Kesetan diatas Kasur: Cerita PRT Baru

"Muhun, enteu...ha..ha... hii..hiii". Itu salah satu kalimat PRT baru kami yang tak henti-henti terima telphon, bahkan saat masih gulita kami lelap istirahat. Ini cerita soal PRT baru kami yang baru 3 minggu ini ikut dirumah. Dia belum punya pengalaman sama sekali. Jadi kami harus ngajari satu persatu dari A-Z. Setelah 6 tahun nggak mengajari PRT baru, terasa banget menghandle PRT dengan mengenalkan hal-hal elementer.
Anaknya rajin, tetapi cerita ini bagian dari katarsis kami dan pingin juga berbagi kelucuan-kelucuan (boleh dibaca kesalahan) yang dia buat yang bikin kami harus nggelar selebar-lebarnya tikar sabar. Cerita paling sepele, goreng tempe rasa tawar padahal pas ada tamu, masak capcai kuahnya bisa untuk renang, padahal sudah dikasih tahu ukurannya dengan cara sederhana(pakai gelas, bukan cc atau ml seperti dalam resep). Jadi kalau masak memang tidak bisa ditinggal semenitpun, teledor sebentar, sayur lodeh dimasukin asem, atau memberi garam pada masakan yang sudah asin. Pernah daging setengah kilo raib entah kemana saat mau dimasak. Paginya dia diminta mengeluarkan dari freezer, dan dia taruh dekat cucian piring. Bisa jadi hilang karena dibawa lari kucing atau kebuang ke tong sampah.
Pengalaman lucu dan asam yang lain, pernah pas ngumpul-ngumpul ada beberapa sobat dan keluarganya mau menikmati ikan patin panen kolam belakang, bumbu sudah dibuat jauh-jauh sama teman dari Palembang, pas pindang patin terhidang..wow..aroma asam pedasnya luar biasa merangsang. Tapi pas tamu berebut menikmati, rupanya pindang patin sepanci besar pahit semua! Ternyata usut punya usut, dia tidak membuang jerohan/empedu patin itu. Wah untuk kedua kali kami malu pas kedatangan tamu. tetapi kami tidak mau buat dia malu, jadi kami dengan leher gondok bilang dengan nada sok sabar:"mbak lain kali jangan lupa buang jerohannya ya, ini jadi pahit semua kalau tidak bersih". Padahal semua itu bisa pakai logika kan?. Karena kami semua sibuk menyiapkan yang lain, jadi luput dari perhatian..masak iya sih detik perdetik salah melulu. Jadi pas kesini kalau ada tamu mending beli makanan jadi. Standard masak memang beda, bumbu juga bisa beragam, sebagai jalan keluar kami catatkan resep biar rasa tidak berubah. Atau kami baca resep, dia satu persatu siapin bahannya. "Ini uleg dulu, kalau sudah panggil ibu". lalu setelah dia uleg, "ini tumis dengan minyak sesendok, kalau sudah bau harum panggil ibu".Jadi setiap tahab lalu lalang ke dapur.

Standar kebersihan juga beda, tetapi menaruh kesetan kaki keatas tempat tidur saat dia menyapu, kira-kira reaksi apa yang akan teman-teman buat? Vinda pemilik kamar ya kontan langsung menyunyu maju bibirnya dan panggil ibunya, karena gak enak negur sendiri. Sebelnya untuk urusan gini, ibu lagi ibu lagi yang harus ngasih tahu. Pernah dia kasih makan kucing pakai piring yang biasa untuk makan kita. Lalu membersihkan kulkas pakai sabut tembaga yang langsung mengelupas barang yang digosoknya...ampunnn!! Belum lagi kotoran berair dilantai dia lap dengan kesetan...kebayang kan berapa kaki akan ngeset dan artinya akan menyebar kotoran ke seluruh lantai.

Belum lagi konsep hemat energi yang sering tidak dia fahami. Jadi kalau kita menegur pakai setrika sekali colok aja pas anak sekolah, lalu lampu dimatikan kalau tidak dipakai, nyuci baju pisahkan warna terang dan gelap, dll, seperti angin lalu saja. Lampu sesiang suntuk lupa dimatikan, padahal tidak diperlukan. Baju hitam campur dengan seragam putih sekolah anak-anak. Dia rajin cuci piring tapi tidak efisien karena lupa menyisir ada cucian piring yang tertinggal nggak. Kerap mesin cuci sudah diputar padahal pakaian kotor di kamar mandi depan tidak diambil dulu. Jadi dia terkesan sibuk tetapi tidak efisian. Kadang dalam hati, apakah ini menyangkut pengalaman, atau logika? kenapa dikasih tahu beberapa kali kok tidak meresap dalam memorinya?

Tapi ya kami harus sabar..super sabar...karena kami termasuk kaum yang malas gonta-ganti PRT, jadi mending yang ada dididik...padahal kami bukan kaum sabar, tapi melalui PRT kami diuji jadi orang super sabar. Moga-moga sebentar lagi embak ini pinter dan krasan 5-7 tahun seperti yang sudah-sudah.

2 komentar:

Dina mengatakan...

Salam Kenal Mbak..


nasib kita sama mbak,...kadang saya nggak sabar banget liat PRT dirumah..kalau bukan karena kasian liat nasib anaknya...

Nyuci gak bersih...Setrika nggak Licin..Cuci Piring masih ada sisa makanan..selalu nunggu disuruh dan diomelin baru dikerjain..
kebayang kan..

Padahal dia baru dateng kerumah jam 1/2 7 dan Jam 8 (pas saya mau berangkat ngantor) dia dah siap2 pulang..

Duy..kebayang harus selebar apa kesabarannya..

Anonim mengatakan...

Salam kenal juga mbak DIna. Tinggal dimana nih? Iya nih mbak Dina...kita berusaha mengahrgai hak mereka, tetapi dalam titik tertentu kadang kami merasa ini nggak fair...mereka berhenti sepihak, nggak disiplin janji, dll.