Beauty and The Beast (scene 4-7)

By : Vikra Alizanovis (penulis naskah dan sutradara)


Scene 4
Selanjutnya, Belle pun pergi ke hutan sendirian untuk menyelamatkan ayah yang sangat dicintainya itu. Ia berjalan terus ke tengah hutan. Akhirnya, ia menemukan kastil itu. Dengan sedikit rasa takut, Belle memasuki kastil itu.
Di dalam kastil itu penuh dengan patung-patung dan banyak lukisan, namun tak ada tanda-tanda manusia. Nyaris tak ada kehidupan. Ia mengelilingi seisi kastil. Belle terus merasa banyak orang sedang mengawasinya.
Lalu Belle menemukan pintu yang menuju ke bawah tanah. Ia menuruni tangga itu. Di bawah, ia mendengar suara orang minta tolong.

Maurice : “Hei, siapapun yang ada disana! Aku tidak bersalah, aku tidak melakukan apapun. Biarkan aku pulang. Aku janji aku tidak akan memberitahu siapa-siapa soal ini. Lepaskan aku saja. Biarkan aku pergi. Aku punya anak perempuan. Aku khawatir terhadapnya. Tolong aku. Aku mohon!”

Dari suaranya, Belle yakin itu ayahnya. Ia berlari terus kebawah secepat yang dia bisa. Setelah sampai bawah, ia melihat ayahnya dibalik pintu jeruji penjara. Ia terkejut. Ia lari mendekati ayahnya sambil menangis..

Belle : “Ayah..!!! apa yang ayah lakukan disini? Siapa yang mengunci ayah disini? Ayo ayah, kita harus segera pulang. Aku akan menolong ayah!”

Maurice : “Apakah itu kau, Belle? Belle! Belle anakku! Terima kash ya tuhan.” (Maurice menggenggam erat tangan anaknya.) “Oh tuhan! Tidak! Belle, kau tidak usah pedulikan aku! Kau harus segera keluar dari sini! Selamatkan dirimu selagi kau bisa! Tinggalkan tempat ini! Pulanglah! PULANG!!!

Belle : “Tidak mau, ayah! Ayah bicara apa?! Aku tidak mungkin meninggalkan ayah!”

Maurice : “Jangan ngaco, Belle! Kau mau mati?? Pulanglah ke desa! Bawa mereka kemari untuk menolongku! Lar ---- BELLE! AWAS BELAKANGMU! LARI BELLE!! LARI!!”

Sebelum Belle sempat menengok ke belakang, makhluk itu sudah memeganginya dan menyekap mulutnya sehingga Belle tidak dapat berteriak. Persis seperti cerita yang beredar, makhluk itu bulug, eh maksud saya buruk. Makhluk itu sangatlah buruk rupa. Makhluk itu besar, berbulu, jelek, bau. Belle terlalu takut untuk memejamkan mata. Tangan yang menyekap mulutnya begitu besar dan berbulu sehingga membuatnya sulit bernapas. Karena tangannya begitu bau, ia jatuh pingsan.


Scene 5

Begitu terbangun, Belle menyadari bahwa ia sedang berada di atas ranjang yang sangat mewah. Akan tetapi, persis didepannya makhluk itu sedang berdiri. Ia menatapnya tajam. Setelah mengatasi ketakutannya, Belle memberanikan diri untuk bicar kepadanya.


Belle : “Aku tak peduli siapa kau atau makhluk macam apa kau ini. Akan tetapi, apa yang telah kau lakukan kepada ayahku itu salah! Apa yang telah dia lakukan kepadamu??”

Beast : “Orang tua itu telah masuk kedalam Istanaku tanpa izin. Ia telah masuk begitu saja layaknya dia yang memiliki tempat ini! Ia mencuri makanan dari dapurku dan tidur di ranjangku! Dasar kalian semua manusia biadab! Aku tak pernah mengganggu kalian! Tak bisakah kalian meninggalkan aku sendiri! Sekarang ayahmu harus tinggal di Istana sebagai pesuruh!”

Belle : “Tidak!! Tolonglah! Aku mohon… Lepaskan ayahku… Biarkan aku jadi pesuruhmu! Aku akan lakukan apa saja yang kau mau! Asal saja kau mau melepaskan ayahku!

Beast : “Hmm… baiklah. Begini saja, kau akan tinggal disini menggantikan posisi ayahmu. Dengan begitu, aku akan melepas ayahmu.


Lalu Beast & Belle pergi ke penjara bawah tanah untuk melepaskan ayah Belle.

Beast : “Maurice. Kau akan kubebaskan setelah ini. Aku dan putrimu telah membuat perjanjian. Belle telah setuju untuk menukar posisinya denganmu. Kau akan kubiarkan pergi. Akan tetapi, ingat ini: jangan pernah dating kembali lagi kesini. Belle akan tinggal disini untuk waktu yang agak lama.”

Maurice : “Apa!? Tidak! Aku tidak akan pernah menyetujui ini!”

Belle : “Tidak apa-apa ayah. Semua akan baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja disini.”

Beast : “Aku tidak pernah meminta persetujuanmu, Maurice. Kau bebas untuk pergi, akan tetapi Belle tetap tinggal disini. Yah, lebih baik sekarang…”

(Beast menyeret Maurice keluar Istana)
--- Di depan gerbang Istana ---

Beast : “Nah, Maurice, silahkan pergi.(Beast melempar Maurice keluar Istana) Dan ingat, Maurice, jangan pernah coba-coba untuk kembali.”

(Maurice berlari meninggalkan Istana tersebut. Belle menangis tersedu-sedu.)


Scene 6

Setelah keluar dari Istana itu, Maurice langsung pulang ke rumah. Selama berminggu-minggutak pernah ia lewatkan tanpa menatap kearah hutan dengan tatapan kosong. Membayangkan apa yang putri kesayangannya itu sedang lakukan. Suatu malam, Maurice pergi kedalam kedai minum. Ia melihat Gaston dan ia langsung terpikirkan suatu ide.

Maurice : “Gaston!! Gaston! Aku perlu bicara denganmu! Ini penting! Ini soal Belle!

Gaston : “Ada apa, pak tua? Biar kutebak, kau pasti ingin aku menikahi Belle, benar kan?”

Maurice : “Apa, tidak! Belle! Belle diculik oleh si Buruk rupa dari Kastil ditengah hutan! Kau harus pergi menolongnya!

Gaston : “Apa??? Belle-ku telah diculik! Oleh si monster!! Udah gak niat hidup rupanya dia! Tentu saja aku akan menolongnya! Tapi, kita tolong dia minggu depan saja! Minggu ini aku sibuk. Banyak rapat desa!

Maurice : “Apa? Kita harus menolong dia secepatnya!”

Gaston : “Santai saja.(Gaston meninju muka Maurice). Kau terlalu berisik, Maurice.

Scene 7

---- Sementara itu, di Kastil si Buruk Rupa ----

Setelah tinggal di kastil itu beberapa lama, Belle mulai menyadari beberapa hal. Ternyata semua pelayan di Istana ini telah disihir menjadi perabotan. Sejauh ini, ia telah berteman akarab dengan Bu Teko, si Lilin dan si Jam. Belle selalu berbagi cerita dengan salah satu dari mereka. Siang itu, Belle sedang mengobrol bersama mereka bertiga di ruang makan.


Lumiere : “Ada apa, Belle? Kau terlihat sedih…”

Belle : “Oh, tidak ada apa-apa. Hanya saja, aku rindu ayah.”

Bu Teko : “Belle sayang, aku yakin ayahmu baik-baik saja diluar sana. Di juga pasti merindukanmu.”

Clocksworth : “Oh, Belle, santai saja. Banyak hal-hal menyenangkan yang bisa kita lakukan disini. Bagaimana kalau kita membaca buku di perpustakaan?”

Lumiere : “Membaca?! Kalau boleh kutanya, dimana bagian menyenangkannya?? Bagaimana kalau kita bermain ke kamar Tuan Besar. Yang bisa kembali kebawah sini hidup-hidup adalah pemenangnya.”

Clocksworth : “Terima kasih, tapi tidak. Kau tahu apa yang ada didalam sana! Tak seorang pun berani masuk kesana.”

Belle : “Oh, memangnya ada apa disana?”

Lumiere : “Yah, lebih baik kau tahu daripada tidak sama sekali. Beritahu dia, Bu Teko.”

Bu Teko : “Oww, baiklah. Tapi kau harus berjanji untuk tidak bicara lagi tentang ini sama sekali. Kau pasti penasaran kenapa kami semua bisa seperti ini. Nah, ceritanya begini..”

Dan Bu Teko menceritakan cerita itu kepada Belle. Dari murkanya sang penyihir, kutukan yang dijatuhkannya, hingga keadaan mereka sampai sekarang.

Belle : “Jadi si Beast itu dulunya adalah pengeran yang tampan.”

Bu Teko : “Ya, akan tetapi, pada saat ia masih dalam wujud manusia, ia sangatlah sombong. Ia memandang rendah semua orang. Ia bahkan tak sudi bicara dengan kami semua.

Lumiere : “Akan tetapi, setelah terkena kutukan itu, makin lama ia semakin manusiawi, kau tahu.”

Clocksworth : “Ya, dia sangat manusiawi. Tapi tetap saja, kau tak akan kembali hidup-hidup jika kau masuk kamarnya tanpa izin.”

Belle : “Memangnya ada apa sih disana? Aku jadi ingin melihat.”

Bu Teko : “Oh tidak, Belle. Kumohon, demi keselamatanmu sendiri. Jangan pernah memasuki kamar itu. Kau harus berjanji padaku.”

Tidak ada komentar: