Bermuda Sambut 2008

Sawangan 31 December 2007

Ada Jagad, Om Ipung (Saiful Mujani), bude ikun yang tampak muda pas berultah sambil tahun baruan, Mbak eh kakak Putri, mas Berli,ada Om Dahlan yang berkilau dengan tante Pipieh dan juniorsnya, ada 20 lebih temen-temen muda Formaci yang nama dan gayanya keren-keren sampai lupa diingat.

Ini suasana tahun baruan di gang jambu 55, ada yang sibuk nyanyi di pojok, ada yang asik main kartu, ada yang sibuk makan (karena ada kiriman dari langit: kambing guling, pempek, dll yang disiapin mbak Lastri), ...Tapi ada yang serem, petasan raksasa yang dinyalakan nggak diikat dengan benar, jadi jatuh meledak dan mengarah ke rumah..untung gak kenapa-kenapa...

Mbak Tutik kok pulang? Masih belajar hargai hak PRT

Tulisan ini untuk penghargaan kepada para PRT dihari international women's day, kemarin!


"Mbak Tuti, sabuk Tapak Suci Vinda mana? "Mbak Tuti, bikinin Vikra telor kecap dong". "Tut, kopi bapak manna?" Tut, cariin uban ibu sambil ngobrol di belakang yuk". Beginilah pas Tutik masih bersama kami. Tuti PRT kami yang sudah 6 tahun bersama kami,akhirnya pulang kampung di Banten dan tidak kembali. Tapi pas nggak ada mbak Tutik, semuanya jadi lebih rajin. Kakak kadang dapat giliran masak. Urus jemuran dan lipat-lipat Viva, ibu bersih-bersih rumah, nyuci gantian ama ayah, masak juga rame-rame. Sebetulnya tanpa PRT sudah bisa jalan, karena anak-anak sudah gede-gede.


Balik ke Tutik. "Bu, cuma ada 3 ubannya, udah yak". "Eh Tut, pegang-pegang aja kepala, enak, lagi pusing nih Tut" sambil dengan nada ngrayu. "Ah ibu mah...eh, bu, kenapa sih rambut ibu nggak dicat merah aja, masak ibu diluar negeri biasa-biasa aja" Kadang dia pamer, "bu, Tuti kan beli kaset baru Raja, bagus deh". Pernah juga dia ngledek; " ibu masak nggak kenal Dewi Persik,ibu mah nggak gaul..". Pokoknya sambil dia megangin kepala, dia akan nerocos cerita macem-macem nggak berhenti. Pernah ayah diledek gara-gara minta dia tegur tetangga yang terlalu lama nyelang air dari rumah pas kemarau, padahal tetangga lain juga ngantri), dia bilang: "bapak mah cemen (looser), gak berani negur sendiri, beraninya nyuruh Tutik". Kalau dikasih tahu soal kesehatan atau kebersihan, "Tut, kalau masak jangan pakai micin, gak bagus buat kesehatan". "Tut, jangan keseringan makan baso dan saos tomat, jelek lho buat perut kamu. Nyebelin jawabannya: "kata ssiappa?".

Tutik juga populer di gang jambu, semua orang kenal..kerap tukang jualan lebih tahu rumah Tutik ketimbang kami, atau tetangga bebas minta/pinjam ini itu kerumah kami cukup bilang ke Tutik. Kadang kami merasa, seakan kami yang numpang dirumah dia :-). Pernah juga kami jadi resepsionis Tuti, karena telephon untuk dia lebih banyak dari kami yang hanya sesekali (kasus ini pernah bikin kami kesel, karena lagi kerja/istirahat krang-kring sering sekali dan sampai taraf mengganggu, padahal di telphon hanya ngrumpi).

Iya Tutik, PRT kami yang sudah jadi bagian keluarga kami, akhirnya nggak balik setelah pulang tahun baruan yang janjinya mau 3-7 hari jadi molor sebulan lebih. Pas kami sudah dapat pengganti namanya mbak Yah dari Temanggung, baru Tutik telp mau balik! Walah bocah Dangder ini kumaha?

Seperti PRT-PRT kami yang lain, pernah ada mbak Mar yang merawat Vikra sejak bayi sampai 5 tahun, lalu ada mbak Mar kedua (nama sama tapi lebih tua) juga sekitar 4 tahun ikut kami. Bahkan mbak Mar muda ketemu jodoh karena pas kerja ditempat kami, rajin volly dan ketemu jodohnya lalu menikah dan berhenti bekerja. Sampai tetangga sering komentar:" mbak, kok pembantu dibolehin main volly?". Nah lo..dalam hati, "pembantu itu orang bukan?"

"mbak Yah..kerja dirumah ini mah enak, bebas! itu dulu si Tutik pagi-pagi juga udah bisa main gendong anak tetangga. Mana ada di Jakarta begini?". Begitu mpok Minah dengan logat kental Betawinya (tetangga kami yang lagi main kerumah) ngayem-ayemi/hibur mbak Yah PRT baru kami".

Kami barangkali belum seoptimal teman-teman yang sudah luar biasa menghargai PRT. Kami masih belajar, kami kurang lebih baru berusaha penuhi hak-hak ini (mohon masukan)

1. Main (boleh asal pekerjaan selesai ,tidak habis maghrib, dan kalau agak jauh bilang)
2. Terima tamu (Kalau punya pacar/tamu laki-laki dirumah saja , boleh bawa teman nginep, rumah kami jadi tempat transit PRT-PRT dari kampung Tuti)
3. Gaji : THR sebulan gaji, Gaji pokok memadukan UMR dan pasar lokal (ini nggak sederhana, ketika kami kasih agak tinggi, tetangga2 kami yang notabene mayoritas menengah kebawah jadi kasihan, karena mereka nggak akan sanggup ikut standard ideal ini, dan akan kesulitan cari pembantu, sehingga akan terjadi domestifikasi terhadap perempuan lain karena tidak sanggup bayar PRT).
4. Libur: Hari Sabtu Minggu libur (tapi kami belum bisa meliburkan total, karena kadang masih minta dibikinin kopi. Tapi nyaris tiap wiken dia libur masak, mencuci dan nyetrika. Dan boleh jalan-jalan..biasanya dia main ke telaga golf, lihat dangdut di Cetok atau ke pamulang/parung).
5. Cuti/Libur panjang: Boleh pulang kampung kapan saja asal disiplin kapan kembalinya dan dikompromikan jadwal keluarga (Tuti pulang hampir 5-6 kali dalam setahun, bahkan pernah cuti sebulan).
6. Pekerjaan : Nyuci/nyetrika 2 hari sekali, masak (non weekend), bersih-bersih rumah, dll (Habis magrib/sesudah menyiapkan makan malam harus istirahat dan kami mengusahakan tidak meminta tolong dia lagi, tapi kadang-kadang kalau ada tamu ya fleksibel).
7. Kamar: ada kamar yang cukup aman dengan TV,tape dan kipas angin (juga kamar mandi sendiri. Tapi si Tutik sering bilang, bu..kata mpok belakang, digenteng rumah kita ada gorilanya.... Ampun! dia gampang percaya hantu. Gak jelas banget!
8. Biaya sakit dll kami yang tanggung (idealnya diikutkan asuransi, karena banyak teman-teman yang sudah sangat bagus menghargai hak PRT, dengan hak-hak kesehatan ini juga). Tapi Tuti nggak pernah sakit kecuali gatal dikakinya karena sandal basah dipakai juga.
9. Makanan: Apa yang kita santap sama dengan yang dia santap.

Apa lagi ya...ada usul nggak, hak apa lagi yang belum kami terapkan, biar kami belajar juga untuk optimal hargai sesama. Makasih Tutik..Brava untuk Tutik-Tutik yang lain!

(Weekend sambil ditemani burung kicau jelang musim semi, 9 Maret 07).

Kambing Ganti Seragam: Qurban alternative

Keukenhoff Holland, April 2007

"Nduk, ibumu lagi ngrawat mbah Hadi gerah, wah, eman seragam bocah-bocah TPQ amanahmu nggo korban ndisik kae durung iso rampung, padahal pingin nguyak Isro' mi'raj. Pas digawekke seragam, bocah-bocah podo kemruyuk langsung nambah petang puluh. Bakale sragam apik, digawe nganggo sleret barang".

(nak, ibumu lagi ngrawat mbah Hadi lagi sakit, jadi sayang seragam anak-anak TPQ amanatmu untuk kurban dulu itu, belum bisa selesai, padahal pingin ngejar Isro' mi'raj. Pas dibikinin seragam anak-anak langsung membludak, nambah 40. Bahan sragamnya bagus, didisain pake strip segala).

Itu suara teduh bapak (akung) di kejauhan di Gedawung pas ditelp dari Leiden, sambil masih menggeh-menggeh habis bersepeda melawan angin di Witte Singel.

Waktu om Dan Birchok sobat Amrik kerumah, Vikra ditanya, Vikra sudah korban? Vikra jawab "my mom cannot stand with the blood".

Sejak kecil, ketika hari raya kurban orang senang-senang mau lihat hewan disembelih, ibu pilih memingit diri dirumah. Dalam hati dan pikiran anak-anak saat itu: "kok hewan disiksa dan kita asik nyate-nyate. Kok nabi Ibrahim jahat bisa tega bunuh anaknya? Kok akung yang bukan nabi lebih baik dan sayang ke anak-anaknya?". Agak gede dikit mikir "Kok lebaran berdarah-darah, amis, anyir, sadis, uang dibuangin". Tambah gede mikir lagi: "di Mekah pasti banyak banget sapi-kambing disembelehin, duitnya kalau dikumpulin bisa buat nyekolahin orang sekampungku". Pas tambah tua kepantik statemen: Umat Islam itu rajin bikin megah rumah Allah, rajin korban, padahal sekeliling masjid orang terlunta miskin bahkan menjual keperempuanannya". Semakin kesini akhirnya kami keluarga gg jambu 55 nekad: "uang korban tidak lagi untuk hewan disembelih tapi untuk dana pendidikan mereka-mereka yang membutuhkan. Dari bikin eternit sekolah, SPP anak-anak yang nggak mampu, dan pernah juga ayah Viva ngalokasiin dana korban untuk pembuatan jalan di ruas-ruang gang di Gang Jambu". Saatnya kambing/sapi dibiarkan hepi berhari raya, dan anak-anak yang termiskinkan bisa "pake kambing"untuk ke sekolah.

Weekend, 8 Maret 07.

yunich1@yahoo.com

Behind the Trip: Belajar segalanya

Ini email seminggu lalu untuk teman yang ikut senang baca travelling kami: "Kami ingin nonjolin sisi edukasi dari semua trip ini. Bukan karena kami kaya, tapi emang untuk study non kelas buat anak-anak. Selama trip itu anak-anak kami latih untuk membaca/search dulu sejarah tempat-tempat yang mau dikunjungi sebelum berangkat. Berdiskusi tempat mana saja yang menarik untuk mereka. Vikra sangat antusias ingin lihat karya Michelangelo di Italy, Vinda pingin ke Eiffel dan Disneyland, ayah ingin ke Andalusia, Ibu kemana aja suka. Vikra sibuk download ini itu sampai cari info ttg cuaca juga.


Beginilah suasana trip, mereka coba nulis pengalaman diatas kereta atau kapanpun pas sempat.(sayang laptop kami yang dibawa traveling jatuh waktu di Florence, dan banyak tulisan anak-anak nggak bisa diselamatkan, sedihnya juga komputer rumah ikut-ikutan kacau, padahal ada beberapa tulisan lanjutan Viva yang menarik). Selain itu kami tidak sayang untuk keluar masuk museum atau bahkan antri puluhan meter demi Anne Frank atau Sistine Chappel Vatikan. Selain itu, travelling juga mengajak lidah belajar "mau"dengan makanan lokal. Kita coba makanan Spanyol, Italy, Turkey, Jerman sampai makanan Iran dengan telor hijaupun kita coba makan, belum haring ikan mentah Belanda yang bersaing ingin dinikmati.
Beginilah anak-anak bersibuk. Vikra paling sering jadi guide (pakai audio) dan mentransfer ke kami-kami. Dia juga pembaca informasi dan peta yang baik. Vinda juga tak kalah sibuk, sering kebagian jadi seksi transportasi yang mengingatkan stop dimana dan mengingat jalan (karena orientasi ruang dia lumayan). Kami belajar bergantian jadi trip leader dan timer. Asik juga anak-anak jadi belajar mengenali sistem transportasi. Mereka belajar jadi photographer (sampai kamera jatuh-jatuh) bersaing sama ayahnya yang sibuk memvideo. Beginilah team ini bekerja dan belajar bersama. Pokoknya seru dan excited. Ini salah satu gaya kakak yang suangat serius dengerin audio guide di Harem Istanbul.

Harem! Harem! Harem Sultan Ottoman Turki

Istanbul, 18 Maret 2007

(Vikra rencana mau bikin tulisan tentang ini. Kita tunggu saja.. )

Gambar paling atas adalah singgasana sultan saat mengunjungi Harem (area tinggal istri-istri dan "perempuan-perempuan" yang disediakan untuk raja). Disini sultan biasa menyaksikan hiburan tarian sajian penghuni Harem sekaligus kesempatan untuk melihat/memilih perempuan yang disukainya.


Ini adalah kamar-kamar penghuni Harem yang jumlahnya bisa ratusan. Perempuan penghuni Harem bisa diambil sejak belum balig sekalipun. Harem ini sangat dikontrol oleh ibu dan permaisuri Sulthan, terutama ibulah yang punya otoritas untuk mendidik para penghuni Harem, khususnya yang potensial akan dijadikan istri-istri raja. Sedemikian dididik agar calon istri-istri tersebut "hebat", karena merekalah calon ibu para sultan penerus. "Untuk memenangkan perhatian sultan dan ibunya, kerap persaingan dilakukan dengan cara-cara sadis. Selat Bosporus salah satu saksi bagaimana perempuan Harem yang pemberontak harus diakhiri hidupnya dengan ditenggelamkan disana". (Demikian cerita turistik yang didengar jutaan pengunjung)

"Ini kamar mandi para penghuni harem. Harem ini juga dijaga oleh para bodyguard kulit hitam. Konon mereka juga dikebiri..."

Selalu kalau masuk space-space macam Harem begini, senang sekali menempel ke group-group turis bule sambil nguping apa yang tertransfer kekepala para pengunjung ini. Selalu sama bahwa raja/lelaki Islam hobi perempuan, bertumpuk kemewahan dan sadis...

Tapi bersyukur akhirnya tahu Harem bukan hanya dari tulisan orang, tapi bisa menyentuh sendiri dindingnya dengan tebaran kaligrafi cantik ayat-ayat Tuhan yang bertubrukan dengan nafas-nafas sesak perempuan, membayangkan belitan seumur hidup tanpa pilihan, menyedih bagaimana berhias raga dan mengkebiri hati, menghayati menghitung menit dan terbiar....

Leiden 5 Maret 2008

Yunich1@yahoo.com

Kakak Batuk, Diperiksa Dokter "Cuwek"

Senin, 3 Maret 2008.

Nyampek rumah, pulang kantor, lepas magrib. Rumah kosong. Motor kakak gak ada. "Vikra nganter si Adek," kata Mbak Yah.

Hujan rintik. Motor kakak masuk halaman. Batuknya masih menggigil. "Nanti ayah yang jemput Vinda, kan?"

Dia langsung ambil handuk. Mandi. Setelah sekolah dari pagi ampek jam 3 an. Lanjut kursus piano. Masih juga enteng dia nganter adiknya. Hujan rintik-rintik.

"Ya udah, Kak. Mandi, kita bareng-bareng jemput adek. Sekalian ke rumah sakit. Kakak harus ke dokter. Batuknya sudah lebih tiga hari!" Sebelumnya, dia sudah ditawarin ke dokter. "Vikra males ah. Ngantrinya lama," katanya.

Kita pilih periksa ke klinik Satiti, Pamulang. Hanya bebeberapa langkah dari EF, tempat kursus Vinda.

Nunggu lumayan lama. Sekitar 5 pasien. Untung kakak bawa catatan matematika. Bisa sambil belajar.

Tapi, biasa, gak tahan lama. Di samping tempat duduk kita, ada timbangan. Orang-orang bolak-balik nimbang. Kita ikut.

Vinda dulu. 44 kg. Ayah, 76 kg. Nah, giliran kakak. 96 kg!!
Kita pada gak percaya. Kita minta kakak, tahan dulu. Kita lihat lagi meterannya. Ternyata gak masalah. Gila. Terakhir dia nimbang, udah lama juga sih, 86 kg!

Nunggu lagi. Masih lama. Ayah bolak-balik ke meja suster. "Masih, 2 pasien lagi, Pak!"

Ngantuk. Vikra-vinda becanda, berantem gak jelas. "Kok kakak punya adik cewek sih!" Adiknya gak mau kalah. "Vinda juga. Punya kakak kok cowok!"

"Ayah ngantuk nih. Daripada berantem. Pijitin gih!" Hehe. Vinda mau. Lumayan. Melek dikit!

"Vikra." Ada panggilan dari meja suster. "Setelah yang di dalam, ya!"

Kita geser duduk ke dekat pintu dokter. Di papan pintu, nama dokternya Wirdha Hamim. "Tebak, dokternya cewek ato cosok?"

"Cowok," kata Vikra. "Iya, cowok," kata Vinda.
"Yang kalah mijit yak?" kata ayah. "Yang bener, itu cewek."
"Ya udah, Cowek," Vikra nimpalin. "Kalau gak, Cuwek!"..

Pintu kebuka. Sambil masuk, kita ketawa-ketawa. "Tuh kan, dokternya cewek." Ayah bisik-bisik. Dokter Wirdha Hamim, cewek. Sudah berumur. Nenek-nenek lah. Dia senyum juga. Kayaknya heran, kok kita masuk ketawa-ketawa.

Pemeriksaan standar. Dokter nanya batuk mulai kapan. Berdahak atau kering? Pilek nggak? Tenggorokan gatel nggak? Disuruh buka mulut. Disenter. Disuruh berebah. Dada, punggung diperiksa. "Tarik napas. Lagi!"

"Ini radang. Jangan makan es krim, jangan minum air dingin. Jangan makan gorengan."
"Badannya juga sudah kegemukan. Kurangi makan nasi. Malam, jangan makan nasi. Ganti kentang. Kurangi minuman manis. Jangan gemuk-gemuk. Nanti jelek. Gampang sakit."

(ini sms ibu yang juga gak kalah ceriwis ama dokter: "Vikra gmn batuknya? Kepikiran! Dah dikasih madu,vicks atau doping vitamin? Suruh bobo atas dan gak maem pedes,gorengan.Peluk sayang buat kakak. Ayah, adik juga. 03.03.08. Disusul sms lagi: kacian kakak. Dia tuh kalo batuk agak lama.Tegesin pake jaket tebal tiap hari kalo bermotor,Mungkin selama batuk jemput Vinda Suri aja yah.Peluk sayang lagi buat Kakak)

Pokoknya dokternya ngomong mulu. "Makanya, nunggunya lama banget," pikir ayah.

Keluar. Nunggu obat lagi. "Ayah, cepetan. Ini sudah mau jam 10. Vinda belum belajar," Vinda protes. Dia gak mau nunggu di apotik. Sama kakaknya, dia pilih nunggu di mobil.

Sampek rumah jam 10-an. Makan bareng. Kakak minum obat. Ayah ama Vinda sempet sorak, kakak bisa nelen pil. (Ini pekerjaan paling susah, buat kakak sih!).

Anak-anak nyiapin pelajaran. Bobok.

Besok, ayah harus berangkat kantor. Subuh.

Muchlis_ar@yahoo.com

Inna Lillah wa Inna Ilaihi Rojiún

Leiden, 29 Feb 07

Dua minggu lalu ibu mimpi 3 gigi tanggal, sms ke omacan dan katanya kembang tidur. Nggak berani cerita ke ayah, takut bikin pikiran. Orang Jawa punya kepercayaan kalau gigi tanggal akan dengar berita duka cita. Ternyata sehari setelah mimpi itu, tgl 16 Feb 07 ayah tante Lies-Om Suryadi ,wafat di Padang (sobat karib yang tinggal di Belanda). Semalam suntuk tante Lies tidak tidur dan paginya bersibuk ke Schiphol mencari tiket untuk pulang ke Padang dengan gadis kecilnya Raisa.

Tiga hari kemudian dapat email:
Dear Yuni,I am sorry to inform you that Joost passed away at the 12th of January,the funeral was at the 17th. Fortunatly, he died peacefully and quietly at home in his sleep.Best wishes Jacqueline van der Schaaf (Joost's wife)

Joost pd thn 1986 pernah ke Pabelan mengajar bahasa Inggris dan pernah bikin diskusi setuju nggak santri thd teori Darwin (bahwa manusia pertama monyet bukan Adam). Ibu sering diskusi sama dia. Sejak 1999 ibu di Belanda, pernah coba lacak tdk pernah ketemu dan baru sebulan setengah sebelum dia meninggal, nemu di google dia sudah jadi profesor di Leuven Belgium. Begitu email dibalas, Joost cerita umurnya tinggal setengah tahun lagi karena kanker lidah . Ini cuplikan email yang ditulis oleh seorang yang sedang dying (sekarat) tapi clear mind: (4 Des 07, 40 hari sebelum meninggal)

"Dear Yuni,I am glad to hear you are doing so well, and that you are getting a PhD. I must say that at the moment I am quite ashamed of the attitude in Holland towards Islam. This is very different from when I left the country in 2000. From a scientific point this might actually be interesting to you, but I hope it does not affect you on a personal level! It is unfortunate you did not find me before my disease, because I would have liked to meet you very much. In my current condition, we cannot meet -- I hardly leave my house in Antwerp, and I hardly receive visitors. If, however, my condition would improve considerably, I will certainly let you know! The wis.kuleuven.be address is my daily email address. Best wishes,Joost.

Hari ini dikejutkan lagi dengan email dari Alfan Firmanto bahwa sobat karib, Agus Chaidir, juga meninggal. Agus teman sekelas di Pabelan (Angera:Angkasa Era), teman bercanda dan pintar photografi. Karena Juni Angera mau reunian di Pabelan, jadi Lily sang ketua berkali-kali ngingetin Agus harus jadi sie dokumentasi. Rupanya dia hari ini pergi, meninggalkan gadis kecil satu tahun, istri tercintanya dan kami-kami sahabat yang menyayanginya...Inna lillah.. Selamat jalan semua....kami berduka. Sangat!