Tampilkan postingan dengan label galeri Vikra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label galeri Vikra. Tampilkan semua postingan

Ayah Bima Meninggal

By Vikra Alizanovic

Belum lama ini, sekitar awal bulan Desember ini, berita duka sampai ke telinga gue. Waktu itu gue lagi bareng keluarga. Tiba-tiba aja salah satu temen gue nelpon gue lewat hape esia gue.

”Vik, bokapnya Bima meninggal! Lu bisa langsung ke rumah gue gak sekarang? Anak-anak pada mau nengokin Bima ke Cibubur!”

Gue terdiam. Bisa dibilang syok. Innalillahi wa innalillahi rojiún. Gak tau kenapa, gue bener-bener ngerasain that uneasy feeling. Bokap temen gue meninggal. Bokap kandung. Yang selama ini menghidupi keluarga dia.

Tanpa sadar, gue mikirin apa yang akan gue lakukan seandainya hal tersebut terjadi sama gue. Siapkah gue?

Malem itu gue gak ikut anak-anak ke Cibubur karena logisnya gue gak bisa malem itu. Tapi besoknya gue ikut ke pemakamannya bareng beberapa temen sekolah gue. Beliau dimakamkan di Pemakaman Karet. Meskipun ngumpul bareng temen-temen, gak ada yang ngeluarin canda tawa sama sekali saat itu.

Gue masih inget masa-masa ketika beliau masih hidup. Bima dan Kresna, 2 putra dari beliau, yang keduanya temen gue seangkatan, masih bisa becanda tawa. Sempet sebelum beliau berpulang ke Rahmatullah, Bima memasang status di facebook-nya kalimat-kalimat seperti ’Stay strong, dad!”atau ”Love you, Dad’. Hati gue bener-bener tergetar.

Di pemakaman gue dateng pas sebelum ambulans yang membawa Bima dan keluarga dateng. Bima masih bisa senyum ngeliat kita-kita, sedangkan Kresna bener-bener diam tanpa ngeluarin sedikitpun suara. Ketika penguburan, Bima masuk ke liang lahat membopong jenazah ayahnya sambil menangis. Gue terharu dan nafas gue sesak ngeliat hal tersebut. Tiap beberapa saat selama sesi pemakaman, Bima memandang kosong ke arah nisan ayahnya dan mengeluarkan isak tangis yang masih ditahan olehnya. Gue dan beberapa temen ikut berduka. Pas setelah orang-orang bubar, Bima duduk disamping nisan ayahnya dan memandang kosong ke tanah lahat serta mengeluarkan isak tangis beberapa detik sekali.

Gue yakin dia pasti sedang mengingat-ingat hal-hal yang pernah dia lakukan bareng ayahnya tercinta. Jujur, gue terharu ngeliat hal tersebut, dan sekali lagi, gue ngebayangin sekali lagi, apa ini yang akan terjadi ke semua anak-anak yang ditinggal orang tuanya. Pasti kita akan ngebantu bopong jenazah, mandiin jenazah, mengkafani, serta mensolatkan orang tuanya, kaya yang Bima lakukan.


Gue nyadar, ini bukanlah hal yang terjadi ke Bima gitu aja. Bima Cuma dapet giliran duluan. Kita gak akan pernah tahu who’s gonna be next. Jadi buat yang baca ini, if you must listen, love what you have as long as you don’t have to miss what you have lost. Yep, that’s original from me. And that’s what I’m going to do from now on.

Camping Hiking di Gunung Pangrango (1)

By : Vikra Alizanovic

Belum lama ini, beberapa minggu yang lalu, kita ada rencana weekend camping ke Sukabumi sama keluarga-keluarga temen2 ayah ibu. Pokoknya rencananya udah mateng banget, eh tahunya satu persatu mereka nge-cancel acara itu.

Daripada kesel gak jelas, akhirnya we decided to take the weekend vacation on our own. Kita berempat sekeluarga berangkat hari jumat itu ke Sukabumi, nama tempatnya Cinumpang. We had lunch at Rumah Makan Bu Bunut. Sayangnya, gw lg sakit, jadi lidah masih asem banget. Tapi sambel-sambelnya sedap banget. Habis makan, kita langsung ke Cinumpang, disitu ada camping ground, cottage bambu dan kali.

Tempatnya kurang menjanjikan sih, tapi udaranya seger banget. Habis observasi sebentar, we decided to look for another place. Kita naik lagi dan ketempat resort lain namanya Situgunung. Situgunung ini termasuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, jadi tempatnya tuh masih hutan banget. Kita mau ngeliat cottage-nya, sayangnya tempat permukimannya jelek, gak keurus, terpencil banget di tengah hutan gunung, dan dipinggir danau. Padahal kalo dikelola bisa jadi bagus banget. Akhirnya kita malah foto-foto dan nyantai di pinggir danau-nya.

Balik lagi kebawah naik mobil, kita check sebentar camping groundnya. Ternyata tempatnya asik banget. Adem, perlengkapan yang disediain juga bagus dan lengkap. Sayangnya Vinda rewel gak mau camping, karena gak rame-rame. Dan gak tahu kenapa dari Cinumpang tadi, ada lebah yang ngikutin kita terus. Bener-bener ngikutin. Nempel.

Malemnya, kita nyari makan. Sempet kepikiran mau ke GunungMas aja, dan nyari makan malam ontheway kesana, tapi ayah sama ibu malah ngajak keliling2 kota Sukabumi nyari bandrek yang dulu pernah mereka minum. Katanya bandrek itu enak banget. Sayangnya, setelah muter-muter gak jelas, we didn’t find it. Tapi kita malah nemu tempat Surabi dan Sekoteng yang enak banget. Sekotengnya manis dan anget, dimakan bareng Surabi Duren yang gurih dan manis. Sedap.

Akhirnya karena waktu sudah agak malem, kita nyari hotel. Ketemu sih hotel yang enak. Kita bermaksud cuma untuk spend the night. So, besok paginya kita udah checkout duluan. Kita googling nyari website sarapan yang cukup terkenal di daerah situ, dan ketemu sama Bubur Ayam Bunut. Enak? Pastinya. The unexpected awesome culinary part is the thing I love the most about vacations. (baca part 2 dibawah artikel ini)



NB : Ini kita surveiin info camping ground dan cottage buat rame-rame (muat 30 orang) kalau kapan-kapan mau camping ke Situgunung

Camping - Hiking di Gunung Pangrango (2)

By Vikra Alizanovic

Sehabis sarapan, kita berencana mau ke Lembah Halimun. Gak jelas mau ngapain. Sampai sana, Ayah nyuruh kita make sepatu. Turns out, we’re going hiking. Off to the high mountains of Mount. Gede-Pangrango. Me, mom, and Vinda decided to just wear sandals. Ayah satu-satunya yang paling antusias soal make sepatu. FYI, belakangan ini bokap jadi punya fetish sendiri sama sepatu. Buat setiap kegiatan nyaris ada sepatunya sendiri. Waktu ke tempat-tempat sport stations, ayah beli banyak banget sepatu. Ada sepatu boot kulit yang bagian depannya keras banget, gw yakin bisa nendang orang sampai tulangnya patah. Alesannya sepatu ini buat naik motor. Ada lagi running shoes, buat lari. Terus sepatu bola, sepatu kantor, sepatu casual, sepatu badminton. Aneh gak ada sepatu buat tidur atau buat mandi. Sepanjang perjalanan kalo kita ngeluh sedikit soal pake sendal, ayah langsung nyeletuk lagi soal pentingnya sepatu.

Sedikit note, bahwa pertama-tama, yang paling banyak ngedumel dan menyatakan diri paling gak niat naik gunung, is none other than the devil herself, Vinda. Dan gw udah jadi the bad guy duluan dengan ngingetin dia supaya jangan manja. Nah, faktanya, pas udah di gunung, dia yang paling semangat. Berhubung gw masih agak sakit, dan sedikit susah napas kecapekan, gw harus berhenti beberapa kali to catch my breath. Nah, if you know Vinda, then you would how she would react. Yap, dia dengan sukses ngingetin gw supaya jangan manja. She lectures me. How nice.

Sebelum naik gunung, kita nanya beberapa orang berapa jauh jaraknya sampai ke air terjun. Ada yang bilang 1 kilo, 2,5 kilo, 1,7 kilo lah. Faktanya, hiking di gunung gak bisa dihitung berdasarkan jarak. Jalan yang naik-turun-naik-turun-naik-naik-naik-naik-naik sampe bikin kaki bengkak kalo pake sendal dan bikin ayah ngedumel lagi soal pentingnya sepatu, yah pokoknya, naik gunung gak gampang. Kita sempet stress soal Vinda yang ngedumel about how slow we are, and how fast she is. Dia juga ngedumel tentang berapa kali kita udah disalip sama rombongan lain.

Dan ternyata, setelah jalan panjaaaaaaaaaaaaaaaaaang, kita nyampe, di pos PERTAMA. Jalan ke air terjun masih stengah jalan, dan medannya lebih berat. For me, sempet kepikir untuk balik aja naik ojek. Tapi karena dorongan dari om-om yang ada di pos itu, akhirnya I decided to keep going.

Jalannya emang bener berat. Ada bagian dimana jarak setengah kilo, dan jalannya menanjak terus. Kita sempet berhenti 2 kali disini. Tiap kita nanya orang, “masih jauh gak pak?”, they all answer with the same answers. “udah deket kok pak”. Liars. Tapi mungkin emang poinnya supaya kita terus jalan. Kita sempet disalip beberapa rombongan lagi. Malah, ada mas-mas yang tadi kita temuin, yang udah mau balik lagi kebawah. Dia bilang jalannya udah deket. Katanya tinggal naik-turun-naik-turun-jembatan-naiiiiiiiiiikkk, terus sampe deh di air terjun.

Excited to get there, kita jalan terus. Kita juga penasaran soal seberapa naik ‘naiiiiiiiiiikkk’ yang mas tadi bilang. Nah, sesampainya kita di jembatan, ternyata naiknya lumayan ‘naiiiiiiikkk’. Daripada hiking lebih bisa dibilang panjat tebing.

And after all that effort (rupanya kita naik gunung ketinggian 1350 kaki) akhirnya kita sampai di air terjun. Our first thought was ‘WOW’. Subhanallah, air terjunnya indah. Jadi air terjunnya mengalir di atas dinding batu yang tinggi banget. Di bawah air terjun itu mengalir air yang luar biasa bening dan luar biasa dingin. Disana cuma ada tukang jualan pop mie-minuman dan bakso tusuk. Kita makan pop mie bareng-bareng di bawah air terjun. Pop Mie never tasted that delicious in my life. Karena gw menderita alergi terhadap dingin, dimana kulit gw bisa langsung bentol-bentol semua, I stayed di warung minum tersebut sambil nyeruput kopi susu. Nikmat banget. Now this is what I would call vacation. Setelah itu kita foto-foto, ayah sempet nyoba mau nyebur, tapi gak jadi karena terlalu dingin.

After a while, we decided to go back to the foot mountain. Setelah jalan sebentar, kita nyampe di Pos tadi. Dari pos tadi gw pulang duluan naik ojek, since I’m the most exhausted one. Tapi yak, bayarannya untuk meninggalkan keluarga, kaki gw berdarah-darah. Ternyata rute ojeknya isn’t exactly an ojek route. Kita ngelewatin kebun the dan jalannya sempit banget, sehingga lutut gw kebeset dahan yang tajem. Yak, karma kali. Tapi akhirnya gw sampai di mobil, dan gw tidur di mobil.

Setelah ayah, dkk nyampe, kita nyari makan di daerah sekitar situ. Kita makan nasi goreng, soto mie, gorengan, jagung bakar, sambil nyeruput teh manis anget. Nasi gorengnya ternyata enak. Habis makan, we were exhausted. Jadi, kita ngambil sleeping bag, tiker dan selimut, dan masuk ke camping groundnya. Kita istirahat di gazebo pinggir sungai sambil tidur-tiduran. Ibu sama ayah mandi di sungai.

Out of nothing, tiba-tiba ayah ngusulin kita camping aja. Toh rencana awal emang kita mau camping. Minimal itu harus kesampaian. Dad promised us to just take a nap in a tent and leave at night. So, sekita maghrib tenda sewaan kita sudah didirikan. Kita tidur dan foto-foto lagi didalam tenda. Skitar jam 10 malem, kita beres-beres dan pulang. Yang penting kita udah tidur di tenda. That counts as Camping. Malemnya, kita makan di restoran deket bandrek yang ayah cari-cari dan akhirnya ketemu juga.

After all that, we go back to Jakarta with a large smile and an unforgettable experience to tell..

Garuda di Dadaku

By: Vikra Alizanovic.
Baru aja seminggu yang lalu, kita sekeluarga nonton film Garuda di Dadaku, which claims to be the most long-awaited Indonesian family movie of the year. Hari senin kita berangkat ke WTC BSD. Di perjalanan, kita gak bakal terkejut kalo antreannya bakal panjang banget, soalnya emang kata temen-temen filmnya bagus. Gak nyangka, sampai sana, ternyata gak ada antrean. Tapi, begitu kita cek ke mbak-nya, ternyata yang ada tinggal tiket untuk jam main 19.00. Padahal itu baru jam 2 siang. Tiket untuk yang jam 14.40 dan 16.50 udah ludes. Habis. Ganas. Gak nyangka.

So, karena bener-bener niat, we decided to come back tomorrow before the theatre even opened. Kita bakalan dateng besok jam 11-an, karena jam segitulah loket tiketnya buka. Eh, begitu nyampe, bioskopnya emang masih tutup, tapi didepan pintu bioskopnya bertumpuk-tumpuk para massa. Udah kaya demo buruh, dari ibu-ibu yang gendong bayi, bocah-bocah lugu ingusan, pasutri yang kayaknya newlyweds, anak2 smp, sma, semua ada disana. So, bokap dengan sangat bijaksana berkata, “kak, ngantri.”

Yak, akhirnya gw yang harus mengorbankan tubuh gua ini untuk siap bergulat sama pasutri-pasutri itu nanti pas pintu bioskop dibuka. So, gw langsung mendekatkan diri ke pintu, tapi ada om-om gendut yang ngalangin gw. Pas gw senggol, dia menggeram. Imej-nya jadi kayak gw mau ngelawan beruang. Karena masih sayang sama anggota tubuh gw, gw nyari celah lain.

Selagi nyari celah, pintu bioskop tiba-tiba terbuka… Yak!!! Layaknya pacuan kuda, kita semua berpacu ke loket pembelian. Gak peduli umur dan badan, gw harus menang. Sialnya bocah-bocah ingusan itu mimpin di depan. Yah, setidaknya gw dapet barisan tengah. Tangan gw lebarkan ke samping biar gak ada yang nyalip. Medan perang berantakan. Ada ibu-ibu yang nabrak papan reklame film. “Stop Vikra! Gak ada waktu untuk ketawa!”, pikir gw. Dengan menahan tawa, gw terus berlari ke arah loket. Sayangnya, disamping gw bocah kecil berambut jabrik nabrak pot tanaman. Hahahahahaha, gw ketawa. Sialnya, gara-gara ketawa, gw kehilangan fokus. Gw disalip om-om yg gendong anak perempuannya.

Yah, akhirnya setelah dapet tiket, kita kebawah dulu ngemil di cafe favorit kita. Sampai akhirnya, kita masuk bioskop. Kegiatan nonton berlangsung secara normal. By normal, I mean it. Harus nahan malu kalo bokap udah ketawa. Selera humor bokap jelek. Jadi di adegan yang gak lucu, bokap sering ketawa sendiri, dengan suara yang aneh. Penonton lain pada nengok ke arah kita. Mungkin mereka ngira ada penyembelihan kambing di Studio tersebut.

Eniwei, overall, filmnya bagus. Bener-bener Indonesia banget. Cerita tentang seorang anak yang berjuang keras untuk jadi Timnas Sepakbola Indonesia, bertarung mewakili tanah air tercinta, walaupun dilarang oleh kakeknya sendiri. Film ini juga banyak menyinggung hal-hal yang cukup penting. Seperti dimana si Bayu, karakter utamanya, harus latihan bola di kuburan yang sudah gak dipake, karena di Jakarta sudah gak ada tanah kosong. Gedung dan bangunan dimana-mana. Semua jalan sudah dibeton. Kalaupun ada, tanah itu sudah dibeli dan dipagar, sehingga anak-anak yang punya bakat gak bisa menyalurkan bakatnya.

Di film ini juga memberitahu para orangtua, bahwa untuk tidak memaksa anaknya untuk belajar ini-itu, melainkan membiarkan sang anak melakukan apa yang dia suka, selama hal itu menuju ke sesuatu yang positif.

Film ini lain dari yang lain. Dimana tadinya film indonesia hanya tentang horor yang dimainkan oleh artis-artis seksi tapi kurang bermutu aktingnya dan aspek seni-nya nyaris tidak ada. Mereka lupa bahwa sesungguhnya perfilman itu bukanlah bisnis perfilman, melainkan seni perfilman.

Film ini juga bener-bener membangun rasa nasionalisme di dalam diri para penonton, dibuktikan oleh para temen gw yang mengaku begitu. Even I, I think have become a nationalist. Whatever that is. Walaupun sampe sekarang gw belum hafal UUD alinea pertama. Well, pokoknya ini film recommended banget. Four Thumbs Up! A-must-see…

Spa Fish & Hepi Weekend di Puncak

By : Vikra Alizanovic.

Sabtu kemaren, kita sekeluarga pergi ke Puncak. Acaranya dadakan. Kita diajak Om Fauni, sedangkan gw lagi nginep di rumah temen di Cinere. Terpaksa, gw harus berangkat pagi-pagi dari rumah temen, soalnya Ayah bilang mau berangkat subuh.
As expected, gw telat bangun. Jam 5.30 baru berangkat dari rumah temen gw, dan pas gw sampe rumah. Taunya, gerbang rumah masih dikunci. Gw klakson, ga ada yang respon. Ternyata Ayah Ibu Vinda semua kesiangan juga..
Ternyata pas Ayah mau nyetel alarm jam 4, Ibu bilang gak usah. “Hari “libur” gini gak mau pake alarm. Biarkan kita bangun sewajarnya. Jadi, kalo aja tadi gak gw klakson-in, mungkin gak bakal ada yang bangun.
Akhirnya, kita berangkat dan sampai GunungMas kebun teh sekitar jam 9 kurang. Sampe sana, kita langsung ganti pake sepatu. Om Fauni udah disana dari jam 7-an. Kita semua langsung jalan, lewat trek hiking GunungMas melalui kebun-kebun teh. Jalannya cukup jauh. Naik-turun bukit. Kita juga lomba lari. 2 kali. Hasilnya, gw menang berturut-turut. Ibu, si turis jepang wannabe, teriak-teriak gak jelas. Vinda, ngeluh. Dan Ayah, sekarang keseleo dan pegel-pegel.



Setelah jalan pagi dan minum teh hijau di GunungMas, kita pergi makan siang. Karena kebetulan Om Ipung-Bude Ikun lagi di Puncak juga, kita jalan bareng. Kita makan di Ayam Goreng Cianjur. Sedap. Ada nasi uduk, ayam bakar, tempe penyet, cah kangkung, tumis pucuk labu siam, dll. Perut kenyang.
Habis makan, kita mutusin ke hotel Puncak Pass. Disana soalnya udaranya dingin. Om Ipung nyewa cottage di Puncak Pass. Sampai di Cottage, kita yang cowok-cowok main gaple. Seru. Tadinya sempet kepikiran pengen berenang, tapi karena dinginnya pasti minta ampun, dan gw alergi dingin, gak jadi deh. Pas udah sore-an, kita pergi ke kampoeng Brasco (outlet). Cari baju gw ama Vinda. Habis puas belanja, Om Fauni nawarin nyoba Fish Spa. Ituloh, yang kaki kita dicelupin ke akuarium yang isinya ikan-ikan kecil yg diimport dari Turki), terus kaki kita dikerubutin. Katanya, manfaatnya bisa mengangkat sel-sel kulit mati dan memperlancar peredaran darah.

Nah, pertama, gw sama bude Ikun dulu yang nyoba. Kita harus ngebilas kaki kita dulu. Nah, pertama pas masukin, kaki gw langsung dikerubutin ikan. Kaya pembagian BLT aja. Kaki gw pembagi BLT-nya dan ikan-ikan itu rakyat kurang mampu-nya. Gw teriak-teriak tertawa di awal. Gelinya minta ampun. Sampai sela-sela jari kaki juga digerogotin sama tuh ikan. Lamanya 15 menit. Habis gw, Vinda yang nyoba. Hasilnya gak keliatan banget. Paling kulit gw yang rada lebih halus.

Nah, habis having fun di Brasco, kita balik ke cottage Puncak Pass untuk jemput Om Ipung dan go to have dinner. Kita ber-dinner ria di RM Rindu Alam. Spesialis kambing. Jadi di meja itu disediain segala jenis kambing. Dari kambing guling, sop kambing, sate kambing, sate padang, ada juga sate ayam. Kita makan lahap. Daging kambing guling-nya mantap banget ditambah sambel kecap. Kenyang banget. Habis dinner, gw pamit sama om ipung dan bude ikun. Mereka nginep di Puncak Pass, sedangkan gw skeluarga sama om fauni pulang balik ke Jakarta. It was a fun weekend, dan besoknya masih hari minggu..

Casting paksaan: Seru-seruan sama temen2


By Vikra Alizanovic

Belum lama ini, gw dan temen-temen pergi ke Museum Air Tawar di TMII untuk ngerjain tugas biologi.Udah jauh-jauh ke TMII, gak mungkin dong kita langsung pulang. Sehabis dari TMII, kita semua jalan-jalan ke Citos. Banyak kebodohan yang kita laksanakan sepanjang perjalanan. Dari lampu katana gw yg gw nyalain pas di terowongan dan lupa gw matiin. Jadi deh, lampu nyala terus sampe citos. Nyasar sudah pasti. Kita kelewat gerbang masuk tol, sehingga mesti muter 2 kali. Salah kordinasi juga sama temen yang bilang kalo ada razia, sehingga mesti muter lagi dan masuk gerbang tol yang sebelumnya. Pokoknya ngakak-ngakak sepanjang jalan.

Sampe citos, rencananya sih mau nonton aja. Jadilah, kita nonton Fast & Furious. Kacaunya, gw salah ngitung pas beli tiket. 12 orang, padahal ada 13 orang. Nah, pas udah masuk studionya, mbak petugasnya nyamperin gw. Jadilah, gw harus keluar lagi ke loket dan nambah lagi 1 tiket.

Selesai nonton, kita niat nyari makan. Duit cash gw tipis. Tinggal ada kartu Flazz BCA, tapi sedikit tempat yang bisa pake Flazz. Karena keliling gak dapet, akhirnya kita nongkrong aja sambil nonton fashion show. Habis itu, kita main ke timezone. Main keenakan, ngabisin kartunya Adit, temen gw. Karena pada lagi asik main, gw diem2 ke J.Co bareng 2 temen gw, Chandra dan Teguh. Eh, disana kita ketemu lagi sama mas-mas dari Radio Prambors (yg lg bikin acara disitu). This is bad. Belum tahu ceritanya? Gw ceritain..

Jadi, di citos lantai atas lagi ada acara Fruit Tea Bintang Gokil, yang digarap sama orang-orang Fruit Tea sama Prambors. Nah, mas-mas Prambors ini sweeping dari atas ke bawah narik2in para remaja. Gw juga sebelumnya udah ditarik 2 kali. Pertama pas mau nonton, gw bilang aja telat mau nonton. Yang kedua, selesai nonton, gw bilang aja ke toilet. Gw sempet mikir mau kabur lewat fire escape, tapi nggak boleh sama mas-nya. Kacaunya, mas-nya main fisik pegang-pegang. Kalo mbak-nya sih ga papa. Kalo begini caranya, gimana gw gak kabur. Nah, pas di J.Co ini, kynya mas ini inget muka gw. Pengen kabur, udah telat. Akhirnya, gw buang muka. Eh, si mas ini ngajak ngobrol Chandra dan chandra ngiya-in aja. Terpaksa deh, harus ikut. Gw maju sama 4 temen gw yang lain. Chandra, Dimas, Teguh, dan Kyka. So, naiklah kita ke panggung, memperkenalkan diri, dsb. Skenario kita, jadi begini : gw, dan yang lain lagi jalan sambil minum fruit tea, nah, chandra gak kedapetan, dan dia minta-minta ke kita. Long story short, dia pura-pura pingsan buat dapetin Fruit tea, kita panik yang dilebay-lebay-in. Lalu chandra kita minum-in fruit tea dan dia bangun, trus kita ngomong bareng2, “Fruit Tea enak buat Seru-Seru-an!!”.

Lumayan seru lah. Plus, gw juga lagi haus. Plus lagi, kita dapet suvenir stiker peserta yang gw tempel di lemari, sama pin dari prambors. Not bad lah.

Setelah itu, kita main lagi ke timezone, terus pulang deh. Nah, pas pulang, bensin gw udah sekarat banget. Gw jg lagi gak ada duit cash. So, kita keliling2 nyari pom bensin yang bisa pake Flazz. Gak ada yang bisa. Giliran ada, mesin Flazz-nya rusak. So, bismillah, dan alhamdulillah, bisa juga nyampe rumah…

Hobi masa Kecilku: Manjat Pohon Cempedak

Oleh Vikra Alizanovic

Gang Jambu, sebuah gang kecil di depan Pom Bensin samping Permata Buana. Itulah yang akan gw bilang untuk mendeskripsikan letak rumah gw ke temen-temen. Gw udah tinggal disini sekitar ± 14 tahun. Gw sekeluarga pindah kesini sejak tahun 1995. Yap, sekitar 2 tahun setelah gw lahir dan 1 tahun sebelum adek gw—she who must not be named—lahir. Yeah, thing turns out to be just fine. Kita tinggal di rumah yang sangat sederhana. Dengan gaji bokap nyokap, rumah itu kita bangun. Masa-masa itu bener-bener kaya surga. Hidup tanpa beban.

Waktu itu, pas gw masih TK, gw inget banget kita punya pohon cempedak yang bener-bener tinggi. Pas kita baru pindah, tingginya baru setengah meter. Ini pohon yang bener-bener lucu sejarahnya. Menurut bokap, dulu pohon ini pohon nangka. Terus ditebang ma bokap, eh, malah tumbuh lagi jadi pohon cempedak. Tiap gw pulang dari TK, untuk menghabiskan waktu luang, gw manjat pohon cempedak. Waktu itu tingginya sekitar 6-7 meter. Yah, lumayanlah hasilnya kira-kira kalau gw jatuh. Eniwei, diatas pohon cempedak itu ada spot yang bener-bener nikmat. Dahannya gede, dan nyambung ke dahan yang lebih kecil yang mencondong ke jalan setapak disamping rumah gw.

Jadi, disinilah gw mengeksplorasi hobi gw yang baru dan bener-bener jelek. Jadi, tiap ada orang yang lewat, gw tinggal goyang-goyang-in tuh dahan, dan ketawa ngeliat reaksi-reaksi orang yang bermacam-macam. Ada yang lompat kaget, ada yang ngira gw tuyul pohon jenis baru yang gentayangan siang-siang, ada yang gak kaget dan nyapa gw trus nanyain kabar bokap-nyokap, ada juga yang sumpah-serapah, dan ada juga yang latah dan menyebutkan hal-hal yang berbau alat kelamin, ‘copot’, atau bagusnya malah baca Istigfar, Tahlil, atau minta ampun. Bagus juga. Dengan ini gw pasti dapet pahala juga kan. Hahahahaha.

Yah, sayangnya gak lama, karena pohon cempedak ini akarnya kuat banget dan bokap takut ngerusak pondasi rumah, maka pohon ini ditebang. Gw mendapati pohon ini tergeletak dari batangnya ketika gw pulang TK. Mungkin waktu itu gw sempet nangis. I don’t know, I don’t remember. Yang jelas, perasaan sedih jelas ada. Mungkin, ngancurin pondasi rumah merupakan cara si pohon cempedak berkomunikasi dengan gw. Mungkin, kalo dia bisa ngomong, dia akan ngomong, “Mati kau! Mati kau! Rasakan penderitaanku selama ini! Rasakan kehancuran pondasi rumah-mu!”. Gw ngebayangin dia ngomong kaya gitu sambil ngayunin dahannya kayak di film-film. Overall, manjat pohon itu fun.


* Ini foto rumah lama gw waktu gw masih kecil... lihat tuh sebagian daun cempedaknya kelihatan ngintip sedikit.

Masa kecilku: Hobi manjat pohon Cempedak

Oleh Vikra Alizanovic

Gang Jambu, sebuah gang kecil di depan Pom Bensin samping Permata Buana. Itulah yang akan gw bilang untuk mendeskripsikan letak rumah gw ke temen-temen. Gw udah tinggal disini sekitar ± 14 tahun. Gw sekeluarga pindah kesini sejak tahun 1995. Yap, sekitar 2 tahun setelah gw lahir dan 1 tahun sebelum adek gw—she who must not be named—lahir. Yeah, thing turns out to be just fine. Kita tinggal di rumah yang sangat sederhana. Dengan gaji bokap nyokap, rumah itu kita bangun. Masa-masa itu bener-bener kaya surga. Hidup tanpa beban.

Waktu itu, pas gw masih TK, gw inget banget kita punya pohon cempedak yang bener-bener tinggi. Pas kita baru pindah, tingginya baru setengah meter. Ini pohon yang bener-bener lucu sejarahnya. Menurut bokap, dulu pohon ini pohon nangka. Terus ditebang ma bokap, eh, malah tumbuh lagi jadi pohon cempedak. Tiap gw pulang dari TK, untuk menghabiskan waktu luang, gw manjat pohon cempedak. Waktu itu tingginya sekitar 6-7 meter. Yah, lumayanlah hasilnya kira-kira kalau gw jatuh. Eniwei, diatas pohon cempedak itu ada spot yang bener-bener nikmat. Dahannya gede, dan nyambung ke dahan yang lebih kecil yang mencondong ke jalan setapak disamping rumah gw.

Jadi, disinilah gw mengeksplorasi hobi gw yang baru dan bener-bener jelek. Jadi, tiap ada orang yang lewat, gw tinggal goyang-goyang-in tuh dahan, dan ketawa ngeliat reaksi-reaksi orang yang bermacam-macam. Ada yang lompat kaget, ada yang ngira gw tuyul pohon jenis baru yang gentayangan siang-siang, ada yang gak kaget dan nyapa gw trus nanyain kabar bokap-nyokap, ada juga yang sumpah-serapah, dan ada juga yang latah dan menyebutkan hal-hal yang berbau alat kelamin, ‘copot’, atau bagusnya malah baca Istigfar, Tahlil, atau minta ampun. Bagus juga. Dengan ini gw pasti dapet pahala juga kan. Hahahahaha.

Yah, sayangnya gak lama, karena pohon cempedak ini akarnya kuat banget dan bokap takut ngerusak pondasi rumah, maka pohon ini ditebang. Gw mendapati pohon ini tergeletak dari batangnya ketika gw pulang TK. Mungkin waktu itu gw sempet nangis. I don’t know, I don’t remember. Yang jelas, perasaan sedih jelas ada. Mungkin, ngancurin pondasi rumah merupakan cara si pohon cempedak berkomunikasi dengan gw. Mungkin, kalo dia bisa ngomong, dia akan ngomong, “Mati kau! Mati kau! Rasakan penderitaanku selama ini! Rasakan kehancuran pondasi rumah-mu!”. Gw ngebayangin dia ngomong kaya gitu sambil ngayunin dahannya kayak di film-film. Overall, manjat pohon itu fun.

Bajaj

By Vikra Alizanovic


Kali ini gw akan cerita mengenai salah satu bentuk transportasi jakarta, yang bisa dibilang, yah, klasik. Bukan elegant-klasik, tapi lebih ke retro-klasik.

Apakah itu?

Bajaj.



Yah, bajaj. Transport di jakarta yang paling magis. Tidak jauh beda dengan saudara sepupunya, si Bemo, bajaj beroda tiga. Berwarna oranye. Berbentuk mobil, namun dengan stang motor. Dipopulerkan oleh Mat Solar dalam sitkom Bajaj Bajuri di TransTV. Disana diperlihatkan dan diceritakan berbagai seluk-beluk dan suka-duka sebuah bajaj.

Gw gak bisa inget kapan terakhir kali gw naik bajaj. Gw terinspirasi nulis ini karena belum lama ini gw liat gerombolan bajaj di Blok M yang terlihat sangat eksotis.

Ke-khas-an bajaj pun juga terlihat pada supir-supirnya. Dengan topi safari, baju lusuh, dan handuk di pundak. Bajaj juga sangat khas dengan suaranya. Suara yang sangat indah nan unik. Yah, literally, it might just sound like this : “Brrrrbbbtttt… Brrrbbbttt”. So artistic and mystic in some ways.

Namun, bukan itu saja hal yang begitu magis dari sebuah bajaj. Hal lain yang paling atraktif adalah saat bajaj itu berbelok dengan kecepatan yang cukup tinggi. Momentum inilah yang begitu magis. Momentum antara hidup dan mati. Untung dan sial. Jalan atau terguling. Gedubrak, atau Brrrrbbbtttt… Brrrbbbttt… lagi.

Pada saat sebuah bajaj berbelok, Wallahualam, hanya Allah SWT dan sang supirlah yang tahu akhirnya. Ban samping terangkat hingga beberapa centi, mungkin merupakan hal yang biasa buat si supir.

Nah, untuk para penggemar maupun fanatik bajaj, diharap untuk keep in mind hal-hal yang sudah saya tuturkan di atas.

Gw jadi pengen lagi naik bajaj. Pengen lagi, walaupun cuma sekali, merasakan moment itu, sekali lagi..

Sleeping Complex

By: Vikra Alizanovic

Belakangan ini, gak tahu kenapa, gue sering banget pegel-pegel di bagian leher sampe lengan. Pegelnya minta ampun. Anehnya lagi, pegelnya ini gantian. Giliran pegel di kiri, leher sampe lengan kiri gua yang bener-bener pegel, tapi yang kanan fine-fine aja. Begitu juga sebaliknya.

Kalo pegel-pegel ini udah nyerang, udah deh. Dari bangun tidur, sampe mau tidur malemnya, seharian gua gak bisa nikmatin hari. Pake salep buat pegel atau keseleo juga sama sekali gak bantu.

Biasanya kalo lagi pegel begitu, mau-gak-mau, nyokap lah tempat gua berlabuh. Pas nyokap lagi nonton TV sambil duduk di sofa, maka gua akan duduk pas di depannya, terus ngeluh minta dipijit. Wah, pokoknya nikmat banget sih. Gak sampe sembuh sih, tapi minimal lumayan lah.

Parahnya, kalo pegel-pegel gua ini terjadi pas hari sekolah. Wah, pokoknya itu seharian pelajaran gak ada yang masuk ke otak gua, soalnya sibuk mijit leher sama lengan sendiri. Pernah gua juga minta pijit sama temen. Berasa punya harga diri yang cukup tinggi, temen gua itu nolak mentah-mentah. Karena lagi desperate, maka gua janji akan kasih imbalan dia duit. Setelah beberapa menit kita nego masalah harga, akhirnya dia setuju juga dengan harga yang gua tawarkan.

Nyari tempat yang enak, akhirnya gua disuruh tengkurep. Dibelakang kelas, dia menginjak-injak punggung gua dengan suka cita dan riang gembira.

Selama proses memijit itu, karena mijitnya lumayan handal, gua cukup diam menikmati. Kata-kata yang bisa keluar dari mulut gua paling Cuma ‘ahh’, ‘mantap’, ‘ohh’, ‘sedaap’, ‘nah, gitu dia men!’, ‘goblok!! Santai aja napa..’,dsb.

Beberapa menit kemudian, sialnya, guru dateng. Guru bahasa inggris gua, miss Feb, Cuma bisa celongo melihat gua dibelakang kelas, tengkurap, dengan temen gua diatas gua, sambil mengeluarkan suara-suara. Tanpa rasa bersalah, gua Cuma ngomong,

“Hey miss”
“Vikra!? Ngapain kamu disitu?”
“Dipijet miss. Pegel banget.”
“Eh kamu! Sini belajar dulu sebentar, nanti baru kamu lanjutin lagi lagi pijetnya..”
“Ha? Ohh.. iya-iya deh miss.”

Hahaha. She’s one of my favourite teacher. Pokoknya understanding banget deh.

Setelah pulang sekolah, tangan gua masih pegel2. Sambil buka baju, di kamar, gua pake Counter Pain banyak-banyak, berharap bisa ngilangin nyeri-nya. Sampai malem, gw cuma bisa nahan nyeri. Pas tidur, gw cuma pake 1 bantal. Soalnya, gua menduga kalo pegel ini karena manuver-manuver-tak-terduga-gw-disaat-tidur, dimana gw ngigau dan numpuk 2 bantal lebih diatas kepala gw, hingga walhasil, beginilah. Bantal-bantal yang lain itu gw taruh di kaki gw.

Tengah malam itu, gw bermanuver lagi.

Ditengah manuver gw itu, tiba-tiba lengan gw bunyi. Krek! Horee! Paginya, pegel gw ilang.
Setelah sadar bahwa bantal-bantal terkutuk itu lah penyebab pegal gw, untuk seterusnya, bantal-bantal itu gw jadikan senderan kaki, atau buat penyangga pantat..

Abang Telor: Narasumber Pertama Gw

By : Vikra Alizanovic

Tanpa gw sadari, ternyata gw ini punya bakat untuk jadi wartawan loh. Aside from the fact that my dad itu wartawan, I might just grow up to be one. Dari otoritas bokap dengan kartu pers-nya yang selama ini gw lihat, jadi wartawan kayanya not such a bad option.

Dengan modal kartu pers yang lu dapet setelah lu jadi wartawan, lu bisa ke Airport lewat pintu yang khusus untuk mobil berstiker dengan menunjukkan kartu pers, yang kemudian bakal dibales dengan hormat yang mabrur dari sang Satpam. Bisa jalan ke banyak tempat, ngeliput perang, juga lebih gampang berurusan sama polisi yang belagu. Dan masih banyak lagi..

Langsung aja, sore ini gw baru aja nostalgia masa kecil gw, dimana gw memulai karir gw menapakkan kaki ke dunia jurnalistik.

Dulu, gw, dengan teman kecil gw, seneng bgt yang namanya jajan. Dari cilok (baso kecil-kecil), cimol (terigu goreng tawar), martabak, agar”, dan telor (dadar mini dlm loyang kecil-kecil). Nah, kita sempet akrab sama 1 tukang telor yang emang sering lewat rumah temen gw ini tiap sore. Gw lupa namanya siapa, kita sebut aja Bang Telor.

Selama beberapa minggu, gw addicted jajan sama si Bang Telor, sebab, karena udah kenal, jadi dia biarin kita masak sendiri telornya. Dari jatah seharusnya setengah loyang, kita minimalisir kuantitasnya jadi dapet 1 loyang. Sedapnya…

Nah, pada suatu hari, si tmen gw ini dibeliin hape baru, yang punya fasilitas merekam suara. Nah, gw ngusul, gimana kalo di-tes dan kita nge-wawancara si Bang Telor. Ayok deh, katanya.
Dan, beginilah wawancaranya :

Gw : “ Eh, abang, gmn kbrnya bang?”
Bang Telor(BT): “Baik pik (typical sundanese, f=v=p)”
Gw : “Kita mau wawancara nih bang”

Si temen gw ini menyodorkan hape-nya ke mulut si abang. Si abang langsung menghindar gitu. Mungkin takut mau dicekokin hape kali ke mulutnya. Hahaha.

Gw : “Abang punya istri sama anak berapa?”
BT : “Hehehe, masih satu pik istri mah.(masih, berarti niat nambah dong!) Anak ada 2 di rumah.”
Gw : “Abang kalo sehari penghasilan bisa berapa?”
BT : “Yah, kadang bisa 20ribu, kalo lagi untung mah 50ribu.” (gw lupa persis angkanya)
Gw : (Melihat dengan tampang melas dan penuh rasa kasihan ke abangnya.)”Ooh, gitu ya bang.”

Setelah panjang lebar dan luas gw menggonggong dan mengeong sama si Abang Telor, Nah, ini dia the best part yang bikin gw ngakak-ngakak.

Gw : “Kalo bisa diulang, ganti profesi gitu bang, Abang mau jadi apa?
BT : “Yahh.. abang gini mah udah syukur. Tapi yah, kalo boleh mah, abang pengen jadi…….. Tukang Cilok (bakso kecil2)”

Omaigod, ini Abang Telor Self-confidencenya udah drop to the lowest level kayaknya. Dari Tukang Telor, ke TUKANG CILOK. Apa bedanya coba? Sama-sama mikul dagangan, produknya sama-sama bulet.

Yahh, anyway, setelah wawancara itu, gw ngucapin terima kasih ke abangnya, dan rekaman itu kita dengerin tiap gw ketemu temen gw itu. Kedepannya, kita tetep memanfaatkan kedekatan kita dengan abang itu dan memonopoli dagangannya. Setelah sekarang gw nginget-nginget masa itu, jadi kangen ama Abang Telor.

Jalan " Pagi ke Danau

By Vikra Alizanovic

Minggu kemarin, kita sekeluarga pergi olahraga pagi. Gak tahu bisa disebut olahraga atau gak. Dengan berseragam kaos dan celana pendek, terus pake sendal, menempuh jalan becek, dengan niat mau makan indomie rebus telor dipinggir danau, gw gak tahu bisa disebut olahraga atau gak (kali karena ngiler indomie yang hanya boleh dimakan 2 minggu sekali di rumah kalee)
Anyway, kita mulai jalan pagi dari jam 8 (kayaknya sih). Jalan pagi kami mulai dengan antusias, sambil menyapa” orang yang kita temuin dengan nada sok akrab. Jalan becek kita tempuh dengan penuh perjuangan. Ditengah jalan kita berhenti nyapa orang yang lagi nangkep udang lobster. Ibu langsung bilang, “Dijual gak bang, bisa buat dimakan?” Ampun deh, kan bisa dipelihara. Nyaris tiap mau beli hewan, niatnya pasti buat dimakan.
Lanjut jalan, kita ngelewatin jalan becek lagi. Bingung gw, foto caleg-caleg udah numpuk sampe pas di depan rumah gw dengan muka yang bener-bener gak enak, tapi jalan ancur dimana-mana belum bener-bener juga. Cuma nambahin sampah di gang jambu aja. Anyway, Gw ama ayah jalan aja terus, begitu kita nengok ke belakang, ternyata ibu lagi berfoto-foto ria dengan gaya yang kurang bagus untuk kesehatan mata. Bermodalkan sebuah kamera dan bantuan dari putrinya, ibu berhasil mengacaukan keharmonisan pagi yang indah itu.

Lanjut berjalan, gak tahunya warung yang kita tuju tutup. Akhirnya, kita putar balik ke warung bang Niang. Bang Niang itu temen ayah yang dibeli tanahnya. Sampai sana, kita mesen 4 mie rebus telor sama the anget. Sedaap.. sambil makan di pinggir danau pula. Ini enaknya hidup di kampung. Setelah makan, kita mau nyobain naik getek/rakit. Vinda gak mau ikut. Takut katanya. Akhirnya, kita naik bertiga. Geteknya panjang, jadinya seimbang. Setelah kita udah jalan, eh, vinda baru teriak-teriak pengen ikut. Akhirnya, terpaksa kita harus menepi lagi. Ngerepotin banget deh.
Gw ngedayung di paling depan, ayah di paling belakang. Vinda sama ibu ditengah. Asik banget, kita bener-bener merasakan desa disitu, tanpa bayar sepeserpun, yah, kecuali buat indomie tadi. Ditengah jalan, gw sempet punya rencana untuk kabur naik rakit ke pulau lain, namun setelah mengecek perbekalan dan bawaan(vinda dan ibu), kayaknya gak mungkin. Jalan kita lama-lamain, biar kerasa, tapi jadi lama beneran karena vinda dan ibu menawarkan atau lebih tepatnya memaksa untuk mendayung. Belum lagi ditengah jalan getek kita nyangkut di jaring orang, hingga akhirnya mengharuskan gw haru berdiri dan ngangkat tali jaring itu pake dayung, sehingga geteknya goyang-goyang dan menghasilkan teriakan yang lumayan keras dari adik gw, yang bikin orang-orang di pinggir danau pada ngeliatin kita.

Akhirnya, kita udah nyampe lagi di tempat bang Niang. Di perjalanan pulang, sudah tradisi, merupakan ‘race to the bathroom’. Dengan perut yang kelewat penuh dengan indomie dan gorengan, begitulah jadinya. Sialnya, ditengah jalan, ayah mampir beli pupuk kandang. Eh, gw yang disuruh ngambil motor. Untungnya, ada temen gw yg lewat. Bisa nebeng deh. Setelah ngambil motor dan jemput ayah, ternyata gw malah disuruh bawa 2 karung gede berisi ‘fresh goat poop’ atau, tai kambing yang masih seger. Sial! Salah apa sih gw? Sampe rumah, karung itu susah banget buat gw turunin karena kejepit di stang motor. Karena kesel, akhirnya tuh kasur gw tendang”in. eh, jadinya malah ujung satunya bocor dan semua pup itu keluar. Gw ngerasa ada sesuatu yang magis happening, soalnya kepala gw udah kaya flying gitu, atau mungkin karena pup kambing itu saking bau-nya. Gak lagi-lagi deh.

Words for My Sister's Bday

By : Vikra Alizanovic

Happy birtday my sister...
We are all so happy for you.
Let the nature sings.
All the small steps on this house will now be forever gone.
Our little girl has grown into one.
One lady of kindness, of matureness.

And may the stars look upon you
For today is the day that you set your first sight on them.
They will lead you
Oh yes, they will lead you..

But now that you are a lady
We must set things straight, my dear
You must lose all the ego, selfishness
and all the bad things we took you for
So, once again happy birthday
My little angel..

From your brother
5 of March 09

nge-PIM, by me...

by Vikra Alizanovic

Sekarang, kerap tiap malam minggu gw diajak temen2 gw buat nongkrong. Gak jelas dimana, yang penting nongkrong. Gw punya beberapa temen yang mungkin kerjaanya tiap malem minggu nge-PIM (Pondok Indah Mall) terus..Bukannya gimana, cuman gw rada gak suka aja sama budaya macam gitu. Aside from the fact that it's costly, it's quite a distance from where I lived. Walopun begitu, bukan berarti gw gak enjoy dan menikmati. Jujur aja, untuk beberapa occasion, dan kalo ditemenin sama temen-temen yang asik, gw suka aja.

Beberapa bulan yang lalu gw juga baru tahu cara anak-anak remaja dengan dompet sedang macam gw ini :), nge-PIM. jadi, dibelakang mall itu, ada tempat parkiran yang emang kayanya dipake sama orang-orang yang males parkir di dalem mallnya. Bayarnya juga lebih murah.
Setelah itu, kalo lu gak ada duit buat makan di foodcourt, kansup (kantin supir) pun jadi. Hanya dengan modal 10ribu rupiah, perut kenyang, bahkan kekenyangan. Biasanya, kalo gua ma tmen2 gw sih, abis parkir, masuk lewat lift barang, keluar di lantai kansup. Masuk kansup dulu, gak jelas ngapain, kaya perhentian pertama lah, ngecek ada siapa aja. Kadang cuci mata sedikit. Karena menurut gw, jaman sekarang, mode baju bukan di atur di catwalk, tapi dari apa yang dipake cewek" di kansup tiap malam minggu. Yang mungkin aneh buat orang awam, kalo ngeliat kansup, justru dipenuhin sama berbagai remaja yang tampangnya nyaris gak ada tampang2 supir sedikitpun. Lucu.

Biasanya abis ngecek populasi di kansup, baru kita ke atas. Biasanya kita tawaf (keliling 7x mengelilingi ka'bah) dulu naik-turun dan keliling PIM. Nyari pencerahan. Sama nyari temen. Kalo lagi usil, kadang kita ke toko-toko musik, nyobain alat-alat, untuk ngecek kualitas, padahal buat pamer skill sama orang-orang sekitar, lalu berkomentar belaga profesional padahal ujung-ujungnya juga gak beli.
Kadang juga mampir ke toko mainan, ber-nostalgia, ngeliatin stand" hot wheels yang biasanya dimainin ama bocah-bocah kecil, dan memperhatikan dengan mupeng yang amat sangat. Belum lagi kalo mampir ke toko action figure-nya yang harga dan kualitasnya gila-gilaan. Cuma figure kepalanya Wolverine doang, 1 juta lebih, gila..

Trus kalo laper, kita liat dompet dulu. Kalo tipis, balik ke kansup lagi.. Kalo tebel, cek dulu, duit apa bon. Atau malah lu naruh STNK di situ. Alhamdulillah, Kalo emang ada duit, foodcourt lah. Atau kalo sedang, bisa lah beli hokben paket hemat yang cuma 15 ribu. gak terlalu kenyang, emang, tapi worth it sdikit lah.

Allover, it's not all that bad. Buat gw, sebulan sekali udah cukup main" ke sana. Gw juga gak suka kalo terlalu sering. dilihat dari dompet gua yang sedang, dan manajemen duit gw yang emang udah bener2 katro'--sumpah, 100ribu kalo gw lg gila bisa abis begitu aja tanpa gw inget gw pake buat apaan, dan akhirnya gw mesti nulis postingan lagi di blog ini buat dapet duit ekstra, yah, udah kayak part-time writer beneran deh gw. anyway--gw lebih milih nyantai di rumah dan ngerem di kamar, atau jalan-jalan ke tempat yang seger... ke bogor, atau puncak gitu...

Blogging for me

By : Vikra Alizanovic


Make bahasa formal, adalah salah satu alasan kuat yang bener-bener bikin gua males ngisi posting-an di blog. Jadi, mulai sekarang dan seterusnya kayanya gw juga lebih nyaman pake bahasa gini aj ye..

Baru-baru ini gw baca buku karya Raditya Dick-a. Membaca buku karya tuh orang, memotivasi gw untuk nulis di blog gangjambu kali ini.

Biasanya, gw nulis di blog kalo lagi mood aja. Karena, kalo gw nulis pas lagi mood, biasanya tulisan gw rada rasional. Gampang banget kalo kalian semua mau bedain antara posting-an gw antara yang gw bikin pas lagi mood, sama yang pas gak.
Liat aja di label Galeri Vikra. Nah, itu kan isinya tulisan gw semua.. cari aja yang bahasanya formal banget. Biasanya itu tulisan gw yang terlatarbelakangi oleh dorongan emak yang mewajibkan nulis di blog ini minimal seminggu 1x atau bahkan lebih.
Kalo udah kaya gitu, apa mau dikata. Padahal sebenernya banyak banget event yang terjadi di kehidupan gw yang gw bilang, bakal cukup menarik untuk di ceritakan di blog. Cuma emang guanya sih ya yang rada males.
Dari Pelantikan PMR di Cidahu, nginep di villa temen di bogor, acara manggung sama band sekolah di BSD, pandangan gw terhadap budaya nge-PIM, nonton leci tanding di BM, nyeplokin tmen/puki gw di avicenna pas dia lg ultah, nyari hadiah buat dia, dsb. Well, at least you know what’s coming. Untuk sekarang beberapa tema posting yang tadi gw taruh sebagai ‘Coming Soon’ dulu deh. Untuk sementara, ini semua gw jadiin note dulu, jadi kalo disuruh nulis, gw tau mau nulis apaan..

My Teacher and Friends in Michigan





By: Vikra Alizanovic

I have stayed in Michigan, USA, for about 4 and half months when I was 11 years old with my family. We were invited by my dad, who has studied there first for a couple of months. He got this 1 year journalist fellowship program. About four or five months before his programs is over, he invited his family to go there too. There, we lived in an apartment in Ann Arbor. Experiencing education on another country is worth all the costs. The experience itself is the most precious thing you can get out of it. I have also gone to junior high school in Leiden, Holland (when my mom studying), at a school called Da Vinci College.
But then, that is not the main topic of this article. This time, I’m going to tell you my entire story when I was in Ann Arbor, Michigan. Specifically, about the school there.
My first day at school, like all of your first day of school, I was nervous. Plus, it was in another country. I was brought by my parents with my sister, who was going to start her first day of school that day too. I was escorted to my class by the concierge, not by the headmaster. This tells the different compared to when I was in Leiden. When I was in Leiden, I was tested, interviewed, and escorted by the Headmaster herself. Plus, she was really nice and smiles a lot.
At Michigan, I was only escorted by the concierge. Then, on the hallway, she pointed another student. It was a girl. She looked a bit older than me. She looked European. She told her to escort me to the fourth-grade class. When I came to school, the teacher was already waiting for her. I forgot her first name, but we all call her Mrs. Popper. She’s half Italian, half American. She wears glasses, and usually wears her red turtleneck sweater.
She smiled to my mother, and assured her that it was fine to leave me there. After my mom left, Mrs. Popper introduced me to the whole class. I can only recall a few names of my classmates. There was Josh, who’s extremely smart, and supposed to be in fifth-grade class, but stayed here because he said he only feel comfortable studying with Mrs. Popper. There was also Matthew, who always tends to make funny jokes. When I was with him, there will always be laugh. There was Alexandria, a redhead girl who’s quite huge and too tall for a fourth-grader, but she was very smart at piano. There was Alon, a boy from Israel. He was very nice to me, yet, also very discipline. On the other hand, there was also this one guy from Palestine. Although, I didn’t remember his name. There was also a guy from Mongolia, Josua. There was also this one funny kid from Japan, named David Lee. Me, David, and Alon, usually always hangs out together. Play skateboard; go to the forests, etc. There was also Samantha, and Patricia, 2 normal blonde girls. There are also 2 African American boys in my class. There is Alex, who always bragged about his cornrow. And I forgot about the name of the other boy’s name. What I remembered is that, he always comes late. If he doesn’t come late, then he won’t come at all. He visited the headmaster’s a lot of times. The only class he never comes late to is gym. I also got a female African American friend, called Aletheia. I also got some friends from other class. First is Woo-Sub, and Nah-Li, a boy and a girl from South Korea. And Chen, a third-grader from China. These three people have are having problem pronouncing my name. So, instead of calling me ‘Vikra’, they called me ‘Picola’. It’s sad, really! :)

New Year Trip 1: How I Spend My New Year

By Vikra Alizanovic


Celebrating this year’s New Year’s Eve, we celebrate it in Jogja. At the 31st of December, we explore Jogja’s recreation place. We go to Ullen Sentalu Museum, the museum of Javanese traditional arts, which we will explain to you in another article. Then, we go to lunch at Boyong Kalegan, and to some other places. At the evening, we go to a Tourism Village, called Sogan Village, Desa Rejondani Ngaglik. At night, we decided to spend New Year’s Eve at my uncle’s neighborhood, roasting corn and grill fish.

But, my arrogant and selfish sister wanted to go to alun-alun. In there, there is a wide field which in the middle of the field stands 2 big beringin trees. The distance between those 2 trees aren’t far. It’s only about 10 meters or so. There is a local belief, which if you can manage to walk past between those 2 trees with your eyes closed; it means that you have a pure soul and good luck. Although it was only around 7 pm or so, the traffic is already jammed badly. Finally, we decided to turn back over and head back home. On the way back home, my mom still questioning my sister whether or not is she okay with this, because she was the one who asked to go there in the first place. I said to my mom, “Mom, don’t push it. Even if she really wanted to, what can you do? Didn’t you see the traffic?? ”. My mom spoiled my sister too much. Moreover, after that, my sister slept at the car until we came home.

After we arrived at my uncle’s house, all the neighbors were already gathering in one of their neighbor house. We joined them. It wasn’t that bad. It was quite pleasant, actually. They prepared barbeque, grilled fish, corn, some light drinks, ginger ale, and karaoke. I really enjoyed the food. I wanted to eat more but my mom told me to hold my appetite, since this is other people’s party, and we are just a mere guest. It was only me & my parents. My sister was already asleep. After some fish and some ginger ale, I was full. At around 10 o’clock, I was already sleepy so I went back to the house and sleep. In my sleep, I can hear the voice of people singing, which was quite annoying. Moreover, then, I hear my dad and my mom singing which is totally disturbing. A total racket. But, I was finally slept. A while later, I can hear a little voice of people counting down. I’m too tired to get up and celebrate, so I continue sleeping. The next morning, I wake up at around 8 am. I feel a little sad and disappointed for missing the party last night. But then I thought, there are still many years to come….

Teman-temanku Dari Berbagai Belahan Dunia





By Vikra Alizanovic


Aku punya temen nyaris dari berbagai belahan dunia. Di kelas bahasa belanda ku di Davinci College di Leiden Belanda, ada 2 abang-adik dari Nigeria, namanya Terry dan Osazee. Dua2nya cowok. mereka anak baru, masuknya sekitar 1 bulan stelah aku. Bareng sama mereka ada satu anak dari maroko, dia cuma ngomong bahasa prancis dan bahasa maroko. Ada juga 2 abang adik dari Colombia. Yang 1 Andres dan Alejandra. Alejandra lumayan juga ceweknya. Kita berdua lumayan akrab. Ada lagi John, dari Inggris. Anaknya troublemaker. Ada juga Ananiya, dari Ethiophia, terus ada juga Ernestine dari Ghana, ada juga Marcin, dari polandia. Ada juga banyak temen lain yang bukan sekelas. Aron, dari ethiophia; Wazir, Grilla, dari Arab; Aron, dari portugis; Mateus, dari Brazil; Peter, dari Irlandia; Abdelaziz, Abdelkarim, dari Maroko; Steve, dari Karibia; Esmatullah, Maria, Wali, dari Afghanistan; Magdalena, Marius, Tomick, dari Polandia; Top, Ka, dari Thailand; Kin, Nurto, dari Somalia; Josselyne, dari El Salvador; Jesua, Kenneth, dari Puerto Rico; Alex, Dianne, dari Cuba; Vladik, dari Ukraina; Vijuta, dari Sri Lanka; Kailu, dari China.


(ditulis April 2007, arsip dalam laptop yang rusak tapi bisa diperbaiki).

Aya Sophia, Gereja Menjadi Masjid dan Museum


by: Vikra Alizanovic (ditulis April 2007)

Setelah pulang dari Grand Bazaar Istanbul, kita istirahat sebentar di hotel. Sorenya ibu ngajak ke Aya Sophia. Sampai di aya Sophia hujan. Gak nyangka ternyata antriannya lumayan penuh juga. Cuma waktu itu gak terlalu penuh karena lagi hujan. Pertama masuk ke bangunannya disambut sama Mozaik Madonna(bunda Maria). Mozaiknya indah banget. Masuk kedalam lagi pertama kita baca penjelasan sejarah aya Sophia. Jadi aya Sophia itu dulu namanya Hagia Sophia. Aya Sophia itu udah pernah jatuh-bangun 4 kali. Jatuh pertama kali, kebakaran karena salah orang dalam, dan juga karna atapnya masih pakai kayu Timber dan dindingnya pake Basilica. Akhirnya dibangun lagi pada masa raja Theodosius II.
Kerusakan kedua disebabkan karena kebakaran lagi karena mereka masih menggunakan dinding basilica. Pada masa kerusakan 1 dan 2, aya Sophia masih berupa Gereja. Untuk merestorasi kerusakan ke 2 ini, raja mendatangkan arsitek2 terbaik dari penjuru dunia seperti dari Roma Italia dll. Kerusakan ketiga disebabkan karena gempa bumi dahsyat yang terjadi di Istanbul, banyak fresko2 dan mozaik2 yang tadinya ada belasan di bangunan itu, yang akhirnya rusak dan harus di-cover dengan semen untuk menyelamatkan bangunannya sendiri. Malah ada satu tiang yang dibalut pake lempengan besi. Kerusakan terakhir adalah kerusakan yang paling parah. Karena akibat perang salib, banyak harta2 aya Sophia seperti lempengan emas dan barang2 perak yang diambil oleh para crusader sebagai rampasan. Akhirnya, masalah bisa diselesaikan setelah Raja Suleyman The Magnificent muncul. Aya Sophia diubah jadi masjid. Jadi sekarang didalamnya ada kiblat imam, tulisan Allah dan Muhammad besar2 di langit2 Aya Sophia. Sampai sekarang oleh pemerintah turki, Aya Sophia resmi jadi museum.

Enjoying a Reggae Concert at a Charity Case Event



By Vikra Alizanovic

Just last Saturday night, me and family decided to go out to town. There was an event happening in the Proclamation Statue Park, in central Jakarta. The event consist of sundanese traditional act, called ‘Calung Sunda’, which commence at 19.00 o’clock, and we have almost no interest in watching at all. I think, almost all of the people who came there only come to watch the show after the Calung. There’s a reggae concert, by Tony Q. Rastafara, who is quite well-known around the rastaman(it’s what they call people who enjoys reggae music, and commonly, rastaman are peoples who are oppressed and in a poor community). Tony Q’s songs are usually always talks about human rights, love, freedom, peace, etc. That is why he would be invited to such event.
When we arrived there, the Calung is still commencing. We take the time to look around at the conventional stands. At the first stand there was a miniature statue of the victims of ‘Lumpur Lapindo’ made from the actual mud from ‘Lumpur Lapindo’. Sadly, it wasn’t for sale, because it was poisonous.
The second stand was called the Green House. Next to it, it sells productive plants, or eatable plants, like pepper, cabbage, cucumber, etc. Inside, it sells a lot of spices from all over Indonesia. It also sells drinks made from a spices called ‘secang’ and ginger. It tastes almost like ginger ale, only, they didn’t add sugars to it. The taste was a little bit spicy, sweet, and warming.
Finally at 20.30 ‘clock, the real show starts. At first, they didn’t bring out Tony Q just yet. First, they bring out this guy called ‘Mbah Surip Van Der Saar’. Probably just a nickname. He sings all this funny songs spontaneously. He is covering for Tony Q while Tony is tuning his guitar backstage.
Then, after waiting for a while, Tony Q is finally out. Most of the crowds were standing up and most of them stand right in front of the stage and dance. We stayed back, because it might get dangerous. We just dance slowly in the back,but we really enjoyed it. The songs were after all really nice. It really spoke. I really enjoyed it. We all enjoyed it, except for my sister. While a live concert is going on, she just sat there and play a game on her phone. She’s the only one that’s really bummed out. I hate for bein’ like that.
We stayed for only a couple of songs, then we head out. We go look for dinner. We go to Blok M, and have dinner at Grilled Chicken Ganthari. It was really lively. It was a great night.