Akung yang mengkhawatirkan

Berita mengagetkan
"mbak, bapak koma, masuk UGD Yarsis, Usahakan pulang secepatnya". Sms dari Om Ahsan sekitar jam 8 pagi (Selasa, 25 Mei 2010) ketika ibu baru mau masuk airport Swarnabhumi Thailand untuk melanjutkan penerbangan ke Nepal-Kathmandu untuk sebuah acara dan ibu kebagian presentasi mewakili Komnas Perempuan. Aneka rasa muncul, untung ada kawan Jane McGrory yang dengan cekatan mencaikan tiket pulang ke Indonesia dengan Singapore Airlines, setelah mencoba cari beberapa maskapai lain yang tidak memungkinkan terbang dalam waktu dekat ke Jakarta. Yang unik, tas sudah terlanjur masuk bagasi dan ikut terbang ke Nepal.
Sms lain dari Noli sekretaris ibu yang memforward sms dari mas Muchlis menyusul: "Noli, ini suami Yuni. Aku coba kontak simpati Yuni gak bisa, kasih tahu bapak masuk rumah sakit lagi, koma". Lalu ibu balas update bahwa akhirnya dapat pesawat jam 12.20."Ati-ati yo mbak tetep tegar" sms dari om ahsan, disusul dari om Daris, terbaca dari Singapore saat transit: "kasihan bapak mbak, gak bisa ngungkapin maunya, dan sekarang sering nangis dan kayaknya tadi kesakitan waktu dimasukin selang lewat hidung buat masukin nutrisi, karena gak bisa nelan, airpun gak bisa, kasihan mbak, aku nggak tega". Sempat panik juga waktu di Thailand mau balas tidak ada pulsa, jadi akhirnya minta ayah dan Noli untuk transfer pulsa, jalan jauh cari wifi, dan dengan email akhirnya bisa kirim minta pulsa untuk membalas sms ke Om Daris: "bilangin bapak aku dalam perjalanan pulang, jam 12an pesawat brkt. Aku dari jauh berdoa terus, moga-moga tangan gusti Allah ngeman bapak, diringankan sakitnya dan aku dikasih kesempatan untuk merawat bapak". Sepanjang diatas pesawat ibu cuma bisa melantun lirih doa sambil membiarkan sepuas mungkin airmata menderai. Yang penting nanti didepan bapak tidak menangis, harus kelihatan kuat biar bapak juga kuat. karena bapak paling tidak suka lihat anaknya menangis.
Bertemu Orang baik saat-saat sulit
Di Jakarta ayah siapin cari tiket pesawat ibu dari Jakarta ke Solo tp kelihatannya tak terkejar dengan pesawat terakhir kecuali ke Jogja ada Garuda jam 7. Persis jam 6.5 pesawat ibu mendarat dan di imigrasi ibu langsung bypass lewat krn emergensi tanpa ngantri. SAmpai counter Garuda sudah habis, kecuali mau antri di standby tiket mengandalkan mereka yang gagal terbang karena telat atau mencancel. Ibu antri di standby tiket, Ibu ceritakan ke petugasnya bahwa ibu dalam situasi emergensi, kelihatannya ada penumpang lain yang mendengar percakapan ibu, lalu ada 2 penumpang yang langssung mengalah untuk mendahulukan ibu. Luar biasa, jalan hidup ibu selalu dimudahkan, terutama saat-saat genting begini selalu dikasih kemudahan. Akhirnya bisa terbang dan ayah dengan Vikra Vinda yg sudah nunggu di Bekasi (yg berjaga incase ibu nggak dapat tiket pulang bareng), akhirnya jalan bawa mobil.

Di Pesawat ketemu dg Buya Syafií Maarif mantan ketua PP Muhammadiyah. Ibu ajak senyum dan waktu turun ibu kejar. "Buya, saya Yuni, alhamdulillah saya dapat amanat terpilih sebagai ketua Komnas Perempuan sejak 3 bulan lalu (Maret 2010)". Buya langsung menyalami, selamat ya, berarti anda melanjutkan bu Saparinah dan Na..Kama (Maksudnya Kamala)."Iya buya. Tetapi saya mengejar buya kapasitas saya sebagai individu, saya putri pak Bardus Syafaat dari Baturetno. Bapak pernah cerita buya dulu pernah mengajar di ST Baturetno, kebetulan waktu muda ayah saya juga pernah mengajar disitu dan ingat buya. Beliau juga berjuang nelateni Muhammadiyah di situ. Jadi beliau kirim salam untuk buya, dan mohon doa, karena bapak sekarang sedang kritis di Yarsis Solo". Buya termenung dan jelas gurat duka diwajah beliau."duh, saya berdoa, moga-moga kesehatannya membaik. Sabar ya. Sampaikan salam untuk bapak. Saya bangga ketua Komnas Perempuan dari Baturetno". Anda kuliah dimana? "Sedang menuntaskan PhD di Univ Amsterdam buya, mohon doanya juga". Kata buya, "luarr biasa orang Baturetno ini, ayah anda pasti bangga. Dimana beliau dirawat?". Di Yarsis Buya... Akhirnya kami berpisah dalam hening.

Ayah-Akung yang berhati nabi

Sesampai di rumah sakit, senyum bapak yang 4 hari lalu ibu temua saat menjengung sesudah dari Semarang (menginap 2 malam), sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah wajah sakit yang luar biasa, tergolek tidak bisa apa-apa. Bapak seperti tidak percaya melihat anaknya sudah tiba. Dengan menahan dalam ibu berusaha kuat dan mengusap-usap bapak, berdoa usapan sayang ini bekerja mengurangi sakit beliau.
Padahal waktu pulang kampung menengok, bapak sudah mulai membaik, jalan sudah tanpa tongkat, dan berkali-kali mengingatkan untuk siap-siap biar tak tertinggal pesawat "Cobaa ihitung waktu dari sini sampai terminal, dari terminal sampai Solo, bandara".

Bapak kini sudah melemah secara fisik, tapi selama kami merawatnya kami ajak untuk ceria. Komunikasi sangat terbatas, tetapi kecerdasan bapak sangat membantu komunikasi bekerja dengan menulis huruf yang sulit dibaca, dengangerakan jari seakan menulis juga sulit, berlanjut dengan menyebut dari A-Z lalu kalau huruf yg dimaksud bapak menganggung, hingga membuat poster huruf. Tetapi menunjuk sangat sulit..jadi paling mudah mengeja satu persatu, seperti "sakit, luka lidah, gerakkan kaki, beli pipet, perawatan apa, dll".

Hari ibu tulis surat ke kawan-kawan komisioner di kanto: "Doa kawan-kawan bekerja, bapak mulai sedikit bs gerakkan jarinya untuk membuat isyarat-isyarat yang beliau inginkan (terkadang berbentuk huruf). Tp kesadaran EQ-nya masih sempurna, dg isyarat minimalisnya (disela nafas tersengal) masih menyempatkan untuk mengingatkan kami-kami untuk memberi tip kepada perawat (padahal etik dirumah sakit tidak bisa), masih sempat kasih code huruf untuk membeli "pipet" untuk membuang cairan ludah dimulutnya (krn motorik menelannya belum berfungsi), selalu melirik jam untuk dituntun tayamum untuk sholat, bahkan mengingatkan saya untuk kembali ke jakarta (dg isyarat tulisan "pesawat", yang kami tebak seperti quizz hingga berkeringat karena sering salah). Saya bilang, kawan-kawan baik-baik ikut mendoakan beliau, dan memahami situasi ini, saya bilang, selasa ada rapat paripurna saya harus kembali, beliau mengangguk lega karena isyarat yang ingin beliau sampaikan bisa kami fahami.

Beginilah jadi anak pertama dan perempuan sendiri yang punya kedekatan emosional luar biasa sejak kecil dengan beliau. Jadi kata ibu almarhumah dulu: "kalau bapak sakit, kalau saya datang langsung ceria dan semangat makan, jadi cepat sembuh". Beliau tinggal satu-satunya orang tua saya, bahkan kedua mertua juga sudah tidak ada. Jadi memang "ketir-ketir"(was-was) sekali kalau beliau sakit. Merasa punya orang tua sangat berharga, punya tempat untuk kembali.

Jadi intinya, senin saya sudah kembali ngantor.... Salam, Yuni".

Cepat sembuh bapak, akung tercinta. You are the only parent we have, lentera hidup dan bapak yang berhati nabi".



Ayah Bima Meninggal

By Vikra Alizanovic

Belum lama ini, sekitar awal bulan Desember ini, berita duka sampai ke telinga gue. Waktu itu gue lagi bareng keluarga. Tiba-tiba aja salah satu temen gue nelpon gue lewat hape esia gue.

”Vik, bokapnya Bima meninggal! Lu bisa langsung ke rumah gue gak sekarang? Anak-anak pada mau nengokin Bima ke Cibubur!”

Gue terdiam. Bisa dibilang syok. Innalillahi wa innalillahi rojiún. Gak tau kenapa, gue bener-bener ngerasain that uneasy feeling. Bokap temen gue meninggal. Bokap kandung. Yang selama ini menghidupi keluarga dia.

Tanpa sadar, gue mikirin apa yang akan gue lakukan seandainya hal tersebut terjadi sama gue. Siapkah gue?

Malem itu gue gak ikut anak-anak ke Cibubur karena logisnya gue gak bisa malem itu. Tapi besoknya gue ikut ke pemakamannya bareng beberapa temen sekolah gue. Beliau dimakamkan di Pemakaman Karet. Meskipun ngumpul bareng temen-temen, gak ada yang ngeluarin canda tawa sama sekali saat itu.

Gue masih inget masa-masa ketika beliau masih hidup. Bima dan Kresna, 2 putra dari beliau, yang keduanya temen gue seangkatan, masih bisa becanda tawa. Sempet sebelum beliau berpulang ke Rahmatullah, Bima memasang status di facebook-nya kalimat-kalimat seperti ’Stay strong, dad!”atau ”Love you, Dad’. Hati gue bener-bener tergetar.

Di pemakaman gue dateng pas sebelum ambulans yang membawa Bima dan keluarga dateng. Bima masih bisa senyum ngeliat kita-kita, sedangkan Kresna bener-bener diam tanpa ngeluarin sedikitpun suara. Ketika penguburan, Bima masuk ke liang lahat membopong jenazah ayahnya sambil menangis. Gue terharu dan nafas gue sesak ngeliat hal tersebut. Tiap beberapa saat selama sesi pemakaman, Bima memandang kosong ke arah nisan ayahnya dan mengeluarkan isak tangis yang masih ditahan olehnya. Gue dan beberapa temen ikut berduka. Pas setelah orang-orang bubar, Bima duduk disamping nisan ayahnya dan memandang kosong ke tanah lahat serta mengeluarkan isak tangis beberapa detik sekali.

Gue yakin dia pasti sedang mengingat-ingat hal-hal yang pernah dia lakukan bareng ayahnya tercinta. Jujur, gue terharu ngeliat hal tersebut, dan sekali lagi, gue ngebayangin sekali lagi, apa ini yang akan terjadi ke semua anak-anak yang ditinggal orang tuanya. Pasti kita akan ngebantu bopong jenazah, mandiin jenazah, mengkafani, serta mensolatkan orang tuanya, kaya yang Bima lakukan.


Gue nyadar, ini bukanlah hal yang terjadi ke Bima gitu aja. Bima Cuma dapet giliran duluan. Kita gak akan pernah tahu who’s gonna be next. Jadi buat yang baca ini, if you must listen, love what you have as long as you don’t have to miss what you have lost. Yep, that’s original from me. And that’s what I’m going to do from now on.

Kucing Berbaju

Kalau ke pet shop, pasti koleksi baju kucing nggak banyak. Kalau ke butik kucing, selain mahal kok berlebihan amat rasanya. Jadi memang kreatifitas itu mahal rupanya. Nah, karena si Kuba (Teni) nurut banget dan menikmati dibajuin, mulai deh nafsu mendisain dan membuat baju untuk Kuba jadi tersalur (karena ibu gak suka nonton TV, jadi relaksasinya ya bikin beginian). Cakep kan?



Berlibur ke Rumah Sakit Jiwa (1)

Awalnya agak bergidik saat memasuki lorong-lorong RSJ di salah satu kota di Jawa. Yang terbayang adalah wajah orang gila yang tak terkontrol, menyeramkan dan menyerang. Tangan Vinda mencengkeram erat lengan ibunya dan mukanya pias pucat ketakutan. Ngapain liburan ke RSJ? Disamping kami ingin lebih jauh tahu dunia "gelap" RSJ, mempertebal spiritulitas anak-anak (dan kami sendiri tentunya), juga ingin ketemu direktur RSJ yang kebetulan berkorespondensi dg ayah untuk konsultasi cari psikiater yang terbaik untuk handle saudara yang selama ini menarik diri bersosialisasi, pendiam dan tidak punya gairah hidup. Rumitnya lagi, dia tidak percaya dg dunia medis dan anti obat farmacits.

Kami masuk area RS yang megah dan bersih itu, saat ayah bertemu dg direkturnya, kami bertiga ingin eksplorasi. Pertama ngobrol dg resepsionis, diceritakan bahwa penghuni RSJ 70 % laki-laki, usia produktif, kebanyakan karena tekanan ekonomi dan hentakan masalah (wah hebat ya perempuan). Kami dibolehkan ke karantina, disana pasien yg baru, wajib tinggal disini untuk penenangan. Terlihat masih ada yang mengamuk, ada yang gemetar, ada yang ngoceh soal dangdut, ada yang ngajak kami ngobrol, ada yg pegang kuping melulu dan minta ditiup dan ada yang meringkuk tak berdaya. Yang jelas, karantina itu untuk mereka yang dianggap belum bisa mengontrol, ada yg tangan kakinya diikat dengan kain lembut dengan tempet tidur. Agak serem memang, tapi tidak seseram yang kami bayangkan. Disini keluarga wajib menunggu sampai tenang, biasanya 2 hari. Tapi tergantung pada diagnosa, dimana pasien dan keluarga berulang-ulang ditest dg aneka pertanyaan.

Setelah tenang, pasien dipindah ke ruang perawatan dengan seragam seperti dlm gambar ini. Rata-rata kamar berisi (+-) 10-20 orang, tapi juga ada kamar VIP. Sengaja kami masuk ke kamar yang banyak pasiennya terutama dari keluarga miskin. Vinda menyerah memilih menunggu di ruang tamu karena ketakutan. Tapi ibu dan Vikra tetap masuk (walaupun akirnya Vikra keluar nemenin adiknya). Kami dibukakan pintu jeruji masuk bangsal itu, yang menjaga gerbang selain petugas juga pasien-pasien yang sudah dianggap sembuh dan diyakini tidak akan lari. Begitu masuk, kita disambut aneka wajah yang secara obyektif memang banyak yang menyeramkan. Ada yang muka lebam-lebam, kaki bekas pasung, kepala botak bekas luka, muka bengong tak komunikatif, ada yang sibuk sendiri nggak mau diam, ada yang ganteng, ada yg ramah nyebut RT RW rumahnya berulang-ulang seakan kita mau kerumahnya.

Ibu masuk membawakan makanan sekedarnya. Mereka langsung salaman, berebut makanan, ngajak ngobrol, ada juga yg pinjam HP untuk kontak keluarganya. Walaupun sedikit takut, ibu langsung membangun rasa aman dan langsung membuat lingkaran tak sengaja dg mereka. Mereka satu-persatu ibu ajak ngobrol dan mengalirlah cerita-cerita yang diluar dugaan dan mengharukan dibawah ini (baca bag 2: Cerita dibalik tembok RSJ):

Cerita dibalik tembok RSJ (2)

"Mbak, mosok aku gak sholat teraweh sepisan wae dikeroyok sak kampung (masak nggak solat teraweh sekali aja dihajar orang sekampung). Lalu si Anwar (bukan nama sebenarnya) ini, menunjukkan luka-luka bekas pukulan warga di tangan, kakinya, juga mukanya yang bekas diinjak-injak dan terlihat masih legam hitam. Di tangannya ada luka bekas diikat yang ditunjukin seperti anak 4 tahun ngadu ibunya krn habis jatuh. Dia nampak perlu sekali didengar. Dengan pertanyaan meng-empati, ibu terus menggali dg bahasa jawa timuran dan berusaha mendengar khusyu'. "Kok bisa War"?, masak gara-gara gak sholat kamu dipukulin, mesakke banget kamu. Emang kamu lagi ngapain pas mereka datang?". Anwar jawab; "Aku lagi nonton TV mbak, dengerin radio!". "Oo, gitu. Sebelum itu kamu ngapain, kok sampai mereka marah?. Mosok rek gara-gara gak sholat aja orang marah", desak ibu dg nada santai becanda. Kata Anwar: "temenan mbak/sungguh!"katanya bersikukuh. "Kasihan, emangnya kamu biasane rajin ke masjid ya?" tanya ibu banting setir pertanyaan. "Lho mbak, aku tuh muázin, tukang azan, goro-goro aku gak azan, orang sekampung gak teraweh". Ibu hampir kecekik nahan ketawa! tapi ditahan. Akhirnya tetep aja ibu menganggap dia orang normal, jadi ibu ajak ketawa wajar sambil ngeledek. "ya itu War sebab-e!". Petugas bahkan nambahin: "war, crito sama mbaké kon munggah-munggah genteng masjid , manjat kelapa sambil teriak-teriak". Owwww....gamblang sudah akhirnya.

Obrolan direbut sama cowok 37 tahunan yang tambun, wajah memelas dan pake bahasa Jawa timuran dia ngadu: "mbak, awake dewek iki salah opo ya, kok kita dibuang sama sodara-sodara kita disini. Paling banter kita kan cuma ngomong sendiri, gak pernah kita ganggu mereka, gak ngerugiin mereka. Kita disini dibuang mbak, dihukum. Mereka gak mau diganggu, malu sama kita". Lalu ibu elus pundak dia, meyakinkan bahwa itu nggak bener, sodara-sodaranya pasti pingin dia sembuh.

Cowok yang dipojok kelihatan antusias mau ngomong, badannya agak maju pingin didengar. Lalu ibu tanya: sampean krasan tah nang kene?. Langsung spontan dia jawab"aku krasan mbak nang kene". "Lho, ngopo krasan"? tanya ibu dg muka antusias. "mbak, masalahe nak nang omah aku dibelok/dipasung. Nang kene enggak, banyak temennya". Ibu tanya; "udah berapa kali mlebu kene". "wis gak iso diitung mbak" jawabnya jujur.

Sambil ngobrol, memang sesekali ada cowok yang melintas begitu saja sambil ngasih genggaman kertas dilipat, ibu buka dg GR kirain ada tulisan khusus, rupanya cuma bungkus rokok lecek, nggak ada apa-apanya. Lalu ada juga yang masih mungut bungkus teh kotak yang sudah di tong sampah untuk dihisap padahal sudah habis. Lalu ada lagi yang merayu pinjam HP mau ngontak saudaranya minta pulang. Tapi petugas mengerling ke ibu untuk tidak ngasih HP. Ibu antara tidak tega, tapi bilang pulsa habis. Begitu omongan nyinggung soal HP, ada satu lagi juga nitip sms biar dikirim ke saudaranya untuk jemput, pas ibu tanya ke petugasnya dibolehkan, ibu akhirnya sms pas diluar, biar yg sebelumnya tidak tersinggung.


Lalu ada cowok tinggi botak yang kepalanya banyak luka, mendekat. Agak risih, dan takut juga kalau diapain, padahal pintu bangsal terkunci jeruji, dan kita seakan terperangkap didalam dengan puluhan mereka, cowok semua (bangsal cewek terpisah). Tapi cowok ini tidak menyentuh sama sekali (dalam hati, orang yang kita anggap gila aja bisa sopan dan jauh dari sikap melakukan pelecehan seksual). Lalu ibu tanya: "sampean pie critane kok sampe sini?". Dg senyum ikhlas dia cerita "Jarene/kata guruku, seko cilik, SD, aku suka ngajak ngomong sendiri pohon petai Cina". "lho kok iso?". "Embuh mbak, aku suenenggg... prosoku/rasaku pohon iku uapik tenan. Aku juga seneng lihat matahari lama-lama. Yo embuh, opo sebab-e".

Lalu ibu memanggil ngajak gabung cowok guanteng, tengku Wisnu, David Ducovni, Tom Cruise aja kalah. Penasaran banget, karena wajahnya juga tidak mengguratkan dia bermasalah. Kelihatannya pintar, kharismatik dan penuh kontrol. "mrene tah, crito-crito? sini yuk crita-crita. Dah mau pulang tah?". Dia tidak mau cerita, mengambil jarak dan kayaknya mendifinisikan diri sudah sembuh. Lalu pas udah mau pulang ibu sempetin keluar dari barisan pas, khusus mendekat dia ngobrol ngalor ngidul untuk bangun kepercayaan dan akhirnya dia cerita. "aku mrene iku dibuang keluargaku mbak. Habis aku beda pendapat ama sodara-sodaraku. Mereka maksain aku. Aku hampir aja dapat cita-citaku, tapi keluargaku gak setuju. Aku ngamuk". Wis berapa kali mrene? "3 kali". Tapi mosok sih beda pendapat aja sampai dibawa mrene?". Lagi-lagi petugas dg entengnya bilang. "kon mbok crito, ngamuk meh mateni bapakmu/mbok crita kamu ngamuk hampir membunuh bapakmu". Ohh...

Yang jelas, cerita-cerita mereka, bener-bener membuka mata, tentang bagaimana orang sehat ini berkontribusi untuk membuat atau memperparah mereka yang kita anggap gila. Yang mengharukan, petugas-petugas disana dengan penuh sabar dan cintanya menemani mereka, seperti jadi orang tuanya. Kadang mencet hidung mereka kalau ada yang lucu, atau mengingatkan untuk tidak larut ke halusinasi dengan mengalihkan perhatian. Makanan juga relatif baik (seperti dalam gambar ini dg buah, perhari sekitar Rp 30.000, termasuk makan dan asrama, kecuali yang dapat keterangan miskin dan VIP.

Yang menarik, info dari RS, lebaran kali ini semakin sedikit pasien. Padahal dulu-dulu, setiap lebaran penuh pasien dadakan, karena banyak keluarga yang memilih membuang /menitipkan anggota keluarganya karena gengsi saat banyak tamu lebaran, dan diambil seusai lebaran. Tapi sekarang orang mulai sadar, bahwa kunci sembuh orang yang dianggap gila adalah rasa dicinta, bebas tekanan, dan harus dianggap seperti orang normal. RSJ bukan buangan, tapi memang untuk menyembuhkan. Dan konon pemerintah mulai memberi anggaran layak untuk rumah sakit yang selama ini menjadi momok sangkar "hantu". Ahh...liburan yang berbeda, Rumah sakit yang penuh keramahan dengan jiwa-jiwa yang harus direngkuh dan diselamatkan. Sudah saatnya, tidak menstigma mantan pasien RSJ, mereka sama seperti mantan pasien jantung... yang bisa sembuh atau kambuh. Mereka adalah kita juga.

Amrozi: teroris atau dewa?

“Dewek iku isih dulur cung karo amrozi" (kita itu masih sodara nak sama Amrozi). Persisnya sodara semisan sama dia, satu nenek jelas mbahbu Musanah (ibu penerus ayah) ke ayah dan kami-kami saat anjangsana lebaran ini. Sekitar thn 2004 (sebelum mbahbu kandung ayah meninggal), pas Amrozi baru ditangkap, kami berlebaran ke rumah mbak Kunik misanan ayah, lalu mbak Kunik cerita: “Amrozi itu masih misanan kita, dulu dia kerja di bengkelku”. Rupanya kami dianggap punya darah sodara dengan Amrozi. Ini cerita mbahbu Musanah waktu kami pulang kampung, cerita dibalik dan si seputar kematiannya. Kebetulan kampung ayah di Drajad memang tidak jauh dari Tenggulun tempat Amrozi, sekitar 7-8 KM.

“Kuburan Amrozi sekarang udah dipagar, krn nyaris habis diambilin sama pengunjung yang ziarah. Kita kan nggak pingin orang jadi syirik”.

“waktu Amrozi dimakamkan, jalanan penuh sampai Solokuro (5 km), semua teriak Allohu akbar, tapi juga syahdu. Sebelum ada kabar dia meninggal, ada 3 burung datang, dua menclok diatas rumah Amrozi dan satu ke arah barat, lalu ketiganya pergi bareng. Orang langsung pada bilang Allohu akbar. Yang juga luar biasa, saat itu ada awan berbentuk “Allohu akbar”. Tapi pas saya keluar, awannya tinggal sedikit, nggak bisa lihat semua”.

“Amrozi punya anak 2 dari 2 istrinya. Istrinya jualan kue-kue sekarang, dan yang satu stroke. Tapi sekarang udah pulih. Anak yang pertama laki-laki sekitar 23 tahun, yang kedua perempuan sekitar 13 tahun”.

“Saat pemakaman dan berbulan-belum sesudah itu pengunjung pesantren Tenggulun (kakak amrozi) tak henti-henti, bahkan polisi rajin bawa kambing buat tamu-tamu yang datang ke pesantren itu, biar polisi tidak dimusuhi orang-orang situ. Biar orang jelas bahwa yang dimusuhi polisi adalah terorisme-mnya bukan pesantrennya”.
“Semenjak kematian Amrozi, justeru Islam di daerah Tenggulun dan sekitarnya tambah kenceng dan mengeras”.

“Amrozi Muchlas membawa berkah, sejak dia berkasus sampai mati, jalan-jalan menuju ke desa-desa itu dibangun. Karena akar radikalisme adalah kemiskinan, jadi biar orang merasa ada pembangunan”.

Vinda nyeletuk berulang-ulang waktu dengar cerita itu yang intinya, teroros mengebom ,membunuh orang kok dipuja-puja. Lalu dia juga ketawa lihat tingkah orang ambil tanah kuburan kayak Ponari aja katanya. Dia juga nggak faham, apa hubungan burung, awan bertuliskan Allah dg kematian Amrozi. Jadi???
*picture taken from website

Sampah indah : daur ulang

Lilin minyak goreng: Punya gelas kecil souvenir? atau gelas yang pasangannya pada pecah, atau botol kratingdaeng? Saat mati lampu, benda-benda ini bisa dimanfaatkan., Cukup dengan isi minyak goreng, beri sumbu dan pengait sumbu yang mengapung dan tahan bakar. Jadi deh lilin atau lentera alternatif. Kalau gelasnya transparan, bisa diisi dengan batu kerikil, kelereng warna warni atau benda menarik lain yang tahan api. Listrik boleh mati, tapi rumah jadi romantis hangat.


Tudung makanan dari kain bekas: Baju kesayangan rusak salah setrika? marah dan nyesal tak ada guna. karena bahannya masih bagus dan menarik, dibuatlah tudung makanan ini. Jadi tudung keranjang plastik yang sederhana, dengan diberi cover ini menjadi berbeda. Apalagi kalau di neci/wallsum yang serasi, pasti tambah menawan. keuntungan lagi, serangga kecil dan debu juga tidak bisa masuk (pas difoto ini belum selesai, karena idenya jambul atas itu berbentuk bunga yang dineci warna kontras).

Baju kucing dari kaos bekas: Ketika kaos sudah melar, berubah warna atau leher sudah keriting, paling banter buat lap pel dan turun derajad jadi gombal. Tapi gombal juga bisa naik derajad jadi sesuatu yang fun. Ini gombal kaos yang disulap jadi baju kucing lengkap dengan celana yang didisain sendiri. Baju kucing kalau beli di petshop harganya minimal 40-50 ribu. Dg buat sendiri ini tinggal di obras/neci dan disulam/bordir dengan nama kucing Kuba, jadi sporty dan seru. Cukup dengan 8 ribu sudah jadi baju kucing yang cantik. Bahan kaos juga bisa dipakai untuk boneka. Asal kreatif mendisain..jadi benda menarik juga. Kalau punya kaos kesayangan oleh-oleh dari travelling luar negeri atau kado kenangan, walau rusak lehernya,salah setrika atau sobek kecantol, selamatkan dg gunting bordir/sablonnya lalu tempel di kaos baru yang lebih berkwalitas. Kalau sablon sudah memudar, bisa dibordir ulang di tukang bordir.


Alas piring "Batik": Kertas kado yang sepele juga bisa jadi alas makan. Kebetulan ini dapat kertas kado motif batik, lalu dibuat dua sisi dan dilaminating, hasilnya sering menipu mata, dikira dari kain batik. Kalau mau kreatif lagi juga bisa dari daun atau bunga yang dikeringkan, atau cap tangan, foto dan dilaminating. Dijamin cantik asal kreatif.

Tempat pernik dari kardus bekas: Kardus dibuang? sayang!! Manfaatkan untuk tempat pernik, surat atau box file dari dokumen-dokumen kita. Lalu bungkus dengan kertas kado yang menarik dengan diberi pernik. Hasilnya? Ini buah prakarya Vinda untuk recycle.

Jadi ketika minggu sambil ngumpul ngobrol atau nonton TV, tangan jangan diam...buat sesuatu!! Alam juga tersenyum karena tidak dipaksa menelan sampah menggunung tiap hari. Tapi sayang di gang jambu ini sebagian ada yang kreatif, tapi ada satu orang yang penikmat dan cukup bilang "bagus..bagus...enak..enakkk".