4 Tahun sudah mbah Bu-mbah Kung tiada...

Ini foto Vikra dengan mbah Kung, Om Gofar dan Om Yazid (dua adik ayah dari pendowo limo 5 jagoan). Vikra cucu pertama "Mbah Kung", begitu Vikra Vinda memanggil khas ke kakek tercinta Abdussalim di Lamongan (kakek Viva dari ayah). Persis bulan Juli ini beliau genap 4 tahun meninggalkan kami untuk tenang di haribaan-Nya. Beliau mengajarkan kami untuk senang dikala apapun, senantiasa siap dipuncak maupun di gurun, kekayaan adalah kaya hati dan silaturahmi, tidur berselimut angin dan beralas lantai bisa berpulas hingga pagi. Sampai-sampai ibu membelikan balai-balai untuk mbahkung yang anti tidur di tempat enak yang lazim (sayang beliau belum sempat mencoba balai ini sudah keburu pergi). Masih menggelitik jenaka di memori kami, selalu setiap kami pulang kampung, pagi-pagi beliau rapi sudah pakai baju batik, seperti mau njemput bupati. Lalu kami tanya: mbah kung mau kemana?" Dengan cerahnya mbah kung bilang: "yo nggolekno kikil Slirane nang Piyaman"(ya mencarikan kikil untuk kalian di pasar Payaman). Masih juga ingat, bagaimana mbah Kung selalu berkeringat dan semangat saat menikmati makanan (dan itu nurun ke ayah). Vikra, Vinda, Om-om semua...peganglah pusaka mbah Kung, bahwa "hidup selalu berkayuh dan tak kenal keluh". Berpulangnya mbah Kung pukulan berat bagi kami, tapi cara mbah Kung wafat sangat manis, persis saat mengisi ceramah di sebuah masjid....Ya Allah, semoga segalanya khusnul khotimah.. ..(catatan ibu: ibu merasa mbah kung sangat sayang sama ibu, mungkin karena menantu pertama, tidak pernah punya anak perempuan, dan mungkin ibu yang paling kolokan dan ceriwis diantara menantu lain yang anteng-anteng. Mbah Kung banyak terbuka cerita sama Ibu. Dan ibu merasakan beliau percaya dan selalu membela ibu).

Mbah Bu, Ning Masádah nama kecilnya, selalu ingin menggendong cucu-cucunya (termasuk Vikra dalam foto diatas) walaupun sendi-sendi kaki beliau sudah mulai merapuh. Mbah Bu, sosok perempuan yang mempersepsi bahwa cinta dan sayang ada di ujung lidah. Selelah apapun, ketika kami pulang kampung, hidangan diatas meja selalu penuh, dapur selalu mengepul. Mau kepiting kare? cumi oseng? Rawon? Asem-asem kikil? botok lele? iwak pe penyet? Tak akan mbah bu bilang "tidak" ketika anak-anak cucunya minta ini itu, bahkan wedang jahe bakarpun siap hidang walaupun harus setengah jam umak-umek menyiapkannya. Kurang kerupuk udang untuk pelengkap rawon bagi mbah bu seperti aib yang akan merusak selera sajian beliau. Bahkan ketika sakit harus melekat diatas tempat tidur, suara mbahbu masih sibuk mengkomando orang dapur untuk tidak salah sedikitpun. Harus persis seperti mau beliau! Mbah bu ingin meja adalah representasinya. Mbah Bu tidak akan pernah terdua di ujung lidah kami, warisan rasa beliau susah tergeser. Mbah Bu mengajari kita bersabar dan mencinta serba semua! Mbah Bu saat ini pasti juga ingin, kita bisa membedakan antara memanjakan dan mendidik, bercermin dari pengalaman beliau. Ya, mbah Bu, nenek tercinta kami juga sudah tiada 6 bulan sebelum mbah kung almarhum menyusul menyandingnya. Mereka berdua berbaring damai di seberang makam sang wali Sunan Drajad, yang konon mbah Bu masih urutan cucu-cucu keseribunya...Allahummagfir lahuma...warhamhuma...
(Dari hasil cinta belia-beliau lahir pendowo limo: pakde Tafif Abdurrahman yang menikah dengan bude Chairiyah dan melahirkan 4 momongan: mbak Renda,mas Dwiki,mbak Citra, mas Widan. Lalu anak kedua ayah Viva, Muchlis Ainurrafik. Putra ke 3 om Muh Amri Muchtarifin dengan bulik Tien yang semua anaknya dikasih nama sama ayah/sedikit dari ibu: Fariz Maulana, Nadia Arifia, Vira (bukan dari kami), dan Salma Ebadi. Putra keempat om Gofar Ismail dan tante Ugi punya dik Gina dan putra kelima Om Yazidizzaini Auliyannuha masih singgle).

Tidak ada komentar: