Belanja pintar hati

"Ibu mah sukanya cuma lihat-lihat, kenapa sih nggak langsung beli aja? Ngapain lihat-lihat kalau nggak buat beli?" Beginilah Vinda sering nyeletuk ketika kadang kami jalan wiken, disaat ayah Vikra menikmati hobinya di counter DVD, ibunya dan Vinda juga menikmati hobi sendiri, muter-muter atau belanja keperluan.
Nggak tahu kenapa window shopping atau sekedar melihat-lihat kadang bikin nikmat, bukan sekedar kita bangga ketika kita menang melawan nafsu membeli, tetapi juga puluhan ide muncul untuk mengkreasi atau memodifikasi benda-benda yang kita lihat. Entah itu model baju, interior disain, harmoni warna dll. Sambil jalan begitu , selalu jadi disainer imaginer yang nggak wajib tertuang dalam benda nyata untuk diusung ke rumah.

Repotnya menanamkan sikap menjadi smart shopper ke anak, tidak mudah. Kami paling suka bergaya hidup circus yang siap keatas dan biasa ke bawah. Kami kadang juga beli benda bermerk karena ingin awet atau beli di tempat mewah macam Sogo, juga pernah sesekali. Motivnya hanya untuk bilang ke anak, bahwa beli di tempat mewah bukan soal bisa atau tidak bisa, tetapi soal mau atau tidak. Jadi kami beli benda satu, diskusinya seribu:). Kenapa benda ini menjadi mahal? Mulai deh ceriwis diskusi bahwa barang mahal karena pembeli harus menanggung sewa display/toko yang mahal, biaya reklame, seragam dan make up pramuniaganya, biaya transport impornya… Padahal kalau mau lebih teliti, dan kalau mau rasional.. benda dengan kwalitas yang sama bisa kita temukan ditempat yang lebih sederhana dengan harga jauh lebih murah karena kita tidak terbebani biaya-biaya itu semua.
Jadi pernah kami bikin list belanja di pasar Ciputat, dengan uang 200 ribu pernah dapat mukena parasit harian Vinda, handuk, kaos kaki buanyak, baju tidur katoen lucu-lucu dan bagus, dll.. 3 plastik!! Vinda tercengang-cengang, karena uang yang sama dia tahu bisa dapat apa di mall-mall mewah. Sambil jalan, biasanya cerita-cerita, bahwa mestinya kita selalu belanja di Pasar untuk menghargai uti dan uyut-uyut juga, karena ibu bisa sekolah karena jasa mereka yang sehari-hari berakrab ria beraktifitas di pasar tradisional. Di pasar kita bisa menawar..dan asik ada interaksi, tambah lagi hubungannya sangat personal. Pembeli yang miskin akan dikasih harga minim dan sebaliknya bisa ambil untung banyak kalau pembeli berkantong tebal. Bahkan tidak jarang pembeli bisa hutang, atau kadang uti sering memberi mukena atau seragam ke pelanggan yang tidak mampu. Tidak seperti di mall dan supermarket besar yang semua dianggap sama rata, impersonal dan pembeli ya benda itu sendiri!! Semua orang dipaksa wangi dan sempurna, padahal ketika pulang ke rumah masing-masing sudah menjadi orang yang berbeda. Di pasar tradisional, pembeli adalah manusia....

Tidak ada komentar: