Cobain Kuliner Swiss

Inilah makanan khas Swiss, yang paling terkenal adalah cheese fondue, keju leleh. Idenya "ÿang tua (keju) dimudakan lagi". Fondue aslinya dari bahasa Perancis fondre (melting/leleh) yang populer untuk pesta th 50-70an khususnya di Swiss. Yang paling tradisional keju leleh ini dipakai untuk dip/cocolan roti. Tetapi belakangan ada juga chinois fondue (chinese fondue) yang sudah dimodifikasi dengan aneka sayuran, buah, seafood, daging yang dicocol ke keju.Resep aslinya menggunakan alkohol, agar kadar protein dalam keju tidak larut karena terbakar. Fondue sendiri konsepnya memang melelehkan keju dalam massif pot (pot bersama) atau kerennya dicocol rame-rame. Th 1964, bukan hanya keju saja untuk fondue tapi juga bisa coklat. Viva dan keluarga Mars pernah berfondue ria di leiden buat ngilangin penasaran Vinda :).Oh ya, makan fondue ada etiketnya: garpu panjang nggak boleh kena lidah/bibir kita, idenya biar higenis karena akan nyelup ke pot/kuali lagi. Kalau makan daging, dipindah ke garpu dulu. Jangan mencocolkan lagi makanan yang sudah digigit. Bahkan kerap kali ada rule/game kalau sampai menjatuhkan roti kedalam pot keju itu, kalau cowok harus membeli 2 botol wine, kalau cewek harus mencium cowok sebelahnya (kok beda ya?). Lalu sering juga dibuat iseng anak-anak muda, kalau sampai menjatuhkan potongan roti kedalam keju, yang bersangkutan harus terjun kedanau bersalju saat winter hanya dan hanya dengan celana dalam. Wow..owww...seru ya!!

Yang juga khas adalah Rosti, kentang serut yang dibikin dadar. Nyaris mirip tortilla patata masakan Spanyol, tetapi tidak pakai telur. Dan rosti ini dimakan dengan side dish lain, ayam,sosis atau apapun. Ini pesanan tante Ratna, kami saling coba....


Raclette (bacanya raklet), masih tentang keju yang dilelehkan. Tetapi cara melelehkannya dengan diapit pemanas besi (panggangan segitiga itu lho..) lalu lelehan yang jatuh ke piring tersebut dipakai untuk dressing/siraman makanan kita; mau kentang, sayur, buah atau roti... Kami coba pesan raclette ini di Luzern, berdua harganya sekitar 35 FR, nyebelin kalau di rupiahin, tapi wajar untuk harga di Eropa.


Ini makanan siap santap yang dijual di supermarket. Kami cuma memfoto tapi tidak beli. Makanannya lucu-lucu, ada belut asap, burger potong yang ditumis, cabe acar keju, cumi mentah dalam olive oil, keju biru dengan paprika, pokoknya macam-macam.

Kangen pedas! Percaya nggak, waktu minta chilli rupanya pelayannya bilang "sambal"? lalu menyodorkan toples bertuliskan "sambal oelek"(sambai ulek), wow, internasionalisasi makanan Indonesia nih!Moga-moga mereka tahu ini dari Indonesia.


Ini pesanan teman-teman lain, sosis yang ditemani semacam kacang raksasa. Teman sosis bisa roti, kentang salad, kacang-kacangan, dll. Kalau udah gini, baru terasa..masakan Indonesi memang kuaya raya dan rasa....

Sebelum pulang, kami makan siang di resto khas Swiss yang inti menunya adalah sosis. Untung ada sosis dari daging kambing dan dengan salad kentang yang super asem. Tapi penting untuk mencoba apa saja... Ini lunch terimakasih dan perpisahan buat nyenengin tante Ratna yang udah jadi nyonya rumah, guide yang super zupper dan sudah masakin ini itu...Makasih banget..rasanya ingin kukirim se-kwintal pete untukmu...:) Juga makasih untuk kawan-kawan Zurich yang baru kenal beberapa jam serasa sudah beberapa bulan: Ccl D-ry Manda yang membuat renang menjadi mungkin dan asik, U-din-Rachel yang berbagi sore dengan cerita dan traktirannya, Josq Ccl dengan sajian Sushi sins dan cerita sins-sins yang mencerdaskan, Nadt Tany walaupun sekilas ketemu tapi kalian enak jadi teman dan juga nama-nama lain yang pasti baik-baik. Zurich circle moga-moga tambah erat.
* foto pot fondue dari browsing

Tidak ada komentar: