Dari Siswa ke Mahasiswa : Menjadi Mhs Psikologi UGM



Perjuangan di kelas tiga

"Maunya di UGM, kampusnya rimbun", .Kata Vikra bermimpi tentang future campus yang diinginkan sejak SMA Aviccena. Untuk menyiapkan kuliah,  saat kelas 3 SMA sudah pasti  penuh peluh berjuang antara lest IPC-- karena Vikra dr IPA harus belajar IPS untuk masuk ilmu sosial waktu UMPTN--. Juga  Panggil gugu les ke rumah untuk sejumlah pelajaran yang perlu dikejar. cerita soal masa transisional Vikra bisa ditulis lain acara.

Kuliah apa dan dimana?? jelis sisir minat, bakat dan celah.

Saat akan memilih fakultas apa? ini juga cerita menarik yang lain. Pilihan awalnya di kedokteran hewan, karena memang Vikra extrem pecinta binatang. Tapi sama omnya di ledek, "Vik, mau kamu diledek orang, pas lewat ditegur, mau ngawinin kuda pa Vikra?. siap terima tantangan nggak, kalau mau uji kwalitas, test fakultas hukum UII, itu keren, banyak tokoh alumni dari hukum UII". Belum lagi passion Vikra di antropologi, atau jurnalisme. Kalau mau bangga dikit, memangkakak lumayan multi talent, tapi belum ada yang sreg 100 persen.
Akhirnya ayah meneliti dan membuat komperasi jumlah yang diterima tahun lalu, yang terbanyak peminatnya di beberapa Unibversitas yang kakak suka. Lalu juga cek ke alumni-alumni fakultas tersebut seberapa "terlihat hasilnya". Belum lagi  konsultasi ke guru, terutama wali kelas Vikra di SMS, pak Dedy. " Bu, kalau bisa untuk Vikra jangan ambil fakultas yang perlu menyita konsentrasi tinggi. Ambil fakultas yang banyak berhubungan dengan manusia, social skill Vikra sangat bagus. Mungkin psikiologi atau antropologi lebih tepat".  Lalu diskusi dengan yang bersangkutan bertahun-tahun dan bahkan sampai ujung akhir semua sama tinggi minatnya. Akhirnya iseng, ibu buat lotre, dimasukkan ke botol, lotre yang pertama keluar, itulah yang akan dipilih. Kita ketawa-ketawa melakukan itu untuk mengurangi tensi karena serba bingung. Pernah juga pakai cara buka-buka qur'an, jurusan yang dituju disandingkan dengan ayat-ayat Qur'sn yang sedang dibuka, kalau ayatnya berisi bagus-bagus berarti tanda bagus. Ini demi jalankan saran uti saat ibu dulu pilih jodoh. Dalam hati kecil: Tuhan, bantu untuk ambil keputusan ini....

Keputusanpun diambil

Aakhirnya kami mengawinkan hasil minat Vikra, pengamatan kami selama mendidik, nasehat guru, lotre dan undian spiritual ;), diputuskan pilihan pertama adalah psikologi UGM dan pilihan kedua Antropologi UI.
Namun sebelum tempuh ujian SNMPTN, Vikra kami antar explorasi ke kampus Sanata Dharma Jogja. Tapi pas ajak diskusi akung, jawabnya :" baiknya ke UII saja".  spirit akung tertebaklah... akhirnya Vikra test juga hukum di UII. Karena dirasa susah, ada kawan dekat yang membisikkan " mau hubungi  kak....nggak? dia kan orang penting di UII, yang bisa bantu meluluskan". Langsung dan dengan pasti ibu menggeleng. Tak ada kamus, buka cara-cara begini. Bukan hanya akan rusak mental anak, karena dipikir dengan kekuasaan, bisa membeli kesempatan. Selain itu juga menutup akses peminat-peminat lain, mereka yang pintar menjadi tersandung karena ini. Tapi yang juga sangat prinsip dan selalu kami ajarkan ke anak-anak, " percaya diri, bersungguh-sungguh, daripada bagus tapi hasil orang lain, mending karya sendiri, kalau kurang baik bisa diperbaiki". jadi percaya pada kemampuan anak, itu yang penting dikedepankan. Pas test UII, beberapa jam kemudian sudah bisa ada hasilnya, bahwa Vikra positif diterima di hukum UII. Bahagianya luar biasa. kemampuan Vikra yang asli, seperti kembali. Setelah di kelas 3 sempat bikin gusar kami. Akhirnya yg di UII diputuskan dibayar , kalau toh UMPTN diterima, nanti dipikir kemudian. Walau dalam hati kecil, kakak kurang tepat kayaknya di hukum, karena tidak tegaan, dan dia banyak nalar tapi tak sabar hafalan.

Hari yang ditunggu tiba, saat pengumuman UGM tiba, Vikra sms : "bu, Vikra diterima di UGM". Tak ada yang bisa wakili rasa suka ini. Tuhan sungguh bekerja, doa akung dan kami seperti terjawab. Usaha kakak dan strategi yang kami tempuh bersama kok akhirnya bisa tepat. Great..so u are the student of UGM ya nang, mulai Agustus 2011, Kakak jadi orang Jogja.

Duhhh....rasa beraduk, tak bayangkan anak gede yang kadang masih kami uyel-uyel ini tiba-tiba harus jauh. Ahhh...

Merubah Paradigma Kesejahteraan

Oleh Vandana Mernisi

Setiap manusia pada dasarnya pasti mencari kebahagiaan. Namun, kebahagiaan adalah sesuatu yang relative yang artinya pendapat orang mengenai kebahagiaan itu sendiri berbeda-beda. Pendapat suatu manusia mengenai kebahagiaan tentunya didapatkan dari pengalaman hidupnya. Contoh, jika seorang manusia yang dibesarkan diperdesaan mungkin adalah untuk bisa mengolah sumber daya alam sekitarnya menjuadi sesuatu yang berguna dan menguntungkan bagi dirinya. Berbea dengan seseorang yang dibesarkan ditengah keramaian kota metropolitan yang mengalami derasnya arus globalisasi, mungkin kebahagiaan itu sendiri adalah untuk mendapatkan gelar atau pekerjaan yang baik agar dapat memunuhi segala kebutuhan tersiernya agar derajat nya sebagai manusia yang hidup ditengah metropolitan terangkat, seperti mobil mewah, baju bagus, perhiasaaan, dan sebagainya contohnya.

Seseorang yang mencari setiap kebahagiaan yang dapat diraihnya adalah guna untuk mencapai kesejahteraan. Seseorang dikatakan sejahtera ketika ia tidak lagi mengalami kesulitan dalam hidupnya walau masalah terus menghadang karena ia telah mencapai kebahagiaan tertinggi yang menurtunya ideal. Orang bahagia belum tentu sejahtera karena kebahagiaan bersifat sementara sedangkan orang yang sejahtera sudah pasti bahagia karena sejahtera merupakan suatu gambaran keseluruhan tentang sebuah hidup manusia. Kesejahteraan sangat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Bahkan, seseorang rela mengakhiri hidupnya karena menurutnya ia belum mencapai kesejahteraan tersebut. Pada hakikatnya, seluruh tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan yang ideal menurutnya agar tercapai kesejahteraan.

 Berdasarkan latar belakang yang telah penulis jabarkan, dirumuskan identifikasi masalah: Apakah pengertian kesejahteraan?Factor apakah yang mempengaruhi seseorang terhadap idealisme kesejahteraanya? Bagaimana standar sejahtera dilingkungan desa dan kota?Hal apa saja yang mempegaruhi seseorang terpacu mencapai kesejahteraannya dan mengapa manusia perlu sejahtera?
Halangan apa saja yang dihadapi untuk mencapai suatu kesejahteraan?Hal apa yang mempengaruhi perbedaan paradigm masyarakat kota dan desa terhadap kesejahteraan?

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui factor-faktor apa yang mempengaruhi masyarakat terhadap paradigmanya tentang kesejahteraan. Mengetahui standar kesejahteraan di lingkungan desa dan kota.

HIPOTESIS penelitian ini, kita semua hidup diatas gelombang arus globalisasi yang menuntut kita untuk mau tidak mau mengikutinya agar dapat melanjutkan dan meneruskan kedudukan kita dalam community. Karena tuntutan tersebut, dan kondisi abad yang segala sesuatunya membutuhkan uang maka penulis menduga:

1.      Factor materialistic, unggul dalam pekerjaan dan mendapat upah atau gaji yang besar merupakan salah satu factor besar yang mempengaruhi paradigma masyarakat terhadap kesejahteraan guna memenuhi segala kebutuhan hidup.

2.      Karena kurang dan lambannya arus globalisasi di desa karena terbatasnya teknologi yang merupakan perantara penyebaran informasi, maka masyarakat desa akan membuat keadaan social disekitarnya sebagai patokan mengenai kesejahteraan. Salah satu kesejahteraanya karena masih banyaknya sumberdaya alam diperdesaan, adalah memiliki usaha pengolahan suber daya alam tersebut sendiri. Untuk masyarakat kota, kesejahteraan adalah mencapai kebutuhan tersier dengan mudah, sebagaimana yang digambarkan daqlam arus globalisasi mengenai standarisasi hal yang ‘keren’ dimata dunia.

 
Metodologi penelitian yang digunakan penulis adalah metode kulaitatif fan kuantitatif. Penelitian dilaukukan melalui observasi, studi pustaka, dan penyebaran angket. Penulis juga akan mencari informasi melalui media elektronik atau media tulis lain untuk menunjang akurasi data yang disajikan. Hal yang diutamakan dalam penilitian adalah observasi lapangan dan wawancara dari banyak sumber.

 
SIGNIFIKANSI  Karya ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembacanya dalam mengetahui lebih jauh mengenai kesejahteraan, yang merupakan hal krusial yang jarang kita tidak sadari namun kita semua lakukan. Kemudian mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya suatu idealisme mengenai kesejahtraan itu sendiri dan standarisasi kesejahteraan dalam suatu wilayah. Kesejahteraan membutuhkan upaya untuk dicapai, dalam kata lain pencapaiaan kesejahteraan dapat dibilang pencapaiaan tujuan. Setiap manusia membutuhkan tujuan untuk menjalani hidup namun karena tolak ukur kesejahteraan di desa berbeda dengan kota, membuat tujuan hidup masyarakat desa terkadang terlalu mencondong kepada kepentingan individual tanpa memikirkan untuk membuat kemajuan baik dalam cakupan daerah nya, atau bahkan Indonesia. Diharapkan dengan karya ilmiah ini memunculkan kesadaran pada pembacanya dengan faktor-faktor yang tersajikan, apa yang harus dilakukan untuk tercapainya kesadaran masyarakat desa untuk menaikan standarisasi kesejahteraan agar tercapainya benih-benih baru yang memikirkan kesejahteraan bersama, memajukan daerahnya, atau bahkan Indonesia.

 Tugas Sekolah karya ilmiah (XI SMA Al-Izhar Pd Labu)

Belajar Gamelan Dengan Seniman Kraton di Michigan

Michigan, 2003
Vikra Vinda mengenal lebih jauh gamelan dan tari Jawa, bukan di Solo kampung ibu, tapi justeru waktu di Michigan. Kebetulan, ada Om Wasi Bantolo dan Tante Olivia yang mengajar gamelan dan tari Jawa di univ Michigan. Mereka orang hebat! Tante Oliv adalah penari kraton Solo, termasuk salah satu penari bedoyo (tari mistis exclusive untuk Raja). Dari tante Oliv ibu banyak tahu tentang kehidupan raja dan segala sisi gelap dibalik dindingnya. Kami menyebut tante Oliv dengan putrinya pak Mantan! maklum kembang desa anak pak Lurah! Vikra Vinda diajari gerakan basis tari Jawa. Susah ya?

Ini keseharian kami bersama mereka! Sekarang gantian ngenalin om Wasi. Kalau sering lihat wayang orang TV-RI, pasti sudah tidak asing lagi! Dia juga sering terlibat dalam balet Ramayana Prambanan, dan beberapa CD karya timnya. Di Michigan Om Wasi mengajar dan bikin project performance menarik "voice of earth" dimana banyak pihak ikut terlibat, termasuk kami dikit-dikit semangat bantuin. Makasih ya om dah sabar ngajarin Vikra yang nggak mau diam! Mereka sekarang punya sanggar di Solo. Om Wasi dulu juga penari kraton ! Belum lama ini mereka punya si kecil, dan kami lumayan agak sering nengok mereka. Kangen! Selamat paskah Om Wasi dan tante Oliv! Mana ayam bu Beternya?

The Deadly Quake, What was it like?

Tahun 2002-2003, ayah pernah "nyantri" di Michigan Journalism Fellowship. Fellows, atau peserta program ini --dari Amerika, Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah-- hingga saat ini terus keep in touch. Setiap akhir tahun, peserta bikin personal journal, untuk berbagi kabar. Termasuk bila ada peristiwa-peristiwa penting, seperti gempa di Jakarta Rabu lalu. Ini email ayah untuk temen-temennya:

Just want to say Hi..

Despite shocked, we are ok..

The deadly 7,3 SR earthquake yesterday, hit us just minutes before my tv station run its regular evening (now move earlier to becoma afternoon) program.

So we are in a rush.
We thought it just like other earthquake before. Light and last in second.

My office is perfectly in the top of 19 floors building. When it feels little bit longer than usual, and become bigger and wilder, people start screaming. Allahu Akbar! Some of us run and hyde under tables. Some run to emergancy stairs..

But some other, including me, have to go on, runing the reguler program.

"Where r u people?" One producer shout in in the studio. The PD (Program director) people --audioman, cameramen, an soon), run already.

The phone and celluler suddenly didnt work. I cant reach any of our correspondents in the areas near the epicentrum (it was in Tasikmalaya, still in West Java, around 400 km south-east Jakarta.

But my CDMA phone still worked. Yuni called from home.

"Yes, I am OK," I said.

Guys,
Hope you all weel and safe too...

Muchlis

---------------


Berikut beberapa respon dari temen-temen ayah:

Muchliss,

I am so glad to hear you and your family are O-K. I wondered if the quake was near you.

Did you ever do your newscast?

Yvonne Simon

[reply dari ayah]

Hi Yvonne..
Its 3.30 am here now. Just wake up, for sahur.. Meal before begining fasting..

Our newscast during the quake? The show must go on, you know it. So, we run the newscast, all about the quake still happening. Studio camera, for example take not only the anchor, but the ceiling too. We played vt on what going on in the newroom: how panic we are, peple runing, screaming, hiding under thr table..

We gather all information, by any mean. Calling anyone outside, correspondents whereever they are, reaching any guy from meteorology and geophisyc...and soon.

So messy. Because lack of studio cameramen, we use audioman to hold the camera..

Because fix line phone didn't work, the anchor had to call anyone directly from her cellular phone...

We did what we can.. :)
And anyhow the show went on..

Muchlis

respon lain:

From: French, Ron
To: Muchlis a rofik
Sent: Sep 3, 2009 9:31 PM
Subject: RE: Java Deadly Earthquake: What was it like?

Hello Muchlis, so happy to hear you and your family are OK. I would have one of the people hiding under the tables!
I see Facebook updates from Yuni and your kids - I can't read them but I can tell they are doing well.
Love to all,
Ron


reply ayah:

Hi Ron..
I tried to hide too, but I found no more table left..
So I just did what I could, reciting any prayer.. But pretend to be calm..:)

Hope u, valerie and girls doing well, and always safe.

Love u all too..

tanggapan balik dari ron:

there was an interesting exchange on Sue Nelson's facebook page about your experience. An engineer responded that you were safer in a 19-story high-rise than a 5-story building during an earthquake - something about the waves in the shorter building matching the waves of the earthquake and making it much worse. skyscrapers normally survive earthquakes while shorter buildings to not. I didn't understand it, but thought it might be of some comfort..

tanggapan ayah lagi:

Higher, safer?
Hard to understand, but sound acceptable..:)

And yes, it give comfort.. And courious too.. So I have to share it to friends here..

balasan Ron lagi:

here was the message:
"Skyscrapers are usually Ok in quakes as they have a low NF, it is the mid rise ones of 5 storeys or so you should avoid as their NF matches that of the quake , and resonance occurs, which is not nice if you are in the building"
As far as I can tell from the Internet, NF stands for "near-fault ground motion"
It's all over my head

-------

From: Birgit Rieck 1
To: Muchlis a rofik
Sent: Sep 3, 2009 8:25 PM
Subject: Re: Java Deadly Earthquake: What was it like?

Dear Muchlis,
We are all so glad to hear that you are alright. We were talking about
you wondering how you and your family were doing.
On the 19th floor? What a place to be during an earthquake....
Love to you and Yuni and the children.

Birgit


------

From: Scott Huler
To: Muchlis a rofik
Sent: Sep 3, 2009 8:19 PM
Subject: Re: Java Deadly Earthquake: What was it like?

So glad you are all okay, Muchlis -- we have been thinking of you.

Please give our love to Yuni and the children. Hope to see you
sometime soon!

Scott (and June and Louie and Gus)

------

From: Drew DeSilver
Date: Thu, 3 Sep 2009 00:11:20 -0700 (PDT)
To: Muchlis Ainurrafik
Subject: Re: Java Deadly Earthquake: What was it like?


Hi, Muchlis:

As soon as I heard about the quake on the radio (BBC World Service), I thought of you, Yuni and the kids. I'm very glad to hear you're all OK. We too live in an earthquake/tsunami zone, so I feel empathy when one hits elsewhere.

All best to you and the family,

Drew (Mr. Lisa Lednicer) DeSilver

--------

From: Andrew Finkel
Date: Thu, 3 Sep 2009 10:27:01 +0300
To: Muchlis Ainurrafik
Subject: Re: Java Deadly Earthquake: What was it like?


Goodness Gracious!
I am glad you and the family are fine. It's a threat we live with in Istanbul. Thanks for keeping us up today.
Love from us all
Andy, Caroline and Izzy


-------------

From: Sue Nelson

Hi there

So glad you¹re all OK.
How about working in a bungalow?

Sue

Sue Nelson
Writer and Broadcaster


Berlibur ke Rumah Sakit Jiwa (1)

Awalnya agak bergidik saat memasuki lorong-lorong RSJ di salah satu kota, yang terbayang adalah wajah orang gila yang tak terkontrol, menyeramkan dan menyerang. Tangan Vinda mencengkeram erat lengan ibunya dan mukanya pias pucat ketakutan. Ngapain liburan ke RSJ? Disamping kami ingin lebih jauh tahu dunia "gelap" RSJ, mempertebal spiritulitas anak-anak (dan kami sendiri tentunya), juga ingin ketemu direktur RSJ yang kebetulan berkorespondensi dg ayah untuk konsultasi psikiater yang terbaik untuk handle saudara yang selama ini menarik diri bersosialisasi, pendiam dan tidak punya gairah hidup. Rumitnya lagi, dia tidak percaya dg dunia medis dan anti obat farmacits.

Ketika masuk area RS, yang megah dan bersih itu, ayah bertemu dg direkturnya, kami bertiga ingin eksplorasi. Pertama ngobrol dg resepsionis, diceritakan bahwa penghuni RSJ 70 % laki-laki, usia produktif, kebanyakan karena tekanan ekonomi dan hentakan masalah (wah hebat ya perempuan lebih kenyal dan survive). Kami dibolehkan ke karantina, disana pasien yg baru, wajib tinggal disini untuk penenangan. Terlihat masih ada yang mengamuk, ada yang gemetar, ada yang ngoceh soal dangdut, ada yang ngajak kami ngobrol, ada yg pegang kuping melulu dan minta ditiup suaminya dan ada yang meringkuk tak berdaya. Yang jelas, karantina itu untuk mereka yang dianggap belum bisa mengontrol, buat yang agresif, ada yg tangan kakinya diikat dengan kain lembut dengan tempet tidur. Agak serem memang, tapi tidak seseram yang kami bayangkan. Disini keluarga wajib menunggu sampai pasien tenang, biasanya 2 hari. Tapi tergantung pada diagnosa, dimana pasien dan keluarga berulang-ulang ditest dg aneka pertanyaan.

Setelah tenang, pasien dipindah ke ruang perawatan dengan seragam seperti ini dlm gambar ini. Rata-rata kamar berisi (+-) 10-20 orang, tapi juga ada kamar VIP. Sengaja kami masuk ke kamar yang banyak pasiennya terutama dari keluarga miskin. Vinda menyerah memilih menunggu di ruang tamu karena ketakutan. Tapi ibu dan Vikra tetap masuk (walaupun akirnya Vikra keluar nemenin adiknya). Kami dibukakan pintu jeruji masuk bangsal itu, yang menjaga gerbang selain petugas juga pasien-pasien yang sudah dianggap sembuh dan diyakini tidak akan lari. Begitu masuk, kita disambut aneka wajah yang secara obyektif memang banyak yang menyeramkan. Ada yang muka lebam-lebam, kaki bekas pasung, kepala botak bekas luka, muka bengong tak komunikatif, ada yang sibuk sendiri nggak mau diam, ada yang ganteng, ada yg ramah nyebut RT RW rumahnya berulang-ulang seakan kita mau kerumahnya.

Ibu masuk membawakan makanan sekedarnya. Mereka langsung salaman, berebut makanan, ngajak ngobrol, ada juga yg pinjam HP untuk kontak keluarganya. Walaupun sedikit takut, ibu langsung membangun rasa aman dan langsung membuat lingkaran tak sengaja dg mereka. Mereka satu-persatu ibu ajak ngobrol dan mengalirlah cerita-cerita yang diluar dugaan dan mengharukan dibawah ini (baca bag 2: Cerita dibalik tembok RSJ):

Merawat Rico-Chibby




Demokrasi Indonesia (Tulisan Cemblek)

DEMOKRASI INDONESIA
By: Vandana Mernisi (XI Ipa 2)
 
Demokrasi di Indonesia belum terlaksana dengan maksimal. Dengan berbagai aspek esensial yang belum seimbang, maka demokrasi Indonesia ini tidak akan pernah seimbang. Bisa kita lihat jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 29,8 Juta orang, yang merupakan lebih dari 12,36% jumlah penduduk Indonesia. Para ilmuwan telah menyatakan bahwa oada hakikatnya tidak ada demokrasi dikalangan orang miskin. Ironisnya,hal ini menjadi ajang pengamalan korupsi dalam bentuk “sogok atau suap” untuk meraih dukung pemilih orang-orang miskin dalam pemilu, yang tidak sedikit suaranya (12,36 %).
Hal lain, Indonesia ini terkenal dengan budayanya yang paling menonjol dari jawa. Mayoritas penduduknya yaitu orang jawa, sehingga mereka yang bukan orang jawa pun juga mengalami akulturasi atuau pengaruh budaya dari jawa ini. Salah astu contohnya adalah budaya transaksional, dimana Artinya, siapa yang membeli barang dan membayar, dialah yang akan diberi barang. Dalam pengamalan demokrasi, siapa yang memberi uang dan sembako kepada mereka, dia yang dipilih. Hal ini menimbulkan proses mutualistik dari kedua belah pihak, dimana mereka si miskin mendapatkan uang dan calon legislative dapat menimba dukungan untuk jabatanya kelak. Selain itu, saya lihat dari website seseorang terhadap penilitiannya tentang siapa yang berkesempatan lebih besar untuk di pemerintahan. Dan hasilnya orang jawa lah yang akan lebih besar kesempatanya karena mereka masyarakat jawa akan lebih memilih calon tersebut bukan dari prestasi yang dibuatnya, melainkan dari backgroundnya yang sama-sama orang jawa yang (menurut mereka) satu nasib, satu rasa, dapat membawa perubahan.
Masalah lain yang ditimbulkan dari kemiskinan yang berdampak pada demokrasi Indonesia adalah pendidikan. Dengan pendidikan, seorang manusia dapat membuka pikirannya pada hal lain selain dalam hidupnya. Bereksperimen untuk memecahkan suatu masalah yang bukan hanya dari hidupnya. Demokrasi, bukanlah hal yang penting untuk diperhatikan oleh orang miskin yang memiliki lebih banyak hal kompleks untuk diperhatikan dalam bertahan hidup. Inilah yang terjadi pada Indonesia yang pemerataan edukasinya tidak seimbang. Dulu, pada masa orde baru, dibangun banyak sekolah negeri untuk membantu rakyat kecil mendapatkan edukasi. Namun yang terjadi saat ini adalah, sekolah negeri menjadi sekolah yang kompeten sehingga susah untuk dimasuki. Hal ini menimbukan dampak pada orang miskin yang seharusnya mengenyam pendidikan disana. Mereka yang tidak mendapatkan makanan bergizi tiap hari, diadu dengan orang-orang punya yang juga ingin masuk sekolah tersebut. Tentulah anak-anak dari orang punya yang bergizi tinggi inilah yang berpeluang lebih besar masuk dan anak-anak miskin terpaksa harus masuk sekolah swasta yang tidak murah. Yang terjadi adalah mereka tidak sekolah, tidak dapat bereksplorasi luas dalam pikirannya, buta politik dan berdampak pada demokrasi yang seharusnya menjadi hak mereka dan peluang bagi mereka untuk perbaikan hidup.
Permasalahan lain selain kemiskinan adalah maraknya media yang menampilkan berita berita buruk pemerintahan untuk mendongkrak popularitas serta keuntungan besar untuk pihak medianya sendiri. Seperti kita tahu, rakyat Indonesia haus akan tontonan. Diantara tontonan yang berita yang baik-baik dibanding berita yang buruk, berita yang buruk lah yang lebih menarik dibaca atau ditonton oleh rakyat. Sehingga yang terjadi adalah, secara tidak langsung media merubah paradigma masyarakat terhadap pemerintahan, atau mereka calon-calon eksekutif atau legislatif. Dengan berita buruk tersebut, masyarakat yang sehrusnya memiliki otoritas tertinggi dalam pemerintahan, menjadi acuh dan tidak peduli terhadap politik Indonesia yang terlalalu sering (mereka lihat) buruknya.
Kesimpulannya, demokrasi di Indonesia belum terlaksana dengan baik karena masih terjadi ketidaksetimbangan dimana-mana.

Kawan karib Binatang (tentang Vikra)

"Ikan atiii..ikan atiii", sambil jari mungilnya menunjuk ke aquarium di gendongan ayah. tentu ditemani ibu yg berdaster dan pegang-pegang kaki kakak yang mungil lembut. Saat itu usianya dibawah 2 tahun, sangat cepat memahami konsep abstrak, bahkan konsep mati saat ikan-ikan di aquarium itu diam melayang dimainkan gelembung air. Aquarium itu diusung dari rumah om Beng Rawamangun dan ditaruh di taman kecil Sanggar Ayu, yang disulap dari tanah pojok yang semula jadi tumpukan sampah. Dia melihat ikan mati dan juga binatang lain yang mati dengan tatapan lama. Setiap lihat binatang diam tak gerak, selalu jarinya menunjuk sambil bilang atii..atii (mati,mati). Cuilan penting yang tak terlupa tentang concern Vikra pada binatang, saat usia 5 tahun, sempat punya kelinci yang dibeli di Bogor. Adeknya juga punya satu. Di sepanjang jalan saat kami travelling ke wilayah Jabar, kelinci dipegangi, disayang-sayang, diuyel-uyel. Entah stress karena dimobil kelamaan, entah stress dapat overdosis kasih sayang, akhirnya kelinci di pangkuannya tak bisa bertahan. That was the hardest part, to let the rabbit goes flying to heaven. Mengubur sulit, jadi kami cari sungai deras biar proses larungnya cepat. Vikra membopong dengan muka biru berurai airmata, terisak-isak sampai pundak dadanya tersengal-sengal. Dia layangkan dengan lembut kelinci untuk dibawa deras air. Di mobil cukup lama kami mengalihkan perhatian biar sedihnya berkurang pelan-pelan. Kisah lainnya jaman dia kecil dulu, nyaris tiap jelang tidur kerap kami bacakan buku cerita yang mayoritas tentang binatang atau dongengkan sesuai order atau bahkan bacakan buku cerita buatan akung (karton ditempel gambar menarik ditulis tangan). Walau kadang kalau kami mau dongeng diambil alih gantian dia yang cerita, karena memang Vikra suka bertutur, jadi biasanya kami yang jadi pendengar. Tradisi ini membuat dia jadi penutur yang sistematis. Salah satu cerita yang dia kagumi adalah cerita Nabi Nuh, karena heroismenya selamatkan binatang saat banjir, dan mu'jizatnya bisa bicara dengan binatang. Sampai suatu kali saat dia mau kuliah kedokteran hawan, kami tanya alasannya, dia bilang ; "bu, jangan cerita orang, vikra tertarik jd dokter hewan, karena waktu kecil pingin kayak nabi Nuh, bisa bicara dengan binatang". Jadi mau tak mau di rumah kami memang selalu ada pets, terutama kucing. Vikra sering marah kalau ada kucing budukan yang mampir, kita kasari karena saat mau makan lumayan menjijikkan. Kucing piaraan kami paling suka bertengger di badan vikra, atau temani tidur sepanjang malam. Kucing yang dekat dengan dia cenderung lembut friendly yang sering jadi biang manas-manasi adeknya ; " tuh Vin, kucing hasil didikan kakak beda kan? Lebih bla..bla..bla..". Sampai saat kuliah di UGM, dia "pindahkan" kost jadi ke kampus. Alat-alat yang diusung dari rumah, dari 2 gitar, amply, TV, dll diangkut ke kampus untuk centre aktifitas dengan teman-temannya. Sampai suatu kali teman-temannya tak berani cerita, kucing mampir yang akhirnya menjadi sabahat Vikra, suka lendotan, mati tak bersebab jelas. Dikubur oleh kawan-kawannya, dan mereka bersepakat ; "jangan kasih tahu Vikra, nggak tega kita". Penggal-penggal lain obsesi kasih dia dengan binatang berderet, dari bercita-cita mau jadi direktur kebun binatang yang bisa buat spesies baru (terinspirasi dari mengunjungi New York Zoo, dimana dia dipuji seorang tutor Pinguin, bahwa orang Asia hebat, betapa parentnya beruntung, karena dia antusias bertanya. Saat lebih kecil pernah terkesima dg pemberi makan binatang di Ragunan yang smart menjelaskan, dan diapun ingin jadi pemberi makan binatang. Mau tahu cara di ultah? Di kebun binatang juga. Mau tahu saat kuliah dan liburan? Masih ngajak di Taman Safari yang sudah tak terhitung. Saat kuliah semester 3, kampus buat program Banjir Bandang di Jakarta yang terjadi pada 14-15 Januari 2003, dia berangkat dg kawan+ dosennya. Ibu buat 2 status di FB ; "Bbrp hr lalu, Nak nganang minta izin jd relawan kampusnya UGM bwt mitigasi banjir Jkt. Pas sampai,blm nengok rumah,dah minta didrop kendaraan buat tim-nya. Tiap hari tak henti mobile, dari nyetir, angkat logistik, temani PAUD, jd konselor anak-anak, evakuasi hewan dg tim dokter hewan, makan rela telat, sering kuyup bajunya. Weleh..welehh...proud of u, pasti ! (walau was-was dikit). (Dilike oleh 20 kawan ibu). Lalu saat dia usai jadi relawan, pas wiken di sofa kesukaannya, kami ber 3 ngobrol (ayah sedang ke Bogor rapat IJTI, ayah terpilih jadi wakil ketua Umum Ikatan Jurnalis TV Indonesia). Pas cerita mengalir, dia akhiri ; "Sudah bu, sudah bu!" Pinta nak nganang sendu, sambil tutup muka tak ingin lanjutkan obrolan. Dia sedih saat jd relawan banjir Jkt, b'usaha evakuasi binatang, tp yg dia saksikan sudah banyak binatang yg mati, ada yg di kandang terkunci tenggelam, kelaparan, ada yg tertinggal+ditinggal dikalahkan tuk jaga rumah, atau telat tertolong tdk jadi prioritas saat m'ungsi atau evakuasi. (Kami hening bbrp saat)".

Semilir Hijau

Saung Setu Semilir sudah mulai hijau, menyulap dari area yang sempat lama (dari awal dibeli th 2003an hingga 2006an dari bbrp tetangga) tak terurus, sampai dipakai buat parkir berbagai rongsokan, kandang ayam tetangga, sejam 2011 mulai dipagar dan dihijaukan secara bertahab selama hampir setahun...sekarang sudah segerr. Saung yang semula bambu 2kali2, sekarang dibuat lagi atap macam garasi yang masih utuh batako, dan dihias macam-macam jadi lumayan cantik. Murah meriah dan cozy kata kawan-kawan yang main.

Mesir

23-28 Desember 2011, bersama sejumlah akademisi (prof Yarsi, dekan fak kedokteran UM, dosen UIN Yk), Ulama (MUI), kementerian PPA dan UNFPA, mendapat kesempatan ikuti acara ttg reproduktive right+kekerasan terhadap perempuan di Univ Al-Azhar Cairo. Berkesempatan bertemu dg Grand syaich, rektor, sejumlah menteri, dll. Ini acara sela ke Pyramid dan dinner di resto Paraoh sungai Nil sambil lihat tariat khas Mesir belly dancing.

Dokumentasi

http://www.demokrat.or.id/2011/07/berjejaring-dengan-komnas-perempuan-menghapus-perda-diskriminatif/ http://www.google.com/imgres?start=154&num=10&hl=id&tbo=d&biw=1366&bih=673&tbm=isch&tbnid=lM438OL8uhr62M:&imgrefurl=http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1322043607/perempuan-korban-kekerasan&docid=zx1VolO-gNtI2M&imgurl=http://v-images2.antarafoto.com/gpr/1322043607/perempuan-korban-kekerasan-07.jpg&w=450&h=300&ei=vJj3UJO4BozqrQfQhoHIBg&zoom=1&iact=hc&vpx=646&vpy=156&dur=1727&hovh=183&hovw=275&tx=176&ty=129&sig=118271999880373381801&page=6&tbnh=139&tbnw=207&ndsp=33&ved=1t:429,r:70,s:100,i:214