Vikra Masuk Majalah

Gamma, 17 Januari 2001
Home News Archives

Shinchan Diprotes, Shinchan Digandrungi
Komik Crayon Shinchan mengundang banyak protes. Ada yang menilai isinya berbau pornografi dan kurang ajar.
SETIAP ke toko buku, Murti Bunanta kerap menyempatkan diri ke kelompok buku bacaan anak-anak. Maklumlah, ibarat hidangan, buku cerita anak adalah makanan kesukaan doktor sastra anak ini. Dan, waktu berkunjung beberapa bulan lalu, mata Ketua Kelompok Pencinta Bacaan Anak itu "tergoda" pada sebuah komik yang agak lain. Soalnya, komik yang berjudul Crayon Shinchan, karya Yoshita Usui dari Jepang, itu disegel dengan stiker hologram original. Dengan demikian, isi komik yang edisi Indonesia diterbitkan oleh PT Indorestu Pacific itu tak bisa dibaca sama sekali oleh calon pembelinya.
Meski begitu, untuk diketahui, para pembeli dapat membaca sampul belakang. Di situ disebutkan bahwa Crayon Shinchan adalah seorang anak taman kanak-kanak berusia 5 tahun yang sangat nakal dan konyol. Kenakalannya melebihi anak seusianya, sehingga sering menimbulkan masalah pada orang di sekitarnya: ayah, ibu, guru, dan temannya.
Ini agaknya yang menarik perhatian dan sekaligus "menyebalkan" dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu. Dengan rasa kurang puas, komik tersebut tetap dibelinya dan ditelitinya. Kesimpulannya: komik tersebut menipu para pembaca. Sebab, komik itu menggunakan tokoh anak untuk mengungkapkan sikap dan pikiran orang dewasa. Karena itu, sebagai ilmuwan, ia merasa terpanggil untuk melindungi anak-anak Indonesia dari pengaruh buruk yang mungkin ditimbulkan komik Jepang tersebut.
Langkah awal yang dilakukannya adalah mengirim surat pembaca ke berbagai media massa. Tujuannya adalah memberitahukan kepada masyarakat luas bahwa komik tersebut "berbahaya" bagi anak-anak. Ternyata, Murti tidak sendirian. Beberapa bulan sebelum ia mengirim surat pembaca, sudah ada dua orang yang menulis surat pembaca di harian Kompas, misalnya. Mereka mengingatkan para orangtua agar berhati-hati membeli komik untuk anaknya. Jangan sampai membeli komik Crayon Shinchan, yang katanya berbau porno dan kurang ajar, perangai yang tak pantas untuk anak usia balita seperti Crayon Shinchan. "Kami prihatin. Bila buku itu beredar di masyarakat luas, tentu akan berdampak negatif terhadap perkembangan anak-anak," tulis pembaca tersebut.
Begitu pula orangtua lain. Bahkan, ada seorang ayah yang tersentak mendengar pertanyaan anak perempuannya yang berusia delapan tahun. "Apa, sih, playboy itu, Yah?" tanya sang anak dengan polosnya. Sang ayah tak menjawab, tapi malah bertanya, "Dari mana kamu tahu itu?" Sang anak yang bernama Vikra Alizanovic itu menjawab, "Rahasia, deh." Setelah ditelusuri, tenyata yang ditanyakan anaknya itu ditemukan pada judul Crayon Shinchan volume kedelapan, "Hm...hm...hm...Aku si Playboy Kecil", milik teman anaknya. Sejak itu sang bapak melarang si anak membaca komik yang sulit dipahami anaknya tersebut.
Kekhawatiran ini, tampaknya, juga telah merambah ke beberapa sekolah. Sekolah Dasar Harapan Ibu, tempat penyanyi cilik Sherina Munaf belajar, sudah lama melarang muridnya membawa dan membaca Crayon Shinchan ke sekolah. Soalnya, ada sebagian wali murid yang protes dan meminta sekolah membuat peraturan supaya murid tidak membaca Crayon Shinchan. Larangan seperti ini juga diterapkan di sebuah madrasah di kawasan Ciputat. Itu terjadi sejak ada laporan dari seorang murid yang menyebutkan bahwa di Crayon Shinchan volume I ada adegan pornonya.
Terakhir, protes semacam ini juga telah disampaikan ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Umumnya, para konsumen tidak ingin Crayon Shinchan dijual bebas. Protes ini semakin memasyarakat setelah dua harian Ibu Kota mengangkatnya secara berturut-turut.
Protes terhadap Crayon Shinchan memang bukan hal baru. Jauh sebelumnya sudah pernah melanda Taiwan dan Korea Selatan. Bahkan, di negeri asalnya, Jepang, sekitar tujuh tahun lalu, komik Shinchan pernah menyulut kemarahan kaum ibu dan para guru. Tapi, sekarang, kemarahan itu sudah mereda. "Mungkin mereka sudah terbiasa dengan gaya komik tersebut," kata Masashi Nakano, salah seorang manager di Futaba Sha Ltd., penerbit Crayon Shinchan, kepada Shizuko Ito dari GAMMA.
Benarkah demikian isi komik tersebut? Untuk menjawabnya, silakan buka lembaran-lembaran Crayon Shinchan dari jilid 1 hingga 8. Di halaman 56 Crayon Shinchan volume 1, misalnya. Di situ terlihat adegan kedua orangtua Shinchan yang sedang menyalurkan kebutuhan biologis mereka tanpa mengunci pintu kamar. Sikap ceroboh ini, ternyata, mendatangkan akibat. Tiba-tiba Sinchan terbangun karena mau buang air. Ia lalu masuk ke kamar orangtuanya yang sedang asyik masyuk itu. Ternyata, dalam pandangan anak nakal yang lucu ini, ayah dan ibunya sedang bermain gulat. "Main gulat diam-diam, saya juga mau," kata Shinchan mengomentari keadaan orangtuanya itu. " Iya, ini gulat," kata sang ibu dengan terpaksa membohongi anaknya untuk menghindarkan malu.
Suatu ketika (volume ketiga), Shinchan bertemu Riyo Jualaku, 27 tahun, single, sales lady dari perusahaan Mayutsuba, yang berdandan menor. Tanpa basa-basi, anak polos ini bertanya kepada gadis tersebut, "Punya burung tidak?" Di buku lain, tampak Shinchan sedang menunjuk bokong seorang pramuniaga sambil bertanya, "Papa liatin ini, ya?" Pertanyaan ini membuat sang ayah tersedak, sehingga minuman yang ada di mulutnya tersembur ke luar. Lalu, sang ibu menasehati anak tunggalnya, "Crayon, kamu jadi anak baik, kan?" Sikap lembut ibunya ini disambut baik Crayon.
Nukilan seperti ini tentu masih banyak lagi. Tapi, ketiga cuplikan cerita di atas cukup menggambarkan "kepornoan" komik Crayon Shinchan yang memang tidak pantas dibaca anak-anak. Selain berbau porno, oleh pengkritiknya, komik ini juga menjual adegan kurang ajar terhadap orang tuanya. Contohnya, ketika pipi Shinchan dicubit ibunya, spontan ia memaki ibunya sebagai "nenek kejam". Terkadang Crayon juga mencemooh ibunya seperti ini, "Mama cantik, kulitnya kasar seperti kulit ikan hiu." Masih banyak lagi contoh lain.
Komik ini, tentu, tak akan mengundang protes bila tidak diminati anak-anak. Masalahnya, komik yang ilustrasinya terkesan asal-asalan ini ternyata digemari anak-anak. Coba lihat di Gramedia Bandung. Meski tidak menjual Crayon Shinchan, di toko buku terbesar di Jawa Barat ini cukup banyak orangtua yang menanyakan Crayon Shinchan. "Dalam lima menit ada satu orang yang menanyakannya," kata Lunardi Harianja, staf Kepala Toko Gramedia Bandung. Jika toko buku itu buka 12 jam sehari, jumlah yang menanyakan Shinchan ada 144 orang. Jadi satu minggunya, menurut penghitungan Lunardi, lebih kurang seribu orang yang bertanya.
Di Gramedia, Jalan Basuki Rachmat, Surabaya, penjualan komik Crayon Shinchan mengungguli komik lainnya. "Ya, lebih kurang dua kali lipat komik biasa," kata Gusmarinda, manajer toko buku tersebut. Karena laris, toko buku ini mengubah pikiran dari tidak mau menjual menjadi ikut memperdagangkan Crayon Shinchan. Padahal, di mata Gusmarinda, isi Crayon Shinchan agak kotor untuk anak-anak.
Peminat Crayon Shinchan bisa dilihat juga pada jumlah penonton film animasi Crayon Shinchan yang cukup banyak. Film yang ditayangkan RCTI setiap Minggu pagi sejak Juli lalu itu (26 episode) memiliki rating 9 hingga 11. "Ini berarti film tersebut ditonton sembilan hingga sebelas persen dari setiap 100 penonton," kata Humas RCTI, Murdjadi Ichsan, seperti dikutip harian Republika. Bahkan, menurut Murdjadi, banyak masyarakat yang minta jam tayangnya ditambah menjadi satu jam.
Daya pesona Crayon Shinchan pada anak memang tak dapat dimungkiri. Daya tarik ini setidaknya menghinggapi diri Wulan. Pelajar kelas 6 SD Kaliasin VII, Surabaya, ini mengaku suka kepada Shinchan. Katanya, "Itu karena bandel, tapi lucu." Ira, pelajar kelas dua sebuah SMU swasta di Surabaya, termasuk yang keranjingan membaca Crayon Shinchan. "Ia itu lucu, tapi lucunya beda dengan Doraemon. Lucunya gimana, ya. Lucu-lucu konyol, gitu," kata Ira memberi alasan mengapa ia suka pada Crayon Shinchan kepada Nurul Amalia dari GAMMA.
Tampaknya tak hanya murid sekolah yang menyukai Crayon Shinchan. Orang dewasa pun sangat suka. Itu terlihat, misalnya, pada diri Andi Yudha Asfandiyar, 34 tahun, Manajer Division of Children & Young Adults Penerbit Mizan, Bandung. "Saya suka membacanya. Komik ini cocok untuk orang seusia saya," kata pengamat komik itu. Di mata Andi Yudha, Crayon Shinchan adalah anak TK yang polos, lugu, dan lucu. Bila mendapat perintah dari orang dewasa (ibu, ayah, dan gurunya), perintah itu ia kerjakan menurut pandangannya sendiri, sehingga sering terjadi benturan.
"Ini wajar saja dilakukan anak seusia Crayon Shinchan yang masih polos dan dunianya adalah bermain," kata Andi Yudha. "Tapi, komik ini memang konsumsi untuk orang dewasa, kira-kira SMA ke atas," tambahnya. Soalnya, isinya mengkritik orang dewasa yang memandang anak kecil secara salah, bahkan meremehkan anak kecil. Lihat saja pada adegan di bawah ini.
Suatu ketika ayah Crayon berpesan kepada anaknya, "Crayon, nanti kalau ada orang mencari Bapak, bilang saja Bapak sedang pergi. Bapak ingin istirahat." Nah, ketika tamu datang, Crayon mengatakan kepada sang tamu apa adanya. "Kata Ayah, kalau ada tamu datang, suruh bilang bahwa Ayah sedang pergi. Sekarang, sebenarnya, ayah sedang istirahat," ujar Crayon.
Lalu, di mana letak kesalahannya? Bagi Yudha, kesalahan selama ini terletak pada cara pandang orangtua terhadap komik ini. Banyak orangtua beranggapan bahwa komik itu lucu, bergambar kartun, dan tokoh utamanya anak kecil --tanpa membaca isi cerita dan nilai-nilai yang dikandung komik tersebut. Itu berarti komik bisa dikonsumsi anak kecil, padahal belum tentu bisa.
Arswendo Atmowiloto, pengarang dan pengamat buku cerita anak, juga berpandangan demikian. Baginya, komik Crayon Shinchan tidak porno. "Komik Crayon Shinchan ini dianggap porno karena yang membacanya merasa anak-anak," kata Arswendo. Komik itu, menurut Arswendo, memang tidak pas untuk anak-anak, tapi untuk anak SMU tidak ada masalah.
Di negeri asalnya komik ini pada awalnya memang untuk orang dewasa. Itu bisa dilihat, misalnya, pada media tempat Crayon Sinchan pertama kali dipublikasikan ke masyarakat Jepang, Agustus 1992: Shukan Manga Action. Majalah mingguan komik aksi ini khusus buat orang dewasa. Itu pun penggemarnya kaum pria yang sudah bekerja. Tapi, dalam perjalanan waktu, pengemar menjadi meluas, dari anak kecil hingga orang dewasa.
Hal ini, tampaknya, tak lepas dari pengaruh televisi. Seperti dikatakan Arswendo atau Andi Yudha, bila tayangan cerita itu sukses di televisi, biasanya buku dan lainnya ikut sukses. Itulah yang dialami komik Crayon Shinchan, yang film animasinya ternyata sangat digemari anak-anak. Meski tidak paham terhadap isinya, anak tetap saja gemar membali buku Crayon Shinchan.
Karena itu, membaca komik ini, saran Andi, harus didampingi orangtua. Soalnya, di komik itu juga terdapat nilai-nilai yang baik. Misalnya, ketika melihat orang sakit, Shinchan membawa buah tangan. Namun, saat itu terjadi kekeliruan, yakni ketika oleh-oleh itu diletakkan Shincan di kaki si sakit. Nah, kekeliruan ini perlu dijelaskan.
Persoalannya kini tinggal pada penerbit. Seharusnya penerbit mencantumkan batas usia pembacanya, sehingga orangtua tidak "tertipu" dengan sampulnya yang bergambar anak kecil. Rupanya, hal itu telah dilakukan penerbit sejak jilid kedelapan.
Julizar Kasiri, Gagak Lumayung, Rika Condessy, Julie Indahrini, dan Seiichi Okawa
©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com
if(window.OAS_AD) OAS_AD('Bottom');

Tidak ada komentar: