kak Arya, kesan & pesan mereka cukup jelas & lancar. Saya tak mengira saya juga akan dimintai untuk bicara, sebab tak ada yang memberi tahukan soal ini terhadap saya. Jelas saya gugup. Di pidato saya, saya gemetaran sebab udara dingin yang menusuk. Sialnya, getaran dalam suara saya dikira sebagai tangisan haru oleh teman-teman saya. Jelas saya malu, namun saya mengatakan apa yang ada di hati saya. Acara terus berlanjut. Kami bernyanyi bersama-sama kakak-kakak OSIS.
Selesainya acara, kami semua langsung menuju ke rumah untuk tidur. Malam itu kami tidak harus membuat Fendel. Namun, sebagian kelompok saya belum tidur hingga jam 02.00, karena harus membuat konsep kultum untuk sholat subuh nanti. Saya kira kelompok kami, kelompok 6 adalah kelompok yang paling gila. Pertama, kami adalah kelompok yang paling sering datang telat ke setiap acara. Kami juga kelompok yang paling sering kena masalah dengan OSIS. Dan juga, kami adalah 1 dari 2 kelompok yang masih menyimpan pita hitam (tanda keburukan yang diberi oleh kakak OSIS) hingga akhir. Kami hanya mendapat 5-6 pita putih (tanda kebaikan yang diberi oleh kakak OSIS) dan sekitar 4-5 pita biru (tanda keburukan yang sudah ditebus dengan hukuman yang diberi oleh kakak OSIS). Kami tidak mendapatkan satupun pita emas(1 pita emas nilainya sama dengan 10 pita putih).
Esoknya, jam 7 kami sudah akan pulang. Kami berpamit dan berbagi kenang-kenangan dengan Pak Agus dan keluarganya. Kami merasa sangat sedih untuk meninggalkan Cibolang. Saya berjanji kepada Pak Agus tahun depan atau kapanpun bisa, saya akan berkunjung kesini lagi. Sebelum pulang, kami mengadakan apel penutupan. Setelah apel, diumumkanlah pemenang berbagai kompetisi lomba. Kelompok saya mendapatkan banyak kemenangan. Seperti; juara 2 lomba masak, juara 2 lomba PKD, juara 2 lomba PDP, dan juga peserta terbaik putri berasal dari kelompok kami. Untuk itu, kami mendapatkan 4 pita emas. Saya berpikir juga sebaiknya pita hitam tak usah ditebus. Biar dapat semua warna, pikir saya.
Setelah itu, kami meninggalkan Cibolang. Pengalaman ini adalah pengalaman yang sangat berarti untuk kami semua. Di bus, nyaris semua dari kami tertidur kelelahan. Kami semua merasa senang telah lulus kegiatan Community Research dan bisa kembali ke rumah….

Jalan-Jalan di Garut

By : Vandana Mernisi

Liburan kenaikan kelas kemarin vinda ke garut., vinda nginep dirumahnya om Janur.. hari pertama kita kesana kita disambut dengan masakan istrinya om janur vinda lupa namanya siapa tapi masakanya enak.. kita dimasakin udang saus tiram, ayam kecap, mie goring, ikan gurame gede bgt!!! Katanya sih ikan guramenya langsung ditangkep dari kolem belakang rumahnya., tapi vinda gak peduli yang penting enak.
Abis makan, kita berenang di kolam renang Sabda alam. Sebenarnya sih itu cuma kolem renang aja. Tapi disana ada hotelnya.
Tapi yang vinda gak suka, disana dikolem renangnya ada lumutnya jadi pas kita nyebur permukaan kolemnya licin… abis renang vinda mandi kamar bilasnya ruame…. Bgt!!! Jadi daripada lama vinda mandi di kamar mandi pojokan yang letaknya jauhh.. bgt. Untuk kekamar mandinya harus ngelewatin kolem arus yang udah lumutan alias gak kepake… pokoknya serem dehh…..

(tambahan dari ibu: hari berikutnya pagi-pagi cari bubur Ayam pak Sofyan, terus mampir ke ayahnya tante Meira (sobat di Leiden, kakak oneng Rieke Diah Pitaloka). Ayah mereka ramah dan ngobrol asik walaupun cuma sebentar. Pulangnya beliau nitip dodol garut untuk keluarga mbak Meira di Leiden. Eh Vikra Vinda juga nggak ketinggalan dibawain. Habis itu puter-puter lihat industri dodol Garut dan nggak ketinggalan mampir ke centra industri kerajinan kulit. Lihat tuh 2 koboy kita lagi nyoba produk keren dari Garut ini.

Trip "nekad" Bali-Lombok

Pura Besakih Bali, Juli 1998.

Ini cerita suatu keluarga muda yang nekad, hobi travelling dan jalan dengan modal bismillah. Kenapa begini? Trip ini bukan yang direncana, karena niatnya cuma pulang kampung, lalu kepikir jalan ke Bali-Lombok....dan jalan gitu aja! Jadi waktu liburan di Solo diperpendek, pamit ke Lamongan dan tidak pamit mau ke Bali lombok sama akung uti,. Seperti biasa, akung nelp ke mbah Kung, kok katanya belum sampai? mereka panik dan bingung, karena jaman itu belum ada HP, sampai-sampai mereka mau laporan ke polisi segala. Kenekadan kedua, kami pakai mobil super tua tapi kokoh, Corolla 73, itu mobil pertama kami. Kabayang kan mobil tua kita diajak keliling Bali-Lombok, muter hampir seluruh pelosok-pelosoknya. Mobil sempat ngadat, wiper nggak jalan.. tapi ya santai aja...

This picture taken from google images

Ngaben ritual (religious cultural festifal for Balinese cremation body) Selama di Bali, selain eksplorasi banyak tempat, kami dapat moment mahal, yaitu upacara ngaben Raja Bali. Jadi arak-arakan berkilo-kilo festifal jelang pembakaran, umbul-umbul dan keranda susun menjulang cantik digotong, lalu juga melihat bedanya antara kasta Brahma dan Sudra, karena banyak yang menumpang ngaben sekalian. Rupanya, kasta Sudra atau orang nggak mampu, dikubur sementara sampai terkumpul uang atau ikut numpang ngaben orang-orang kasta kaya. Kami sempat mampir ke rumah bu Gedong Oke, petinggi spiritual Hindu dan terlihat aktif di gerakan NGO. Juga keluarga kak Zainal, sobat sekampung ayah di Gontor. Ini tradisi trip kami, bukan sekedar jalan-jalan, tapi juga menyempatkan kangen-kangenan dengan karib-karib kami.

Sangeh monkey forest. Ini Sangeh, hutan penuh monyet di Bali, lihat expresi Viva, antara penasaran dan takut. Kami pegang anting, katanya sering mereka tarik...ayah yang paling banyak dikerubung.... Anak kami jadi tambah banyak...he..he...Selain tempat ini dan Besakih, kami juga ke Kute, Klungkung, gua Gajah, gua Lawa, sekitar Nusa dua, Kintamani, Tanah Lot nunggu sunset, pasar seni Sukawati, Ubud, Bedugul dll. Vikra Vinda sempat difoto polaroid di Tanah Lot, seakan mengapung diatas ombak, lalu sepupunya di kampung terheran-heran, "dik Vikra dik Vinda nggak tengelam tah?". Oh ya, kami sempat ada satu malam yang sulit cari tempat menginap, karena lagi pick season..jadi akhirnya dapat kamar melati yang juelek banget. Waktu ibu di Pabelan pernah juga trip ke Bali sama tante Mis, lalu th 2007 Vikra-Vinda pernah diajak keluarga om Ipung berlibur. Kalau yang urusan kantor, ayah ibu pernah juga.





Senggigi beach, Lombok West Nusa. Ini pantai Senggigi Lombok. Kami juga keliling Lombok, ke istana tua dengan sumber air (lupa namanya), ke pantai-pantai), menginap di hotel ....sambil nyenengin Vikra Vinda renang.




Tapi setelah trip keliling itu, waktu kami nanya anak-anak? Tempat mana yang paling berkesan? Coba tebak jawaban mereka. "Kintamani" kata Vikra. Wah..asik, nggak rugi juga mobil nanjak meraung-raung... "kenapa kak"? Dijawab dengan antusias "Ketemu anjing lucu". Alamakkk...padahal anjing itu anjing liar yang kami temuin di Kintamani waktu istirahat. Jadi catatan kami, mengajak anak itu memang harus menyesuaikan usia...rupanya indahnya alam, belum tentu asik buat mereka, yang asik adalah yang atraktif, visual dan yang mereka sukai.

Cave Gong (Gua Gong) Pacitan East Java

This cave is located at southern coastal area of East Java, 5 hours by bus from Solo city. Some caves in this area use traditional music instrument names, such " gong , tabuhan". Why? Eventually the traditional Javanese musician perform natural orchestra from those stalagtit and stalagmit as music instruments. The sounds are great, but for sure, the nature sadly whisper to stop....it hurts.. (All picures, taken from google images)

gua gong Pacitan Jatim ini dijamin indah, stalagtit-stalagmit-nya luar biasa. Kita akan saksikan stalagtit-stalagmit yang menjuntai menjatuh luwes seperti gorden sutera, atau untain rambut gadis Kenya. Banyak juga yang menyembul menggapai langit gua seperti akar tua pohon teh yang membonsai kokoh tapi lembut, atau mirip geletakan tentara-tentara Napolean yang kalah berserakan. Jauh dari image bahwa itu semua adalah batu gua. Selain itu ada ruang dengan rongga raksasa, serasa kita di tengah ballroom hotel dengan designer interior yang maha mahir yaitu profesor Robby. Uniknya penamaan gua-gua di daerah ini, termasuk salah satunya gua Tabuhan, menggunakan nama alat music, gong, tabuhan, dll. Ada tradisi bahwa stalagtit-stalagmit ini kalau dipukul bisa menyerupai bunyi musical, dan bahkan di gua tabuhan, sering ada sinden yang nembang diiringi dengan musik alam ini. Secara kultural bagus aja sih, tapi dari perspektif lingkungan, pasti ada masalah. Gua-gua ini konon dahulunya adalah dasar laut.


Yang jelas Lokasi gua gong di Pacitan, pesisir selatan Jatim, berbatas dengan Jateng. Pacitan ini secara geografis bagian dari Jawa Timur, tapi secara sosio-kultural sangat dekat dengan Jateng atau berbudaya Solo. Entah dari bahasa, makanan, langgam kultural dan etika. Seluruh foto-foto ini untuk sementara kami ambil dari google images, karena kami mengunjungi gua ini th 1997, jadi koleksi kami masih pakai foto manual. Vikra masih umur 4 tahun, Vinda 1 tahun, kesana rame-rame ama uyut, uti dan uti Klender juga.


Sayang ya... guanya bagus, tapi pengemasan turismenya payah.... kapan-kapan akan kami posting bagaimana gua biasa di Belgia dan Belanda, bisa menawan karena kemasan.

Suka Mandi Kali

Foto sungai Pancawati Sukabumi 2003


Melihat air bening, segar gemericik...uhh..langsung pingin nyebur mandi. Puncak adalah surga untuk itu. Foto diatas waktu kami mandi di bukit kali Pancawati Sukabumi, sambil gosok-gosokan pakai batu untuk "menurunkan berat badan". Ingat waktu mandi dikali ini Vikra kaget panik: "ibuuu..ibuuu..ada kadal air". Lalu dengan entengnya si adek nyeletuk : "alllah kaak..begitu aja takut, katanya mau jadi peneliti binatang! masak ama kadal air aja teriak-teriak". He..he...sadis kan kalau adiknya komentar?
Sungai-sungai yang pernah kami sambangi untuk mandi di puncak: Kali villanya Dono (warkop), kali Salabintana Sukabumi, kali kebun raya Cipanas, kali lembah Halimun Sukabumi. Mana lagi ya? Nah kalau di kampung ayah, sempat bluron (renang-bahasa kampung ayah) di sungai anak Bengawan Solo. Padahal airnya keruh, tapi ya nekad aja (ibu nggak ikut, jadi seksi sibuk penunggu baju, pemotret, suplier makanan, and seksi teriak-teriak kalau pada bandel ke tengah, heboh sendiri!, tapi mereka ketawa-ketawa aja nyebelin :).


Kali Belikwatu Kampung ibu dan sungai kebun teh Gunungmas Puncak

Misteri Celah 2 Pohon Beringin Alun-Alun Jogja

Jogja, 23 Juni 2008
Ini dua pohon beringin alun alun Jogja tampak siang hari. Perhatikan celah tengah diantara 2 pohon itu, cukup luas kan?
Inilah suasana malam alun-alun. Mistis! Ada permainan tradisional namanya Anginan (kalau tidak salah), dimana kita tutup mata dari jarak 10-20 meter, lalu berusaha jalan masuk menembus celah diantara 2 beringin itu. Bisa ditebak hasilnya? Ayah mau kemana tuh?
Lihat peta hasil langkah-langkah kami. Ayah? Lurus, nabrak kanan kiri dan gagal!. Ibu? Yakin, pasti,lurus tapi melenceng dan gagal maning! Vikra? Belak-belok gak karuan, tapi akhirnya berhasil tembus. VInda? Sama juga belak-belok tapi kok tembus juga ya? Omacan? Sami mawon gagal! Kesimpulan dia: "tambah tuwo kokehan dosa/tambah tua kebanyakan dosa" makanya gak bisa tembus!
Nice idea to bring us here...we close our evening trip by "nyeruput" wedang ronde dibibir alun-alun. Hangat dan nikmat tenan Jogja ini...

yunich1@yahoo.com

Coffee Plantation of Banaran in Salatiga





Ini foto kami saat keliling perkebunan k0pi Banaran. Telaga di latar belakang, adalah telaga rawa pening. Di ujung telaga, view lereng Merbabu juga indah. Sayang gak ketangkep kamera..

Kereta wisata yang dipakek keliling ini aslinya mobil Taft diesel tahun 80-an. Nyaman juga. Sopir yang sekaligus pemandunya, orangnya enak. Tahu gak, berapa honor buruh pemetik kopi di perkebunan ini? Kalau gak salah, cuma Rp 2000 per kg. Jadi, kalau satu buruh --umumnya ibu-ibu-- sehari hanya bisa metik 10 kg, ya cuma dapet Rp 20 ribu.

Kata pemandunya, yang ditanam di perkebunan ini adalah kopi robusta. Ada sih arabica, tapi tanahnya kurang cocok. Produk kopi banaran ini hampir semua di-ekspor. "Paling banyak ke Eropa," kata si pemandu.

"Eropa-nya mana saja," tanya kita.

"Ya Belanda, Perancis, Italia...Australia!"

Hehe..(Australia dah pindah ke Eropa to? Kok gak bilang-bilang?)

Muchlis_ar@yahoo.com