Tampilkan postingan dengan label Lilin Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lilin Kecil. Tampilkan semua postingan

Berlibur ke Rumah Sakit Jiwa (1)

Awalnya agak bergidik saat memasuki lorong-lorong RSJ di salah satu kota, yang terbayang adalah wajah orang gila yang tak terkontrol, menyeramkan dan menyerang. Tangan Vinda mencengkeram erat lengan ibunya dan mukanya pias pucat ketakutan. Ngapain liburan ke RSJ? Disamping kami ingin lebih jauh tahu dunia "gelap" RSJ, mempertebal spiritulitas anak-anak (dan kami sendiri tentunya), juga ingin ketemu direktur RSJ yang kebetulan berkorespondensi dg ayah untuk konsultasi psikiater yang terbaik untuk handle saudara yang selama ini menarik diri bersosialisasi, pendiam dan tidak punya gairah hidup. Rumitnya lagi, dia tidak percaya dg dunia medis dan anti obat farmacits.

Ketika masuk area RS, yang megah dan bersih itu, ayah bertemu dg direkturnya, kami bertiga ingin eksplorasi. Pertama ngobrol dg resepsionis, diceritakan bahwa penghuni RSJ 70 % laki-laki, usia produktif, kebanyakan karena tekanan ekonomi dan hentakan masalah (wah hebat ya perempuan lebih kenyal dan survive). Kami dibolehkan ke karantina, disana pasien yg baru, wajib tinggal disini untuk penenangan. Terlihat masih ada yang mengamuk, ada yang gemetar, ada yang ngoceh soal dangdut, ada yang ngajak kami ngobrol, ada yg pegang kuping melulu dan minta ditiup suaminya dan ada yang meringkuk tak berdaya. Yang jelas, karantina itu untuk mereka yang dianggap belum bisa mengontrol, buat yang agresif, ada yg tangan kakinya diikat dengan kain lembut dengan tempet tidur. Agak serem memang, tapi tidak seseram yang kami bayangkan. Disini keluarga wajib menunggu sampai pasien tenang, biasanya 2 hari. Tapi tergantung pada diagnosa, dimana pasien dan keluarga berulang-ulang ditest dg aneka pertanyaan.

Setelah tenang, pasien dipindah ke ruang perawatan dengan seragam seperti ini dlm gambar ini. Rata-rata kamar berisi (+-) 10-20 orang, tapi juga ada kamar VIP. Sengaja kami masuk ke kamar yang banyak pasiennya terutama dari keluarga miskin. Vinda menyerah memilih menunggu di ruang tamu karena ketakutan. Tapi ibu dan Vikra tetap masuk (walaupun akirnya Vikra keluar nemenin adiknya). Kami dibukakan pintu jeruji masuk bangsal itu, yang menjaga gerbang selain petugas juga pasien-pasien yang sudah dianggap sembuh dan diyakini tidak akan lari. Begitu masuk, kita disambut aneka wajah yang secara obyektif memang banyak yang menyeramkan. Ada yang muka lebam-lebam, kaki bekas pasung, kepala botak bekas luka, muka bengong tak komunikatif, ada yang sibuk sendiri nggak mau diam, ada yang ganteng, ada yg ramah nyebut RT RW rumahnya berulang-ulang seakan kita mau kerumahnya.

Ibu masuk membawakan makanan sekedarnya. Mereka langsung salaman, berebut makanan, ngajak ngobrol, ada juga yg pinjam HP untuk kontak keluarganya. Walaupun sedikit takut, ibu langsung membangun rasa aman dan langsung membuat lingkaran tak sengaja dg mereka. Mereka satu-persatu ibu ajak ngobrol dan mengalirlah cerita-cerita yang diluar dugaan dan mengharukan dibawah ini (baca bag 2: Cerita dibalik tembok RSJ):

Kawan karib Binatang (tentang Vikra)

"Ikan atiii..ikan atiii", sambil jari mungilnya menunjuk ke aquarium di gendongan ayah. tentu ditemani ibu yg berdaster dan pegang-pegang kaki kakak yang mungil lembut. Saat itu usianya dibawah 2 tahun, sangat cepat memahami konsep abstrak, bahkan konsep mati saat ikan-ikan di aquarium itu diam melayang dimainkan gelembung air. Aquarium itu diusung dari rumah om Beng Rawamangun dan ditaruh di taman kecil Sanggar Ayu, yang disulap dari tanah pojok yang semula jadi tumpukan sampah. Dia melihat ikan mati dan juga binatang lain yang mati dengan tatapan lama. Setiap lihat binatang diam tak gerak, selalu jarinya menunjuk sambil bilang atii..atii (mati,mati). Cuilan penting yang tak terlupa tentang concern Vikra pada binatang, saat usia 5 tahun, sempat punya kelinci yang dibeli di Bogor. Adeknya juga punya satu. Di sepanjang jalan saat kami travelling ke wilayah Jabar, kelinci dipegangi, disayang-sayang, diuyel-uyel. Entah stress karena dimobil kelamaan, entah stress dapat overdosis kasih sayang, akhirnya kelinci di pangkuannya tak bisa bertahan. That was the hardest part, to let the rabbit goes flying to heaven. Mengubur sulit, jadi kami cari sungai deras biar proses larungnya cepat. Vikra membopong dengan muka biru berurai airmata, terisak-isak sampai pundak dadanya tersengal-sengal. Dia layangkan dengan lembut kelinci untuk dibawa deras air. Di mobil cukup lama kami mengalihkan perhatian biar sedihnya berkurang pelan-pelan. Kisah lainnya jaman dia kecil dulu, nyaris tiap jelang tidur kerap kami bacakan buku cerita yang mayoritas tentang binatang atau dongengkan sesuai order atau bahkan bacakan buku cerita buatan akung (karton ditempel gambar menarik ditulis tangan). Walau kadang kalau kami mau dongeng diambil alih gantian dia yang cerita, karena memang Vikra suka bertutur, jadi biasanya kami yang jadi pendengar. Tradisi ini membuat dia jadi penutur yang sistematis. Salah satu cerita yang dia kagumi adalah cerita Nabi Nuh, karena heroismenya selamatkan binatang saat banjir, dan mu'jizatnya bisa bicara dengan binatang. Sampai suatu kali saat dia mau kuliah kedokteran hawan, kami tanya alasannya, dia bilang ; "bu, jangan cerita orang, vikra tertarik jd dokter hewan, karena waktu kecil pingin kayak nabi Nuh, bisa bicara dengan binatang". Jadi mau tak mau di rumah kami memang selalu ada pets, terutama kucing. Vikra sering marah kalau ada kucing budukan yang mampir, kita kasari karena saat mau makan lumayan menjijikkan. Kucing piaraan kami paling suka bertengger di badan vikra, atau temani tidur sepanjang malam. Kucing yang dekat dengan dia cenderung lembut friendly yang sering jadi biang manas-manasi adeknya ; " tuh Vin, kucing hasil didikan kakak beda kan? Lebih bla..bla..bla..". Sampai saat kuliah di UGM, dia "pindahkan" kost jadi ke kampus. Alat-alat yang diusung dari rumah, dari 2 gitar, amply, TV, dll diangkut ke kampus untuk centre aktifitas dengan teman-temannya. Sampai suatu kali teman-temannya tak berani cerita, kucing mampir yang akhirnya menjadi sabahat Vikra, suka lendotan, mati tak bersebab jelas. Dikubur oleh kawan-kawannya, dan mereka bersepakat ; "jangan kasih tahu Vikra, nggak tega kita". Penggal-penggal lain obsesi kasih dia dengan binatang berderet, dari bercita-cita mau jadi direktur kebun binatang yang bisa buat spesies baru (terinspirasi dari mengunjungi New York Zoo, dimana dia dipuji seorang tutor Pinguin, bahwa orang Asia hebat, betapa parentnya beruntung, karena dia antusias bertanya. Saat lebih kecil pernah terkesima dg pemberi makan binatang di Ragunan yang smart menjelaskan, dan diapun ingin jadi pemberi makan binatang. Mau tahu cara di ultah? Di kebun binatang juga. Mau tahu saat kuliah dan liburan? Masih ngajak di Taman Safari yang sudah tak terhitung. Saat kuliah semester 3, kampus buat program Banjir Bandang di Jakarta yang terjadi pada 14-15 Januari 2003, dia berangkat dg kawan+ dosennya. Ibu buat 2 status di FB ; "Bbrp hr lalu, Nak nganang minta izin jd relawan kampusnya UGM bwt mitigasi banjir Jkt. Pas sampai,blm nengok rumah,dah minta didrop kendaraan buat tim-nya. Tiap hari tak henti mobile, dari nyetir, angkat logistik, temani PAUD, jd konselor anak-anak, evakuasi hewan dg tim dokter hewan, makan rela telat, sering kuyup bajunya. Weleh..welehh...proud of u, pasti ! (walau was-was dikit). (Dilike oleh 20 kawan ibu). Lalu saat dia usai jadi relawan, pas wiken di sofa kesukaannya, kami ber 3 ngobrol (ayah sedang ke Bogor rapat IJTI, ayah terpilih jadi wakil ketua Umum Ikatan Jurnalis TV Indonesia). Pas cerita mengalir, dia akhiri ; "Sudah bu, sudah bu!" Pinta nak nganang sendu, sambil tutup muka tak ingin lanjutkan obrolan. Dia sedih saat jd relawan banjir Jkt, b'usaha evakuasi binatang, tp yg dia saksikan sudah banyak binatang yg mati, ada yg di kandang terkunci tenggelam, kelaparan, ada yg tertinggal+ditinggal dikalahkan tuk jaga rumah, atau telat tertolong tdk jadi prioritas saat m'ungsi atau evakuasi. (Kami hening bbrp saat)".

Berlibur ke Rumah Sakit Jiwa (1)

Awalnya agak bergidik saat memasuki lorong-lorong RSJ di salah satu kota di Jawa. Yang terbayang adalah wajah orang gila yang tak terkontrol, menyeramkan dan menyerang. Tangan Vinda mencengkeram erat lengan ibunya dan mukanya pias pucat ketakutan. Ngapain liburan ke RSJ? Disamping kami ingin lebih jauh tahu dunia "gelap" RSJ, mempertebal spiritulitas anak-anak (dan kami sendiri tentunya), juga ingin ketemu direktur RSJ yang kebetulan berkorespondensi dg ayah untuk konsultasi cari psikiater yang terbaik untuk handle saudara yang selama ini menarik diri bersosialisasi, pendiam dan tidak punya gairah hidup. Rumitnya lagi, dia tidak percaya dg dunia medis dan anti obat farmacits.

Kami masuk area RS yang megah dan bersih itu, saat ayah bertemu dg direkturnya, kami bertiga ingin eksplorasi. Pertama ngobrol dg resepsionis, diceritakan bahwa penghuni RSJ 70 % laki-laki, usia produktif, kebanyakan karena tekanan ekonomi dan hentakan masalah (wah hebat ya perempuan). Kami dibolehkan ke karantina, disana pasien yg baru, wajib tinggal disini untuk penenangan. Terlihat masih ada yang mengamuk, ada yang gemetar, ada yang ngoceh soal dangdut, ada yang ngajak kami ngobrol, ada yg pegang kuping melulu dan minta ditiup dan ada yang meringkuk tak berdaya. Yang jelas, karantina itu untuk mereka yang dianggap belum bisa mengontrol, ada yg tangan kakinya diikat dengan kain lembut dengan tempet tidur. Agak serem memang, tapi tidak seseram yang kami bayangkan. Disini keluarga wajib menunggu sampai tenang, biasanya 2 hari. Tapi tergantung pada diagnosa, dimana pasien dan keluarga berulang-ulang ditest dg aneka pertanyaan.

Setelah tenang, pasien dipindah ke ruang perawatan dengan seragam seperti dlm gambar ini. Rata-rata kamar berisi (+-) 10-20 orang, tapi juga ada kamar VIP. Sengaja kami masuk ke kamar yang banyak pasiennya terutama dari keluarga miskin. Vinda menyerah memilih menunggu di ruang tamu karena ketakutan. Tapi ibu dan Vikra tetap masuk (walaupun akirnya Vikra keluar nemenin adiknya). Kami dibukakan pintu jeruji masuk bangsal itu, yang menjaga gerbang selain petugas juga pasien-pasien yang sudah dianggap sembuh dan diyakini tidak akan lari. Begitu masuk, kita disambut aneka wajah yang secara obyektif memang banyak yang menyeramkan. Ada yang muka lebam-lebam, kaki bekas pasung, kepala botak bekas luka, muka bengong tak komunikatif, ada yang sibuk sendiri nggak mau diam, ada yang ganteng, ada yg ramah nyebut RT RW rumahnya berulang-ulang seakan kita mau kerumahnya.

Ibu masuk membawakan makanan sekedarnya. Mereka langsung salaman, berebut makanan, ngajak ngobrol, ada juga yg pinjam HP untuk kontak keluarganya. Walaupun sedikit takut, ibu langsung membangun rasa aman dan langsung membuat lingkaran tak sengaja dg mereka. Mereka satu-persatu ibu ajak ngobrol dan mengalirlah cerita-cerita yang diluar dugaan dan mengharukan dibawah ini (baca bag 2: Cerita dibalik tembok RSJ):

Cerita dibalik tembok RSJ (2)

"Mbak, mosok aku gak sholat teraweh sepisan wae dikeroyok sak kampung (masak nggak solat teraweh sekali aja dihajar orang sekampung). Lalu si Anwar (bukan nama sebenarnya) ini, menunjukkan luka-luka bekas pukulan warga di tangan, kakinya, juga mukanya yang bekas diinjak-injak dan terlihat masih legam hitam. Di tangannya ada luka bekas diikat yang ditunjukin seperti anak 4 tahun ngadu ibunya krn habis jatuh. Dia nampak perlu sekali didengar. Dengan pertanyaan meng-empati, ibu terus menggali dg bahasa jawa timuran dan berusaha mendengar khusyu'. "Kok bisa War"?, masak gara-gara gak sholat kamu dipukulin, mesakke banget kamu. Emang kamu lagi ngapain pas mereka datang?". Anwar jawab; "Aku lagi nonton TV mbak, dengerin radio!". "Oo, gitu. Sebelum itu kamu ngapain, kok sampai mereka marah?. Mosok rek gara-gara gak sholat aja orang marah", desak ibu dg nada santai becanda. Kata Anwar: "temenan mbak/sungguh!"katanya bersikukuh. "Kasihan, emangnya kamu biasane rajin ke masjid ya?" tanya ibu banting setir pertanyaan. "Lho mbak, aku tuh muázin, tukang azan, goro-goro aku gak azan, orang sekampung gak teraweh". Ibu hampir kecekik nahan ketawa! tapi ditahan. Akhirnya tetep aja ibu menganggap dia orang normal, jadi ibu ajak ketawa wajar sambil ngeledek. "ya itu War sebab-e!". Petugas bahkan nambahin: "war, crito sama mbaké kon munggah-munggah genteng masjid , manjat kelapa sambil teriak-teriak". Owwww....gamblang sudah akhirnya.

Obrolan direbut sama cowok 37 tahunan yang tambun, wajah memelas dan pake bahasa Jawa timuran dia ngadu: "mbak, awake dewek iki salah opo ya, kok kita dibuang sama sodara-sodara kita disini. Paling banter kita kan cuma ngomong sendiri, gak pernah kita ganggu mereka, gak ngerugiin mereka. Kita disini dibuang mbak, dihukum. Mereka gak mau diganggu, malu sama kita". Lalu ibu elus pundak dia, meyakinkan bahwa itu nggak bener, sodara-sodaranya pasti pingin dia sembuh.

Cowok yang dipojok kelihatan antusias mau ngomong, badannya agak maju pingin didengar. Lalu ibu tanya: sampean krasan tah nang kene?. Langsung spontan dia jawab"aku krasan mbak nang kene". "Lho, ngopo krasan"? tanya ibu dg muka antusias. "mbak, masalahe nak nang omah aku dibelok/dipasung. Nang kene enggak, banyak temennya". Ibu tanya; "udah berapa kali mlebu kene". "wis gak iso diitung mbak" jawabnya jujur.

Sambil ngobrol, memang sesekali ada cowok yang melintas begitu saja sambil ngasih genggaman kertas dilipat, ibu buka dg GR kirain ada tulisan khusus, rupanya cuma bungkus rokok lecek, nggak ada apa-apanya. Lalu ada juga yang masih mungut bungkus teh kotak yang sudah di tong sampah untuk dihisap padahal sudah habis. Lalu ada lagi yang merayu pinjam HP mau ngontak saudaranya minta pulang. Tapi petugas mengerling ke ibu untuk tidak ngasih HP. Ibu antara tidak tega, tapi bilang pulsa habis. Begitu omongan nyinggung soal HP, ada satu lagi juga nitip sms biar dikirim ke saudaranya untuk jemput, pas ibu tanya ke petugasnya dibolehkan, ibu akhirnya sms pas diluar, biar yg sebelumnya tidak tersinggung.


Lalu ada cowok tinggi botak yang kepalanya banyak luka, mendekat. Agak risih, dan takut juga kalau diapain, padahal pintu bangsal terkunci jeruji, dan kita seakan terperangkap didalam dengan puluhan mereka, cowok semua (bangsal cewek terpisah). Tapi cowok ini tidak menyentuh sama sekali (dalam hati, orang yang kita anggap gila aja bisa sopan dan jauh dari sikap melakukan pelecehan seksual). Lalu ibu tanya: "sampean pie critane kok sampe sini?". Dg senyum ikhlas dia cerita "Jarene/kata guruku, seko cilik, SD, aku suka ngajak ngomong sendiri pohon petai Cina". "lho kok iso?". "Embuh mbak, aku suenenggg... prosoku/rasaku pohon iku uapik tenan. Aku juga seneng lihat matahari lama-lama. Yo embuh, opo sebab-e".

Lalu ibu memanggil ngajak gabung cowok guanteng, tengku Wisnu, David Ducovni, Tom Cruise aja kalah. Penasaran banget, karena wajahnya juga tidak mengguratkan dia bermasalah. Kelihatannya pintar, kharismatik dan penuh kontrol. "mrene tah, crito-crito? sini yuk crita-crita. Dah mau pulang tah?". Dia tidak mau cerita, mengambil jarak dan kayaknya mendifinisikan diri sudah sembuh. Lalu pas udah mau pulang ibu sempetin keluar dari barisan pas, khusus mendekat dia ngobrol ngalor ngidul untuk bangun kepercayaan dan akhirnya dia cerita. "aku mrene iku dibuang keluargaku mbak. Habis aku beda pendapat ama sodara-sodaraku. Mereka maksain aku. Aku hampir aja dapat cita-citaku, tapi keluargaku gak setuju. Aku ngamuk". Wis berapa kali mrene? "3 kali". Tapi mosok sih beda pendapat aja sampai dibawa mrene?". Lagi-lagi petugas dg entengnya bilang. "kon mbok crito, ngamuk meh mateni bapakmu/mbok crita kamu ngamuk hampir membunuh bapakmu". Ohh...

Yang jelas, cerita-cerita mereka, bener-bener membuka mata, tentang bagaimana orang sehat ini berkontribusi untuk membuat atau memperparah mereka yang kita anggap gila. Yang mengharukan, petugas-petugas disana dengan penuh sabar dan cintanya menemani mereka, seperti jadi orang tuanya. Kadang mencet hidung mereka kalau ada yang lucu, atau mengingatkan untuk tidak larut ke halusinasi dengan mengalihkan perhatian. Makanan juga relatif baik (seperti dalam gambar ini dg buah, perhari sekitar Rp 30.000, termasuk makan dan asrama, kecuali yang dapat keterangan miskin dan VIP.

Yang menarik, info dari RS, lebaran kali ini semakin sedikit pasien. Padahal dulu-dulu, setiap lebaran penuh pasien dadakan, karena banyak keluarga yang memilih membuang /menitipkan anggota keluarganya karena gengsi saat banyak tamu lebaran, dan diambil seusai lebaran. Tapi sekarang orang mulai sadar, bahwa kunci sembuh orang yang dianggap gila adalah rasa dicinta, bebas tekanan, dan harus dianggap seperti orang normal. RSJ bukan buangan, tapi memang untuk menyembuhkan. Dan konon pemerintah mulai memberi anggaran layak untuk rumah sakit yang selama ini menjadi momok sangkar "hantu". Ahh...liburan yang berbeda, Rumah sakit yang penuh keramahan dengan jiwa-jiwa yang harus direngkuh dan diselamatkan. Sudah saatnya, tidak menstigma mantan pasien RSJ, mereka sama seperti mantan pasien jantung... yang bisa sembuh atau kambuh. Mereka adalah kita juga.

Amrozi: teroris atau dewa?

“Dewek iku isih dulur cung karo amrozi" (kita itu masih sodara nak sama Amrozi). Persisnya sodara semisan sama dia, satu nenek jelas mbahbu Musanah (ibu penerus ayah) ke ayah dan kami-kami saat anjangsana lebaran ini. Sekitar thn 2004 (sebelum mbahbu kandung ayah meninggal), pas Amrozi baru ditangkap, kami berlebaran ke rumah mbak Kunik misanan ayah, lalu mbak Kunik cerita: “Amrozi itu masih misanan kita, dulu dia kerja di bengkelku”. Rupanya kami dianggap punya darah sodara dengan Amrozi. Ini cerita mbahbu Musanah waktu kami pulang kampung, cerita dibalik dan si seputar kematiannya. Kebetulan kampung ayah di Drajad memang tidak jauh dari Tenggulun tempat Amrozi, sekitar 7-8 KM.

“Kuburan Amrozi sekarang udah dipagar, krn nyaris habis diambilin sama pengunjung yang ziarah. Kita kan nggak pingin orang jadi syirik”.

“waktu Amrozi dimakamkan, jalanan penuh sampai Solokuro (5 km), semua teriak Allohu akbar, tapi juga syahdu. Sebelum ada kabar dia meninggal, ada 3 burung datang, dua menclok diatas rumah Amrozi dan satu ke arah barat, lalu ketiganya pergi bareng. Orang langsung pada bilang Allohu akbar. Yang juga luar biasa, saat itu ada awan berbentuk “Allohu akbar”. Tapi pas saya keluar, awannya tinggal sedikit, nggak bisa lihat semua”.

“Amrozi punya anak 2 dari 2 istrinya. Istrinya jualan kue-kue sekarang, dan yang satu stroke. Tapi sekarang udah pulih. Anak yang pertama laki-laki sekitar 23 tahun, yang kedua perempuan sekitar 13 tahun”.

“Saat pemakaman dan berbulan-belum sesudah itu pengunjung pesantren Tenggulun (kakak amrozi) tak henti-henti, bahkan polisi rajin bawa kambing buat tamu-tamu yang datang ke pesantren itu, biar polisi tidak dimusuhi orang-orang situ. Biar orang jelas bahwa yang dimusuhi polisi adalah terorisme-mnya bukan pesantrennya”.
“Semenjak kematian Amrozi, justeru Islam di daerah Tenggulun dan sekitarnya tambah kenceng dan mengeras”.

“Amrozi Muchlas membawa berkah, sejak dia berkasus sampai mati, jalan-jalan menuju ke desa-desa itu dibangun. Karena akar radikalisme adalah kemiskinan, jadi biar orang merasa ada pembangunan”.

Vinda nyeletuk berulang-ulang waktu dengar cerita itu yang intinya, teroros mengebom ,membunuh orang kok dipuja-puja. Lalu dia juga ketawa lihat tingkah orang ambil tanah kuburan kayak Ponari aja katanya. Dia juga nggak faham, apa hubungan burung, awan bertuliskan Allah dg kematian Amrozi. Jadi???
*picture taken from website

Pikiran "nyentil" anak


  • Pas memasuki Jatim dengan jalan yang mulus, Vinda langsung nyeletuk: “lihat jalan di Jatim laen, nggak kayak kampung ibu, dari jaman jebot, jalanan gitu-gitu aja nggak ada yang dibangun”.

  • Saat lewat daerah Bojonegoro, banyak penjual monyet yang diikat dan dikandang kecil-kecil. Vinda langsung ndekat ke ayah: “yah, kita borong semua monyet yuk, habis itu kita lepasin semua”.

  • Pas makan nasi kucing di kampung, Vinda bilang: “coba di jakarta banyak yang jual nasi kucing, anak-anak jalanan nggak ada yg kelaparan, duit seribu udah bisa makan”.

  • Saat mbahbu (nenek dari ayah) cerita Amrozi dengan nada mengelu-elukan (karena masih misanan), Vinda langsung nyeletuk: “kok tukang ngebom gitu dipuji-puji, masak sampai tanah kuburan aja diambil-ambil segala. Ngaco banget”.

  • Lihat tanah gersang dimana-mana, dia dg lirih nyanyi: “what have you done to the world”. Emang kenapa dik? Lihat tuh, tanah pada kering rusak semua.

  • Saat ibu protest budaya “technomania”. Setiap produk HP baru orang pada latah beli, ibu bilang: “ada nggak produk yang nggak bagus, dari dulu ampe sekarang tetap diproduk, kayak tas louis vuitton yang mengandalkan keklasikan dan orang nggak merasa out of date”. Vinda dengan gampangnya bilang, “kalau gitu beli aja terong bu”.

  • Pas lihat berita Miyabi:, Vinda terheran: "kenapa sih MUI kok ikut-ikutan ngurus Miyabi, kayak nggak ada kerjaan aja".

  • Lihat kakaknya habis dibotak (karena jadi panitia Community research sekolahnya) Vinda bilang: "Kakak kayak boneka Matroska (boneka rusia yang beranak pinak, pelontos kepala dan gendut badannya)". Sambil hati-hati takut kakaknya marah.

  • "Vinda kalau SMA nggak mau sekolah negeri lagi. Kapok". Emang kenapa dek? "Habis, sekolah negeri kan harus mempertimbangkan ekonomi lemah, jadi jarang ada kegiatan. Masak setahun cuma sekali kegiatan, itupun ke Cirebon. Udah gitu kalau Osis ada acara, sekolah susah banget keluar uang. Males Vinda".

  • "Ibu mah yang diurus IKPP, angera, IKPP, angera melulu! ". Kata Vinda pas lagi agak ogah-ogahan dirayu ke Bandung (padahal akhirnya suka).

  • Sambil tiduran ibu melapor ke Vikra ttg jalan ke Cinere mall siang tadi; "kak, tadi Vinda beli hal-hal yang sebenernya tidak diperlukan tu kak. Akhirnya Ibu minta Vinda beli dari uang sendiri (mereka mengelola uang jajan bulanan sendiri)". Vinda nggak berkutik senyam-senyum dan pergi. Kakaknya teriak sambil sok serius : "Vinda, pertanggung jawabkan. Kalau ada masalah jangan menghindar...selesaikan!!". Tapi yang bersangkutan tetap meluncur tak menoleh.

  • Saat ada isu gempa, ibu telp ayah buat keluar kantor (lt 19). Vinda dengan tenangnya: "bu, gempa itu nggak bisa diprediksi. Nggak rasional banget ibu, lebay deh ibu".
  • Ketika Michael jackson dimakamkan, tapi otaknya masih di outopsi, Vinda nyengir: "Nanti kalau malaikat nanya Michael Jackson, dia cuma bengang-bengong... jawabnya gimana ya orang gak ada otaknya".

Penderita HIV-Aids: Perlu dipeluk bukan dikutuk.

"Jember (jijik) bener mau bantuin dia naik-naik ojek. Pas tahu dia kena HIP (HIV), langsung deh tuh baju yang saya pakai, saya buang, daripada disimpan entar malah ketularan. Tetangga-tetangga juga pada takut-takut nengok, yang pada ngontrak samping-samping dia juga pada pindah”.

Ini salah satu penggalan kalimat seorang ibu-ibu yang berbaik hati habis ngantar mantan tetangga yang baru ketahuan menderita HIV; 30an tahun, masih muda dan dari keluarga yang amat sangat tidak mampu. Menurut cerita para pengantar, si dokter memulai dengan pertanyaan: “ kamu kerja di salon ya....kamu anak nakal ya..berhubungan sejenis ya?”. Cara jari-jari dokter memeriksa juga dengan expresi penuh jijik, yang membuat penderitanya bertanya: “saya sakit apa sih?”.

Pas saat ngobrol dengan beberapa tetangga penderita ini, ada yang nambahin: “ itu kan kutukan Tuhan, mestinya tobat. Kayaknya dia udah dari dulu sakitnya, ketularan pacarnya, ama cowok juga orang Batak, pulang ke Medan langsung meninggal. Dari dulu dia suka ngrebus daun sirih, pinang, katanya sih kena alergi”. Suara lain lagi bilang: “ Habis kalau dapat duit buat main cowok sih, makanya emaknya bilang..udah elu sakit aja..kalau elu sembuh kan elu marahin gue melulu. Emaknya ini setia banget, lukanya dikasih abu anget, dikasih ramuan daun-daun”.

Penderita ini kami kenal, pernah menjadi tetangga saat kami tinggal di sebuah tempat, dan keluarga ini juga yang selalu kami taruh dalam top list saat kami berbagi rejeki sedikit untuk zakat atau kebetulan saat berulang tahun. Kaget tapi tidak heran saat dengar salah satu anaknya terkena penyakit ini. Mau tutup mata rasanya mata Tuhan marah karena kita kok bisa tidur lelap sementara orang yang kita kenal merintih meregang nyawa dan membiarkan orang lain menderita. Tetapi mau dibantu juga bingung. Yang pertama kami lakukan menengok, itu pasti! Agak maju mundur juga saat mau nengok karena dengar-dengar luka-luka di kulitnya sudah terbuka. Akhirnya bismillah nengok, dengan suara bergetar dia mengeluh: mbak Yuniii…sakitt..ini jari-jari kaki-tangan kayak ditusuk jarum. Batuk juga sakittt…mbak Yunii..”. Duh dengar nama kita dipanggil beberapa kali rasanya menguatkan tekad, harus bantu sesuatu. Kok bisa sih orang menderita gini malah pada sibuk bikin list dosa-dosanya. Tapi bantu apa ya? Oke, Paling tidak membukakan akses! Karena akses ini yang mahal!!.

Coba telp sobat karib dokter yang juga ahli HIVaids dan doctor tropical disease dari Belanda juga. Kontak beberapa channel, dan juga kebetulan ada kawan dari dinas kesehatan depok yang punya jiwa aktifis, dalam arti gesit dan perspektifnya humanis.

Rupanya membantu sedikit menangani penderita HIV memang tidak sederhana, saat mau turun tangan membantu membukakan akses ke PKBI, Pelita Ilmu, dinas Kesehatan setempat, tetangga2 penderita ini bilang: “ nanti kalau penderitanya tahu kena HI-Pe (HIV) entar malah dia bunuh diri mbak, gimana?”. Sementara pihak tetangga menjauh, pihak keluarga juga tidak solid apalagi rentannya anggota keluarga yang potensial tertular penyakit penyertanya. Kalau HIV aids sendiri tidak mudah menular. Sampai-sampai seorang kolega harus kami telp untuk menjelaskan ke tetangga si penderita ini.Diluar kepala teman yg biasa memberi penyuluhan ttg HIV-aids meyakinkan pada tetangga sekitarnya : “ Pokoknya orang HIV jangan dijauhi, malah harus didukung. Itu menular melalui hubungan seksual atau melalui cairan lain macam jarum suntik. Salaman nggak apa-apa, makan sepiring juga nggak apa-apa”. Mendengar penjelasan ini, para tetangga ini agak lega, tetapi tetap susah kalau harus mengantar.Dari kawan dari dinkes ini juga dapat akses info bisa dibawa ke RSCM gratis. Tapi syaratnya..panjang juga.

Akhirnya ayah ibu coba kordinasi dg RT dan kawan dari dinas kesehatan, lalu juga minta tetangga dekat yang care untuk membantu bagaimana bisa membawanya ke RS Cipto yang konon ada tempat khusus untuk ODA (Orang Dengan Aids). “ Tapi nanti jangan-jangan bayar ini itu, kadang dibilang gratis, tapi bayar-bayar juga. Apalagi kalo harus bolak-balik RSCM kan susah transportnya. Orang mau beliin ceker 3 biji aja emaknya gak punya uang. Makanya saya kasih 3 ribu”. Begitu ungkapan tetangganya menghawatirkan kalau sampai dibawa ke RSCM.

Bismillah aja pokoknya.... harapan sembuh kecil, tetapi si penderita merasa ada yang peduli itu lebih penting. Peristiwa ini mengingatkan pada salah satu informan saat penelitian dulu, penderita HIV-aids yang diduga tertular saat jadi TKW di Arab. Habis ngobrol panjang hampir seharian, makan berdua di warung, merasa menjadi sahabat..dan saat pulang dia memeluk dan menangis : mbak…apa ini pertemuan terakhir kita? Aku udah tambah lemah mbak”. Air matanya meleleh banyak mengenai pundak ibu....agak gundah karena takut cairan itu meresap ke pori2. Ahh...apa Tuhan sebodoh itu membuat penyakit mematikan sedemikian mudah menular? Dimana kamu sekarang Nur? Coba kulacak tapi tak terlacak..."Nur, Kamu tidak layak dikutuk..kamu butuh dipeluk".

Hutang

"Urip iku yen iso ojo nganti utang" (hidup itu kalau bisa jangan sampai berhutang). Ini wasiat turun temurun dari uyut Abu Sofyan dan akung-uti juga. "Utang kuwi nggawe ra iso turu" (hutang bisa bikin orang tidak bisa tidur). Menurut cerita akung, uyut Abu Sofyan dulu sampai pernah jual karet timba (untuk sumur) saat betul-betul habis-habisan tidak punya uang. Konon walopun uyut sakti macam kyai kecil, pintar menyembuhkan, tetapi kehidupan beliau sangat sederhana. Hebatnya, untuk "ikromudluyuf" kalau ada tamu selalu menyembelih ayam dan membuat teh manis disaat harga gula pada zamannya hanya bisa dinikmati kalangan elit lokal saja.
Tradisi anti hutang ini juga ketat dianut akung uti, gaya mendidik dan berpola hidup sederhana membuat konsumsi tidak berlebih. Akung-uti selalu mengajarkan untuk hidup bersahaja, artinya bergaya hidup lebih sederhana dari kemampuan kita. Walaupun akung uti banyak beramal dan jujukan (tempat tujuan) dan tempat bergantung banyak orang untuk minta tolong hutang ke akung uti, tetapi mereka sangat ketat tidak pernah pinjam bank atau hutang sekalipun amat sangat terpaksa.
Tetapi yang mengherankan, tradisi di gang jambu ini, selalu orang berkelebat keluar masuk gerbang rumah untuk pinjam uang. Sampai-sampai Vikra Vinda selalu berasumsi bahwa tetangga duduk diruang tamu pasti untuk urusan pinjam uang. Alasanya dari untuk bayar SPP anaknya, nebus obat, rumah sakit, ngawinin anak, bikin usaha,..dll. Uniknya mereka punya tradisi gadai. Jadi kadang menawarkan gadai kontrakan (misalnya pinjam 3 juta, uang kontrakan diberikan kekita sampai dia bisa mengembalikan uang), kadang gadai empang yang artinya ikan akan kita panen sampai si pemilik bisa menebusnya. Kadang bawa cincin , nawarin gadai meja makan, dll. Astaghfirullah pokoknya!
Kami sering pusing pada awalnya, karena tradisi gadai menggadai ini asing buat kami, jadi kami dengan halus tidak pernah menerima tawaran gadai dalam bentuk apapun dari dulu hingga kini. Tetapi paling kami pinjamkan sebatas kemampuan kami. Suka duka hutang tak kembali ini sudah kenyang. Ada yang dibawa kabur tukang ojek (padahal 1/2 dari gaji sebulan kami th 1998), pernah ada yang pinjam uang 10 thn lalu 2 jt ( disaat harga tanah daerah dia 50 ribu dan sekarang sudah 400 ribu). Kami iklas aja dikembalikan dengan nilai nominal yang sama beberapa waktu lalu, karena untuk menguliahkan anaknya yang pintar. Pernah juga dipinjam tetangga yang tak terbayar sampai meninggal. Kadang gondo juga, dipinjam sodara katanya untuk sekolah anak, tahu-tahu untuk renovasi rumah... alahmakkk...Yang menyebalkan, kalau ada yang pinjam untuk pesta atau untuk nebus TV, bayar cicilan motor dan hal-hal konsumtif lain.
Karena pusing melayani nasabah yang rajin dan pandai maupun besar pasak daripada tiang, maka sekarang kebijakan kami kerucutkan:
1. Hutang hanya diberikan kepada mereka yang urgent untuk pendidikan anak yang pintar dan sakit emergensi. Ini untuk mendidik para tetangga biar tahu prioritas. Jadi kalau tetangga yg tidak mampu dan sakit, kami menyumbangkan "ambulan" gratis alias Katana Vikra, daripada berpusing A-B-C.
2. Hanya diberikan kepada tetangga/sodara yang punya record yang baik (disiplin mengembalikan). Kami punya tetangga satu dua yang kami mintain pertimbangan ttg record orang tertentu yang mau berhutang. Karena banyak yang tidak kenal dan datang dengan cerdik pandai.
3. Tidak melebihi kuota budget "hutang" yang sudah kami keluarkan. Jadi kalau ada nasabah baru dan kami sudah over quota, kami coba tanya ke peminjam yang sudah lama, mungkin gak dikembalikan untuk dipinjam yang lain yg lebih urgent. Sedihnya kami paling tidak tega menagih..jadi kadang kami biarkan saja, tetapi pas mengembalikan kami bilang dengan halus, bahwa mereka yang tidak disiplin tidak bisa kami bantu lagi.
Beruntung terdidik dalam kultur bersahaja dan kami juga bergaya hidup bersahaja, jadi hingga saat ini kami bisa tidur nyenyak hidup tanpa beban....

Kelamin Tuhan: Isi kepala Anak Minggu ini

Pagi ini disodorin "sarapan" dari Vinda: "bu, Tuhan kok pake bhs Arab HUWA, berarti Tuhan laki-laki dong! Sampe2 waktu kecil gara2 dibelakang buku Iqro' ada gambar bapak tua, Vinda pikir itu Tuhan". Vikra: Dulu Vikra waktu SD jg nanya Qul huwa Allah, kok Tuhan berkelamin laki-laki pak?. Guru gk bs jwb suruh tanya ke guru lain (dia sebut guru yang suka pegang perut)...

Sabtu kemarin di mobil berempat terbingung-bingung dg hipotesis baru Vikra bahwa kaki bau itu karena grafitasi. Katanya grafitasi ini menarik keringat tubuh turun kebawah, mengumpul di kaki dan lembab. Hallahh nang..aya-aya wae!

Mlm jum'at habis ngaji yasin untuk almarhumah uti,mbah bu, mbah kung, ngungsi di kamar Vinda sambil nunggu makan malam. Pas ibunya nanya panty liner tiba-tiba dia nanya : "bu, jangan-jangan global warming ini juga krn kita cewek2 pada pake softex (pembalut) ya. Kan plastik juga... Mestinya mulai dicoba pake daun atau apa kek". Nah lho... daun..daun...apalagi kalau daun jati...

Bbrp hr lalu nemenin Vinda nyiapin test pljaran Agama (buku terbitan Erlangga), tertulis, syarat wajib sholat jumát: 1. Islam: yang bukan muslim tidak wajib. Vinda ketawa ngakak sambil nyeletuk: "nggak mutu banget bukunya, siapa juga orang kristen yang mau sholat jumát".

(Celetukan diatas juga bisa dibaca di status ibu di Facebook, dan dikomentarin lucu-lucu sama jama'ah facebook)

Balada "man jadda wajada"

" Man jadda wajada, man saaro'ala ddarbi washola..lengkap dengan artinya: barangsiapa bersungguh-sungguh pasti dapat, dan barangsiapa berjalan diatas jalannya pasti sampai". 2 mahfudot (kata mutiara) itu kami tulis di mading kamar mandi. Jangan-jangan ada yang komentar, tulisan Arab kok di kamar mandi. Kenapa orang nggak bisa bedain ayat Qur'an dengan bahasa Arab ya. Lanjut lagi, ceritanya kami punya 2 mading (majalan dinding), satu disekitar kamar anak untuk naruh karya anak-anak dan info-info penting macam klipping, jadwal acara menarik dll. Satu lagi sengaja pintu kamar mandi anak, sisi dalamnya kami pilih bahan whiteboard, selain tahan air juga biar bisa untuk nulis perbendaharaan kata atau hal-hal penting biar sambil di toilet anak-anak baca sesuatu. Tetapi 2 anak itu jiwa usilnya selangit...setelah mereka baca dan mungkin hafal (katanya disekolah mereka juga terpampang 2 mahfudlot itu), Vikra melanjutkan dengan menulis bawahnya, yang semula kami pikir..wah hebat banget ini anak bisa hafal mahfudlot lain karena tulisannya mirip pakai "wa man"juga. Tapi pas kami dekati tulisannya ternyata:
"wa man anta" (dan siapa kamu?).
Lalu Vinda nggak kalah saing, dia buat sesuatu, kalimat "barangsiapa berjalan diatas jalannya..., dia hapus beberapa hurufnya, kalimatnya jadi berbunyi:
" barang apa berjalan diatas jalannya?".
Ampuunnnn.... usil banget....

"Usil" mereka memang sejak kecil, keturunan kali ya...salah satunya, waktu mereka kecil, setiap mau bobok, kami pingin mentradisikan mendongeng atau bacakan buku cerita. Tapi mereka, terutama Vikra selalu take over : " ibu, sini Vikra aja yang lanjutin", karena dia selalu protes yang dongengnya nggak seru, yang alurnya nggak seperti di buku dll. Jadi gantian dia yang dongengin kalau mau tidur. Dalam hati ketawa tapi sisi lain Vikra jadi terlatih artikulatif. Lumayanlah dia pernah juara pidato dan story telling bahasa Inggris mewakili sekolahnya.

Kembali ke soal mahfudlot..Ceritanya kami ingin sedikit-sedikit menjadikan rumah sebagai "pesantren" buat anak-anak kami. Image bahwa pesantren yang bagus adalah alternatif edukasi yang menarik, melekat didalam diri kami berempat. Saat liburan, kami sering menyempatkan keliling ke aneka pesantren dari Pabelan, Gontor pusat maupun cabang2nya di Mantingan maupun Magelang, DarunNajah, Lazuardi, dll. Selain silaturahmi ke sobat-sobat ayah Ibu (karena ayah alumni Gontor juga), sekalian memperkenalkan anak ke dunia pesantren. Mereka cukup tertarik, tapi maju mundur dan saling nggelendot keberatan saat ditawari mondok. Vinda tidak mau ditinggal kakaknya, Vikra juga keberatan pisah. Aspek-aspek psikologis menggelayut, apalagi pengalaman beberapa alumni, pas curhat-curhatan, mereka merasa kohesi antar kakak adik menjadi tidak mendalam karena tidak bertumbuh bersama, tetap dekat tetapi tidak tahu banyak karena lama tidak saling bersama. Selain itu juga soal nutrisi, karena kekurangan gizi pada saat nyantri, bagi tubuh-tubuh rentan macam ibu, berdampak berbeda. Sebetulnya semua bisa dijembatani dan tidak bisa hitam putih melihatnya. Tapi akhirnya kami mencoba membuat konsep " mondok di rumah". Artinya kami pakai basic edukasi pesantren dengan panca Jiwa dan motto pondok dalam mendidik anak dengan segala spirit lain dari kyai dan guru-guru dan kami modifikasi dengan kesejarahan kami. Nafas motto dan panca jiwa pondok ini menarik:

MOTTO PONDOK
BERBUDI TINGGI
BERBADAN SEHAT
BERPENGETAHUAN LUAS
BERPIKIRAN BEBAS

PANCA JIWA PONDOK
KEIKHLASAN
KESEDERHANAAN
UKHUWAH ISLAMIYAH
BERDIKARI
BEBAS

Ada hal-hal yang coba kami kritisi, misalnya ukhuwah Islamiyah kami tanamkan menjadi ukhuwwah insaniyah. Karena alumni pondok banyak yang terbiasa hidup dlm mono religion, bergaul dengan kebanyakan orang Islam, sehingga mental pluralisnya tidak optimal bertumbuh dalam setiap orang. Dalam khutbah-khutbah para alumninya cenderung masih banyak prejudice ini itu thd agama lain. Kemandirian dan kesederhanaan selalu kami usahakan. Kami menerjemahkan, sederhana adalah pilihan gaya hidup lebih bersahaja dari kemampuan seseorang. Sederhana tidak harus makan tempe tahu dan punya 3 baju, tetapi mampu beli Mercy atau truck :) tapi memilih mobil bersahaja, mampu belanja di mall tapi bersenang belanja di pasar tradisional, mampu beli AC tapi memutuskan rela berpanas tidak pakai, dll itulah kebersahajaan. Bersahaja adalah hidup karena faedah bukan karena "wahh".

Alasan lain membiarkan anak "mondok dirumah", kadang dalam hati...sekolah kami tinggi-tinggi, beberapa kali jauh dari anak, kenapa kok tidak dikembalikan ke mereka ilmu-ilmu itu selain dibagi juga ke orang lain?. Jadi memodifikasi rumah menjadi spirit pesantren ini lucu dan sedang diperjuangkan terus...karena tantangannya minta ampun, dari IT sampai pop culture yang menganga diluar.... kami coba bikin fondasi pondok tetapi dinding dan atapnya bisa fleksible... bukan copy paste pesantren yang konvensional tentunya. Walaupun sibuk, kami bangga anak mengaji karena kami yang ajari (waktu kecil pernah kami biarkan ikut iqro' di musolla sebelah biar ceria dengan teman-temannya), kami juga ingin anak-anak sedikit tahu bahasa Arab sebagai kunci memahami tradisi agamanya. Tidak muluk-muluk, pesantren adalah ruh..bukan raga, bukan sekedar jilbab dan peci.

Sekolah (pada) Binatang

Status di facebook Ibu: "lagi bertaman, lihat jaring laba-laba besar yang nutup akses ke pojokan....bingung, mau dibuang kok aku serasa trantib gusurin sepihak, padahal buatnya pasti susah. Tapi kalau didiemin, takut laba-laba aneh itu beracun dan ngundang korban....ada ide???"

Komentar2 di FB:
1.Ona Kaplale: "diajak diskusi ajaaaa... hhihi... siapa tau ga beracun, jeung.."
2.Zm fauzi: "Pindahin sak sarang-sarangnya, tapi BTW ngesetnya lagi bisa gak? Itulah kuasa Allah....sekedar bikin peta jejaringnya di komputer kita pasti bisa, tapi pas implementasi cara masangnya....serahkan pada sang laba-laba lagi deh".
3.A. Farhan: "rumit, minta prtimbangan k spiderman aj gmn bu hehe?"
4. MH Thamrin: "Aku tahu laba-laba itu..namanya Muchlis kan?"

Seperti pernah ditulis beberapa kali oleh ayah dan Vikra, di rumah gang jambu ini tempat yang "nyaman" jadi kebun binatang. Entah apa alasan binatang itu untuk menyatu dengan kami, yang jelas penghuni betahnya ada 2 kucing pets (Benzo, Melon), ikan di 2-3 kolam, kelelawar bertengger di teras, burung sriti di ruang tamu, kodok, cicak, kupu-kupu, tokek, laba-laba. dll.

Lalu serangga-serangga lain gimana? Disini masalahnya... pernah suatu kali lagi main ke Makasar, ada temen yang ambil sendal keras dan menghajar kecoa bertubi-tubi...duhhh.. melekat dalam memori kok kejam banget ya. "Itu harus dibasmi yun...kamu tahu kan itu serangga berbahaya..bla..bla...". Pokoknya panjang lebar sobat yang kebetulan dokter ini menjelaskan ke kuping ibu yang seakan terbuka tapi hati kemana-mana. Sekarang ini, sebagai jalan tengah, kalau ada kecoa, karena nggak suka tapi nggak tega, jadi ibu telentangin saja kecoa itu dan diserahkan pada Tuhan. Kata ayah...."itu mah sama saja membunuh". "Iya yah..tapi kalau dia kuat bisa survive kan?, lagian kenapa sih Tuhan kok mbikin binatang yang telentang aja bisa matii?". Tapi kalau pas lagi gak sabar ya ambil sendal dilumpuhkan pelan, diambil dan dimasukin ke closet dengan pikiran, maaf ya..aku nggak bermaksud membunuh tapi siapa tahu kau bisa survive didalam sana.

Saat nyemprot nyamuk atau pakai raket nyamuk..selalu konflik batin, "ini syirik gak ya? kok serasa meyekutukan Tuhan, karena tiba-tiba aku jadi Tuhan yang seenaknya membunuh makhluk Tuhan..sang nyamuk". Entah..selalu saja guilty, tapi kalau ingat bahwa itu binatang berbahaya, ya dengan bismillah ketika harus membasmi mereka... sesekali ingat ungkapan om Daris saat menunggu uti sakit dan gak bisa tidur gara-gara nyamuk.."udahlah bu..ikhlaskan, nyamuk itu kan makanannya ya dari darah kita, masak berbagi sedikit saja kita habisi nyawanya". Wajah uti kelihatan bingung tapi ada yang mengalir ke hatinya..

"Pokoknya ibu cuma tega basmi nyamuk dan kecoa. Kalau semut jangan pernah dibunuh, mereka tidak mengganggu dan tidak berbahaya" begitu ungkapan berulang. Jadi paling gemes dan sedih kalau lihat ada orang menyemprot baygon ke semut...atau menyapu kasar semut-semut...kenapa sih nggak di alihkan saja? Kalau selama ini harus menyemprot ke sarang kecoa atau nyamuk....selalu berfikirnya gimana biar tidak pada berkembang biak...tetapi pas ada yang bergelimpangan mati...perasaan aneh muncul.

Entahlah....yang jelas capek-capek melihara ikan di kolam, pas mau panen selalu tak tega memakannya (tetapi demi tamu ya tetap dimasak tapi tak berani melihat saat dimatikan). Lihat ada kucing liar yang main, lalu kita cuma kasih makan piaraan kita..kadang terbersit..kok diskriminatif ya...ini persis kebijakan immigrasi yang anti sama migran, yang dimanjakan cuma warga/milik kita dan tutup mata pada pendatang walaupun itu kucing....

Rupanya nggak gampang berhati begini, kadang relung hati didalam sana merenung..mungkin nggak ya, suatu kali ketika pahalaku terlalu sedikit dihitung, satu dua binatang itu mengajak diskusi Tuhan, "apakah menyelamatkan nyawa binatang yang lemah ini kalah oleh kening hitam karena mabuk sujud memuaskan dirinya dan sibuk jadi peminta-minta nasib dan penghiba ke Tuhan dalam doa ndemimil mereka"?

Pendidikan adil gender dalam keseharian anak

" Lho, anak perempuanmu kok masih kamu beliin Barbie?". Begitu salah satu kawan heran ketika melihat Vinda hobi main Barbie. "Vinda itu dulu waktu kecil kaku, tegaan, nggak care temperamental dan sulit bercerita, makanya dia perlu mainan untuk melembutkan rasanya dan latihan bercerita . Lagian Vikra (anak laki-laki kami) waktu kecil juga biasa kok main boneka. Barbie dan boneka itu bagus lho buat peraga pendidikan, nglatih anak ngomong, dialog, entah itu buat cowok atau cewek".


Memang tidak mudah menerjemahkan pendidikan adil gender dalam keseharian anak. Yang paling pasaran kita dengar, anak cewek boleh main bola, panjat-panjatan, cowok boleh masak-masakan dll. Ini semua benar, tapi apa berarti anak cewek tidak boleh main boneka dan masak-masakan? Biar gamblang kunci pendidikan adil gender adalah biarkan anak menjadi manusia,bebas memilih dan jangan sampai identitas seksual dia menjadi penghalang untuk mengembangkan potensinya. Ingat waktu tsunami atau bencana lain kebanyakan yang meninggal perempuan? Karena tidak bisa menyelamatkan lari atau naik ke genteng. Ingat juga masa krisis penghuni RS Jiwa adalah laki-laki karena desakan sosial ekonomi yang dibakukan dan ditanggungkan ke laki-laki. Padahal bisa jadi istri-istri mereka banyak yang pintar-pintar dan berskill, tetapi capek dan "pasif" tak optimal dirumah demi "kelaziman sosial". Berapa banyak kerugian bangsa karena banyak perempuan sarjana yang akhirnya tidak bisa mengembangkan potensinya karena terkondisi untuk menjadi ibu rumah tangga yang mulia tapi tak terhargai secara sosiologis dan ekonomis?

Selain hal diatas, prinsip mendasar lain, jangan ada pembakuan peran dan jangan biarkan ada stratifikasi peran satu lebih tinggi dari yang lain. Tanpa sadar kita orang tua masih rajin mendendangkan "habis mandi kutolong ibu membersihkan tempat tidurku" (emang bersih-bersih temapt tidur kerjaan ibu? kenapa tidak dilihat sebagai perkerjaan dan kebutuhan bersama atau kebutuhan si anak itu sendiri). Atau kita masih senang bilang; "untung punya anak perempuan jadi ada yang bantu-bantu". Tak sadar bahwa pembakuan dan pemisahan tugas ke anak laki-laki dan perempuan ini bisa merugikan mereka di kemudian hari. Pernah ada kawan ibu di Belanda, sekitar thn 2002, seorang bapak urung jadi PhD gara-gara tak sanggup bertahan melayani dirinya sendiri seperti memasak, mencuci, belanja dll.Dia menganggap dirinya rendah dan menderita dengan itu semua. Padahal mendorong anak baik laki-laki dan perempuan untuk latihan membantu dirinya dengan pekerjaan diatas itu penting, sesederhana apapun. Tapi juga jangan dicegah kalau ada anak perempuan yang hobi masak atau bikin kue..yang jelas keduanya didorong dan diberi contoh. Ada baiknya nggak ayah atau ibu membuat dapur jadi ajang bersama. bukan hanya space perempuan! Sehingga anak dapat contoh kongkrit bahwa laki-laki masuk dapurpun akan tetap keren!!.

Sementara pekerjaan yang secara sosiologis diidentikkan dengan kerjaan maskulin seperti mengecat, potong rumput,cuci mobil... tetep manis aja tuh dilakukan oleh anak cewek dan kita ibunya juga kasih contoh bisa melakukannya. Atau apa masalahnya kalau anak cowok ikut bikin kue atau menjahit? Toh itu penting misalnya untuk bisa memasang emblem atau kancing dll. Memasak buat anak cowok juga penting diajari, jangan sampai rumah terbakar atau kaki dia ketumpahan minyak goreng gara-gara anak laki-laki kita tidak tahu tehnik memasak yang aman.

Lho, lalu apa beda laki-laki dan perempuan? Kekhawatiran yang sering muncul, lalu apa nanti anak laki-laki nggak jadi kecewek-cewekan atau sebaliknya? Paling ekstrem apa nanti nggak jadi banci?? Tak perlu khawatir sama sekali. Kita tidak akan membuat manusia laki dan perempuan menjadi sama sebangun sejenis!! Kita hanya ingin membuat setara dan adil. Jadi identitas atau sifat atau peran yang tidak akan berdampak pada ketidak adilan, ya biarkan saja melekat di masing-masing. Misalnya anak perempuan pakai anting, dandan, anggun atau feminin. Tapi yang penting jangan sampai bilang bahwa anak perempuan harus anggun. Juga jangan kita menanamkan bahwa tubuh anak perempuan adalah objek. Misalnya menyuruh menutup bagian tubuh tertentu karena alasan tubuhmu "aurat", akan membuat anak merasa tubuhnya adalah objek. Lebih baik pakai alasan, pakai baju yang sopan nak, kalau kamu di wilayah aman atau dirumah, bebas pakai baju yang A atau yang B. Lalu anak cowok bergaya gagah, rada macho-macho..ya biarkan aja!! Yang penting kalau feminitasnya membuat dia manja tak mandiri dan lemah..atau kemachoan itu membuat cowok dominan dan kasar, ya rubah! Laki-laki dan perempuan itu perlu punya sikap feminin dan maskulin. Misalnya laki-laki penting untuk punya sifat feminin juga, seperti melankolis, tergantung, sementara perempuan juga perlu punya sifat tegas dan rasional. Yang penting meletakkan sifat-sifat itu pada kontek yang tepat dan fleksible. " Bicara dulu! apa masalahnya baru boleh nangis" ! Begitu kami selalu mengajari anak terutama anak perempuan untuk tidak cengeng. Jangan biarkan nangis dulu,ajak untuk rasional dulu, tetapi nangis sebagai ekspresi sedih tetap perlu, termasuk anak laki-laki mau nangis nggak masalah. Karena larangan menangis bagi anak laki-laki itu bisa juga mengganggu mekanisme psikologisnya dan ujung-ujungnya mengundang masalah jantung. Tuhan kasih air mata untuk seluruh manusia (bukan hanya perempuan), untuk menumpahkan masalah mereka biar beban hati meleleh.Adil gender sebagai istilah bisa dari mana saja, tetapi sebagai spirit keadilan adalah milik semua manusia, milik kita, milik anak kita...

Dibalik Bando Patah

Sore habis Asyar, ibu, Vinda dan mbak Iyah PRT kami ke Pujasari supermarket kecil yang terdekat dari rumah. Seperti biasa, Vinda yang jadi "master" belanja, memutuskan buah apa yang mau dibeli, bahan sarapan, minuman dan kebutuhan lain. Urusan belanja inti selesai, lalu kami ke atas tempat pakaian dan aksesories, mau beli handuk buat tamu. Lalu Vinda ke arah aksesories dan tiba-tiba dia narik tangan ibu untuk pergi cepat-cepat dari area itu dengan expresi sedikit ketakutan. Pas agak jauh dia bilang; "bu, bandonya patah..gimana? Dah Vinda balikin sih".
Lalu ibu cek ke tempat itu memastikan patah beneran nggak...Habis itu ci ibu balik ke Vinda: "balik ke sana, bilang baik-baik ke mbak-nya dan kita ganti..pemimpin kan harus bertanggung jawab". Lalu dia mencoba minta tolong mbak Yah buat bilang ke pelayannya. " Jangan dong..Vinda aja sendiri, Vinda kan yang matahin, Vinda yang menyelesaikan lah...".
Ci-ibu sengaja menjauh dan nunggu Vinda datang lagi, dan memastikan bahwa Vinda yang handle bukan mbak Yah..., pas Vinda balik dengan wajah lega bilang " Udah, udah...tadi Vinda udah bilang ke pelayannya kok". "Bener mbak yah" selidik ibu, kata mbak yah.."iya kok bu".
"oke, weel done! great! hebat, bertanggung jawab!".
Vinda terlihat berseri dan geli sendiri waktu membayar dan membawa pulang bando patah....
Tapi ada perasaan lain di hati, bahwa dari benda kecil bando, sudah membelajarkan kita arti tidak lari dari masalah, bertanggung jawab dan jujur mengakui kesalahan tanpa nunggu ketahuan, padahal kalau mau "lari" bisa dengan mulusnya.... Kelihatannya sepele, sering kita alami, jalan sama anak, lalu anak merusakkan sesuatu di supermarket atau rumah teman kita, lalu orang tua mendelik keanaknya, lirik sana sini sidik situasi memastikan tidak ada yang lihat dan diam-diam kabur atau berwajah tenang seakan tak terjadi apa-apa untuk meloloskan diri... Hmmm!! artinya, walaupun tanpa kalimat si ortu ini sedang menancapkan ajaran ke anak: " larilah dari tanggung jawab nak!! boleh bohong selagi tidak ketahuan kok, dll, dll " Ohh... Sad...sad...

Obat, Ooo bad!!

" Pilih gih kita kembaran". Begitu seorang sobat dokter memanjakan ingin belikan sesuatu yang lumayan berharga untuk kembaran. " Enggak ah!! malas pakai uang panas" ibu nyeletuk semau sendiri karena memang sudah berkarib banget. "Enggak! enggak! enak aja!! ambil, ini pakai uang sendiri tau!!". Begitu tangkis sobat dokter ini yang kalau ke Jakarta selalu dimanjakan oleh perusahaan obat dan diservis full oleh detailer (sales obat). Belum lagi sobat dokter yang lain cerita mau ke Australia dengan tiket gratis..tiss..diservis sama perusahaan obat. Belum lagi segudang cerita dari sobat dan kerabat tentang betapa besarnya perusahaan obat memanjakan dokter-dokter ini.

Lalu dibebankan kepada siapa biaya-biaya itu? Pasti jawaban super gampangnya, ya ke siapa lagi kalau bukan ke pasien. Akhirnya jadi semacam hobi, dokter-dokter kita paling rajin kasih list panjang obat ke pasien, dan si pasien yang lugu akan beli dengan aneka rasa. Ada yang merasa obat mahal artinya manjur, ada yang gampang buka dompet yang penting keyakinan sembuh, ada yang beli seperempatnya, ada yang nengok kanan kiri menelan ludah pedih memasukkan resep kekantung dan pulang bingung harus ke siapa hutang untuk menebus obat-obat itu.




Kemarin ibu sibuk milihin tumpukan obat dirumah yang sudah expire dan ayah googling untuk ngechek spesifikasi obat-obat itu. Bener-bener stumpuk. Padahal kami termasuk yang berusaha ceriwis kalau ke dokter. Saat dokter nulis resep selalu ngecek obat apa saja dengan beberapa pertanyaan dan permintaan penting:


1. Dok, ibu/kakak alergi pynicilin, sulfa


2. Apakah emang harus dikasih anti biotik? Kalau dikasih yang rendah aja dosisnya..juga obat-obat lain kami minta dosis rendah deh.


3. Ini obat apa aja dok? Kami bilang ke mereka, dirumah masih punya obat yang sejenis (jadi nggak perlu ditebus atau tinggal nambahin beberapa saja).


4. Kami minta ngedrop obat-obatan yang bersifat analgesic (penghilang rasa sakit, karena tidak menyembuhkan tapi cuma mengaburkan rasa saja) atau vitamin-vitamin... kami tanya, perlu banget nggak? atau bilang dirumah masih ada...


5. Tidak jarang kami minta yang generik..


Ya memang tidak selalu detail seperti diatas, karena juga tidak semua obat yang kita punya dari sisa berobat sebelumnya kita ingat.Tentu kalau anti biotik harus dihabiskan, tetapi obat penawar-penawar dan vitamin nggak selalu kami minum.

Mafia obat di Indonesia ini berbanding terbalik dengan di Belanda dimana dokter sangat pelit dengan obat. Pernah waktu sakit batuk dan flu serius....dokter bersikukuh tidak kasih anti biotik karena mereka ingin tubuh kita membentuk antibody sendiri. Karena kalau kebanyakan anti biotik apalagi minumnya tidak tuntas dan teratur, bisa bikin resistensi...

Duh..sedih dan seremnya obat dan mafianisasi dibalik butir-butir pil itu... gimana ya memintarkan hak pasien dan menghatikan dokter...

Belanja pintar hati

"Ibu mah sukanya cuma lihat-lihat, kenapa sih nggak langsung beli aja? Ngapain lihat-lihat kalau nggak buat beli?" Beginilah Vinda sering nyeletuk ketika kadang kami jalan wiken, disaat ayah Vikra menikmati hobinya di counter DVD, ibunya dan Vinda juga menikmati hobi sendiri, muter-muter atau belanja keperluan.
Nggak tahu kenapa window shopping atau sekedar melihat-lihat kadang bikin nikmat, bukan sekedar kita bangga ketika kita menang melawan nafsu membeli, tetapi juga puluhan ide muncul untuk mengkreasi atau memodifikasi benda-benda yang kita lihat. Entah itu model baju, interior disain, harmoni warna dll. Sambil jalan begitu , selalu jadi disainer imaginer yang nggak wajib tertuang dalam benda nyata untuk diusung ke rumah.

Repotnya menanamkan sikap menjadi smart shopper ke anak, tidak mudah. Kami paling suka bergaya hidup circus yang siap keatas dan biasa ke bawah. Kami kadang juga beli benda bermerk karena ingin awet atau beli di tempat mewah macam Sogo, juga pernah sesekali. Motivnya hanya untuk bilang ke anak, bahwa beli di tempat mewah bukan soal bisa atau tidak bisa, tetapi soal mau atau tidak. Jadi kami beli benda satu, diskusinya seribu:). Kenapa benda ini menjadi mahal? Mulai deh ceriwis diskusi bahwa barang mahal karena pembeli harus menanggung sewa display/toko yang mahal, biaya reklame, seragam dan make up pramuniaganya, biaya transport impornya… Padahal kalau mau lebih teliti, dan kalau mau rasional.. benda dengan kwalitas yang sama bisa kita temukan ditempat yang lebih sederhana dengan harga jauh lebih murah karena kita tidak terbebani biaya-biaya itu semua.
Jadi pernah kami bikin list belanja di pasar Ciputat, dengan uang 200 ribu pernah dapat mukena parasit harian Vinda, handuk, kaos kaki buanyak, baju tidur katoen lucu-lucu dan bagus, dll.. 3 plastik!! Vinda tercengang-cengang, karena uang yang sama dia tahu bisa dapat apa di mall-mall mewah. Sambil jalan, biasanya cerita-cerita, bahwa mestinya kita selalu belanja di Pasar untuk menghargai uti dan uyut-uyut juga, karena ibu bisa sekolah karena jasa mereka yang sehari-hari berakrab ria beraktifitas di pasar tradisional. Di pasar kita bisa menawar..dan asik ada interaksi, tambah lagi hubungannya sangat personal. Pembeli yang miskin akan dikasih harga minim dan sebaliknya bisa ambil untung banyak kalau pembeli berkantong tebal. Bahkan tidak jarang pembeli bisa hutang, atau kadang uti sering memberi mukena atau seragam ke pelanggan yang tidak mampu. Tidak seperti di mall dan supermarket besar yang semua dianggap sama rata, impersonal dan pembeli ya benda itu sendiri!! Semua orang dipaksa wangi dan sempurna, padahal ketika pulang ke rumah masing-masing sudah menjadi orang yang berbeda. Di pasar tradisional, pembeli adalah manusia....

Suamiku menyembunyikan istri

Ayah: Hai..hai..cunn..cunnn...Semalem mbak ikun (temen Pabelan ibu) lucu..dia sms ke ayah: "lis, jangan-jangan elu selama ini bo'ong ama kita. Yuni sebenernya ada di rumah, tapi lu bilang di belanda. Lah, ini aku ama ipung (Saiful Mujani, direktur LSI, suaminya) kok bisa-bisanya kompak ngimpi dia udah pulang.." hehe..
Ibu: Ha..ha... ada suami yang menyembunyikan istri... (diem-diem ini untuk kesekian kali ya dimimpiin orang-orang deket, sebelumnya temen Vinda juga mimpiin ibu. Jadi terharu nih... )
Hehe..ngimpi kok yo kompak..
Semalem disini gak enak banget boboknya yah..kali karena diimpiin..Mungkin denger ayah gak enak badan.... langsung ikut lemes, ketambahan ketemu orang-orang yang tak ceritain kemarin (asik tapi secara fisik capek juga)... jadi malemnya sebelum tidur lies nelp katanya mau antar gule nangka besok, dia langsung bilang "mbak Yuni sakit ya..pasti iya..pasti iya, tapi nggak bilang-bilang.."
hehe..
Dah enakan yang?
Yup..habis minum obat semalem, tidur bleg..pules. pagi dah agak enteng.
Lucu euy, kalau denger berita entah itu ayah, atau anak anak kalo lagi sakit, rasanya tidur cuma pake satu mata kayaknya..jadi kebangun-kebangun, sms semalem tuh jam 3 sini kalo gak salah...Btw, Vinda vikra kok gak balas sms ya kemarin.
Kalo sekolah..hp emang gak pada aktif..
Vinda sih nyaris selalu bales, kecuali kemarin..yang vikra ni kok aneh..
Vikra dua hari ini emang full capek. acara pra-CR (community research) dia seabreg. bikin ini....bikin itu. gak jelas
Ow gitu..emang bikin apa aja dia?
Pokoknya suibukk. waktu itu, malem-malem, ayah diminta mampir gramedia. disuruh nyari karton warna krem. mana ada??? Ya udah ayah beliin seadanya. ayah bilang, kalo guru ato osis kakak protes, suruh protes ke ayah..!! Terus kemarin..pas ayah lagi demam-demamnya, eh vikra ribut soal bungkusan yang ketinggalan. Suruh nganterin, ato ngojekin. "emang bungkusan isinya apa kak?" kuas.. ". Hallahh..itu ongkos ojeknya juga lebih mahal dari kuasnya..
Ha..ha... kacian ci ayah..kan kita punya segepok kuas dalam laci hobi itu..pasti dah dipindah dan nggak ditaroh lagi ... sudah tradisi :)

Mitos anak tidur sendiri = mandiri


Di foto ini Vikra Vinda seakan bobok sendiri ya... padahal ini 2 tempat tidur dalam satu kamar dan tengahnya ayah ibunya :). Kami sempat bereksperimen melatih anak bobok sendiri, biar mandiri begitu kata bacaan. Tapi kok kami yang resah sendiri, sudah seharian anak-anak ditinggal kerja, malam mereka dipaksa bobok sendiri. Apalagi baca artikel atau melihat pola kehidupan di barat dimana sejak bayi anak tidur sendiri, rasanya gak tega !. Dia lahir ke dunia untuk disayang, kok langsung "dicerai" sepihak. Makanya di Baratpun sejak sekarang mulai dievaluasi, bahwa bayi tidak harus tidur sendiri atas nama memandirikan.

Jadi jalan tengah yang kami lakukan yang semula pakai ranjang besar untuk ber-4, dimodifikasi mereka pakai ranjang sendiri-sendiri, tapi masih dalam satu kamar. Dan nggak anak nggak kami orang tuanya merasakan kwalitas istirahat yang lebih baik dengan tidur bersama. Karena menjelang tidur bisa cerita bareng-bareng, doá bareng, mengusap-usap, rebutan tangan buat ngeloni, kalau mereka terbangun tengah malam kami ada didekatnya, dan mau tidur terasa tenang sekali.

Memang tradisi bobok bareng ini terbawa sampai mereka besar :). Tapi kami menikmati dan merasakan kohesifitas antar anggota keluarga, walaupun nggak semua dari kami romantis. At least sampai anak remaja, disaat kebanyakan mulai mendewakan peer group (teman sebayanya), anak-anak masih meletakkan keluarga sebagai elemen nomor satu, mereka kerasan dirumah, wiken masih jalan bareng/menikmati dirumah dengan keluarga.(kecuali pas ibu di Belanda, karena ayah harus badminton, jadi kadang Vikra ngeband dengan teman2nya pas minggu sore).

Pernah ada teman yang main kerumah, agak bangga bilang bahwa anak-anaknya mandiri, tapi dilain waktu cerita bahwa anaknya lebih seneng ngamar, jarang ada sentuhan saling bermanja fisik dengan orang tuanya, jarang ngobrol merdeka dengan anggota keluarga...

Orang sering berasumsi bahwa mandiri itu tidak boleh manja. Padahal mandiri itu kemampuan anak/orang melayani dirinya, memecahkan masalahnya dan bisa exsist tanpa tergantung pada orang lain, tapi bukan berarti secara psikologis dia tidak perlu orang lain. Jadi biarkan anak mandiri tapi berikan kemanjaan psikologis untuk mengkayakan hatinya.

Jadi kalau diluar anak-anak tumbuhkan untuk bersikap dewasa,aktif di organisasi, ke sekolah dengan cara yang mandiri, biarkan memecahkan masalah dimulai dari dirinya... tapi begitu mereka pulang kerumah, biarkan mereka lendotan, bobok bareng, diusap-usap..sesekali minta diambilin maem, dll. Ibu, om Daris dan Omacan adalah produk dari tidur ama akung uti sampai besar. Bahkan kasus ibu sampai menikah, selalu bobo sama uti dan akung di kamar yang sama, tapi ibu tidur setempat tidur sama uti. Mereka sangat memanjakan kasih sayang, tetapi sangat memandirikan. Misalnya sejak kelas 1 SD sudah diminta antar surat ke kolega akung 3 KM dengan sepeda, biasa terima tamu, SMP kelas I pernah ke Pabelan/Jogja sendiri, kalau ada masalah dengan teman, mereka bilang coba selesaikan sendiri, kalau memasukkan benang ke jarum..bukan uti yang lakukan, tapi disuruh coba lagi..coba lagi..coba lagi. Itu juga berlaku untuk om daris dan Omacan. Alhasil walaupun mereka bobok ama akung uti sampai SMP, tetapi mereka siap menjadi leader di organisasi atau perusahaannya di usia yang masih dini untuk ukuran posisinya.... Jadi mandiri tidak otomatis terjadi karena anak tidur sendiri.

Tidak Punya (Foto) "Tokoh Celeb"

Sulit untuk ditelusur kenapa di kepala ayah ibu dan nurun ke Vikra Vinda, nyaris samar konsep "tokoh" atau idola seperti kebanyakan persepsi orang. Mungkin karena didikan egaliter dalam keluarga, sikap hormat pada orang yang dianggap berjasa terutama yang sepuh/tua lebih mengedepan ketimbang menghargai idola-idola selebritis. Akung selalu menggaris bawahi jasa-jasa orang sepuh yang bersahaja, dan nyaris datar menyebut tokoh-tokoh "konglomerat" lokal yang notabene sahabat akung-uti juga. Sering dulu kecil diajak silaturahmi ketempat pakde Hadi Haromain yang konon sangat beriman, pakde Moel yang pengabdi dan soleh, bude Kurmen perempuan tangguh yang membesarkan 7 putra-putrinya sampai jadi "orang" untuk ukuran beliau dengan peluh dan mukenanya.

Mungkin juga, layar kaca bagi anak-anak sudah tidak berjarak "diatas kepalanya" lagi. Karena presenter-presenter yang cantik-cantik itu team dan teman2 ayahnya. Bahkan ayahnya kerap cerita habis marah sama presenter cantik yang "bodoh" waktu dikasih tugas ayah untuk meliput tapi mengecewakan (karena ayah termasuk yang bersikukuh bahwa presenter itu harus juga jadi jurnalist dan harus pintar, tidak sekedar jual tampang!). Lalu anak-anak juga kerap diminta ngritik kesan terhadap presenter tertentu, dan itu disampaikan ayah ke temen-temennya presenter selebritis itu.Jadi Viva sering dapat salam dari selebritis yang habis mereka kritik. Mislanya, ÿah..tante ini kalau baca berita jangan meloto-melotot ngapa..". Jadi hadiah kritikan itu, Viva pernah dikasih foto dan tanda tangan..eh ama mereka dicuekin aja :). Kami juga dibawa ayah kekantor dan kenalan sama mereka, termasuk anak-anak melihat bagaimana sebuah siaran diproduksi. Jadi TV bukan kaca kristal yang menyilaukan lagi buat mereka.

Yang paling menyebalkan, kalau ayah atau ibunya ngasih tahu.. hai sayang tuh dengerin tuh tante Z, Om A, tante B, om C, (tokoh nasional yang sering masuk TV dan mereka adalah sahabat kita)..anak-anak malah komentar: "ah, bosen, semuanya diaku temen". Ha..ha...kacau! Padahal kan memang lingkaran ayah dan ibu (Islam, gender, civil society, media, dll) ya memang sudah biasa nongol di TV...atau ayah ibunya juga kadang-kadang mereka tonton/baca di media..jadi buat mereka orang dibalik TV-media itu ya biasa-biasa aja.

Pernah Vikra ngobrol dan makan Chiki berdua sama Shanaz Haque, karena Syahnaz jadi pembaca acara di ultah Ford dan Vikra diminta ngisi acara Story telling... pas dikasih tahu itu celeb terkenal lho kak..jawabnya: so whatt???. Dikenalin sama Ratna Riantiarno ibunya Saddam dalam film Sherina, mereka salaman trus biasa aja. Ketemu Melly Guslow dirumah temen sepupunya Melly yang lagi ultah, juga cuma senyum... Di kafe lihat band Joshua yang waktu kecil Vikra suka, ya datar aja... ibunya cerita nyanyi trio ama Opi Andaresta, malah pada diketawain. Banyak event kultural atau tempat hiburan/mall yang kita kunjungi ada artis..ya mereka nonton mengapreasi, tapi nggak pernah diceritakan berlebih dengan teman2nya..apalagi minta foto atau tanda tangan. Nyaris tidak pernah!! Sejak mereka kecil, anak-anak juga udah menginap di villa Dono (warkop), dan sejak TK sampai SD/SMP Muhammadiyah, mereka sekelas/seangkatan sama artis. Di TK ada Ria Enez tantenya temen Vikra, juga ada anak Suti Karno yang jadi Atun. di SD ada anak Edi Riwanto, juga ada artis pemain utama kaos kaki ajaib (seangkatan beda kelas ama Vinda). Jadi Muhammadiyah 12 terkenal di pamulang rada bonafit katanya banyak artis/anak artis...padahal beberapa aja sih! Dan Vikra-Vinda sering bilang norak kalau ada temennya yang minta tanda tangan sama tokoh yang datang kesitu. Yang lucu waktu Dien Syamsudin tokoh ketua PP Muhammadiyaha mau ke sekolahnya, sekolah kan heboh mau menyambut, termasuk Vinda sibuk nyiapn baju drum band. Eh, malam sebelumnya (Om) Dien Syamsudin telp ayah/ibu dan juga bicara sama Vinda, bahkan waktu di Belanda om Dien pernah maksa kasih sesuatu untuk Viva. Mungkin dari hal-hal begini, membuat arti tokoh-idola itu samar buat mereka.

Moga-moga foto ini tidak jadi bahan tertawaan mereka. Mungkin untuk pertama kali ibu foto sama celeb (cak Nun dan Novia Kolopaking). Ini niatnya mau moto tante Lies, tapi tiba-tiba ada orang yang nyerobot kamera ibu sambil bilang.."sini saya foto berempat"..nah lho..kok bisa? Ya..buat kita cak Nun ya biasa aja. Ibu pernah dimoderatori cak Nun waktu diminta jadi narasumber (panel sama Agum Gumelar, dll) pas 100 hari wafatnya Cak Nur di Univ Paramadina.

Ini geng poci melawai ayah,lengkap dengan presenter cantik-cantik dan baik-baik yang jadi sobat ayah dan beberapa akhirnya juga jadi temen ibu. Geng poci ini geng ngumpul waktu di Metro TV yang anti establishment :).

Inilah sekilas, kenapa kami jarang punya foto sama tokoh celebritis, kecuali memang tokoh "besar", misalnya kita pernah ajak renang dirumah mantan menteri atau keluarga tokoh nasional yang namanya dibuku sejarah mereka disekolah, kita jelasin panjang lebar bahwa ini orang hebat, jasanya dan perjuangannya hebat. Intinya kalau tokoh intelektual atau tokoh bangsa ya kita akan tekankan. Misalnya Nurcholis Madjid, juga Fathema mernisi..biasanya kita jelasin...

Kyai mengawini anak 7 tahun??

Ayah: yup..halloo..tadi nonton topik petang dulu..pada ribut..seorang kiai di semarang ngawinin anak 12 tahun..terus diberitain mau kawin lagi sama anak umur 9 ama 7 tahun..hallahh..
Ibu: Masak sih..gila banget..apa alasan dia?

Di wawancaranya..dia pegang buku "aisyah nikah dini"..dia bilang juga, gak percaya ama cewek2 yang udah kuliahan..udah rusak semua, katanya

Ha..ha.. ngawurrr !! Tapi dimasalahin gak sama polisi?

Belon..besok baru digarap ke situ..yang ngerespon baru komnas anak..

Menakutkan euii...kebayang gak sih orang se Vinda (dalam foto itu usia 7 tahun) dan sekarang 12 tahun yang lagi ceria-cerianya menikmati masa remaja dikawin..udah gitu kyai lagi !! Jadi takutnya umat pada ngikutin kayak jamur.. Kan kyai/ulama warisatul anbiya' (pewaris nabi)... sakit nih umat!

Makanya diramein..hehe

Iya setuju!!..trus cari narasumber yang bener-bener extrem menentang dengan argument yang ok dari kyai juga. Kalau elemen sekular pasti gak strategis.

Muladi dari MUI jateng, MUI pusat, dst

Kyai yang terkenal dan populist siapa ya ..

Mulai dari yang formal dulu aja..biar gak kenal orangnya, tapi mewakili lembaga..

Wawancara juga anak usia 7 tahun dan 11 tahun..tapi yang menyentuh..dengan back ground lagi main-main yang masih fun... ihhh gemes!!..

Ya udah..magrib dulu yak...

Furniture Warisan Leluhur : Memori masa kecil

Uyut uti Hajjah Sutiyah dan uyut akung Milan Hatmopawiro adalah orang tua yang membesarkan uti sejak bayi dan tinggal didepan rumah ibu di Gedawung. Mereka punya 2 putra biologis : Soenarto (mantan kepala fisiotherapy RS Karyadi-Dosen) dengan putra-putri: Dodi ajiyoso Adi (alumni IPB), Tri Saksono Minursito (Pilot), Budi Riandari (pengusaha bus Ambarawa), Yoyon Dibyo Gunawan (wiraswasta). Lalu putra kedua akung Soenarso dengan putra-putri": Titis Widowati (istri anggota DPRD), Bayu Anjasmoro (guru), Danur Wendo (wiraswasta), Muri Setyawan (?). Sementara uti adalah ponakan yang diambil sejak bayi karena anak perempuan uyut dua-duanya meninggal.



Uyut uti adalah perempuan Jawa yang tangguh, gigih dan kaya untuk ukuran kampung kami. Uyut uti berdagang batik dan juga berlian yang dipesan oleh orang-orang kaya lokal disitu. Uyut uti tidak bisa baca tulis, tetapi cerdas. Silsilah uyut uti dari keturunan lurah-lurah sesepuh kampung itu, bahkan penamaan kampung Gedawung konon dari uyut-uyut sebelumnya. Uyut akung dari keluarga biasa, tapi akhirnya menjadi pelanjut lurah, cukup kharismatik dan penuh skill. Waktu kecil ibu paling sering disuruh beli rokok Kerbau dan akan dihadiahi se sloki anggur kolesom cap orang tua. Jadi ibu sejak kecil sebetulnya sudah peminum...he..he.... Ibu pula yang diwajibin uti mengantar makanan sore setiap hari ke mereka (kami menyebutnya mbah kakung-putri kulon/barat). Lalu ibu pula yang diwajibin bikin teh com-coman (teh tubruk) kalau uyut akung kerumah. Dan sebelnya teh tubruknya yang masuk mulut dibuang gitu aja di lantai yang habis di sapu. Jadi latihan berbakti dengan orang tua, kakek-nenek, tertanam betul dari melayani mereka. Tapi hobi home decorating ibu dengan memanfaatkan bahan seadanya dan kreatif murah tapi bagus, belajar banyak dari uyut akung ini, karena uyut akung hobi nukang dan ibu sering disuruh pegang palu/paku sambil megangi tangga dibawah. Jadi akung bisa buat slerekan gordin dari cincin selang yang dipotong-potong, kayu sisa dibuat kursi cantik, pagar bambu dibuat gonta-ganti. Saat wafat, sehari sebelumnya ibu, ayah, Vikra sempet menengok dengan nafas yang tersengal... tapi alhamdulillah kayaknya lega habis ditengok cucunya, dan pergi.



Benda-benda bersejarah ini dipaket dengan susah payah sama omacan. Bentuk awalnya sudah lusuh tua, rusak sana sini, tetapi sampai di Jakarta kami bawa ke galeri antik untuk dirapikan. Biayanya lumayan, tetapi karena akan menyejarahkan, jadi memang kami niatkan. Bufet ini dulu dipakai untuk tempat TV uyut, tetapi laci-lacinya untuk bahan pertukangan berharga buat uyut akung. Jadi masa kecil ibu lekat sekali dengan bufet ini. Lacak punya lacak, bufet ini dulu dibeli uyut dari sodagar china kaya di Mbatu (Baturetno). Dan memang oleh toko antik dirayu akan dibeli karena kayunya sudah langka, kayu Ambon Sutra. Mau dibeli? No way.... we dont need money... we need our history. Sejarah bufet kecil ini sampe ke tangan ibu, sesaaat setelah uyut uti wafat, akung Narto Semarang beres-beres rumah dan ibu bilang suka bufet itu ke uti. Uti kan manja dan pinter ngrayu sama kakaknya, jadi dibilang, "pakde, niki Yuni ting petringsing senenge aneh-aneh. Niki pingin bufet adah pukul niko lhe pakde.. pareng mboten"( pakde, yuni nih anaknya suka unik neko-neko bin aneh-aneh..pingin bufet tempat palu itu lho pakde, boleh ngak). Akung Narto langsung bilang... yo kono punduten (ya sana, ambil aja dengan santainya). Horrreee...



Kalau peti ini dulu jaman ibu kecil sangat mistis ditaruh dikamar uyut, dekat dengan tombak 2 menempel dinding dan diatasnya sering ditaruh kendi empat mulut dan sesajen lain. Jaman itu uyut belum se-Ialmy sekarang, masih kejawen sekali. Didalam peti ini juga cantik, tempat uti naruh uang buanyak (dari persepsi bocah saat itu) dan perhiasan. Masih ingat waktu kecil uyut uti rajin belikan perhiasan emas tiap lebaran, kadang gelang, kadang anting, dll dan selalu diambil dari situ. Perhiasan uyut uti banyak sekali, peniti, tusuk konde, cincin, gelang, dll semuanya berderet berlian. Jadi image bahwa uyut uti kaya, dan perempuan harus pintar cari uang dengan kerja keras, terajari dari mereka-mereka. Walaupun untuk ukuran rumah jaman sekarang, rumah uyut jelek, tapi pernah pada jamannya, ini rumah tembok pertama dikampung kami, orang ynag punya mobil pertama, dan mereka relatif jadi tumpuan tempat keluarga yang tidak mampu untuk survive. Tapi awal-awalnya peti itu untuk tempat pakaian katanya? lho kok? iya..jaman dulu pakaian orang itu dari karung goni, jadi punya baju satu dua itu barang berharga... oww gitu. Peti ini ibu dapat saat uti masih sehat, ibi minta langsung dan dikasih langsung...



Ini dulunya lemari dapur yang sudah reyot, belakangnya kawat-kawat nyamuk untuk tempat makanan. Jadi kalau menghantarkan makanan, selalu ditaruh disini. Baunya masih ingat dalam memori, penguk...gak enak blas. Dan bayangkan itu untuk tempat makanan. Maklum nenek-nenek. Kalau ingat lemari ini juga inget mbah Niti, pembantu setia uyut yang meninggalpun di rumah uyut sampai tua. Mbah Niti ini sayang banget sama ibu, kalau ibu malas maem sampai dikejar-kejar suruh maem mau didulang (disuap sama yune/pembantu uti), ibu sering lari ke ketiak mbah Niti. Dan mbak Niti akan cari akal biar ibu maem dengan nawarin yang ibu suka. Jaman itu ibu suka nasi krawu (nasi hangat yang dicampur dengan parutan kelapa dan garam. Betapa tidak bergizinya ya... tapi nasi putih jaman itu dikampung ibu hanya dikonsumsi keluarga berada, karena kalau main ketempat temen, selalu maem nasi tiwul bahkan yang hitam sekali dan nasi putih hanya ditaruh segengam untuk campuran). Apapun yang ibu mau maem mbah Niti nuruti membuatkan. Kalau uyut-uyut nyembelih ayam, selalu atinya buat ibu, dan mbak Niti yang sering nyuapin. Mbah Niti juga nurut aja kalau ibu mau kelapa bakar dimakan pake gula jawa.. nggak ngeluh dia nyalain api pawon (masih pake kayu), dan wajahnya seneng kalau sudah siap dan disuapin ke ibu. Sering juga dibuatin tajin, dan ibu lebih seneng ketimbang susu Indomelk dan minyak ikan yang selalu dirayu-rayu untuk disuapkan ke ibu. Ama mbah Niti, kami sering ngobrol didepan pawon. Dan kalau ibu jatuh atau digigit kucing, mbak Niti selalu ambil kayu dan mengebuk-gebuk ke tanah atau kekucing, nyalahin mereka, kenapa tanah kok bisa njatuhin ibu. Ah..lucu, konsep orang Jawa... anak kecil selalu harus super terlindungi dan selalu benar. Ini yang dikritik sama pendidikan Belanda saat itu (di majalah tua di KITLV), bahwa orang tua selalu nyalahin kodok kalau ada anak jatuh.. tapi kok suka ya dibegituin.. rasanya udah sakit, dianggap tak bersalah dan didekap..sakit terasa hilang. Makanya spiritulitas orang Jawa dalam, karena diberlakukan dengan dalam juga. Peristiwa lain yang bikin ibu agak trauma, pernah lihat mbah Niti jatuh dari undakan tangga dapur dan hidungnya berdarah. Padahal ringan saja, tapi ibu girap-girap (ketakutan) antara kasihan dan takut darah.


Balik ke lemari ini buat omacan juga ada memorinya, karena lemarinya jorok, cicak juga rajin singgah. Suatu kali uyut menghantarkan oleh-oleh mie buat omacan (uyut selalu bawa oleh-oleh untuk kami kalau dari pasar atau dari kulakan ke Klewer, bisa ayam, roti semir, roti kacang ijo, dan ati karena ibu susah maem dan ati dipercaya proteinnya bagus). Nah, mie yang dikasih uti tadi pas omacan maem, rupanya ada cicaknya..makanya ampe sekarang omacan suebel banget ama Cicak. Sejarah lemari ini sampai ketangan ibu, ceritanya ama uyut sudah dikasih sama mbak Warni (yang ngasuh ibu waktu kecil), terus pas ibu minta sama uti, seperti biasa uti-akung tahu kalau ibu punya mau artinya "harus dan sak-jet sak nyet, harus saat itu juga". Jelek adat kan? Tapi nggak tahu kenapa mereke pelihara :), barangkali ini energi positif buat mereka bahwa sisi lain dari sifat ini adalah gigih dan tidak menunda pekerjaan. Oleh uti diakalin, mbak Warni ditawarin lemari yang lebih bagus (karena memang lemari diatas sudah juelek banget), dan tentu mbak Warni suka banget. Ama akung lemari diatas dicat biru muda..alahmaakkkk..wong kalau bisa mau dikeep antik, kok malah dicak ki pie to? Makanya proses pengelupasan dan menjadi tampak cantik ini butuh energi sendiri,pake soda api, dll. Untung tukang antiknya jago, dan sengaja dipilih kayu tua untuk belakangnya. Cantik kan?? kalau hitung-hitungan ekonomis, mendingan beli barang baru dengan disain antik, tetapi karena memang niat mau memuseumkan...ya harus mau susah dan mengeluarkan budget extra. Dengan benda-benda tua dirumah ...sejarah manis dengan mereka selalu tersimpan, dan serasa mereka bangga terhargai. Karena kami pakai untuk menyimpan buku-buku penting. Makasih uyut..mbah Niti....



Ini makam mereka saat kami melingkar di makam uti (Misniyati Bardus Syafaát) yang sederhana. Sementara uyut akung uti bersanding dibawah rumah pusara yang dibikin lumayan megah untuk ukuran pusara di makam itu, yang dibangun oleh salah satu pakdenya ibu, lengkap dengan atap, pagar besi, keramik dll. Jadi kalau nyari makam uyut, gampang! cuma ada 2 makam yang bergazebo di makam Belikwatu (terlihat dari jalan besar) , yaitu punya uyut dan punya pak Marmo pemilik bus Ismo konglomerat Baturetno. Ahh... mestinya lebih berfaidah uangnya buat mbetulin atap sekolahan... yang betul-betul akan menjadi "atap" mereka selama berbaring dengan amal jariyahnya.